Category Archives: ARTIKEL

Kritik terhadap Deisme; Dominasi Akal yang Berlebihan.

kritik deisme

Oleh: Khairul Atqiya

Pokok Pemikiran Deisme

Deisme memilki empat pokok pemikiran. Pertama, mempercayai Tuhan namun menolak agama dalam artian agama sebagai suatu institusi atau lembaga. Agama dalam pemahaman deisme adalah apa yang mampu dipahami oleh akal.[1] Beragama menurut deisme adalah menangkap pesan universal yang disampaikan oleh Tuhan tanpa pandang bulu. Setiap individu dapat menerima pesan tersebut selama dia menggunakan akalnya. Karena itu tidak ada otoritas khusus yang dipegang oleh institusi keagamaan atau individu-individu tertentu di dalamnya.[2]

Penolakan terhadap agama secara langsung berpengaruh terhadap sumber agama yaitu kitab suci dan ini menjadi pokok pemikiran yang kedua.[3] Dengan menolak suatu hak khusus bagi seseorang dalam sebuah agama maka secara tidak langsung deisme juga menolak adanya Nabi sebagai utusan Tuhan. Dan karena itu apapun yang dibawa Nabi tidak diterima juga.

Ketiga, deisme menolak hal-hal yang di luar nalar manusia yang berkaitan dengan mukjizat dan hal-hal gaib dalam agama Sebagaiman penolakan terhadap Nabi deisme juga memberikan penolakan kedapa mukjizat sebagai suatu keutamaan seorang Nabi yang diberikan oleh Tuhan. Menurut pemikiran deisme jika seorang Nabi dapat melakukan suatu hal yang luar biasa mereka pasti mampu untuk melakukan hal tersebut. Jika mereka tidak mampu maka seorang Nabi pun tidak mampu dan apa yang dianggap sebagai suatu mukjizat hanyalah dongeng.Dan karena seorang deist percaya bahwa beragama harus menggunakan akal, maka hal apapun yang tak dapat diterima oleh akal tidak dapat diterima sebagai ajaran dalam agama.[4]

Dan keempat, deisme menolak keterlibatan Tuhan dalam proses berjalannya alam semesta, kerana peran Tuhan telah tergantikan oleh hukum-hukum alam yang telah diciptakan-Nya. Seluruh peristiwa yang terjadi di alam telah memiliki penjelasan ilmiah yang menjelaskan sebab terjadinya.

Kritik atas Pemikiran Deisme

Pemikiran-pemikiran deisme tidak dapat diterima karena deisme memposisikan manusia sebagai pusat (antroposentrisme) dan bukan Tuhan (teosentrisme). Selain itu deisme tidak dapat diterima karena meniadakan Tuhan dari alam yang mengakibatkan hilangnya kesakralan alam dan ini merupakan hasil dari antroposentrisme tersebut. Alam hanya dipandang sebagai objek. Dan penyandaran kepada akal secara berlebih sebagai konsekuensi dari antroposentrisme. Akal dijadikan sumber pengetahuan dan sebagai tolak ukurnya. Manusia dibawa untuk mejadi rasionalistik-empiris yang menolak eksistensi aspek-aspek metafisik. Selanjutnya, alasan terkahir deisme tidak dapat diterima adalah sebab kemunculan deisme itu sendiri. Karena deisme muncul sebagai kritik atas ajaran Kristen dan bukan Islam, meski dalam titik tertentu Islam juga mendapat sorotan.[5] Maka membawa paham deisme ke dalam Islam tidaklah tepat.

Deisme menempatkan Tuhan tidak lagi sebagai pusat (teosentris) dan digantikan oleh manusia (antroposentris). Manusia menjadi faktor penentu dan menjadi tolak ukur.[6] Manusia dengan akalnya menjadi penentu segala sesuatu. Saat terjadi fenomena alam yang dilakuakan adalah mencari penjelasan secara ilmiah dengan mengacu kepada ilmu-ilmu produk akal manusia. Alam dengan segala fenomena yang terjadi di dalamnya memang dapat dijelaskan dengan hukum-hukum alam dan ilmu pengetahuan yang ada saat ini. Misalnya teori yang menyatakan bahwa semakin kecil penampang suatu benda dapat menghasilkan gaya semakin besar dapat digunakan untuk menjelaskan kenapa paku dengan ujung yang tajam lebih mudah menembus permukaan benda dibandingkan dengan paku yang tumpul. Atau menjelaskan proses perputaran bumi dan planet lainnya dengan hukum grvitasi. Juga berbagai fenomena alam lainnya yang dapat dijelaskan secara ilmiah.

