Category Archives: ARTIKEL

Worldview Intrusion Dan Solusinya

Worldview Intrusion Dan Solusinya

Pendahuluan 

Clash of Worldview, istilah ini paling tepat untuk digunakan sebagai komparasi antara worldview Barat yang menjadikan ‘konsep manusia’ sebagai konsep tertinggi diantara konsep-konsep lainnya (Antroposentrisme), dengan worldview Islam yang menjadikan ‘konsep Tuhan’ sebagai konsep kunci, inti dan tertinggi (Teosentrisme).Sehingga mempengaruhi cara pandang antara kedua peradaban ini dalam memandang ilmu pengetahuan. Secara umum sumber utama konsep ilmu dalam peradaban Barat adalah rasio dan indera dengan berlandaskan pada keraguan serta diperkuat oleh spekulasi filosofis.Sedangkan sumber utama konsep ilmu dalam Islam adalah pancaindera (al-hawas al-khamsah), akal fikiran sehat (al-aql al-salim), berita yang benar (al-khabar al-shadiq), dan intuisi (ilham).

Dikarenakan Barat menafikan peran wahyu dalam membimbing rasio dan panca indra mereka, maka lahirlah worldview yang sekular dalam memandang ilmu. Memisahkan sains dengan agama, rasio dengan wahyu, iman dengan ilmu, dan pada akhirnya worldview sekular ini melahirkan faham ateisme, yang berpengaruh pada berbagai bidang dan disiplin keilmuan, seperti filsafat, teologi, sains, sosiologi, psikologi, ekonomi, dan lain-lain.

Implikasi dari worldview sekular ini melahirkan hypothesa yang menyatakan bahwa, “semakin cerdas seseorang,ia akan semakin sekular bahkan ateis dan semakin bodoh seseorang maka ia semakin religius”. Hypothesa ini mengindikasikan bahwa tidak ada korelasi antara kecerdasan dengan dengan keimanan. Artinya, tidak ada relasi antara ilmu dan iman. Namun sebaliknya, kondisi seperti itu tidak terjadi dan tidak dibenarkan dalam Islam. Keimanan yang berlandaskan kepada tauhid dan kecerdasan dalam Islam selalu berjalan secara bersamaan. Hal ini dipertegas oleh ar-Razi dalam bukunya Aja’ib al-Qur’anbahwa konsep iman dan Islam selalu berkaitan dengan ilmu. Ketiganya merupakan jaringan yang tak dapat dipisahkan. Hal ini jelas berbeda dengan kondisi yang terjadi di dunia Barat.

Baca Juga: Pengkultusan Orang Sholeh

Akibat dari pengaruh worldview sekular yang disebarkan melalui sekularisasi ilmu dari Barat, yang merasuk kedalam pemikiran-pemikiran kaum Muslimin, maka terjadilah di sana-sini kebingungan (confusion) intelektual dan kehilangan identitas (lost of identity). Namun disini menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi istilah clash of worldview lebih tepat disebut worldview intrusion. Banyak contoh yang bisa membuktikan bahwa pemikiran umat Islam kini sedang dirasuki oleh worldview peradaban lain. Banyak cendekiawan Muslim atau ulama memuji habis-habisan pemikiran Immanuel Kant, Karl Marx, Thomas S. Kuhn, Derrida dan kawan-kawan, tapi mengkritik al-Asy’ari, al-Ghazali, al-Shafi’i dan lain-lain. Adapula yang ragu apakah al-Qur’an benar-benar wahyu Allah, sedangkan ia percaya rukun Iman.

Seluruh problem diatas, menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam bukunya yang berjudul “Misykat” termasuk dari implikasi worldview intrusion, artinya Ia memahami makna tauhid, tapi tidak tahu berpikir tauhidi. Imannya tidak didukung oleh akalnya sehingga ilmunya tidak menambah imannya. Ia berilmu namun tidak memahami tujuanutamadariilmu sehingga berimplikasi pada lost of adab,Muslim tapi worldview dan framework berpikirnya tidak. Itulah dampak dari worldview intrusion.

Baca juga: Radikal: Menguak Maknanya bersama Dr. Syamsuddin Arif, M.A

Menurut al-Attas, kekeliruan yang ditimbulkan oleh campuran kedua pandangan alam (worldview intrusion) inilah yang menjadi akar permasalahan epistemologis, dan juga seterusnya menjadi masalah teologis.Akhirnya, worldview sekular ini berimplikasi pada ilmu pengetahuan yang tidak bebas nilai atau tidak netral, sehingga dari worldview sekuler diatas al-Attas berani menyimpulkan bahwa “Problem terbesar yang dihadapi kaum Muslimin adalah ilmu pengetahuan modern yang tidak netral, telah merasuk ke dalam praduga-praduga agama, budaya dan filosofis, yang sebenarnya berasal dari refleksi kesadaran dan pengalaman serta pemikiran manusia Barat. Jadi, ilmu pengetahuan modern harus diislamkan”.

Maka, solusi dari worldview intrusion ini adalah “Islamisasi Ilmu Pengetahuan”sebagaimana statemen al-Attas diatas. Namun, pertanyaannya, mengapa harus Islamisasi Ilmu? Dan apa alasannya? Karena, mendiagnosa virus yang terkandung dalam Westernisasi ilmu, menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, hanya bisa diobati dengan Islamisasi ilmu.Alasannya, bahwa tantangan terbesar yang dihadapi kaum Muslimin adalah ilmu pengetahuan modern yang tidak netral dan telah diinfus ke dalam praduga-praduga agama, budaya dan filosofis, yang sebenarnya berasal dari refleksi kesadaran dan pengalaman manusia Barat. Jadi, ilmu pengetahuan modern harus diislamkan.

Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Menurut al-Attas, mengislamkan ilmu bukanlah pekerjaan yang mudah seperti labelisasi, selain itu, tidak semua dari Barat berarti ditolak. Sebabnya, terdapat sejumlah persamaan antara Islam; dan filsafat dan sains Barat. Oleh sebab itu, seseorang yang ingin mengislamkan ilmu, harus mampu mengidentifikasi pandangan hidup Islam (the Islamic Worldview) sekaligus mampu memahami budaya dan peradaban Barat, dan mampu mengidentifikasi pandangan hidup Islam disini yakni mampu menguasai berbagai konsep yang saling terkait dalam worldview Islam. Seperti, konsep Tuhan, wahyu, penciptaan, psikologi manusia, ilmu, agama, kebebasan, nilai dan kebaikan serta kebahagiaan. Konsep-konsep tersebut yang menentukan bentuk perubahan, perkembangan dan kemajuan serta ditambah pandangan hidup Islam yang dibangun atas konsep Tuhan yang unik, yang tidak ada pada tradisi filsafat, budaya, peradaban dan agama lain.

Baca juga: Batasan Taat Pada Pemimpin

Hal ini, dikarenakan bahwa pandangan hidup dalam Islam adalah visi mengenai realitas dan kebenaran (the vision of reality and truth). Realitas dan kebenaran dalam Islam bukanlah semata-mata fikiran tentang alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik dan budaya sebagaimana yang ada di dalam konsep Barat sekular mengenai dunia, yang dibatasi hanya kepada dunia yang dapat dilihat. Realitas dan kebenaran dimaknai berdasarkan kepada kajian kepada metafisika terhadap dunia yang nampak dan tidak nampak. Artinya, pandangan hidup Islam mencakup pandangan terhadap dunia dan akhirat, yang mana aspek dunia harus di hubungkan dengan cara yang sangat mendalam kepada aspek akhirat, dan aspek akhirat memiliki signifikansi yang terakhir dan final.

Adapun pandangan hidup Islam sendiri, tidak berdasarkan kepada metode dikotomis seperti “obyektif dan subyektif, historis dan normatif, deduktif dan induktif, empiris dan rasional”. Namun, realitas dan kebenaran dalam Islam dipahami dengan metode yang menyatukan (the method tauhid of knowledge).Dengan metode tauhidi ini, maka metode “obyektif dan subyektif, historis dan normatif, deduktif dan induktif, empiris dan rasional, fisika dan metafisika”, dalam ilmu pengetahuan tidak dipertentangkan, melainkan digunakan secara bersama-sama dan saling melengkapi.Faktanya, tidak semua hal itu dapat diindera, dan karenanya, pendekatan rasional harusdikedepankan. Lebih dari itu, dalam Islam dikenal pendekatan intuitif sebagai metodekeilmuan.

Kesimpulan

Dikarenakan esensi Islam adalah agama sekaligus peradaban. Maka salah satu langkah untuk mengembalikan makna Islam sebagai agama dan sekaligus peradaban yakni, dengan “Islamisasi ilmu pengetahuan”.Karena menurut al-Attas, Islamisasi akan berimplikasi pada pembebasan akal manusia darikarakter worldview intrusion seperti “keraguan (shakk), dugaan (dzan), dan argumentasi kosong (mira’)” menuju keyakinan akan kebenaran mengenai realitas spritual, intelligible dan materi.Serta Islamisasi akan mengeluarkan penafsiran-penafsiran ilmu pengetahuan kontemporer dari ideologi, makna dan ungkapan sekular.

