Dromologi, Apa itu? Teori Postmodern tentang Budaya Ketergesa-gesaan

Dromologi Ketergesa-gesaan

Dromologi, oleh: Ahmad Rizqi Fadillah

Saat asyik membaca, tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Ada notifikasi SMS masuk. Tentu saja, notifikasi tersebut memecah konsentrasi. Akupun seketika meraih handphone dan memeriksanya. Setelah kubuka, ternyata pesan singkat tersebut tidak begitu penting, bahkan tidak penting sama sekali. Hanya promo dari operator. “Promo! Dapatkan gratis kuota 2GB dengan isi ulang minimal 5000 rupiah. Hanya hari ini!” Begitulah, promo-promo seperti itu sudah sering kudapatkan, berkisar tiga hingga empat kali dalam sepekan.

Fenomena ini hanyalah sekelumit contoh kondisi kehidupan masyarakat kontemporer. Dengan adanya kemajuan teknologi informasi, setiap orang dari kita memang merasakan dampak positifnya. Namun, di lain sisi, kita harus menyadari bahwa ada dampak negatif yang perlu untuk diwaspadai. Di antaranya adalah problem kecepatan dan perecepatan, seperti halnya pesan dari operator di atas.

Pada promo tersebut, seseorang dibujuk untuk mengikuti kemauan pemiliki industri. Ia tertuntut untuk membelanjakan uangnya dengan segera, “hanya hari ini!” Inilah bentuk pemaksaan secara halus kepada konsumen, dengan iming-iming hadiah dan reward. Fenomena ini, oleh Jean Baudrillard (1929-2007) disebut dengan seduction.

DROMOLOGI DAN DAMPAKNYA

Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena-fenomena seperti ini seringkali terjadi, entah disadari atau tidak. Masyarakat dituntut untuk cepat, bersegera, dan bergegas. Memacu kecepatan mengikuti pola kehidupan yang di-setting sedemikian rupa. Kita tentu tahu, apalagi pemerhati hape, berapa kali tipe-tipe hape terbaru itu diluncurkan dalam waktu setahun. Dan beberapa orang di antara kita, kadang tergiur untuk membelinya. Benar, kehidupan kontemporer kita memang dibentuk. Lebih tepatnya dibentuk untuk cepat. Inilah yang disebut Piliang dengan “sebuah dunia yang berlari.”

Merujuk kepada Paul Virilio (1932-2018), dunia yang berlari adalah gambaran dunia yang paradigma berpikirnya adalah kecepatan. Ia menyebutnya dengan dromologi (berasal dari bahasa Yunani, dromos artinya kecepatan, dan logos artinya semesta pengetahuan). Kecepatan dan percepatan menjadi sentral kehidupan sosial, ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Tidak hanya itu, kecepatan bahkan menjadi parameter kemajuan. Artinya, kemajuan tidak hanya dicirikan dengan kebaruan seperti dulu, tapi juga kecepatan.

Lebih lanjut, menurut Michel Foucalt (1926-1984), kekuasaan adalah pengetahuan. Artinya, ada hubungan erat yang saling timbal balik antara kekuasaan dan pengetahuan. Kekuasaan memengaruhi pengetahuan, pengetahuan juga memengaruhi kekuasaan. Namun, dengan adanya fenomena dromolgi seperti saat ini, kata-kata knowledge is power agaknya mengalami perluasan makna. Knowledge sendiri tidak cukup, ia harus ditambah dengan kecepatan. Maka, dalam konteks kekinian, quote Foucalt lebih tepat untuk dimaknai dengan “power is speeding knowledge.”

Baca juga: Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas: Meminjam Kacamata Heidegger

Fenomena dromologi menyebar dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam aspek informasi dan komunikasi, muncul berita yang cepat berganti. Satu kasus belum selesai, sudah diberitakan kasus yang lain. Dalam aspek produksi, muncul produk yang cepat berganti. Satu produk belum habis terjual, sudah muncul produk baru dengan penambahan fitur tertentu. Dalam aspek keberagamaan, paradigma kecepatan juga telah menjangkiti kehidupan ummat. Hapal al-Quran sebulan! Membaca kitab gundul seminggu! Mahir mengaji seminggu! dsb.