Baca Juga:

Deisme, Apa Itu? Keberagamaan dengan Akal Budi

Al-Attas Bertemu Lakatos: Merumuskan Metodologi Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Dromologi, Apa itu? Teori Postmodern tentang Budaya Ketergesa-gesaan

Namun hal ini tidak dapat sepenuhnya diterima. Jika menggunakan pemahaman bahwa seluruh fenomena alam dapat dijelaskan secara ilmiah menggunakan ilmu-ilmu yang ada maka pemahaman tersebut akan terbatas hanya pada fenomena-fenomena yang dapat diindera dan masuk akal. Segala hal yang tidak dapat dibuktikan secara empiris dan rasional akan tertolak. Karena di lain sisi, kehidupan manusia tidak terbatas pada hal-hal fisik. Terdapat aspek-aspek metafisika dalam kehidupan manusia. Dan antara keduanya memiliki hubungan yang erat. Ilmu yang rasionalistik-ilmiah perlu untuk memiliki pertimbangan berdasarkan nilai-nilai metafisik untuk menghindari kerusakan. Jika ilmu hanya dipandang sebagai objek kajian untuk memahami alam untuk kemudian dimanfaatkan tanpa pertimbangan pada nilai moral dan kemanusiaan maka ilmu akan menjadi sumber masalah.[7]

Kebersandaran berlebih pada akal mengarahkan deisme kepada penihilan peranan Tuhan dalam alam. Tuhan tidak lagi berperan karena seluruh fenomena alam dapat dijelaskan secara ilmiah. Matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat memiliki penjelasan ilmiah. Bencana-bencana alam dapat ditemukan penjelasan ilmihanya. Jika segala sesautu telah memiliki penjelasan ilmiah atau memiliki sebab ilmiah maka peranan Tuhan telah tergantikan oleh hukum-hukum alam yang berlaku yang menjadi penjelasan bagi fenomen-fenomena alam tersebut. Tuhan tidak lagi dibutuhkan atau dalam bahasa yang lebih halus Tuhan tidak ikut berperan serta dalam proses berjalanya alam semesta karena alam telah memiliki mekanismenya yang sempurna. Bahkan kejadian yang anomalipun dapat ditemukan penjelasanya. Jika benda-benda selalu jatuh kembali ketika terlempar ke atas dan jika ada benda yang dapat melayang dan tidak jatuh sebagaimna seharusnya—seperti pesawat terbang— pasti ada penjelasan secara ilmiah.

Dampak dari penghilangan peran Tuhan dalam alam adalah hilangnya nilai dan kesakralan alam. Ilmu hanya untuk memahami alam untuk berdayakan saja. Nilai-nilai luhur tidak diikutsertakan di dalamnya. Alam hanya menjadi objek ilmiah yang perlu dipahami untuk dieksploitasi. Hal ini memang mendatangkan kemajuan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun sayangnya tidak diikuti dengan bertambahnya kesejahteraan manusia.[8] Dan tidak juga menambah kesadaraan akan nilai-nilai kemanusiaan. Pemikiran ini hanya bertolak pada pengkajian alam untuk ilmu saja.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ajaran dalam paham deisme tidak dapat diterima. Karena pemahaman yang diajarakan deisme membawa manusia menuju arah yang tidak baik. Deisme membawa manusia kepada penyandaraan berlebih pada akal. Penganut deisme adalah penganut pemahaman rasionalistik dan empiris. Pengguanaan akal dan panca indera secara berlebih dengan menolak apapun yang tidak masuk akal atau tidak dapat diindera mengarahkan manusia untuk menolak hal-hal dan aspek metafisik. Penolakan terhadap aspek matafisik membawa kepada penolakan Tuhan dangan aspek matafisiknya. Selanjutnya agama hanya dipahamai sebatas kepada hal yang masuk akal saja. Tuhan yang metafisik tidak dapat diterima keberadaanya pada dunia yang fisik sehingga alam tidak lagi memiliki keterkaitan dengan Tuhan. Akibatnya adalah pengosongan nilai dari alam. Alam hanya dipandang sebagai objek ilmiah untuk dipahami dan dikesploitasi. Pada akhirnya ini membawa kepada bencana kemanusian karena tidak ada kontrol terhadap ilmu pengetahuan dan pemanfaatannya.

[1] Dalam bukunya The Age of Reason (1794) Thomas Paine seorang tokoh deisme mengatakan:

“ I believe in one God, and no more; and I hope for happines beyond this life. I believe in the equality of man; and I believe that the religious duties consist in doing justice, loving mercy, and endeavoring to make our fellow-creatures happy”

Dalam pernyataanya di atas, Piane menyatakan kepercayaanya pada tuhan dan harapanya tentang kebahagiaan di kehidupan setelah mati. Selain itu, dia mempercayai tugas agama sebagai pembawa kebahagiaan bagi makhluk hidup. Terlihat dari pernyataanya Paine adalah seorang yang bergama, dalam artian mengakui keberadaan tuhan dan agama.