Pen : Al- Ustadz Dedy Irawan, M.Ag
Dosen Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

 

 

Batasan Taat Pada Pemimpin

batasan taat pada pemimpin

Batasan Taat Pada Pemimpin

Rasullullah semasa hidupnya telah bersabda kepada para sahabat, bahwa akan ada khalifah-khalifah dan pemimpin setelah Nabi Muhammad SAW (at-Tuhfah 63). Dan sesuai dengan sabda Rasullullah, umat Islam tidak dibiarkan hancur pasca meninggalnya Rasullullah (sebagaimana umat-umat sebelumnya ketika ditinggal Nabi mereka) walaupun tidak ada lagi Nabi setelah Nabi Muhammad yang meneruskan syariatnya, tergantikan oleh para khalifah dan pemimpin yang menegakkan Islam dengan perintah pada yang ma’ruf dan larangan terhadap munkar.

Sayangnya, diantara para pemimpin itu ada yang berlaku tidak adil, membunuh sesama muslim dan merampas hak rakyatnya. Hal ini menimbulkan berbagai keresahan diantara masyarakat lantaran kewajiban untuk mengikuti dan patuh terhadap pemimpinnya setelah bai’at, dengan ancaman hukuman bagi siapa pun yang memberontak oleh rezim yang berkuasa saat itu. Seperti hukuman gantung yang terjadi pada Sayyid Qutb dan sebagian Ikhwanul Mu’minin karena melawan rezim Gamal Abdul Nasir yang mendirikan pemerintahan sekuler-nasionalis di Mesir.

Dalam hadits pun dikatakan bahwa barangsiapa yang memberontak pada pemimpinnya, walaupun hanya sejengkal, maka kematiannya sama seperti orang Jahiliyyah.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً» رواه البخاري

Hadits inilah yang terkadang dipakai beberapa pemimpin untuk mendapatkan ketaatan dari masyarakatnya. Padahal sejatinya, apa yang dilakukan Sayyid Qutb adalah sebagai gerakan untuk menentang politik dan hukum-hukum yang tidak berlandaskan syari’at Islam. Terlebih zaman modern ini, dimana sebagian pemimpin telah mencampurkan adukkan beberapa hukum Negara dengan paham sekularisme, liberalisme, dan paham lainnya dengan tujuan untuk menjauhkan masyarakat dari Islam. Lalu, haruskah umat muslim menaati mereka?

Tidak hanya terjadi pada zaman modern ini, tetapi hal ini pernah terjadi pada masa daulah Umayyah dan setelahnya, terdapat perintah untuk membunuh sesama muslim bagi yang tidak mau berbai’at kepada pemimpinnya, para golongan saling membunuh demi memperebutkan posisi khilafah.

Baca juga: Radikal: Menguak Maknanya bersama Dr. Syamsuddin Arif, M.A

Akan tetapi, hadits di atas tidaklah mutlak berdiri sendiri. Sejatinya, Rasullulah SAW juga menekankan dalam sabdanya akan hal-hal yang harus diikuti dan ditolak terhadap seorang pemimpin melalui konteks dan peristiwa yang berbeda.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنِي نَافِعٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى المَرْءِ المُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ» رواه البخاري

Dari Abdillah RA berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Wajib untuk mendengar dan mentaati (pemimpinnya) atas seorang muslim, baik suka maupun terpaksa. Kecuali bila dia diperintah untuk kemaksiatan. Jika dia diperintah untuk kemaksiatan, tidak ada kewajiban baginya untuk tunduk dan patuh kepada pemimpinnya.” HR.Bukahri

Hadits Ibnu Umar yang satu ini berkaitan dengan hadits pertama yang mengajak umat untuk taat dan patuh terhadap terhadap pemimpinnya dan sabar terhadap hal-hal yang tidak disukai dari pemimpinnya dengan ancaman akan keadaan kematiannya sebanding dengan orang jahiliyyah jika ia memisahkan diri dari jama’ah. Hal inilah yang membuat Ibnu Umar tetap berbaiat terhadap kepemimpinan Yazid walau sebagian umat telah melepaskan baiatnya melihat lemahnya kepemimpinan Yazid bin Mua’wiyyah, padahal di waktu yang sama, sebagian sahabat mengajukan diri mereka untuk membaiat Ibnu Umar yang langsung ditolak tegas dengan dalil di atas.

Tapi hal ini tidak mengharuskan umat untuk taat terhadap hal-hal  yang dianggap keluar dari agama ataupun maksiat, karena pada hadits kedua (hadits Ibnu Umar) memeberikan batasan terhadap hal-hal yang harus dan tidak boleh ditaati. Di dalam hadits dikatakan, bahwa jika kita diperintahkan terhadap kemaksiatan, kemunkaran, maka tidak ada kewajiban untuk taat dan patuh terhadap perintahnya, dan barang siapa mampu untuk menghalangi perintah itu, maka tidak ada larangan baginya untuk menentangnya.

Baca juga: Pengkultusan Orang Sholeh

Sejak dulu, telah banyak ulama yang mengkrtitik penguasa yang lalim demi kebenaran yang berujung pada kriminalisasi ulama dan penyiksaan. Sayyid Qutb salah satu contoh kontemporer. Sebagian masyarakat yang takut memilih untuk patuh. Contoh pada masa klasik adalah Imam Nawawi yang berani berhadapan langsung dengan penguasa untuk menyampaikan kritiknya.

Tidak semua orang berani untuk melawan dan mengkritik secara langsung perintah pemimpin yang tergolong maksiat, dengan bayangan akan siksaan maupun penggalan. Dalam hadits lain, diperbolehkan untuk hijrah dan pergi ke tempat yang lebih aman jika tidak mampu untuk menolak dan melawan perintah pemimpin yang salah. Salah satunya adalah Sa’id bin Jubair, seorang tabiin yang dipaksa mengaku kafir oleh panglima Umayyah –Hajaj bin Yusuf- memutuskan meninggalkan Irak dan pergi ke dekat Mekah.

Baca juga: Mencetak Pemimpin Masa Depan

Dalam hadits ‘Ubadah disampaikan bahwa “taat dan patuh” terhadap pemimpin tidah berlaku jika hal itu berkaitan dengan kekafiran. Baik masyarakat sosial maupun individu wajib untuk menolaknya, dan jika merasa ia lemah ataupun tidak kuasa atas pemimpinnya, maka dianjurkan baginya untuk hijrah ke tanah lain, guna menghindari kekafiran dan kemaksiatan yang dilakukan pemimpinnya.

Dalam hadits Mu’adz yang diriwayatkan Ahmad disebutkan bahwa tidak ada kewajiban untuk taat kepada siapa pun yang tidak menaati perintah Allah, dalam kasus ini khususnya terkait pada hal kepemimpinan. Begitu pula dalam hadits ‘Imron bin Husoin dengan sanad yang kuat (qowi’) mengatakan hal yang serupa.

Batasan taat pada pemimpin juga telah ditegaskan dalam Al-qur’an surat an-Nisa ayat 59;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

Surat An-Nisa ayat 59 turun sebagai batasan taat kepada perintah pimpinan. Dari hadits Ibnu Juraij mengatakan bahwa ayat ini berkenaan dengan diutuskan Abdullah bin Hudzafah bin Qais sebagai pemimpin suatu pasukan. Cerita lebih lanjut disampaikan dalam hadits Ali yang mengatakan bahwa pasukan Abdullah bin Hudzafah pernah membuatnya marah, hingga ia memerintahkan psaukannya untuk masuk kedalam api unggun. Sebagian menolak perintah tersebut dan mengadukannya pada Rasullullah yang langsung menjawab, “tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan, sebab ketaatan hanya dalam kebaikan,”. Dan ayat ini turun sebagai petunjuk, apabila berselisih pendapat akan apa yang harus ditaati, hendaknya kembali kepada Allah dan Rasulnya

Baca juga: Pemimpin Idaman Ala Gontor

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ زُبَيْدٍ، عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ جَيْشًا، وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَجُلًا فَأَوْقَدَ نَارًا وَقَالَ: ادْخُلُوهَا، فَأَرَادُوا أَنْ يَدْخُلُوهَا، وَقَالَ آخَرُونَ: إِنَّمَا فَرَرْنَا مِنْهَا، فَذَكَرُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ لِلَّذِينَ أَرَادُوا أَنْ يَدْخُلُوهَا: «لَوْ دَخَلُوهَا لَمْ يَزَالُوا فِيهَا إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ»، وَقَالَ لِلْآخَرِينَ: «لاَ طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي المَعْرُوفِ»

Sayyid Qutb menafsirkan bahwa yang dimaksud ‘Ulul Amri dalam surat an-Nisa ayat 59 yaitu pemimpin dan ulama. Karena pemimpin mempunyai kewajiban untuk memerintah dan menetapkan hukum.

