Adakan Webinar Kepenulisan, Mahasiswa Pascasarjana Kuatkan Budaya Literasi

Oleh, Alfi Mar’atul Khasanah

Senin, 6 Juli 2020, Program Pascasarjana Universitas Darussalam Gontor mengadakan webinar tentang kepenulisan. Acara ini dilaksanakan secara online baik di Kampus Pusat Siman Ponorogo, maupun Kampus Pascasarjana Putri divisi Mantingan melalui aplikasi Google Meet. Acara yang diikuti oleh mahasiswa/i pegiat literasi Pascasarjana ini di moderatori oleh Al-Ustadzah Fadhilah Tianti, M.H (Dosen Universitas Darussalam, dan alumni mahasiswi Pascasarjana Unida Gontor) dan di hadiri oleh Al-Ustadzah Ummu Salamah Ali sebagai narasumber.

Ummu Salamah Ali, merupakan nama asli beliau. Namun, dalam dunia maya biasa dikenal dengan nama @asy_syathiroh94. Merupakan alumni Pondok Pesantren Darussalam Gontor tahun 2011. Beliau kemudian melanjutkan pendidikannya sebagai mahasiswi Universitas Darussalam hingga mendapatkan gelar S.Ud, dengan mengmbil Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Kemudian beliau mengambil Program Magister dengan jurusan yang sama di UIN Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2019.

Sepak terjang beliau didunia literasi dibuktikan atas terbitnya 25 buku beliau, baik bersifat pribadi ataupun antologi. Beliau kini menjadi penulis aktif secara online dengan media wattpad. Selain itu beliau merupakan founder dari @letswriterclass, sebuah platform untuk belajar literasi. Dengan beliau sendiri sebagai coachnya. Karena karya-karya beliau tersebut, gadis kelahiran Gresik ini pun sering diundang dalam acara-acara seminar terkait literasi.

Acara ini dimulai dengan tugas ringan menulis 250 kata selama 15 menit. Hal inilah yang sering beliau lakukan saat membuka kelas-kelas dan seminar kepenulisan. Alasannya adalah sebagai tantangan. Untuk melemaskan jari agar terbiasa menulis. Karena menulis itu juga tentang keterampilan yang harus dibiasakan. “Tak usah terlalu rumit, tulis saja apa yang sedang terpikirkan”, tukas beliau

Salah satu alasan untuk menulis adalah untuk self healing. Saat pikiran sangat kalut, hati gusar, namun mulut enggan tuk bercerita, disinilah tugas tangan dimulai. Menceritakan segala keluh kesah, masalah dan harapan lewat goresan tangan.

Beliaupun memberikan beberapa nasehat untuk para pegiat literasi. Diantaranya adalah kiat agar kita tak ragu apalagi berhenti menulis. “Cari dan ikuti kelas-kelas kepenulisan” kata beliau. Hal ini bisa memperkaya diksi dan juga meihat serta memahami gaya bahasa dalam buku-buku yang ada.

Selain itu beliaupun berpesan agar penulis ataupun calon penulis tak begitu memperhatikan dan menggubris komentar-komentar negatif dari para pembaca. “Jadikan segala komentar pedas itu sebagai cambukan, agar kita lebih semangat dalam menulis. Bukan malah menciut” ujar beliau. Komentar itu penting dalam dunia literasi, karena dengan begitu seorang penulis mampu mengetahui kesalahannya dan dapat memperbaikinya.

Dan dalam sesi pertanyaan, beliau menjelaskan bahwa seorang penulis ataupun calon penulis harus memiliki sifat percaya diri dan tidak insecure. “Insecure bikin manusia kurang bersyukur”. Jelas beliau. Seorang penulis harus percaya diri atas karyanya. Apalagi jika ingin membawanya kepada penerbit.

Diakhir acara, beliau memberikan sedikit arahan terkait penerbitan buku. “Penerbitan itu ada 2 macam, indie dan mayor. Jika Indie, segala penerbitan, dan pemasaran dilaksanakan oleh penulis sendiri. Namun jika melalui penerbitan mayor, kita bisa bebas biaya penerbitan dan akan dipasarkan oleh penerbit. Dan pastinya melalui seleksi yang cukup ketat” jelas beliau. Beliaupun memaparkan bahwa seorang penulis harus memiliki mental yang kuat dan tegar didepan penerbit. Tak boleh ada kata menyerah saat naskah yang dimiliki tertolak. “Jika naskah tertolak, segera bertindak (dengan mencarai penerbit yang lain)” tukas beliau. Itulah pentinganya adanya korelasi terkait kepenulisan.