Dan pada bagian selanjutnya terdapat pernyataan Paine yang menarik karena bertolak belakang dengan pernyataan yang pertama. Dia mengatakan:

“ I do not believe in the creed professed by the Jewish church, by the Roman church, by the Greek church, by the Turkish church, by the Protestant church, nor by any church that I know. My own mind is my own church. All national institutions of churches, whether Jewish, Christian or Turkish, appear to me no other than human inventions, set up to terrify and enslave mankind, and monopolize power and profit”

Dalam pernyataan ini, Paine menolak ajaran-ajaran gereja. Beragama menurutnya adalah menggunakan akal. Dia menolak isntitusi keagamaan karena menurutnya itu adalah bentuk pengekangan dan perbudakan. Dari dua bagian pernyataan Paine di atas terlihat bahwa dia adalah seorang yang percaya tuhan dan agama tetapi menolak lembaga keagamaan. Dan di bagian lain buku ini dia mengatakan bahwa agama adalah rekayasa manusia mengatasnamakan Tuhan. Baginya agama adalah akal pikiran manusia. Thomas Paine, The Age of Reason, (Luxembourg: 1794), bagian pertama.

[2] Taylor, ERN p. 463.

[3] Dalam hal ini buku The Jefferson Bible oleh Thomas Jefferson dapat menjadi bukti. Buku tersebut ditulis sebagai bentuk penolakan terhadap institusi agama yang menurutnya korup dan menyeleweng dari apa yang diinginkan oleh Yesus.  Thomas Jefferson, Jefferson Bible The Life and Moral of Jesus of Nazareth, (N. D. Thompson Publishing: 1902). Lihat juga pendapat Paine tentang Wahyu, dia mengatakan:

“revelation, when applied to religion, means something communicated immediately from God to man. No one will deny or dispute the power of the Almighty to take such a communicatioan, if he pleases. But admitting, for the sake of a case, that something has been recealed to a certain person, and not revealed to any other person, it is revelation to that person only. When he tells it to a second person, a second to a third, a third to a fourth, and so on, it ceases to be a revelation to all those persons. It is revelation to teh first person only, nad hearsay to every other, and consequently they are not obliged to believe it.”

Dalam pernyataan di atas Paine menyatakan bahwa tidak ada wahyu yang perlu disebarluaskan. Wahyu yang diterima seseorang adalah untuk dirinya. Ketika dia menyapaikan wahyu tersebut kepada orang lain itu bukan lagi wahyu karena itu bersala dari dirinya dan orang yang mendengarkannya tidak dapat memastikan apakah wahyu tersebut benar-benar dari Tuhan. Lebih jauh lagi tidak ada satupun tulisan dalam Injil yang ditulis langsung oleh Yesus. Lihat Thomas Paine, The Age of Reason, (Luxembourg: 1974), bagian pertama.

[4] Karena deisme menyandarkan segala hal pada rasonalitas dan empiris maka hal-hal yang tidak terindera dan tidak masuk akal tidak dapat diterima. Paine mngatakan:

“when I am told that the Koran was written in Heaven dan brought to Mahomet by ana angel, the account comes too near the same kind of hearsay evidence and second-hand authority as the former. I did not see the angel my self, and, thereroe, I hanve a right not to believe”

Dalam pernyataanya Paine tidak percaya kepada malaikat yang membawa wahyu kedapa Nabi Muhammad SAW karena dia tidak melihatnya secara langsung.

[5] Silahkan baca The Age of Reason oleh Thoma Paine dan Jefferson Bible oleh Thomas Jefferson yang dianggap sebagai buku yang mengajarkan deisme. Dalam buku tersebut terdapat banyak kritik terhadapa agama Kristen.

[6] Prof. D. H. Faisal Ismail, Islam, Doktrin, dan Isu-isu Kontemporer (Yogyakarta: IRCiSoD, 2016), p. 330.

[7] Archie J. Bahm seperti yang dijelaskan Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: LESFI, 2016), p. 43-36.

[8] Husain Hariyanto, Paradigma Holistik (Jakarta: TERAJU, 2003), p. 2.

Deisme, Apa Itu? Keberagamaan dengan Akal Budi

deisme

Oleh: Khairul Atqiya

Pendahuluan

Deisme adalah salah satu aliran pemikiran yang membahas hubungan antara alam dan pencipta (Tuhan). Tuhan sebagai pencipta alam semesta beserta seluruh hal yang ada di dalamnya memiliki peran untuk membuat alam berjalan dengan teratur.[1] Keyakinan akan peran Tuhan dan ketundukan alam pada ketentuan-ketentuan Tuhan adalah keyakinan dari semua agama. Namun dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan mutakhir telah menemukan hukum-hukum yang menundukan alam. Alam berjalan berdasarkan mekanisme-mekanisme tertentu yang dapat dijelaskan secara rasional. Pemikiran seperti ini pada tahap selanjutnya memuncul pemikiran bahwa peran Tuhan telah tergantikan oleh hukum-hukum yang diciptakan-Nya.[2] Pendapat ini merupakan pemikiran dari deisme.