Dalam buku Fii Dzilalil Qur’an. Sayyid menafsirkan bahwa urutan “taat” kepada pemimpin berada di urutan ketiga, yaitu setelah taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Hal ini menandakan bahwa pemimpin yang harus kita taati dan patuhi terlingkup pada mereka yang taat pada aturan dan syari’at Allah serta apa yang disampaikan Rasullullah. karena itulah, perintah “أطيعوا”  atau taatilah tidak diulangi pada lafadz Ulul Amri.  Sekali lagi, Sayyid menekankan bahwa kata “taat” hanya berlaku pada hal-hal yang baik, bukan terhadap kemaksiatan. (Fii Dzilali-l-Qur’an 2/691)

Jadi, dalam melakukan sesuatu, selalu ada batasannya. Begitu pula dalam hal ini terdapat batasan taat pada pemimpin. Setiap individu wajib untuk menunaikan bai’at kita terhadap pemimpin sampai akhir pemerintahannya, dalam hal yang disukai maupun tidak, selama perintah itu bukan untuk kekafiran, ataupun kemaksiatan. Jika hal itu terjadi, kita boleh untuk menentang, menolak, demo, walau bukan memberontak secara total dalam kepemimpinannya, mengingat pada hadits pertama mengharuskan kita untuk taat pada pemimpin.[Nindhya Ayomi Delahara]

 

 

Radikal: Menguak Maknanya bersama Dr. Syamsuddin Arif, M.A

Radikal berarti dari akar

Isu radikal yang terus dikaitkan dengan Islam dan semakin terang-terangan menghina dan menyudutkan Islam telah menyita perhatian banyak kalangan untuk ikut memberikan respon. Terlebih saat munculnya wacana larangan pemakaian cadar dan celana cingkrang di lingkungan instansi pemerintah bagi para ASN sepekan setelah menteri agama yang baru (Fachrul Razi) dilantik. Dari sekian banyak yang mengkiritik dan menyayangkan kebijakan ini adalah salah satu peneliti INSISTS, Dr. Syamsuddin Arif. Hal ini ia ungkapkan saat mengisi teras peradaban bersama mahasiswi-mahasiswi program pasca sarjana di gedung pasca sarjana Mantingan pada selasa (24/12). Dalam kesempatan yang mahal ini, para mahasiswi diajak untuk meninjau kata “radikalisme” melalui aspek sejarah dan bahasanya.

Istilah radikal ternyata bukan hanya mengusik, tapi juga telah menimbulkan masalah. “Karena istilah Islam itu disematkan, dan di Indonesia khususnya dikaitkan dengan Islam, jadi  anda harus tahu gambaran atau petanya secara umum.” demikian ungkap Dr. Syamsuddin di awal-awal penjelasannya.

Islam yang Compang-camping

Pada abad 20 telah muncul upaya-upaya untuk merusak dan merobek-robek agama Islam. Dr. Syamsuddin menganalogikannya seperti baju atau kain – yang biasanya berfungsi menutup aurat. Jika sudah dirobek-robek maka akan terlihat compang camping. Demikian kiranya gambaran Islam yang terus ditampilkan – Islam compang-camping. Robekan-robekan yang dihasilkan dari baju Islam berubah istilah menjadi Islam Politik, Islam Militan, Islam Modernis, Islam Progressif (bahasa lainnya berkemajuan), Islam Modernis, Islam Radikal, Islam Liberal dsb. Inilah yang disebut dengan distorsi Islam. Prof Abuddin Nata, salah satu professor di UIN mengumpulkan  setidaknya ada 31 macam distorsi Islam.

Dr. Syamsuddin menjelaskan bahwa semua upaya-upaya ini (merobek-robek Islam) dilakukan tidak lain oleh orang-orang jahat – baik non muslim maupun orang-orang yang merasa Islam, menganggap dirinya Islam namun sejatinya (mungkin) tidak mengerti Islam atau malah diam-diam sebenarnya tidak suka atau membenci Islam. Tentu saja ini terbukti dengan terbitnya buku-buku yang ditulis – baik oleh orang-orang Barat maupun oleh orang Islam sendiri. Buku-buku berjudul Civil Islam (ditulis Robert W. Hefner seorang mata-mata Amerika), European Islam (Jorgen S. Nielsen), American Islam (Paul M. Barret), Shi’i Islam (Moojen Momen) atau Islam Inklusif (Dr. Alwi Shihab), Islam Rasional (Harun Nasution), dan lainnya. Semuanya menunjukkan kalau bukan niat buruk, ia merupakan pemahaman yang dangkal dan keliru akan Islam. Selain itu juga sebuah upaya membeda-bedakan hingga membenturkan Islam – seolah-olah Islam Amerika berbeda dengan Islam Indonesia atau Islam Eropa tidak sama dengan Islam Indonesia.

Baca juga:

Pengkultusan Orang Sholeh

Charcoal, Si arang hitam yang kaya akan manfaat

“Orang-orang Barat, orang-orang bule yang gak kenal thoharoh, gak kenal bersuci, mereka gak ngerti Islam itu apa? terus ngomong tentang Islam, nulis buku tentang Islam. Kalau mereka tulis buku tentang Kristen, terserah ya,” krtik Dr. Syamsuddin. Beliau kemudian mengaitkannya dengan worldviewWhat you do, what you write, what you say, itu is reflecting what you have in your mind, is reflecting the way of your thingking, the way you think. So what you do, what you say, what you write is what you think .The way you think is express in your writing, ini your doing, in your activities, in your statement.”

Perlu Ada Penetralisir

Selain mengkritik, Dr. Syamsuddin juga menambahkan bahwa semua munkarotul afkar atau al afkarul munkarot yaitu istilah yang ia sebut dari pendistorsian Islam jika dibiarkan – didiamkan saja, tidak diprotes atau tidak berusaha ditunjukkan salahnya maka kitalah yang salah. “Man ro’a minkum munkaran, fal yuqhayyirhu biyadihi”. Dan untuk mengubah ini semua – menerangkan bahwa ini salah kita harus mempunyai dasar ilmu yang kuat, “you need to have a strong ground,” nasehatnya. Beliau juga menambahkan delain dasar ilmu yang kuat, agar mampu menolak dan tidak ikut-ikutan, memliki logika yang baik juga diperlukan sehingga terhindar dari pertanyaan-pertanyaan menjebak (dilema palsu) yang mengarahkan pada pembodohan dan pendunguan intelektual.

Walaupun sempat menyayangkan beberapa tokoh Islam dan cendekiawan yang terpapar paham radikal, Dr. Syamsuddin sempat mengapresiasi sikap seorang tokoh yang sangat kuat Islamnya yang menolak kehadiran Islam Nusantara. Ialah Prof. Ali Mustofa Ya’kub (alm.), tokoh yang jabatan terakhirnya sebagai Imam besar Masjid Istiqlal. “Islam itu ya Islam saja,” demikian katanya.

Makna Radikal

Adapun radikal sendiri berasal dari bahasa latin radix yang berarti akar. Sedangkan radikalis adalah derivasi dari radikal artinya berkaitan dengan akar, dimulai dengan akar, sampai ke akar hingga mengakar. Singkatnya “anything to do with akar this called radical.” Adapun menurut sejarahnya, istilah Radikal (dengan huruf “r” besar) digunakan di Inggris ternyata lahir dari peristiwa yang dikenal dengan “Revolusi Perancis” dimana raja yang terakhir Perancis (Louis) berhasil digulingkan dan sistem pemerintahan diganti – dari kerajaan menjadi republik. Raja Louis beserta istri dan anak-anaknya dibawa ke alun-alun ke tanah lapang, disaksikan oleh ribuan orang-orang dan dipenggal dengan silet raksasa.

Karena peristiwa ini revolusi seketika berubah menjadi demam, momok bagi raja-raja di sekitar Perancis termasuk ratu Inggris. Para politisi Inggris pun terbelah menjadi dua – ada yang menginginkan Inggris berevolusi dan tetap pada sistem kerajaannya. Orang-orang yang menginginkan revolusi lalu disebut radikal dan sebaliknya yang mempertahankan sistem kerajaan disebut konservatif. Dan sejak saat itu radikal akhrirnya diartikan sebagai ekstremis (orang yang menginginkan perubahan yang sangat besar/ ghayatu taghayyur). Setelah radikalisme politik, lalu muncul istilah radikal pada tataran agama (radikalisme agama) yang dilekatkan pada seorang teolog Jerman bernama Martin Luther. Karena usahanya mengubah struktur institusi gereja ia pun disebut religious radical.

Setelah awalnya berkonotasi negatif, istilah radikal juga sempat bermakna netral. “maksudnya tidak bermakna negatif,” jelas Dr. Syamsuddin. Radikal tidak lagi menggunakan kekerasan. Di tangan Descartes, istilah radikal berubah makna  menjadi usaha melakukan revolusi epistemologi yaitu perubahan orientasi ilmu pengetahuan. Dari berkonotasi negatif, lalu berkonotasi netral radikal juga sempat digunakan untuk istilah bangga-banggaan. Dr. Syamsuddin mencontohkan seorang tokoh bernama Thomas Panes – perumus hak-hak asasi manusia (the right of man) yang kabur ke Amerika karena dianggap anti Ratu Inggris dan menginginkan Inggris berubah menjadi republik. Di Amerika ia begelar pahlawan karena keradikalannya.

