Antara Teologi dan Filsafat Agama: Kritik Marianne Moyaert atas John Hick

Moyaert dan John Hick

Rabu Sore 29 April 2020, Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara mengadakan diskusi online yang dikemas dengan nama Bentala Ngabuburit Bersama salah seorang Dosen Universitas Darussalam Gontor, al-Ustadz Abdullah Muslich Rizal Maulana sebagai pembicara. Topik yang diangkat pada ngabuburit kali ini adalah “Antara Teologi dan Filsafat Agama: Membaca Kritik Marianne Moyaert atas John Hick”. Kajian yang diselenggarakan secara online ini, dihadiri oleh lebih kurang 80an audiens dari berbagai latar belakang Pendidikan dan daerah, termasuk di antaranya adalah Mahasiswa Pascasarjana UNIDA Gontor.

Pemateri yang juga sering turut hadir dalam kajian Teras Peradaban DEMA Pascasarjana UNIDA Gontor memulai diskusi dengan  menerangkan latar belakang munculnya kritik Marianne Moyaert atas John Hick. Moyaert, Guru Besar bidang Teologi Komparatif di VU Amsterdam ini mengaku bahwa kalangan Agamawan Katolik sangat terganggu dengan hipotesis- hipotesis John Hick mengenai agama.

Berikut tanggapan Moyaert terhadap John Hick dalam bukunya “… According to Hick, the distinction between the Ultimate an sich and the way inwhich it is experienced is not foreign to religions. By that, he means that pluralism is not a theory in philosophy of religion that applied in a deductive way toreligious traditions but is rooted in experience. The pluralist hypothesis links upwith the insight that the Ultimate is always grater than the human ability tocomprehend and transcends all interpretations. In one form or another, such a distinction between the Ultimate and the way in which it is expressed is constantly required by the notion that God, Brahman, the Dharmakaya, is infinite. For the Christian tradition, Hick refers in this context to negative theology and the mystics. Hick thus gives his pluralist theory an apophatic accent.”

Baca juga: Makna Din dan Keterkaitannya

Al-Ustadz Abdullah Muslich Rizal Maulana menjelaskan, bahwa inti dari permasalahan yang muncul dari tesis Pluralisme Agama John Hick adalah karena tidakjelasnya dimensi batas antara kajian filsafat dan teologi. Hal inilah yang menjadi fokus kritik dari Marianne Moyaert. Menurut Moyaert, tugas dari para Teolog dan Filsuf tidak bisa tumpeng tindih karena yang justru dihasilkan adalah kerancuan dimensi teologis kekristenan. “Dalam hal ini, kita belajar otokritik atas agama, bagaimana Pluralisme Agama sesungguhnya juga tidak bisa penuh diterima dalam pandangan hidup atau Worldview Barat.” Demikian Ustadz Rizal menjelaskan. Acara diskusi ini kemudian dilanjutkan dengan sejumlah tanya jawab dan berakhir pada pukul 17.15 WIB.