Baca juga: Al-Attas Bertemu Lakatos: Merumuskan Metodologi Islamisasi Ilmu Pengetahuan & Dromologi, Apa itu? Teori Postmodern tentang Budaya Ketergesa-gesaan

Dengan pemikiran ini deisme menjadi paham yang membingungkan. Karena deisme percaya Tuhan itu ada dan menciptakan seluruh alam namun tidak mengakui keterlibatan Tuhan secara langsung dalam proses berjalanya alam semesta.[3] Setelah proses penciptaan Tuhan tidak lagi memiliki peran di alam. Alam telah memiliki mekanisme yang utuh untuk menunjang berjalan seluruh fenomena di dalamnya.

Mekanisme berjalannya alam tunduk pada hukum-hukum alam. Hukum alam adalah instrumen yang disediakan Tuhan untuk memastikan alam berjalan dengan semestinya sebelum akhirnya Tuhan tidak lagi terlibat dalam seluruh kejadian-kejadian alam tersebut. Tuhan menciptakan alam semesta dengan segala kelengkapanya untuk dapat berjalan secara mandiri. Ini adalah salah satu inti dari pemikiran deisme. Tapi apakah pemikrian seperti ini dapat diterima? Dalam tulisan ini akan dibahas kesalahan-kesalahan dalam paham deisme.

Pengertian Deisme dan Sejarahnya

Deisme yang dalam bahasa Inggris disebut dengan deism berasal dari kata deus dan dios. Deus merupakan kata dalam bahasa Latin sedangkan dios adalah kata dalam bahasa Yunani, keduanya berarti Tuhan.[4] Adapun menurut KBBI deisme adalah paham yang mengakui adanya Tuhan melalui akal.[5] Selain itu deisme juga diartikan sebagai paham atau aliran filsafat dan aliran teologi yang mengakui Tuhan sebagai pencipta alam semesta namun menolak hal-hal yang metafisik.[6] Dan dalam The Cambridge Dictionary of Philosophy deisme dijelaskan sebagai paham yang meyakini bahwa agama yang benar adalah agama alam (Nature Religion), yaitu agama yang dapat dicapai oleh semua orang melalui akalnya tanpa terkecuali.[7]

Deisme berkembang di Eropa dan Amerika pada abad pencerahan. Pertumbuhan ini didorong oleh perkembangan ilmu pengetahuan yang bersandar kepada akal dan panca indera sebagai respon dan kritik terhadap dogma-dogma dalam agama Kristen. Pada tahap selanjutnya deisme tidak lagi mengarahkan kritiknya kepada agama Kristen tapi kepada semua agama secara umum.[8] Deisme menolak adanya otoritas keagamaan yang mengatur individu-individu dalam sebuah institusi resmi. Bagi para deist beragama adalah pengalaman individu dan bukan monopoli lembaga atau institusi keagamaan apapun.[9]

Baca Juga: Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas: Meminjam Kacamata Heidegger & Kritik terhadap Deisme; Dominasi Akal yang Berlebihan.

Di antara tokoh-tokoh deisme Inggris yang terkenal adalah John Toland, Anthony Collins, Herbert of Cherbury, Matthew Tindal, and Thomas Chubb, Samuel Clark. Selain itu temasuk juga Voltaire, Reimarus, Elihu Palmer, Denis Diderot, Jean Le Rond d’ Alembert, Jean-Jacques Rousseau and M. Jean Antione de Condorcet, Gotthold Lessing, Immanuel Kant. Mereka adalah tokoh deisme di Eropa. Dan terdapat Benjamin Franklin dan Thomas Jefferson di Amerika serta Thomas Paine.[10] 

[1] M. Kholid Muslih, et al., Worldview Islam (Ponorogo: Unida Gontor Press, 2018), p. 150-152.

[2] Holmes Rolston III, Religion and Science: History, Method, Dialogue (London & New York: Routledge, 1996), ed: W. Mark Richardson and Wesley J. Wildman,  p. 70.

[3] Pemahaman deisme seperti ini muncul sebagai implikasi dari penyandaran yang berlebih kepada akal. Segala sesuatu diukur dan dilihat dengan ukuran yang rasionalistis. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang telah mencapai titik untuk mampu menjelaskan fenomen-fenomena alam membawa penganut paham deisme pada kesimpulan bahwa alam mampu berjalan dengan sendirinya tanpa keterlibatan Tuhan, atau setidaknya berpendapat bahwa Tuhan telah memberi alam alat dan instrumen untuk bergerak sendiri.