Makna Radikalisme

Masih dalam memetakan radikal, setelah mengajak menilik sejarah awal pengistilahan radikal, Dr. Syamsuddin menjabarkan empat pengertian yang terkandung dalam kata radikalisme dan tambahan makna yang diinject (disuntikan) ke dalam istilah radikalisme yang ia kutip dari buku mc. Laughlin, Kajian filosofis tentang kajian radikalisme (Radicalism: A Philosophical Study). Dalam satu tambahan makna yang disuntikkan, radikalisme berarti Islamis, Salafi dan Jihadi. “Inilah radikal yang dipakai oleh menteri agama sekarang ini,” ungkap Dr. Syamsuddin.

Lain menteri agama lain pula Dinas intelegensin Amerika mendefinisikan makna radikalisme. Dalam definisi mereka radikalisme adalah cita-cita berbentuk kegiatan yang berusaha mendukung atau mewujudkan perubahan di masyarakat yang membahayakan sistem demokrasi. Dan di luar dugaan orang, tenyata radikalisme tidak hanya istilah yang digunakan pada politik, dalam urusan agama atau sosial. Dalam istilah agrari terdapat istilah agrarian radicalism (radikal agrarian) yaitu orang-orang yang menginginkan supaya UU pertanahan itu diubah, diatur dan dibatasi.

Di akhir penjelasannya, peneliti INSISTS ini menyimpulkan sekaligus menyesalkan bahwa penggunaan makna radikal telah menjadi semena-mena. Digunakan dengan sewenang-wenang – ada yang disematkan untuk musuh (orang yang tidak setuju/ sepaham) atau untuk melanggengkan kekuasaan. Konotasinya bergantung pada siapa yang hendak menggunakannya.[Dzunnuraini & Nindya Ayomi]

Kritik terhadap Deisme; Dominasi Akal yang Berlebihan.

kritik deisme

Oleh: Khairul Atqiya

Pokok Pemikiran Deisme

Deisme memilki empat pokok pemikiran. Pertama, mempercayai Tuhan namun menolak agama dalam artian agama sebagai suatu institusi atau lembaga. Agama dalam pemahaman deisme adalah apa yang mampu dipahami oleh akal.[1] Beragama menurut deisme adalah menangkap pesan universal yang disampaikan oleh Tuhan tanpa pandang bulu. Setiap individu dapat menerima pesan tersebut selama dia menggunakan akalnya. Karena itu tidak ada otoritas khusus yang dipegang oleh institusi keagamaan atau individu-individu tertentu di dalamnya.[2]

Penolakan terhadap agama secara langsung berpengaruh terhadap sumber agama yaitu kitab suci dan ini menjadi pokok pemikiran yang kedua.[3] Dengan menolak suatu hak khusus bagi seseorang dalam sebuah agama maka secara tidak langsung deisme juga menolak adanya Nabi sebagai utusan Tuhan. Dan karena itu apapun yang dibawa Nabi tidak diterima juga.

Ketiga, deisme menolak hal-hal yang di luar nalar manusia yang berkaitan dengan mukjizat dan hal-hal gaib dalam agama Sebagaiman penolakan terhadap Nabi deisme juga memberikan penolakan kedapa mukjizat sebagai suatu keutamaan seorang Nabi yang diberikan oleh Tuhan. Menurut pemikiran deisme jika seorang Nabi dapat melakukan suatu hal yang luar biasa mereka pasti mampu untuk melakukan hal tersebut. Jika mereka tidak mampu maka seorang Nabi pun tidak mampu dan apa yang dianggap sebagai suatu mukjizat hanyalah dongeng.Dan karena seorang deist percaya bahwa beragama harus menggunakan akal, maka hal apapun yang tak dapat diterima oleh akal tidak dapat diterima sebagai ajaran dalam agama.[4]

Dan keempat, deisme menolak keterlibatan Tuhan dalam proses berjalannya alam semesta, kerana peran Tuhan telah tergantikan oleh hukum-hukum alam yang telah diciptakan-Nya. Seluruh peristiwa yang terjadi di alam telah memiliki penjelasan ilmiah yang menjelaskan sebab terjadinya.

Kritik atas Pemikiran Deisme

Pemikiran-pemikiran deisme tidak dapat diterima karena deisme memposisikan manusia sebagai pusat (antroposentrisme) dan bukan Tuhan (teosentrisme). Selain itu deisme tidak dapat diterima karena meniadakan Tuhan dari alam yang mengakibatkan hilangnya kesakralan alam dan ini merupakan hasil dari antroposentrisme tersebut. Alam hanya dipandang sebagai objek. Dan penyandaran kepada akal secara berlebih sebagai konsekuensi dari antroposentrisme. Akal dijadikan sumber pengetahuan dan sebagai tolak ukurnya. Manusia dibawa untuk mejadi rasionalistik-empiris yang menolak eksistensi aspek-aspek metafisik. Selanjutnya, alasan terkahir deisme tidak dapat diterima adalah sebab kemunculan deisme itu sendiri. Karena deisme muncul sebagai kritik atas ajaran Kristen dan bukan Islam, meski dalam titik tertentu Islam juga mendapat sorotan.[5] Maka membawa paham deisme ke dalam Islam tidaklah tepat.

Deisme menempatkan Tuhan tidak lagi sebagai pusat (teosentris) dan digantikan oleh manusia (antroposentris). Manusia menjadi faktor penentu dan menjadi tolak ukur.[6] Manusia dengan akalnya menjadi penentu segala sesuatu. Saat terjadi fenomena alam yang dilakuakan adalah mencari penjelasan secara ilmiah dengan mengacu kepada ilmu-ilmu produk akal manusia. Alam dengan segala fenomena yang terjadi di dalamnya memang dapat dijelaskan dengan hukum-hukum alam dan ilmu pengetahuan yang ada saat ini. Misalnya teori yang menyatakan bahwa semakin kecil penampang suatu benda dapat menghasilkan gaya semakin besar dapat digunakan untuk menjelaskan kenapa paku dengan ujung yang tajam lebih mudah menembus permukaan benda dibandingkan dengan paku yang tumpul. Atau menjelaskan proses perputaran bumi dan planet lainnya dengan hukum grvitasi. Juga berbagai fenomena alam lainnya yang dapat dijelaskan secara ilmiah.

Baca Juga:

Deisme, Apa Itu? Keberagamaan dengan Akal Budi

Al-Attas Bertemu Lakatos: Merumuskan Metodologi Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Dromologi, Apa itu? Teori Postmodern tentang Budaya Ketergesa-gesaan

Namun hal ini tidak dapat sepenuhnya diterima. Jika menggunakan pemahaman bahwa seluruh fenomena alam dapat dijelaskan secara ilmiah menggunakan ilmu-ilmu yang ada maka pemahaman tersebut akan terbatas hanya pada fenomena-fenomena yang dapat diindera dan masuk akal. Segala hal yang tidak dapat dibuktikan secara empiris dan rasional akan tertolak. Karena di lain sisi, kehidupan manusia tidak terbatas pada hal-hal fisik. Terdapat aspek-aspek metafisika dalam kehidupan manusia. Dan antara keduanya memiliki hubungan yang erat. Ilmu yang rasionalistik-ilmiah perlu untuk memiliki pertimbangan berdasarkan nilai-nilai metafisik untuk menghindari kerusakan. Jika ilmu hanya dipandang sebagai objek kajian untuk memahami alam untuk kemudian dimanfaatkan tanpa pertimbangan pada nilai moral dan kemanusiaan maka ilmu akan menjadi sumber masalah.[7]

Kebersandaran berlebih pada akal mengarahkan deisme kepada penihilan peranan Tuhan dalam alam. Tuhan tidak lagi berperan karena seluruh fenomena alam dapat dijelaskan secara ilmiah. Matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat memiliki penjelasan ilmiah. Bencana-bencana alam dapat ditemukan penjelasan ilmihanya. Jika segala sesautu telah memiliki penjelasan ilmiah atau memiliki sebab ilmiah maka peranan Tuhan telah tergantikan oleh hukum-hukum alam yang berlaku yang menjadi penjelasan bagi fenomen-fenomena alam tersebut. Tuhan tidak lagi dibutuhkan atau dalam bahasa yang lebih halus Tuhan tidak ikut berperan serta dalam proses berjalanya alam semesta karena alam telah memiliki mekanismenya yang sempurna. Bahkan kejadian yang anomalipun dapat ditemukan penjelasanya. Jika benda-benda selalu jatuh kembali ketika terlempar ke atas dan jika ada benda yang dapat melayang dan tidak jatuh sebagaimna seharusnya—seperti pesawat terbang— pasti ada penjelasan secara ilmiah.

