Al-Attas Bertemu Lakatos: Merumuskan Metodologi Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Islamisai Ilmu Pengetahuan

Oleh: Yongki Sutoyo

Wacana Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer yang dewasa ini cukup populer, merupakan respon beberapa intelektual Muslim atas hegemoni paradigma sains Barat modern. Hegemoni paradigma ini mencakup tiga aspek dalam sains, yakni ontologi, epistemologi dan aksiologi. Dari aspek ontologis, sains modern melihat alam beserta hukum dan polanya, termasuk manusia sendiri hanya sebagai wujud material yang eksis tanpa intervensi Tuhan. Dalam aspek epistemologis, sains mengesampingkan teks wahyu sebagai sumber pengetahuan, sehingga tidak sesuai dengan pandangan masyarakat muslim yang justru bersikap sebaliknya. Sedangkan aspek aksiologis, Barat tidak mengaitkan pengembangan ilmu pengetahuan dengan tata nilai, moralitas, spiritualitas dan religiusitas.[1] Hegemoni paradigma tersebut jelas menunjukan bahwa hakikatnya ilmu pengetahuan tidak pernah netral tapi sarat nilai,[2] bahkan bisa dijadikan alat yang sangat halus dan tajam bagi menyebarluaskan pandangan hidup suatu kebudayaan.[3]

Karena ilmu sarat dengan nilai, maka ilmu pengetahuan yang berkembang pesat di Barat hingga saat ini sesungguhnya dibangun di atas landasan filsafat, nilai-nilai dan kebudayaan khas Barat yang dalam beberapa aspek memiliki banyak pertentangan dengan Islam.[4] Beberapa aspek itu misalnya, Barat merumuskan pandangannya terhadap realitas dan kebenaran bukan berdasarkan wahyu dan dasar-dasar keyakinan agama, tetapi berdasarkan pada tradisi kebudayaan yang diperkuat oleh dasat-dasar filofis. Di mana daar-dasar filosofis ini yang berangkat dari spekulasi (dugaan) yang berkaitan hanya dengan kehidupan sekular yang berpusat pada manusia sebagai diri jasmani dan kekuatan rasional sebagai satu-satunya kekuatan yang akan menyingkap seluruh rahasia alam dan hubungannya dengan eksistensi.[5] Atas dasar perbedaan paradigma itulah Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer mendesak untuk dilakukan.

Baca juga: Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas: Meminjam Kacamata Heidegger

Namun yang menjadi persoalan sekarang adalah, setelah lebih dari empat dekade[6] wacana Islamisasi ilmu pengetahuan didengungkan dan telah dicoba diterapkan diberbagai perguruan tinggi,[7] banyak kalangan yang menilai tampaknya masih berada pada tataran filosofis dan belum menyentuh ke wilayah implementatif. Salah satu yang terabaikan dalam wacana ini adalah menerjemahkannya ke dalam metode yang sistematik dalam penelitian ataupun kegiatan pengembangan keilmuan.[8] Oleh karena itu, diperlukan kerja-kerja yang serius bagaimana usaha implementatif itu dilakukan. Untuk memenuhi tujuan itu, tulisan ini akan mengkaji dua tokoh penting: Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam diskursus Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer dan Imre Lakatos dalam diskursus Metodologi Program Riset. Dari al-Attas, akan dikaji bagaimana konsep dasar Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, sedangkan dari Lakatos akan dikaji bagaimana metodologi diterapkan dalam kerangka program riset. Hipotesis daritulisan ini adalah jika Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer memenuhi kerangka kerja program riset, maka metodologi Islamisai dalam ilmu-ilmu kontemporer dimungkinkan untuk dilakukan dan dikembangkan.

Merumuskan Metodologi

Problem utama dari Islamisasi ilmu pengetahuan al-Attas adalah, ketika al-Attas menguraikan bahwa Islamisasi iaitu suatu proses mengeluarkan elemen-elemen yang bertentangan dengan Islam, setelah itu memasukan elemen-elemen yang sesuai, maka bagaimana proses itu dilakukan. Di sini Lakatos memberikan peta yang cukup jelas untuk mengaplikasikan proses—apa yang disebut al-Attas sebagai—dewesternisasi ilmu pengetahuan itu. Berikut ilustrasi peta sains menurut Lakatos.[9]

Gambar di atas menggambarkan struktur sains menurut Lakatos, yakni setiap sains—entah itu sains kealaman, sosial atau kemanusiaan—setidaknya memiliki empat lapisan. Sains yang umumnya dipahami oleh masyarakat pada umumnya ada pada lapisan paling luar. Di posisi ini banyak orang menganggap bahwa sains itu netral, universal dan bebas nilai. Namun, jika kita memasuki lapisan yang lebih dalam, terutama di level metaphysical believe anggapan bahwa sains itu netral, universal dan bebas nilai akan semakin terkikis. Dari sini, empat lapisan sains Lakatos dapat bertemu dengan rumusan worldview Islam al-Attas. Metaphysical believe adalah konsep-konsep asas dalam worldview Islam seperti konsep ilmu, konsep realitas dan kebenaran, konsep manusia, konsep alam, konsep keadilan, konsep kebahagiaan dan seterusnya, yang menghasilkan kerangka kerja atau paradigma keilmuan, di mana seluruh konsep-konsep asas ini perpusat pada doktrin keesaan Tuhan atau Tauhid. Dari empat level sains Lakatos ini, kita bisa melakukan scaning dimulai dari metaphysical believe-nya, kemudian paradigma keilmuan yang digunakan, selanjutnya menganalisis teori dan metodologi yang dipakai. Dari proses scaning ini akan ditentukan apakah suatu teori bertentangan dengan Islam atau tidak dan perlu dilakukan proses Islamisasi. Atau proses scaning tersebut bisa dimulai dari teori-teori yang ada, kemudian dari teori itu dilacak jenis paradigma yang digunakan hingga menemukan konsep-konsep kunci yang mecerminkan metaphysical believe atau worldview macam apa yang mendasari teori itu.