[4] Eric Partridge, Origins: A Short Etymological Dictionary of Modern English (London & New York: Routledge, 2006), P. 753.

[5] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Indonesia, 2008), p. 332.

[6] Bron Taylor, Encyclopedia of Religion and Nature (London & New York: Continuum, 2005), 462. Selanjutnya disingkat ERN.

[7] Robert Audi, The Cambridge Dictionary of Philosophy, (New York: Cambridge University Press, 1999), p. 216. Selanjutnya disingkat CDoP.

[8] Taylor, ERN, p. 462-463.

[9] Audi, CDoP, p. 216.

[10] Taylor, ERN p. 463. Bandingkan dengan Audi, CDoP p. 216.

Al Hisbah, Peranannya dalam Pengawasan Mekanisme Pasar

al hisbah

Al Hisbah secara bahasa berarti menghitung, berfikir, memberikan opini, pandangan dan lain-lain. Sedangkan secara istilah Ibnu Taimiyah mendefinisikan sebagai lembaga untuk menegakkan kebaikan (al-ma’ruf) dan mencegah keburukan (al-munkar). Penegakkan dilaksanakan dalam wilayah kewenangan pemerintah untuk mengatur dan mengadili.

Dalam konsep awal al Hisbah, lembaga ini memiliki fungsi yang sangat luas. Lembagai ini bahkan mengatur hak-hak yang berkaitan dengan Allah (Mamat, 2010). Muhtasib sebagai pengawas pasar juga mempunyai tugas dalam mengatur hak-hak manusia ataupun hak bersama yang kesemuanya berlangsung dalam pasar. Muhtasib bertugas menjamin tidak terjadinya kecurangan di pasar, penimbunan barang yang dapat menyebabkan naiknya harga, spekulasi di pasar atau mafia di pasar, dan segala bentuk yang dapat mengganggunya.

Menurut Zulfaqar bin Mamat (2010), lembaga al hisbah mempunyai peranan dalam peningkatan ekonomi masyarakat. Hal ini dengan menegakkan keadilan di pasar, membela yang hak dan memerangi yang bathil. Muhtasib sebagai pengawas pasar adalah memberantas segala bentuk penipuan. Dalam muamalah manusia, bentuk penipuan di pasar ada banyak sekali bentuknya. Salah satunya adalah najash yaitu adanya kesepakatan antara penjual dengan beberapa orang dengan cara melakukan rekayasa permintaan, sehingga barang yang diminta seakan banyak dan menghasilkan pembeli yang banyak. Hal ini tentunya akan merusak mekanisme pasar. Bentuk penipuan yang lainnya adalah tadlis, yaitu menyembunyikan barang dagang. Penjual memperlihatkan barang dagangnya yang bagus, namun menyembunyikan barang dagangnya yang buruk. Di kasus lain, banyak penjual yang merekayasa timbangan dengan cara mengurangi takar timbangan, sehingga banyak pembeli yang tertipu dengan takaran tersebut.

Baca juga: Zakat sebagai Pendorong Investasi dan Aliran Ekonomi

Muhtasib mempunyai wewenang dalam memberantas segala perbuatan yang dapat merusak mekanisme pasar. Para muhtasib harus mempunyai jadwal dalam menyidak pasar, mengukur timbangan dan alat ukur, menyaring pengiklanan agar sesuai dengan produksi barang, dan memberikan hukuman bagi yang melakukan suatu hal yang dapat mengganggu mekanisme pasar.

Selain memberantas segala bentuk penipuan dan kecurangan di pasar, tugas utama muhtasibadalah menentukan harga. Dalam Islam, penentuan harga ini terdapat beberapa ulama yang membolehkan penetapan harga dan ada beberapa ulama yang melarang penetapan harga. Walaupun begitu, penulis membenarkan adanya penetapan harga dengan syarat adanya keadilan bagi semua pihak dan penetapan harga ini tidak dengan harga yang terlalu tinggi. Karenanya, kebijakan pemerintah yang demikian ada kebijakan ceiling price dan floor price.

Menurut Ibnu Qayim, penetapan harga (tas’ir) terbagi menjadi dua, yaitu penetapan harga yang diharamkan dan penetapan harga yang dibolehkan. Penetapan harga yang diharamkan adalah tindakan memaksa para produsen menjual barangnya dengan harga yang tidak disetujui dalam keadaan pasar yang seimbang. Dan penetapan harga yang dibolehkan bahkan menjadi wajib adalah penetapan harga yang adil. Penetapan harga ini menjamin keadilan sesama manusia seperti memaksa produsen menjual dengan satu harga tertentu yang ditetapkan apabila keadaan pasar tidak normal dan mencegah mereka dalam pengambilan laba yang berlebihan.