Dampak dari penghilangan peran Tuhan dalam alam adalah hilangnya nilai dan kesakralan alam. Ilmu hanya untuk memahami alam untuk berdayakan saja. Nilai-nilai luhur tidak diikutsertakan di dalamnya. Alam hanya menjadi objek ilmiah yang perlu dipahami untuk dieksploitasi. Hal ini memang mendatangkan kemajuan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun sayangnya tidak diikuti dengan bertambahnya kesejahteraan manusia.[8] Dan tidak juga menambah kesadaraan akan nilai-nilai kemanusiaan. Pemikiran ini hanya bertolak pada pengkajian alam untuk ilmu saja.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ajaran dalam paham deisme tidak dapat diterima. Karena pemahaman yang diajarakan deisme membawa manusia menuju arah yang tidak baik. Deisme membawa manusia kepada penyandaraan berlebih pada akal. Penganut deisme adalah penganut pemahaman rasionalistik dan empiris. Pengguanaan akal dan panca indera secara berlebih dengan menolak apapun yang tidak masuk akal atau tidak dapat diindera mengarahkan manusia untuk menolak hal-hal dan aspek metafisik. Penolakan terhadap aspek matafisik membawa kepada penolakan Tuhan dangan aspek matafisiknya. Selanjutnya agama hanya dipahamai sebatas kepada hal yang masuk akal saja. Tuhan yang metafisik tidak dapat diterima keberadaanya pada dunia yang fisik sehingga alam tidak lagi memiliki keterkaitan dengan Tuhan. Akibatnya adalah pengosongan nilai dari alam. Alam hanya dipandang sebagai objek ilmiah untuk dipahami dan dikesploitasi. Pada akhirnya ini membawa kepada bencana kemanusian karena tidak ada kontrol terhadap ilmu pengetahuan dan pemanfaatannya.

[1] Dalam bukunya The Age of Reason (1794) Thomas Paine seorang tokoh deisme mengatakan:

“ I believe in one God, and no more; and I hope for happines beyond this life. I believe in the equality of man; and I believe that the religious duties consist in doing justice, loving mercy, and endeavoring to make our fellow-creatures happy”

Dalam pernyataanya di atas, Piane menyatakan kepercayaanya pada tuhan dan harapanya tentang kebahagiaan di kehidupan setelah mati. Selain itu, dia mempercayai tugas agama sebagai pembawa kebahagiaan bagi makhluk hidup. Terlihat dari pernyataanya Paine adalah seorang yang bergama, dalam artian mengakui keberadaan tuhan dan agama.

Dan pada bagian selanjutnya terdapat pernyataan Paine yang menarik karena bertolak belakang dengan pernyataan yang pertama. Dia mengatakan:

“ I do not believe in the creed professed by the Jewish church, by the Roman church, by the Greek church, by the Turkish church, by the Protestant church, nor by any church that I know. My own mind is my own church. All national institutions of churches, whether Jewish, Christian or Turkish, appear to me no other than human inventions, set up to terrify and enslave mankind, and monopolize power and profit”

Dalam pernyataan ini, Paine menolak ajaran-ajaran gereja. Beragama menurutnya adalah menggunakan akal. Dia menolak isntitusi keagamaan karena menurutnya itu adalah bentuk pengekangan dan perbudakan. Dari dua bagian pernyataan Paine di atas terlihat bahwa dia adalah seorang yang percaya tuhan dan agama tetapi menolak lembaga keagamaan. Dan di bagian lain buku ini dia mengatakan bahwa agama adalah rekayasa manusia mengatasnamakan Tuhan. Baginya agama adalah akal pikiran manusia. Thomas Paine, The Age of Reason, (Luxembourg: 1794), bagian pertama.

[2] Taylor, ERN p. 463.

[3] Dalam hal ini buku The Jefferson Bible oleh Thomas Jefferson dapat menjadi bukti. Buku tersebut ditulis sebagai bentuk penolakan terhadap institusi agama yang menurutnya korup dan menyeleweng dari apa yang diinginkan oleh Yesus.  Thomas Jefferson, Jefferson Bible The Life and Moral of Jesus of Nazareth, (N. D. Thompson Publishing: 1902). Lihat juga pendapat Paine tentang Wahyu, dia mengatakan:

“revelation, when applied to religion, means something communicated immediately from God to man. No one will deny or dispute the power of the Almighty to take such a communicatioan, if he pleases. But admitting, for the sake of a case, that something has been recealed to a certain person, and not revealed to any other person, it is revelation to that person only. When he tells it to a second person, a second to a third, a third to a fourth, and so on, it ceases to be a revelation to all those persons. It is revelation to teh first person only, nad hearsay to every other, and consequently they are not obliged to believe it.”

Dalam pernyataan di atas Paine menyatakan bahwa tidak ada wahyu yang perlu disebarluaskan. Wahyu yang diterima seseorang adalah untuk dirinya. Ketika dia menyapaikan wahyu tersebut kepada orang lain itu bukan lagi wahyu karena itu bersala dari dirinya dan orang yang mendengarkannya tidak dapat memastikan apakah wahyu tersebut benar-benar dari Tuhan. Lebih jauh lagi tidak ada satupun tulisan dalam Injil yang ditulis langsung oleh Yesus. Lihat Thomas Paine, The Age of Reason, (Luxembourg: 1974), bagian pertama.

[4] Karena deisme menyandarkan segala hal pada rasonalitas dan empiris maka hal-hal yang tidak terindera dan tidak masuk akal tidak dapat diterima. Paine mngatakan:

“when I am told that the Koran was written in Heaven dan brought to Mahomet by ana angel, the account comes too near the same kind of hearsay evidence and second-hand authority as the former. I did not see the angel my self, and, thereroe, I hanve a right not to believe”

Dalam pernyataanya Paine tidak percaya kepada malaikat yang membawa wahyu kedapa Nabi Muhammad SAW karena dia tidak melihatnya secara langsung.

[5] Silahkan baca The Age of Reason oleh Thoma Paine dan Jefferson Bible oleh Thomas Jefferson yang dianggap sebagai buku yang mengajarkan deisme. Dalam buku tersebut terdapat banyak kritik terhadapa agama Kristen.

[6] Prof. D. H. Faisal Ismail, Islam, Doktrin, dan Isu-isu Kontemporer (Yogyakarta: IRCiSoD, 2016), p. 330.

[7] Archie J. Bahm seperti yang dijelaskan Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: LESFI, 2016), p. 43-36.

[8] Husain Hariyanto, Paradigma Holistik (Jakarta: TERAJU, 2003), p. 2.

Deisme, Apa Itu? Keberagamaan dengan Akal Budi

deisme

Oleh: Khairul Atqiya

Pendahuluan

Deisme adalah salah satu aliran pemikiran yang membahas hubungan antara alam dan pencipta (Tuhan). Tuhan sebagai pencipta alam semesta beserta seluruh hal yang ada di dalamnya memiliki peran untuk membuat alam berjalan dengan teratur.[1] Keyakinan akan peran Tuhan dan ketundukan alam pada ketentuan-ketentuan Tuhan adalah keyakinan dari semua agama. Namun dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan mutakhir telah menemukan hukum-hukum yang menundukan alam. Alam berjalan berdasarkan mekanisme-mekanisme tertentu yang dapat dijelaskan secara rasional. Pemikiran seperti ini pada tahap selanjutnya memuncul pemikiran bahwa peran Tuhan telah tergantikan oleh hukum-hukum yang diciptakan-Nya.[2] Pendapat ini merupakan pemikiran dari deisme.

Baca juga: Al-Attas Bertemu Lakatos: Merumuskan Metodologi Islamisasi Ilmu Pengetahuan & Dromologi, Apa itu? Teori Postmodern tentang Budaya Ketergesa-gesaan

Dengan pemikiran ini deisme menjadi paham yang membingungkan. Karena deisme percaya Tuhan itu ada dan menciptakan seluruh alam namun tidak mengakui keterlibatan Tuhan secara langsung dalam proses berjalanya alam semesta.[3] Setelah proses penciptaan Tuhan tidak lagi memiliki peran di alam. Alam telah memiliki mekanisme yang utuh untuk menunjang berjalan seluruh fenomena di dalamnya.

Mekanisme berjalannya alam tunduk pada hukum-hukum alam. Hukum alam adalah instrumen yang disediakan Tuhan untuk memastikan alam berjalan dengan semestinya sebelum akhirnya Tuhan tidak lagi terlibat dalam seluruh kejadian-kejadian alam tersebut. Tuhan menciptakan alam semesta dengan segala kelengkapanya untuk dapat berjalan secara mandiri. Ini adalah salah satu inti dari pemikiran deisme. Tapi apakah pemikrian seperti ini dapat diterima? Dalam tulisan ini akan dibahas kesalahan-kesalahan dalam paham deisme.

