Al Ustadz KH. Ahmad Suharto: Benarkah Kita Merdeka?

apakah kita merdeka

Disarikan dari pidato Bapak Wakil Pengasuh Gontor Putri Kampus 1, Al Ustadz KH. Ahmad Suharto pada Upacara HUT Kemerdekaan RI Ke-74

Pukul 06.45 WIB (17/8) lapangan hijau di depan Auditorium Gontor Putri Kampus 1 sudah rapi dipenuhi peserta upacara HUT kemerdekaan RI. Seluruh petugas siap di tempat, peserta berdiri tegap pancarkan semangat, dewan guru ikut menghadiri penuh hikmat. Sakral, syahdu. Acara tepat dimulai pukul 07.00 WIB, karena pukul 08.55 WIB mereka harus masuk kelas seperti biasa. Hari kemerdekaan mereka syukuri dengan belajar dan mengajar.

Upacara ini bukan rutinitas

Tidak ada kata rutinitas buta di surga kita Darussalam. Semua kegiatan berjalan harmonis dengan tujuannya yang pasti serta nilai-nilai filosofisnya yang tinggi. Halayak yang hadir membuka mata, telinga dan hati benar-benar, tidak hanya melek walang.

Upacara ini adalah wasilah atau perantara untuk mengenang dan meneladani jasa para syuhada’ dan pahlawan. Sebab banyak dari mereka yang datang dari kalangan santri dan Ulama’, dimana sejak semula merekalah yang lantang menentang penjajah dan penjajahan. Dari mereka kita mengaji hakekat perjuangan. Saat tenaga dikerahkan, biaya dikeluarkan dan nyawa digadaikan demi kepentingan yang lebih besar. Al iitsaar, mendahulukan kepentingan orang lain jauh didepan kepentingan pribadi, bahkan saat kesulitan mencekik.

Baca juga: Kunjungan Prof. Martin, Pps Unida Kembali Menjadi EO

Hakekat Kemerdekaan

74 Tahun bangsa ini merdeka, katanya. Tapi merdeka dari apanya? Bagaimana kita bisa mengatakan diri kita merdeka, sedangkan dalam memaknai kemerdekaan dan penjajahan kita selalu berpisah di persimpangan makna?

Merdeka ialah saat kita hanya mentauhidkan Allah. Merdeka adalah saat kita hanya menjadi hamba Allah, bukan hamba nafsu, hamba uang, hamba jabatan, atau hamba hal-hal duniawi lainnya. Di atas hanya Allah, di bawah hanya tanah.

Kemerdekaan adalah proses perjuangan

Sebagaimana yang tertera dalam preambule atau pembukaan UUD 1945, sudahkah kita masuk kedalam “pintu gerbang” kemerdekaan? Atau jangan-jangan kita masih berada di luar pintu gerbang kemerdekaan? Karena sesungguhnya kemerdekaan kita dari penjajah jasadi, hanyalah salah satu bagian kecil dari proyek dinamis yang masih dan harus terus kita perjuangkan.

Bagaimana disebut masuk kedalam suatu negara yang merdeka, sedang kasat mata kita masih melihat penjajahan ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan bercokol sana sini? Disebut negara bersatu, masih banyak pihak yang ingin melepaskan diri dari tubuh NKRI. Mengaku berdaulat, tetapi masih hobi didekte negara adikuasa. Adil, tapi hukum masih suka melawak dengan tebang pilih. Tajam kebawah tapi tumpul keatas. Makmur, tapi masih banyak rintihan terdengar sana sini “Apakah besok bisa makan?”, di negeri yang kaya sumber daya alam.

Jika diumpamakan merdeka ada di Jakarta, kita masih sampai Mantingan (sebuah desa di barat Gontor Putri Kampus 1). Terus bergerak, terus berjuang di medannya masing-masing. Baik medan untuk menjadi tokoh besar yang memperjuangkan kemerdekaan yang hakiki atau medan untuk melahirkan dan pendampingi para tokoh besar. “Di tangan dan pundak kalianlah nak, keadaan bangsa kedepannya kami titipkan!” Pungkas nasehat guru kepada muridnya, bapak kepada anaknya. [Maulida ‘Izzatul Amin]

Lainnya dari Pps Unida:

Epistemologi Ilmu Pengetahuan dan Relevansinya dalam Studi Al-Qur’an

Mahsiswa Pascasarjana Mengikuti Ujian Komprehensif Bahasa Arab

Hadiah Khusus Dr. Hidayatullah kepada Mahasiswi IZU

Khot, Media untuk Menumbuhkan Ruh Tasabuq mahasiswi IZU Turki