BENCANA MENTAL IMĂ‘AH DALAM AKTIVITAS EKONOMI

BENCANA-MENTAL-IMĂ‘AH

Oleh: Amir Hidayatullah

Iman adalah sumpah setia yang mengakui adanya Tuhan Pencipta dan Pengatur alam yang satu-satunya berhak disembah. Keyakinan ini dibuktikan dengan ucapan kesaksian (syahādah) dan juga aplikasinya dengan seluruh anggota badan. Maka iman tidak hanya keyakinan, tapi juga ucapan dan perbuatan. Ini ditegaskan oleh Rasulullah dengan menyatakan bahwa serendah-rendah bentuk iman adalah menyingkirkan batu ataupun duri dari jalan.

Karena manusia adalah makhluk sosial, maka mencegah lisan dan tangan dari menyakiti orang lain saat berinteraksi adalah multak bagi seorang muslim. Termasuk di dalamnya berdagang, berhutang, persewaan dan berbagai macam transaksi lainnya. Bentuk iman di sini harus diwujudkan dengan bentuk perbuatan dan perkataan sehingga akan terbentuklah sikap dan kharisma seorang muslim yang sejati dalam berislam menjalani kehidupan.

Yang sulit sekarang adalah menjaga agar keimanan ini tetap melekat dan tidak luntur oleh waktu. Iman memiliki tabiat selalu berubah, naik dan turun mengikuti amal kita. Ia naik saat dibarengi dengan taat dan merosot jauh saat disertai maksiat. Allah berfirman di surah Fussilat ayat 30: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Istiqāmah ini adalah syarat sempurnanya iman yang diganjar dengan jannah. Implikasi iman tanpa istiqomah adalah runtuhnya nilai iman dan kecenderungan hawa nafsu menguasai akal yang berujung kepada perbuatan maksiat.Jika seorang hamba terbiasa melawan Tuhan dengan bermaksiat maka ia pun akan menganggap ringan dosa-dosa kecil (shaghāir) yang berdampak munculnya noda hitam (roin) dalam kalbu. Lambat laun, hatinya akan semakin hitam dan keras sehingga susah menerima nasihat, meremehkan kebaikan kecil maupun besar,semakin mudahlah ia melanggar dosa besar (kabāir) dan semakin jauhlah ia dari Tuhannya.

Dalam perdagangan, manusia mendapat ujian sangat besar saat berinteraksi dengan harta. Di mana ia diminta untuk memegang kepercayaan (amanah), menepati janji (al-wafā’) dan berlaku jujur (shidq).Sifat-sifat terpuji inilah yang sudah dicontohkan oleh ‘the Living Quran’ baginda Rasulullah Muhammad SAW. Tak pelak julukan Al-Amin pun disematkan sebagai bentuk pengakuan masyarakat arab terhadap luhur pekertinya. Padahal, kalau ditelisik, sifat-sifat ini tidak lain adalah bentuk pengamalan dari iman kepada Allah.

Dengan ujian harta dan niaga, Allah mengangkat derajat sang nabi dengan kekayaan dan kehormatan. Kekayaan Rasul dibuktikan saat menikahi Khadijah dengan mahar 20 unta mahal yang berharga 50 juta per ekor. Mahar bernilai 1 miliar itu diserahkan nabi sebagai bentuk penghargaannya terhadap perempua sebagai makhluk yang mulia dan memiliki derajat yang tinggi. Tentunya, kekayaan ini didapat dari berkah bersikap istiqomah menerapkan sifat-sifat terpuji seorang mukmin saat ia berdagang.

Secara bahasa, istiqomah dapat ditarik arti garis lurus yang tidak melenceng sedikit pun. Syara’ mendefinisikan istiqomah sebagai perilaku mengikuti jalan agama yang lurus tanpa melenceng ke kiri atau ke kanan dan mencakup melaksanakan berbagai bentuk ketaatan lahir batin dan meninggalkan segala bentuk larangan Tuhan. Dan ini adalah bentuk iman yang diharapkan.

Seorang pedagang dalam melaksanakan mu‘āmalah tijāriyah diharapkan mampu menghindari sifat-sifat tercela yang melenceng dari iman. Allah sudah memberi peringatan keras di surah Al-Muthaffifīn ayat 1-6: Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,pada suatu hari yang besar,(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?

Pedagang beriman akan selalu menyertakan iman dalam setiap gerak ekonominya. Ia sadar bahwa Allah Maha Mendengar isi suara hati, Maha Melihat sekecil apapun perbuatan, dan Maha Membalas amal perbuatan baik dan buruknya. Ia tidak rela memberi nafkah baju dan makanan kepada keluarganya dari transaksi niaga yang haram. Karena ia tahu doa seorang pendosa tak akan didengar, sebagaimana hadis Nabi yang menyatakan: Bagaimana mungkin seorang hamba berdoa Ya Rabb, Ya Rabb, sementara makananya dan pakaiannya haram?

Lebih celaka lagi, saat ia bersikap dengan mengikuti kebanyakan manusia di sekitarnya. Kecurangan menebar di sekelilingnya, maka ia pun ikut berbuat curang. Saat kejujuran menjadi tradisi, ia pun kembali berlaku jujur mengikuti. Sikap tercela ini disebut Imā‘ah. Jika orang berbuat baik kepadanya ia pun berbuat baik. Saat manusia berlaku zalim ia pun membalas demikian. Nabi sudah mengarahkan dengan jelas bagaimana seharusnya mukmin bersikap: jika manusia berbuat baik maka balaslah, dan jika mereka berbuat jelek, janganlah kau berbuat dzalim. (HR Tirmidzi)

Inilah bencana terbesar yang kita lihat sekarang ini. Iman umat Islam melemah melihat kemungkaran menyebar di mana-mana. Mereka turut menyertai kemungkaran itu meski hati kecilnya menjerit mengingatkan dirinya. Mukmin yang bersikap imā‘ah ini mejadi pribadi yang tidak berprinsip, tidak memiliki kemauan, cenderung ragu-ragu, dan hatinya dipenuhi kegelisahan dan rasa waswas.

Maka jadilah seorang mukmin sejati yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, memiliki kesungguhan dalam berniat tanpa keraguan dan malu-malu. Berani menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Tidak malu menyampaikan kebenaran meski dipenuhi pahitnya cemooh dan rasa sungkan. Berani mengubah kemungkaran dengan lidah, tangan, dan hatinya. Dengan begitu, sampailah ia ke derajat istiqomah beriman.

Jika setiap mukmin dalam umat ini mampu beristiqomah dalam iman saat melakukan aktivitas ekonomi, maka kemakmuran akan tersebar merata, rasa curiga dan waswas akan sirna, damai mewarnai kehidupan, dan lambat laun kemiskinan dan kezaliman akan lenyap tanpa diminta.