Pengertian Deisme dan Sejarahnya

Deisme yang dalam bahasa Inggris disebut dengan deism berasal dari kata deus dan dios. Deus merupakan kata dalam bahasa Latin sedangkan dios adalah kata dalam bahasa Yunani, keduanya berarti Tuhan.[4] Adapun menurut KBBI deisme adalah paham yang mengakui adanya Tuhan melalui akal.[5] Selain itu deisme juga diartikan sebagai paham atau aliran filsafat dan aliran teologi yang mengakui Tuhan sebagai pencipta alam semesta namun menolak hal-hal yang metafisik.[6] Dan dalam The Cambridge Dictionary of Philosophy deisme dijelaskan sebagai paham yang meyakini bahwa agama yang benar adalah agama alam (Nature Religion), yaitu agama yang dapat dicapai oleh semua orang melalui akalnya tanpa terkecuali.[7]

Deisme berkembang di Eropa dan Amerika pada abad pencerahan. Pertumbuhan ini didorong oleh perkembangan ilmu pengetahuan yang bersandar kepada akal dan panca indera sebagai respon dan kritik terhadap dogma-dogma dalam agama Kristen. Pada tahap selanjutnya deisme tidak lagi mengarahkan kritiknya kepada agama Kristen tapi kepada semua agama secara umum.[8] Deisme menolak adanya otoritas keagamaan yang mengatur individu-individu dalam sebuah institusi resmi. Bagi para deist beragama adalah pengalaman individu dan bukan monopoli lembaga atau institusi keagamaan apapun.[9]

Baca Juga: Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas: Meminjam Kacamata Heidegger & Kritik terhadap Deisme; Dominasi Akal yang Berlebihan.

Di antara tokoh-tokoh deisme Inggris yang terkenal adalah John Toland, Anthony Collins, Herbert of Cherbury, Matthew Tindal, and Thomas Chubb, Samuel Clark. Selain itu temasuk juga Voltaire, Reimarus, Elihu Palmer, Denis Diderot, Jean Le Rond d’ Alembert, Jean-Jacques Rousseau and M. Jean Antione de Condorcet, Gotthold Lessing, Immanuel Kant. Mereka adalah tokoh deisme di Eropa. Dan terdapat Benjamin Franklin dan Thomas Jefferson di Amerika serta Thomas Paine.[10] 

[1] M. Kholid Muslih, et al., Worldview Islam (Ponorogo: Unida Gontor Press, 2018), p. 150-152.

[2] Holmes Rolston III, Religion and Science: History, Method, Dialogue (London & New York: Routledge, 1996), ed: W. Mark Richardson and Wesley J. Wildman,  p. 70.

[3] Pemahaman deisme seperti ini muncul sebagai implikasi dari penyandaran yang berlebih kepada akal. Segala sesuatu diukur dan dilihat dengan ukuran yang rasionalistis. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang telah mencapai titik untuk mampu menjelaskan fenomen-fenomena alam membawa penganut paham deisme pada kesimpulan bahwa alam mampu berjalan dengan sendirinya tanpa keterlibatan Tuhan, atau setidaknya berpendapat bahwa Tuhan telah memberi alam alat dan instrumen untuk bergerak sendiri.

[4] Eric Partridge, Origins: A Short Etymological Dictionary of Modern English (London & New York: Routledge, 2006), P. 753.

[5] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Indonesia, 2008), p. 332.

[6] Bron Taylor, Encyclopedia of Religion and Nature (London & New York: Continuum, 2005), 462. Selanjutnya disingkat ERN.

[7] Robert Audi, The Cambridge Dictionary of Philosophy, (New York: Cambridge University Press, 1999), p. 216. Selanjutnya disingkat CDoP.

[8] Taylor, ERN, p. 462-463.

[9] Audi, CDoP, p. 216.

[10] Taylor, ERN p. 463. Bandingkan dengan Audi, CDoP p. 216.

Al Hisbah, Peranannya dalam Pengawasan Mekanisme Pasar

al hisbah

Al Hisbah secara bahasa berarti menghitung, berfikir, memberikan opini, pandangan dan lain-lain. Sedangkan secara istilah Ibnu Taimiyah mendefinisikan sebagai lembaga untuk menegakkan kebaikan (al-ma’ruf) dan mencegah keburukan (al-munkar). Penegakkan dilaksanakan dalam wilayah kewenangan pemerintah untuk mengatur dan mengadili.

Dalam konsep awal al Hisbah, lembaga ini memiliki fungsi yang sangat luas. Lembagai ini bahkan mengatur hak-hak yang berkaitan dengan Allah (Mamat, 2010). Muhtasib sebagai pengawas pasar juga mempunyai tugas dalam mengatur hak-hak manusia ataupun hak bersama yang kesemuanya berlangsung dalam pasar. Muhtasib bertugas menjamin tidak terjadinya kecurangan di pasar, penimbunan barang yang dapat menyebabkan naiknya harga, spekulasi di pasar atau mafia di pasar, dan segala bentuk yang dapat mengganggunya.

Menurut Zulfaqar bin Mamat (2010), lembaga al hisbah mempunyai peranan dalam peningkatan ekonomi masyarakat. Hal ini dengan menegakkan keadilan di pasar, membela yang hak dan memerangi yang bathil. Muhtasib sebagai pengawas pasar adalah memberantas segala bentuk penipuan. Dalam muamalah manusia, bentuk penipuan di pasar ada banyak sekali bentuknya. Salah satunya adalah najash yaitu adanya kesepakatan antara penjual dengan beberapa orang dengan cara melakukan rekayasa permintaan, sehingga barang yang diminta seakan banyak dan menghasilkan pembeli yang banyak. Hal ini tentunya akan merusak mekanisme pasar. Bentuk penipuan yang lainnya adalah tadlis, yaitu menyembunyikan barang dagang. Penjual memperlihatkan barang dagangnya yang bagus, namun menyembunyikan barang dagangnya yang buruk. Di kasus lain, banyak penjual yang merekayasa timbangan dengan cara mengurangi takar timbangan, sehingga banyak pembeli yang tertipu dengan takaran tersebut.

Baca juga: Zakat sebagai Pendorong Investasi dan Aliran Ekonomi

Muhtasib mempunyai wewenang dalam memberantas segala perbuatan yang dapat merusak mekanisme pasar. Para muhtasib harus mempunyai jadwal dalam menyidak pasar, mengukur timbangan dan alat ukur, menyaring pengiklanan agar sesuai dengan produksi barang, dan memberikan hukuman bagi yang melakukan suatu hal yang dapat mengganggu mekanisme pasar.

Selain memberantas segala bentuk penipuan dan kecurangan di pasar, tugas utama muhtasibadalah menentukan harga. Dalam Islam, penentuan harga ini terdapat beberapa ulama yang membolehkan penetapan harga dan ada beberapa ulama yang melarang penetapan harga. Walaupun begitu, penulis membenarkan adanya penetapan harga dengan syarat adanya keadilan bagi semua pihak dan penetapan harga ini tidak dengan harga yang terlalu tinggi. Karenanya, kebijakan pemerintah yang demikian ada kebijakan ceiling price dan floor price.

Menurut Ibnu Qayim, penetapan harga (tas’ir) terbagi menjadi dua, yaitu penetapan harga yang diharamkan dan penetapan harga yang dibolehkan. Penetapan harga yang diharamkan adalah tindakan memaksa para produsen menjual barangnya dengan harga yang tidak disetujui dalam keadaan pasar yang seimbang. Dan penetapan harga yang dibolehkan bahkan menjadi wajib adalah penetapan harga yang adil. Penetapan harga ini menjamin keadilan sesama manusia seperti memaksa produsen menjual dengan satu harga tertentu yang ditetapkan apabila keadaan pasar tidak normal dan mencegah mereka dalam pengambilan laba yang berlebihan.

Lembaga al Hisbah  selaku pengawas pasar mempunyai kuasa untuk menetapkan harga jika terjadi hal yang demikian. Adapun ketentuan penetapan harga ini harus melibatkan perwakilan dari produsen dan konsumen. Harus dapat dipastikan adanya keuntungan dari produsen dan konsumen ketika terjadi penetapan harga. Dan harga yang ditetapkan tidak membebani produsen dan konsumen. Selain itu, muhtasin wajib melakukan pengawasan di pasar agar para produsen menjual barangnya dengan harga yang sudah ditetapkan, sekiranya ada yang melanggar, maka muhtasib harus memberikan hukuman.

Lainnya dari Pps:

Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas: Meminjam Kacamata Heidegger

Bagian Kedua dari Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas

Pembukaan FNL: Makna dan Hikmah Perjalanan Hijrah Nabi

Seminar Pada HUT RI: Antara Keindonesiaan dan Keislaman

Al-Attas Bertemu Lakatos: Merumuskan Metodologi Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Islamisai Ilmu Pengetahuan

Oleh: Yongki Sutoyo

Wacana Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer yang dewasa ini cukup populer, merupakan respon beberapa intelektual Muslim atas hegemoni paradigma sains Barat modern. Hegemoni paradigma ini mencakup tiga aspek dalam sains, yakni ontologi, epistemologi dan aksiologi. Dari aspek ontologis, sains modern melihat alam beserta hukum dan polanya, termasuk manusia sendiri hanya sebagai wujud material yang eksis tanpa intervensi Tuhan. Dalam aspek epistemologis, sains mengesampingkan teks wahyu sebagai sumber pengetahuan, sehingga tidak sesuai dengan pandangan masyarakat muslim yang justru bersikap sebaliknya. Sedangkan aspek aksiologis, Barat tidak mengaitkan pengembangan ilmu pengetahuan dengan tata nilai, moralitas, spiritualitas dan religiusitas.[1] Hegemoni paradigma tersebut jelas menunjukan bahwa hakikatnya ilmu pengetahuan tidak pernah netral tapi sarat nilai,[2] bahkan bisa dijadikan alat yang sangat halus dan tajam bagi menyebarluaskan pandangan hidup suatu kebudayaan.[3]

Karena ilmu sarat dengan nilai, maka ilmu pengetahuan yang berkembang pesat di Barat hingga saat ini sesungguhnya dibangun di atas landasan filsafat, nilai-nilai dan kebudayaan khas Barat yang dalam beberapa aspek memiliki banyak pertentangan dengan Islam.[4] Beberapa aspek itu misalnya, Barat merumuskan pandangannya terhadap realitas dan kebenaran bukan berdasarkan wahyu dan dasar-dasar keyakinan agama, tetapi berdasarkan pada tradisi kebudayaan yang diperkuat oleh dasat-dasar filofis. Di mana daar-dasar filosofis ini yang berangkat dari spekulasi (dugaan) yang berkaitan hanya dengan kehidupan sekular yang berpusat pada manusia sebagai diri jasmani dan kekuatan rasional sebagai satu-satunya kekuatan yang akan menyingkap seluruh rahasia alam dan hubungannya dengan eksistensi.[5] Atas dasar perbedaan paradigma itulah Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer mendesak untuk dilakukan.