Lembaga al Hisbah  selaku pengawas pasar mempunyai kuasa untuk menetapkan harga jika terjadi hal yang demikian. Adapun ketentuan penetapan harga ini harus melibatkan perwakilan dari produsen dan konsumen. Harus dapat dipastikan adanya keuntungan dari produsen dan konsumen ketika terjadi penetapan harga. Dan harga yang ditetapkan tidak membebani produsen dan konsumen. Selain itu, muhtasin wajib melakukan pengawasan di pasar agar para produsen menjual barangnya dengan harga yang sudah ditetapkan, sekiranya ada yang melanggar, maka muhtasib harus memberikan hukuman.

Lainnya dari Pps:

Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas: Meminjam Kacamata Heidegger

Bagian Kedua dari Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas

Pembukaan FNL: Makna dan Hikmah Perjalanan Hijrah Nabi

Seminar Pada HUT RI: Antara Keindonesiaan dan Keislaman

Al-Attas Bertemu Lakatos: Merumuskan Metodologi Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Islamisai Ilmu Pengetahuan

Oleh: Yongki Sutoyo

Wacana Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer yang dewasa ini cukup populer, merupakan respon beberapa intelektual Muslim atas hegemoni paradigma sains Barat modern. Hegemoni paradigma ini mencakup tiga aspek dalam sains, yakni ontologi, epistemologi dan aksiologi. Dari aspek ontologis, sains modern melihat alam beserta hukum dan polanya, termasuk manusia sendiri hanya sebagai wujud material yang eksis tanpa intervensi Tuhan. Dalam aspek epistemologis, sains mengesampingkan teks wahyu sebagai sumber pengetahuan, sehingga tidak sesuai dengan pandangan masyarakat muslim yang justru bersikap sebaliknya. Sedangkan aspek aksiologis, Barat tidak mengaitkan pengembangan ilmu pengetahuan dengan tata nilai, moralitas, spiritualitas dan religiusitas.[1] Hegemoni paradigma tersebut jelas menunjukan bahwa hakikatnya ilmu pengetahuan tidak pernah netral tapi sarat nilai,[2] bahkan bisa dijadikan alat yang sangat halus dan tajam bagi menyebarluaskan pandangan hidup suatu kebudayaan.[3]

Karena ilmu sarat dengan nilai, maka ilmu pengetahuan yang berkembang pesat di Barat hingga saat ini sesungguhnya dibangun di atas landasan filsafat, nilai-nilai dan kebudayaan khas Barat yang dalam beberapa aspek memiliki banyak pertentangan dengan Islam.[4] Beberapa aspek itu misalnya, Barat merumuskan pandangannya terhadap realitas dan kebenaran bukan berdasarkan wahyu dan dasar-dasar keyakinan agama, tetapi berdasarkan pada tradisi kebudayaan yang diperkuat oleh dasat-dasar filofis. Di mana daar-dasar filosofis ini yang berangkat dari spekulasi (dugaan) yang berkaitan hanya dengan kehidupan sekular yang berpusat pada manusia sebagai diri jasmani dan kekuatan rasional sebagai satu-satunya kekuatan yang akan menyingkap seluruh rahasia alam dan hubungannya dengan eksistensi.[5] Atas dasar perbedaan paradigma itulah Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer mendesak untuk dilakukan.

Baca juga: Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas: Meminjam Kacamata Heidegger

Namun yang menjadi persoalan sekarang adalah, setelah lebih dari empat dekade[6] wacana Islamisasi ilmu pengetahuan didengungkan dan telah dicoba diterapkan diberbagai perguruan tinggi,[7] banyak kalangan yang menilai tampaknya masih berada pada tataran filosofis dan belum menyentuh ke wilayah implementatif. Salah satu yang terabaikan dalam wacana ini adalah menerjemahkannya ke dalam metode yang sistematik dalam penelitian ataupun kegiatan pengembangan keilmuan.[8] Oleh karena itu, diperlukan kerja-kerja yang serius bagaimana usaha implementatif itu dilakukan. Untuk memenuhi tujuan itu, tulisan ini akan mengkaji dua tokoh penting: Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam diskursus Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer dan Imre Lakatos dalam diskursus Metodologi Program Riset. Dari al-Attas, akan dikaji bagaimana konsep dasar Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, sedangkan dari Lakatos akan dikaji bagaimana metodologi diterapkan dalam kerangka program riset. Hipotesis daritulisan ini adalah jika Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer memenuhi kerangka kerja program riset, maka metodologi Islamisai dalam ilmu-ilmu kontemporer dimungkinkan untuk dilakukan dan dikembangkan.