Di balik paradigma kecepatan tersebut, terdapat beberapa hal yang perlu untuk dikaji dan dipahami. Tempo kehidupan memang mengalami percepatan. Namun, kecepatan itu harus dibayar dengan pendangkalan makna. Mengutip Yasraf Amir Piliang, kecepatan itu berbanding lurus dengan kehampaan. Semakin cepat seseorang menghapal al-Quran, semakin sedikit makna yang ia dapat. Semakin cepat seseorang mengerjakan shalat tarawih, semakin sedikit kesempatan dan peluang untuk menghayati bacaan shalatnya. Begitu pula dalam kehidupan sosial, betapa cepatnya citra mengalami perubahan hingga tak ada lagi waktu untuk meresapinya. Tak ada lagi kesempatan untuk refleksi dan muhasabah. Tak ada lagi kesempatan untuk memaknai kecepatan itu sendiri.

Selayaknya, setiap orang menyadari bahwa segala sesuatu butuh untuk ditakar. Bersegera tidaklah keliru, apalagi untuk kebaikan. Yang menjadi catatan adalah jika ketersegeraan itu membawa dampak negatif bagi dinamika kehidupan.

DROMOLOGI DALAM ISLAM

Dalam kaca mata Islam, dromologi ini disebut dengan isti`jāl atau tasarru`. Pada era millennial ini, bentuk peringatan al-Quran yang disampaikan dengan pernyataan positif, “wa kāna al-insānu `ajūlā” menjadi relevan. Secara tidak langsung, melalui ayat ini Allah memberikan arahan kepada manusia agar waspada terhadap fenomena pascamodern yang dromologis.

Dengan melihat kondisi masyarakat yang terpengaruh oleh paradigma kecepatan ini, kita dapat menemukan betapa banyak pihak-pihak yang dijauhkan dari kebaikan. Budaya instan yang merebak di kalangan pemuda kita membiasakan mereka untuk tidak menikmati proses dan menemukan kedalaman makna. Upaya menjauhkan manusia dari kebaikan tidaklah dilakukan melainkan oleh setan. Barangkali, budaya instan yang diakibatkan oleh fenomena kecepatan ini adalah setan kontemporer yang mengalami transformasi. Jika demikian, maka tepatlah yang disabdakan Rasulullah, “al-Taannī min Allāh wa al-`ajalah min al-syaythān.”

Untuk menghadapi situasi serba cepat ini, Islam mengajarkan ummat manusia untuk al-anāah, yaitu suatu sikap tenang dan tidak tergesa-gesa. Tenang bukan berarti berleha-leha. Tenang berarti penuh ketelitian, penuh perhitungan, dan tidak serampangan. Tidak perlu merasa terdesak untuk mengikuti cepatnya pergantian citra di media, tidak perlu merasa harus segera menyelesaikan hafalan al-Quran dalam waktu singkat, tidak perlu merasa ketinggalan atau dikatakan mundur saat tidak mengikuti sebuah pemberitaan.

Jika fenomena dromologi menghalang-halangi manusia untuk menghayati setiap realitas dan menikmati proses, maka sikap al-anāah berarti sebaliknya. Apalagi pada era pascakebenaran seperti saat ini, di mana kebiasaan baik me-recheck informasi luntur dan berita bohong dapat tersebar lebih cepat. Sikap untuk tidak grusa-grusu dan cepat emosi dapat diminimalisir dengan spirit al-anāah ini.

Akhirnya, aku mencoba untuk kembali fokus pada bacaanku dan mengabaikan pesan singkat promo tersebut. Sebab, dalam rangka menjauhkan diri dari fenomena dromologis pascamodern dan mengaplikasikan al-anāah, aku mencoba melakukan perhitungan sederhana. Sisa kuotaku masih 10 GB, dan masa berlakunya masih tiga pekan. Hasilnya, aku memilih untuk tidak tergiur mengejar ‘dunia yang berlari itu’. Wallahu a`lam.[]

Bagian Kedua dari Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas

Diskusi Ringan Bersama Dr. Nirwan: dari Syariah hingga Problem Ummat

Sejarah Angka: Bagaimana Angka Muncul dan Berkembang

Film Islami itu Islami? Dilema Film Religi, Tantangan bagi Sineas Muslim