Baca juga: Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas: Meminjam Kacamata Heidegger

Namun yang menjadi persoalan sekarang adalah, setelah lebih dari empat dekade[6] wacana Islamisasi ilmu pengetahuan didengungkan dan telah dicoba diterapkan diberbagai perguruan tinggi,[7] banyak kalangan yang menilai tampaknya masih berada pada tataran filosofis dan belum menyentuh ke wilayah implementatif. Salah satu yang terabaikan dalam wacana ini adalah menerjemahkannya ke dalam metode yang sistematik dalam penelitian ataupun kegiatan pengembangan keilmuan.[8] Oleh karena itu, diperlukan kerja-kerja yang serius bagaimana usaha implementatif itu dilakukan. Untuk memenuhi tujuan itu, tulisan ini akan mengkaji dua tokoh penting: Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam diskursus Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer dan Imre Lakatos dalam diskursus Metodologi Program Riset. Dari al-Attas, akan dikaji bagaimana konsep dasar Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, sedangkan dari Lakatos akan dikaji bagaimana metodologi diterapkan dalam kerangka program riset. Hipotesis daritulisan ini adalah jika Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer memenuhi kerangka kerja program riset, maka metodologi Islamisai dalam ilmu-ilmu kontemporer dimungkinkan untuk dilakukan dan dikembangkan.

Merumuskan Metodologi

Problem utama dari Islamisasi ilmu pengetahuan al-Attas adalah, ketika al-Attas menguraikan bahwa Islamisasi iaitu suatu proses mengeluarkan elemen-elemen yang bertentangan dengan Islam, setelah itu memasukan elemen-elemen yang sesuai, maka bagaimana proses itu dilakukan. Di sini Lakatos memberikan peta yang cukup jelas untuk mengaplikasikan proses—apa yang disebut al-Attas sebagai—dewesternisasi ilmu pengetahuan itu. Berikut ilustrasi peta sains menurut Lakatos.[9]

Gambar di atas menggambarkan struktur sains menurut Lakatos, yakni setiap sains—entah itu sains kealaman, sosial atau kemanusiaan—setidaknya memiliki empat lapisan. Sains yang umumnya dipahami oleh masyarakat pada umumnya ada pada lapisan paling luar. Di posisi ini banyak orang menganggap bahwa sains itu netral, universal dan bebas nilai. Namun, jika kita memasuki lapisan yang lebih dalam, terutama di level metaphysical believe anggapan bahwa sains itu netral, universal dan bebas nilai akan semakin terkikis. Dari sini, empat lapisan sains Lakatos dapat bertemu dengan rumusan worldview Islam al-Attas. Metaphysical believe adalah konsep-konsep asas dalam worldview Islam seperti konsep ilmu, konsep realitas dan kebenaran, konsep manusia, konsep alam, konsep keadilan, konsep kebahagiaan dan seterusnya, yang menghasilkan kerangka kerja atau paradigma keilmuan, di mana seluruh konsep-konsep asas ini perpusat pada doktrin keesaan Tuhan atau Tauhid. Dari empat level sains Lakatos ini, kita bisa melakukan scaning dimulai dari metaphysical believe-nya, kemudian paradigma keilmuan yang digunakan, selanjutnya menganalisis teori dan metodologi yang dipakai. Dari proses scaning ini akan ditentukan apakah suatu teori bertentangan dengan Islam atau tidak dan perlu dilakukan proses Islamisasi. Atau proses scaning tersebut bisa dimulai dari teori-teori yang ada, kemudian dari teori itu dilacak jenis paradigma yang digunakan hingga menemukan konsep-konsep kunci yang mecerminkan metaphysical believe atau worldview macam apa yang mendasari teori itu.

Baca juga: Artikel tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Tujuan utama dari proses scaning ini adalah menemukan konsep-konsep kunci dalam suatu teori yang mencerminkan metaphysical believe tertentu. Setelah konsep-konep kunci tersebut ditemukan, yang dilakukan selanjutnya adalah komparasi dan analisis, apakah konsep kunci itu sesuai dengan konsep kunci dalam worldview Islam. Jika sesuai, proses Islamisasi langsung merujuk pada tataran praksis metodologis. Jika ternyata bertentangan, perlu dianalisis apakah konsep itu bertentangan sepenuhnya, setengahnya atau hanya bagian kecilnya saja. Porsi kebertentangan ini akan menentukan proses selanjutnya, yakni adobsi dan atau adaptasi atau ditolak sama sekali.

Dari sisi yang lain, sebetulnya metodologi program riset Lakatos juga memiliki kelemahan. Kelemahan itu adalah tidak adanya kerangka operasional yang jelas dalam menghadapi maraknya “protective-belt” atau teori-teori kecil yang saling bertarung. Mengingat suatu ilmu tidak lahir tanpa konteks sosio-historis yang melatarinya, maka suatu ilmu pastilah tidak akan netral secara ontologis dan aksiologis.[10] Hal semacam ini akan dapat melahirkan perang dingin antar kalangan ilmuwan, yang sering tanpa disadari, mereka telah masuk (atau sengaja memasukkan diri?) dalam perangkap skenario agen-agen ekonomi dan kekuasaan. Namun, kekurangan ini sebetulnya bisa di atasi dengan murujukk rumusan worldview Islam al-Attas. Dalam worldview Islam telah ada mekanisme yang baik untuk menghadapi maraknya “protective-belt” yang menjadikan teori-teori kecil saling bertarung. Mekanisme tersebut merujuk pada konsep ushul-furu’ dan muhkamat-mutasyabihat. Artinya, teori-teori kecil yang menjadi lingkarang pelindung tidak perlu dipertentangkan meskipun ada perbedaan jika dalam penerapannya, telah jelas mana yang pokok dan cabang; serta mana yang bisa berubah dan mana yang tetap. Tatangan selanjutnya adalah bagaimana konsep ushul-furu’ dan muhkamat-mutasyabihat itu dirumuskan dan neraca seperti apa yang mesti dibuat.

Seminar Pada HUT RI: Antara Keindonesiaan dan Keislaman

Sila Kelima Perspektif Maqashid Syari’ah dan Pemindahan Ibukota

Film Islami itu Islami? Dilema Film Religi, Tantangan bagi Sineas Muslim

Sejarah Angka: Bagaimana Angka Muncul dan Berkembang

Infinite (Tak Terbatas) ∞

[1] Lihat Mulyadi Kartanegara, Mengislamkan Nalar: Sebuah Respon Terhadap Modernitas, (Jakarta: Erlangga, 2007) bab 1 dan 3.

[2] Untuk penjelasan megenai masalah ini, silahkan rujuk Jurgen Habermas, Knowledge and Human Interest, trans. Jeremy J. Shapiro, (Cambridge: Polity n    Press, 1968); F. Budi Hadirman, Kritik Ideologi: Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan, (Yogyakarta: Kanisius, 1993).

[3] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001) hlm. 49.

[4] Lihat Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Sekularisme, terj. Dr. Khalif Muammar, M.A dkk (Bandung: PIMPIN, 2010) hlm. 171.

[5] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Sekularisme, hlm. 171.

[6] Wacana ini dimulai sejak tahun 70-an dengan tokoh utamanya antara lain: Syed Muhammad Naquib al-Attas, Seyyed Hossein Nasr, Ismail Raji al-Faruqi, dan Ziauddin Sardar.

[7] Beberapa perguruan tinggi menggunakan terma yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yakni membentuk suatu paradigma alternatif dalam pengembangan keilmuan. Perguruantinggi itu antara lain, Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) semacam Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ataupun UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan juga oleh Perguruan Tinggi Umum (PTU) seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Institut Teknologi Bandung (ITB) ataupun Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Lihat Abu Darda, “Integrasi Ilmu dan Agama: Perkembangan Konseptual di Indonesia”, dalam Jurnal Kependidikan Islam At-Ta’dib Vol. 10, No. 1 Juni 2015 .