Merumuskan Metodologi

Problem utama dari Islamisasi ilmu pengetahuan al-Attas adalah, ketika al-Attas menguraikan bahwa Islamisasi iaitu suatu proses mengeluarkan elemen-elemen yang bertentangan dengan Islam, setelah itu memasukan elemen-elemen yang sesuai, maka bagaimana proses itu dilakukan. Di sini Lakatos memberikan peta yang cukup jelas untuk mengaplikasikan proses—apa yang disebut al-Attas sebagai—dewesternisasi ilmu pengetahuan itu. Berikut ilustrasi peta sains menurut Lakatos.[9]

Gambar di atas menggambarkan struktur sains menurut Lakatos, yakni setiap sains—entah itu sains kealaman, sosial atau kemanusiaan—setidaknya memiliki empat lapisan. Sains yang umumnya dipahami oleh masyarakat pada umumnya ada pada lapisan paling luar. Di posisi ini banyak orang menganggap bahwa sains itu netral, universal dan bebas nilai. Namun, jika kita memasuki lapisan yang lebih dalam, terutama di level metaphysical believe anggapan bahwa sains itu netral, universal dan bebas nilai akan semakin terkikis. Dari sini, empat lapisan sains Lakatos dapat bertemu dengan rumusan worldview Islam al-Attas. Metaphysical believe adalah konsep-konsep asas dalam worldview Islam seperti konsep ilmu, konsep realitas dan kebenaran, konsep manusia, konsep alam, konsep keadilan, konsep kebahagiaan dan seterusnya, yang menghasilkan kerangka kerja atau paradigma keilmuan, di mana seluruh konsep-konsep asas ini perpusat pada doktrin keesaan Tuhan atau Tauhid. Dari empat level sains Lakatos ini, kita bisa melakukan scaning dimulai dari metaphysical believe-nya, kemudian paradigma keilmuan yang digunakan, selanjutnya menganalisis teori dan metodologi yang dipakai. Dari proses scaning ini akan ditentukan apakah suatu teori bertentangan dengan Islam atau tidak dan perlu dilakukan proses Islamisasi. Atau proses scaning tersebut bisa dimulai dari teori-teori yang ada, kemudian dari teori itu dilacak jenis paradigma yang digunakan hingga menemukan konsep-konsep kunci yang mecerminkan metaphysical believe atau worldview macam apa yang mendasari teori itu.

Baca juga: Artikel tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Tujuan utama dari proses scaning ini adalah menemukan konsep-konsep kunci dalam suatu teori yang mencerminkan metaphysical believe tertentu. Setelah konsep-konep kunci tersebut ditemukan, yang dilakukan selanjutnya adalah komparasi dan analisis, apakah konsep kunci itu sesuai dengan konsep kunci dalam worldview Islam. Jika sesuai, proses Islamisasi langsung merujuk pada tataran praksis metodologis. Jika ternyata bertentangan, perlu dianalisis apakah konsep itu bertentangan sepenuhnya, setengahnya atau hanya bagian kecilnya saja. Porsi kebertentangan ini akan menentukan proses selanjutnya, yakni adobsi dan atau adaptasi atau ditolak sama sekali.

Dari sisi yang lain, sebetulnya metodologi program riset Lakatos juga memiliki kelemahan. Kelemahan itu adalah tidak adanya kerangka operasional yang jelas dalam menghadapi maraknya “protective-belt” atau teori-teori kecil yang saling bertarung. Mengingat suatu ilmu tidak lahir tanpa konteks sosio-historis yang melatarinya, maka suatu ilmu pastilah tidak akan netral secara ontologis dan aksiologis.[10] Hal semacam ini akan dapat melahirkan perang dingin antar kalangan ilmuwan, yang sering tanpa disadari, mereka telah masuk (atau sengaja memasukkan diri?) dalam perangkap skenario agen-agen ekonomi dan kekuasaan. Namun, kekurangan ini sebetulnya bisa di atasi dengan murujukk rumusan worldview Islam al-Attas. Dalam worldview Islam telah ada mekanisme yang baik untuk menghadapi maraknya “protective-belt” yang menjadikan teori-teori kecil saling bertarung. Mekanisme tersebut merujuk pada konsep ushul-furu’ dan muhkamat-mutasyabihat. Artinya, teori-teori kecil yang menjadi lingkarang pelindung tidak perlu dipertentangkan meskipun ada perbedaan jika dalam penerapannya, telah jelas mana yang pokok dan cabang; serta mana yang bisa berubah dan mana yang tetap. Tatangan selanjutnya adalah bagaimana konsep ushul-furu’ dan muhkamat-mutasyabihat itu dirumuskan dan neraca seperti apa yang mesti dibuat.

Seminar Pada HUT RI: Antara Keindonesiaan dan Keislaman

Sila Kelima Perspektif Maqashid Syari’ah dan Pemindahan Ibukota

Film Islami itu Islami? Dilema Film Religi, Tantangan bagi Sineas Muslim

Sejarah Angka: Bagaimana Angka Muncul dan Berkembang

Infinite (Tak Terbatas) ∞

[1] Lihat Mulyadi Kartanegara, Mengislamkan Nalar: Sebuah Respon Terhadap Modernitas, (Jakarta: Erlangga, 2007) bab 1 dan 3.

