Bagian Kedua dari Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas

teknologi dan realitas

Teknologi Sebagai Pembingkai (Enframing) Realitas

Teknologi sebagai pembingkai realitas, berpusat pada manusia. Tesis ini diperkenalkan pertama kali oleh Heiddeger dalam Being and Time (1927), yang menyatakan  bahwa manusia adalah entitas “penyingkap dunia”. Kami penyingkap dunia dengan berbagai cara tergantung pada bagaimana kami terlibat dengan orang-orang dan hal-hal lain. Ketika kita “membiarkan yang lain”[1], mengambil pendekatan “lepas” tanpa pengaruh dan permintaan kita, realitas muncul sebagai misteri yang tak terbatas. Tetapi ketika kita datang pada “yang lain” dengan permintaan agar mereka memenuhi kebutuhan kita dan sesuai dengan konsep dan sistem kita, realitas muncul secara berbeda. Realitas muncul sebagai cermin dari aktivitas kita sendiri. Nah, di sini lah pembingkaian dimulai.

Pada zaman kuno, Heidegger berpendapat, manusia memiliki cara berbeda dalam menangani berbagai hal. Mereka membiarkan alam, “yang lain” sebagaimana adanya. Dalam bercocok tanam, petani belajar dengan iklim dan musim; Pengrajin/pengukir belajar lewat kayu dan batu; pemburu dengan arus migrasi binatang, burung, dan ikan. Sikap reseptif terhadap alam ini berlanjut hingga hari ini di masyarakat adat. Namun, semua itu tampaknya aneh dan janggal jika dilakukan hari ini. Di dunia Eropa, Heidegger berpendapat, pergeseran itu datang dengan munculnya ilmu pengetahuan dan teknologi mesin. Kerangka kerja konseptual ilmu pengetahuan memungkinkan manusia modern untuk mengkategorikan dunia, sementara teknologi mesin memberi mereka alat yang mereka butuhkan untuk mendominasi. Maka dimulailah pembukaan “grosir” alam, yang berlanjut hingga hari ini. Kita mulai membingkai alam berdasarkan presepsi kita atasnya.[2]

Alih-alih bersikap harmonis dengan alam (yang lain), kita ‘memanfaatkan’ dan ‘menantang’ dunia untuk mengungkapkan kekayaannya yang tersembunyi. Dalam jawaban yang terbuka, alam menjadi sumber daya bagi manusia. Heidegger menulis: “Bumi sekarang mengungkapkan dirinya sebagai distrik penambangan batu bara, tanah sebagai deposit mineral…. Udara diatur untuk menghasilkan nitrogen, bumi untuk menghasilkan biji tambang, biji tambang untuk menghasilkan uranium, misalnya; uranium dibuat untuk menghasilkan energi atom… Semuanya menjadi peluang untuk objektifikasi dan eksploitasi.[3] Singkatnya, manusia membingkai dunia untuk mengungkapkan kekayaannya yang tersembunyi.[4]

Bagian pertama: Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas: Meminjam Kacamata Heidegger

Teknologi sebagai pembingkaian realitas adalah fitur definitif kehidupan modern. Perencanaan melibatkan pembingkaian. Manajemen proyek melibatkan pembingkaian. Kita membingkai dunia dengan mengesampingkan setiap refleksi serius pada hal-hal yang kita hadapi, menganggapnya hanya sebagai sumber daya atau kapasitas yang dapat kita terapkan secara sistematis. Dalam pembelaan kita, kita mungkin berpendapat bahwa ini adalah cara pragmatis dan praktis untuk hidup. Jika saya membangun rumah, saya tidak perlu bermeditasi dan berefleksi tentang “keberadaan” berbagai hal; yang perlu saya tahu adalah alat apa yang saya butuhkan untuk membangun rumah, bahan apa yang perlu saya beli; modal apa yang bisa saya manfaatkan untuk mendanai pembangunan, dan aturan hukum apa yang harus saya perhatikan. Alat dan bahan, uang dan pengetahuan praktis: ini adalah jenis sumber daya yang kita butuhkan untuk membangun rumah. Sisanya—untuk hal-hal rumit dan reflektif—kita serahkan pada para filsuf, seniman atau agamawan.

Memang benar bahwa kadang-kadang kita perlu membingkai dunia untuk menyelesaikan sesuatu. Namun, kita perlu memperhatikan cara kita terlibat dengan dunia, dengan asumsi bahwa kita ingin menghindari memperlakukan orang, makhluk hidup, dan fenomena alam lainnya sebagai sumber daya belaka. Inilah problem utama teknologi sebagai pembingkai: mengurangi kedudukan ontologis dari segala sesuatu. Perhatikan contoh sebuah sungai. Sungai itu mungkin telah mengalir selama sepuluh ribu tahun dan telah menghasilkan satu triliun ikan dan memelihara satu miliar ekosistem. Tetapi pada saat manusia membangun bendungan hidro-listrik di sungai untuk mengubah energinya menjadi tenaga listrik, teknologi mengambil prioritas ontologis. Sungai menjadi pemasok ke jaringan dan sumber produksi listrik. Orang-orang yang tinggal di sungai mungkin tidak setuju, dan tentu saja mereka dirugikan atas hal itu. Tapi bagi teknokrat, sungai adalah sumber daya. Inilah bentuk pembingkaian realitas. Kita telah membingkai sungai sebagai hanya sebagai sumber daya listrik. Saat kita membingkai alam, pada saat itu juga kita sedang mengurangi kedudukan ontologisnya sebagai “alam” sebagaimana adanya. Ini adalah contoh senderhana, kita belum berbicara perihal internet, smart-phone, dan teknologi digital lain, yang makin hari makin mengambil alih sisi-sisi ontologis kita sebagai manusia. Apakah dengan ini kita masih menganggap teknologi sebagai neraca utama kemajuan peradaban dan kemajuan hasil akal budi manusia?

[1] Yang lain di sini bermakna sesuatu di luar subjek.

[2] Martin Heidegger, The Question Concerning Technology and Other Essay, hlm. 311.

[3] Martin Heidegger, The Question Concerning Technology and Other Essay, hlm. 313.

[4] Martin Heidegger, The Question Concerning Technology and Other Essay, hlm. 315.

Sejarah Angka: Bagaimana Angka Muncul dan Berkembang

Infinite (Tak Terbatas) ∞

Membicarakan Waktu: Apakah Waktu Itu?

Epistemologi Ilmu Pengetahuan dan Relevansinya dalam Studi Al-Qur’an