[8] Nurlena Rifai, Fauzan, Wahdi Sayuti dan Bahrissalim, “Integrasi Keilmuan dalam Pengembangan Kurikulum di UIN Se-Indonesia: Evaluasi Penerapan Integrasi Keilmuan UIN dalam Kurikulum dan Proses Pembelajaran”, dalam Journal Of Education In Muslim Society Tarbiya, Vol. 1, No. 1, Juni 2014., hlm. 13.

[9] Ilustrasi ini dapat dirujuk pada Muhammad Muslih, Falsafah Sains: Dari Isu Integrasi Keilmuan Menuju Lahirnya Sains Teistik, hlm. 178. Beberapa keterangan dalam ilustrasi telah saya ubah-sesuaikan.

[10] Joseph Grunfled, “Lakatos’s Weak Rationalism”, Science et Esprit, XXXIV/2 (1982) hlm. 224.

Dromologi, Apa itu? Teori Postmodern tentang Budaya Ketergesa-gesaan

Dromologi Ketergesa-gesaan

Dromologi, oleh: Ahmad Rizqi Fadillah

Saat asyik membaca, tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Ada notifikasi SMS masuk. Tentu saja, notifikasi tersebut memecah konsentrasi. Akupun seketika meraih handphone dan memeriksanya. Setelah kubuka, ternyata pesan singkat tersebut tidak begitu penting, bahkan tidak penting sama sekali. Hanya promo dari operator. “Promo! Dapatkan gratis kuota 2GB dengan isi ulang minimal 5000 rupiah. Hanya hari ini!” Begitulah, promo-promo seperti itu sudah sering kudapatkan, berkisar tiga hingga empat kali dalam sepekan.

Fenomena ini hanyalah sekelumit contoh kondisi kehidupan masyarakat kontemporer. Dengan adanya kemajuan teknologi informasi, setiap orang dari kita memang merasakan dampak positifnya. Namun, di lain sisi, kita harus menyadari bahwa ada dampak negatif yang perlu untuk diwaspadai. Di antaranya adalah problem kecepatan dan perecepatan, seperti halnya pesan dari operator di atas.

Pada promo tersebut, seseorang dibujuk untuk mengikuti kemauan pemiliki industri. Ia tertuntut untuk membelanjakan uangnya dengan segera, “hanya hari ini!” Inilah bentuk pemaksaan secara halus kepada konsumen, dengan iming-iming hadiah dan reward. Fenomena ini, oleh Jean Baudrillard (1929-2007) disebut dengan seduction.

DROMOLOGI DAN DAMPAKNYA

Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena-fenomena seperti ini seringkali terjadi, entah disadari atau tidak. Masyarakat dituntut untuk cepat, bersegera, dan bergegas. Memacu kecepatan mengikuti pola kehidupan yang di-setting sedemikian rupa. Kita tentu tahu, apalagi pemerhati hape, berapa kali tipe-tipe hape terbaru itu diluncurkan dalam waktu setahun. Dan beberapa orang di antara kita, kadang tergiur untuk membelinya. Benar, kehidupan kontemporer kita memang dibentuk. Lebih tepatnya dibentuk untuk cepat. Inilah yang disebut Piliang dengan “sebuah dunia yang berlari.”

Merujuk kepada Paul Virilio (1932-2018), dunia yang berlari adalah gambaran dunia yang paradigma berpikirnya adalah kecepatan. Ia menyebutnya dengan dromologi (berasal dari bahasa Yunani, dromos artinya kecepatan, dan logos artinya semesta pengetahuan). Kecepatan dan percepatan menjadi sentral kehidupan sosial, ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Tidak hanya itu, kecepatan bahkan menjadi parameter kemajuan. Artinya, kemajuan tidak hanya dicirikan dengan kebaruan seperti dulu, tapi juga kecepatan.

Lebih lanjut, menurut Michel Foucalt (1926-1984), kekuasaan adalah pengetahuan. Artinya, ada hubungan erat yang saling timbal balik antara kekuasaan dan pengetahuan. Kekuasaan memengaruhi pengetahuan, pengetahuan juga memengaruhi kekuasaan. Namun, dengan adanya fenomena dromolgi seperti saat ini, kata-kata knowledge is power agaknya mengalami perluasan makna. Knowledge sendiri tidak cukup, ia harus ditambah dengan kecepatan. Maka, dalam konteks kekinian, quote Foucalt lebih tepat untuk dimaknai dengan “power is speeding knowledge.”

Baca juga: Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas: Meminjam Kacamata Heidegger

Fenomena dromologi menyebar dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam aspek informasi dan komunikasi, muncul berita yang cepat berganti. Satu kasus belum selesai, sudah diberitakan kasus yang lain. Dalam aspek produksi, muncul produk yang cepat berganti. Satu produk belum habis terjual, sudah muncul produk baru dengan penambahan fitur tertentu. Dalam aspek keberagamaan, paradigma kecepatan juga telah menjangkiti kehidupan ummat. Hapal al-Quran sebulan! Membaca kitab gundul seminggu! Mahir mengaji seminggu! dsb.

Di balik paradigma kecepatan tersebut, terdapat beberapa hal yang perlu untuk dikaji dan dipahami. Tempo kehidupan memang mengalami percepatan. Namun, kecepatan itu harus dibayar dengan pendangkalan makna. Mengutip Yasraf Amir Piliang, kecepatan itu berbanding lurus dengan kehampaan. Semakin cepat seseorang menghapal al-Quran, semakin sedikit makna yang ia dapat. Semakin cepat seseorang mengerjakan shalat tarawih, semakin sedikit kesempatan dan peluang untuk menghayati bacaan shalatnya. Begitu pula dalam kehidupan sosial, betapa cepatnya citra mengalami perubahan hingga tak ada lagi waktu untuk meresapinya. Tak ada lagi kesempatan untuk refleksi dan muhasabah. Tak ada lagi kesempatan untuk memaknai kecepatan itu sendiri.

Selayaknya, setiap orang menyadari bahwa segala sesuatu butuh untuk ditakar. Bersegera tidaklah keliru, apalagi untuk kebaikan. Yang menjadi catatan adalah jika ketersegeraan itu membawa dampak negatif bagi dinamika kehidupan.

DROMOLOGI DALAM ISLAM

Dalam kaca mata Islam, dromologi ini disebut dengan isti`jāl atau tasarru`. Pada era millennial ini, bentuk peringatan al-Quran yang disampaikan dengan pernyataan positif, “wa kāna al-insānu `ajūlā” menjadi relevan. Secara tidak langsung, melalui ayat ini Allah memberikan arahan kepada manusia agar waspada terhadap fenomena pascamodern yang dromologis.

Dengan melihat kondisi masyarakat yang terpengaruh oleh paradigma kecepatan ini, kita dapat menemukan betapa banyak pihak-pihak yang dijauhkan dari kebaikan. Budaya instan yang merebak di kalangan pemuda kita membiasakan mereka untuk tidak menikmati proses dan menemukan kedalaman makna. Upaya menjauhkan manusia dari kebaikan tidaklah dilakukan melainkan oleh setan. Barangkali, budaya instan yang diakibatkan oleh fenomena kecepatan ini adalah setan kontemporer yang mengalami transformasi. Jika demikian, maka tepatlah yang disabdakan Rasulullah, “al-Taannī min Allāh wa al-`ajalah min al-syaythān.”

Untuk menghadapi situasi serba cepat ini, Islam mengajarkan ummat manusia untuk al-anāah, yaitu suatu sikap tenang dan tidak tergesa-gesa. Tenang bukan berarti berleha-leha. Tenang berarti penuh ketelitian, penuh perhitungan, dan tidak serampangan. Tidak perlu merasa terdesak untuk mengikuti cepatnya pergantian citra di media, tidak perlu merasa harus segera menyelesaikan hafalan al-Quran dalam waktu singkat, tidak perlu merasa ketinggalan atau dikatakan mundur saat tidak mengikuti sebuah pemberitaan.

Jika fenomena dromologi menghalang-halangi manusia untuk menghayati setiap realitas dan menikmati proses, maka sikap al-anāah berarti sebaliknya. Apalagi pada era pascakebenaran seperti saat ini, di mana kebiasaan baik me-recheck informasi luntur dan berita bohong dapat tersebar lebih cepat. Sikap untuk tidak grusa-grusu dan cepat emosi dapat diminimalisir dengan spirit al-anāah ini.

Akhirnya, aku mencoba untuk kembali fokus pada bacaanku dan mengabaikan pesan singkat promo tersebut. Sebab, dalam rangka menjauhkan diri dari fenomena dromologis pascamodern dan mengaplikasikan al-anāah, aku mencoba melakukan perhitungan sederhana. Sisa kuotaku masih 10 GB, dan masa berlakunya masih tiga pekan. Hasilnya, aku memilih untuk tidak tergiur mengejar ‘dunia yang berlari itu’. Wallahu a`lam.[]

Bagian Kedua dari Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas

Diskusi Ringan Bersama Dr. Nirwan: dari Syariah hingga Problem Ummat

Sejarah Angka: Bagaimana Angka Muncul dan Berkembang

Film Islami itu Islami? Dilema Film Religi, Tantangan bagi Sineas Muslim