Baca juga: Artikel tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Tujuan utama dari proses scaning ini adalah menemukan konsep-konsep kunci dalam suatu teori yang mencerminkan metaphysical believe tertentu. Setelah konsep-konep kunci tersebut ditemukan, yang dilakukan selanjutnya adalah komparasi dan analisis, apakah konsep kunci itu sesuai dengan konsep kunci dalam worldview Islam. Jika sesuai, proses Islamisasi langsung merujuk pada tataran praksis metodologis. Jika ternyata bertentangan, perlu dianalisis apakah konsep itu bertentangan sepenuhnya, setengahnya atau hanya bagian kecilnya saja. Porsi kebertentangan ini akan menentukan proses selanjutnya, yakni adobsi dan atau adaptasi atau ditolak sama sekali.

Dari sisi yang lain, sebetulnya metodologi program riset Lakatos juga memiliki kelemahan. Kelemahan itu adalah tidak adanya kerangka operasional yang jelas dalam menghadapi maraknya “protective-belt” atau teori-teori kecil yang saling bertarung. Mengingat suatu ilmu tidak lahir tanpa konteks sosio-historis yang melatarinya, maka suatu ilmu pastilah tidak akan netral secara ontologis dan aksiologis.[10] Hal semacam ini akan dapat melahirkan perang dingin antar kalangan ilmuwan, yang sering tanpa disadari, mereka telah masuk (atau sengaja memasukkan diri?) dalam perangkap skenario agen-agen ekonomi dan kekuasaan. Namun, kekurangan ini sebetulnya bisa di atasi dengan murujukk rumusan worldview Islam al-Attas. Dalam worldview Islam telah ada mekanisme yang baik untuk menghadapi maraknya “protective-belt” yang menjadikan teori-teori kecil saling bertarung. Mekanisme tersebut merujuk pada konsep ushul-furu’ dan muhkamat-mutasyabihat. Artinya, teori-teori kecil yang menjadi lingkarang pelindung tidak perlu dipertentangkan meskipun ada perbedaan jika dalam penerapannya, telah jelas mana yang pokok dan cabang; serta mana yang bisa berubah dan mana yang tetap. Tatangan selanjutnya adalah bagaimana konsep ushul-furu’ dan muhkamat-mutasyabihat itu dirumuskan dan neraca seperti apa yang mesti dibuat.

Seminar Pada HUT RI: Antara Keindonesiaan dan Keislaman

Sila Kelima Perspektif Maqashid Syari’ah dan Pemindahan Ibukota

Film Islami itu Islami? Dilema Film Religi, Tantangan bagi Sineas Muslim

Sejarah Angka: Bagaimana Angka Muncul dan Berkembang

Infinite (Tak Terbatas) ∞

[1] Lihat Mulyadi Kartanegara, Mengislamkan Nalar: Sebuah Respon Terhadap Modernitas, (Jakarta: Erlangga, 2007) bab 1 dan 3.

[2] Untuk penjelasan megenai masalah ini, silahkan rujuk Jurgen Habermas, Knowledge and Human Interest, trans. Jeremy J. Shapiro, (Cambridge: Polity n    Press, 1968); F. Budi Hadirman, Kritik Ideologi: Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan, (Yogyakarta: Kanisius, 1993).

[3] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001) hlm. 49.

[4] Lihat Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Sekularisme, terj. Dr. Khalif Muammar, M.A dkk (Bandung: PIMPIN, 2010) hlm. 171.

[5] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Sekularisme, hlm. 171.

[6] Wacana ini dimulai sejak tahun 70-an dengan tokoh utamanya antara lain: Syed Muhammad Naquib al-Attas, Seyyed Hossein Nasr, Ismail Raji al-Faruqi, dan Ziauddin Sardar.

[7] Beberapa perguruan tinggi menggunakan terma yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yakni membentuk suatu paradigma alternatif dalam pengembangan keilmuan. Perguruantinggi itu antara lain, Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) semacam Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ataupun UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan juga oleh Perguruan Tinggi Umum (PTU) seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Institut Teknologi Bandung (ITB) ataupun Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Lihat Abu Darda, “Integrasi Ilmu dan Agama: Perkembangan Konseptual di Indonesia”, dalam Jurnal Kependidikan Islam At-Ta’dib Vol. 10, No. 1 Juni 2015 .

[8] Nurlena Rifai, Fauzan, Wahdi Sayuti dan Bahrissalim, “Integrasi Keilmuan dalam Pengembangan Kurikulum di UIN Se-Indonesia: Evaluasi Penerapan Integrasi Keilmuan UIN dalam Kurikulum dan Proses Pembelajaran”, dalam Journal Of Education In Muslim Society Tarbiya, Vol. 1, No. 1, Juni 2014., hlm. 13.

[9] Ilustrasi ini dapat dirujuk pada Muhammad Muslih, Falsafah Sains: Dari Isu Integrasi Keilmuan Menuju Lahirnya Sains Teistik, hlm. 178. Beberapa keterangan dalam ilustrasi telah saya ubah-sesuaikan.

[10] Joseph Grunfled, “Lakatos’s Weak Rationalism”, Science et Esprit, XXXIV/2 (1982) hlm. 224.