[2] Untuk penjelasan megenai masalah ini, silahkan rujuk Jurgen Habermas, Knowledge and Human Interest, trans. Jeremy J. Shapiro, (Cambridge: Polity n    Press, 1968); F. Budi Hadirman, Kritik Ideologi: Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan, (Yogyakarta: Kanisius, 1993).

[3] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001) hlm. 49.

[4] Lihat Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Sekularisme, terj. Dr. Khalif Muammar, M.A dkk (Bandung: PIMPIN, 2010) hlm. 171.

[5] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Sekularisme, hlm. 171.

[6] Wacana ini dimulai sejak tahun 70-an dengan tokoh utamanya antara lain: Syed Muhammad Naquib al-Attas, Seyyed Hossein Nasr, Ismail Raji al-Faruqi, dan Ziauddin Sardar.

[7] Beberapa perguruan tinggi menggunakan terma yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yakni membentuk suatu paradigma alternatif dalam pengembangan keilmuan. Perguruantinggi itu antara lain, Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) semacam Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ataupun UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan juga oleh Perguruan Tinggi Umum (PTU) seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Institut Teknologi Bandung (ITB) ataupun Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Lihat Abu Darda, “Integrasi Ilmu dan Agama: Perkembangan Konseptual di Indonesia”, dalam Jurnal Kependidikan Islam At-Ta’dib Vol. 10, No. 1 Juni 2015 .

[8] Nurlena Rifai, Fauzan, Wahdi Sayuti dan Bahrissalim, “Integrasi Keilmuan dalam Pengembangan Kurikulum di UIN Se-Indonesia: Evaluasi Penerapan Integrasi Keilmuan UIN dalam Kurikulum dan Proses Pembelajaran”, dalam Journal Of Education In Muslim Society Tarbiya, Vol. 1, No. 1, Juni 2014., hlm. 13.

[9] Ilustrasi ini dapat dirujuk pada Muhammad Muslih, Falsafah Sains: Dari Isu Integrasi Keilmuan Menuju Lahirnya Sains Teistik, hlm. 178. Beberapa keterangan dalam ilustrasi telah saya ubah-sesuaikan.

[10] Joseph Grunfled, “Lakatos’s Weak Rationalism”, Science et Esprit, XXXIV/2 (1982) hlm. 224.

Dromologi, Apa itu? Teori Postmodern tentang Budaya Ketergesa-gesaan

Dromologi Ketergesa-gesaan

Dromologi, oleh: Ahmad Rizqi Fadillah

Saat asyik membaca, tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Ada notifikasi SMS masuk. Tentu saja, notifikasi tersebut memecah konsentrasi. Akupun seketika meraih handphone dan memeriksanya. Setelah kubuka, ternyata pesan singkat tersebut tidak begitu penting, bahkan tidak penting sama sekali. Hanya promo dari operator. “Promo! Dapatkan gratis kuota 2GB dengan isi ulang minimal 5000 rupiah. Hanya hari ini!” Begitulah, promo-promo seperti itu sudah sering kudapatkan, berkisar tiga hingga empat kali dalam sepekan.

Fenomena ini hanyalah sekelumit contoh kondisi kehidupan masyarakat kontemporer. Dengan adanya kemajuan teknologi informasi, setiap orang dari kita memang merasakan dampak positifnya. Namun, di lain sisi, kita harus menyadari bahwa ada dampak negatif yang perlu untuk diwaspadai. Di antaranya adalah problem kecepatan dan perecepatan, seperti halnya pesan dari operator di atas.

Pada promo tersebut, seseorang dibujuk untuk mengikuti kemauan pemiliki industri. Ia tertuntut untuk membelanjakan uangnya dengan segera, “hanya hari ini!” Inilah bentuk pemaksaan secara halus kepada konsumen, dengan iming-iming hadiah dan reward. Fenomena ini, oleh Jean Baudrillard (1929-2007) disebut dengan seduction.

DROMOLOGI DAN DAMPAKNYA

Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena-fenomena seperti ini seringkali terjadi, entah disadari atau tidak. Masyarakat dituntut untuk cepat, bersegera, dan bergegas. Memacu kecepatan mengikuti pola kehidupan yang di-setting sedemikian rupa. Kita tentu tahu, apalagi pemerhati hape, berapa kali tipe-tipe hape terbaru itu diluncurkan dalam waktu setahun. Dan beberapa orang di antara kita, kadang tergiur untuk membelinya. Benar, kehidupan kontemporer kita memang dibentuk. Lebih tepatnya dibentuk untuk cepat. Inilah yang disebut Piliang dengan “sebuah dunia yang berlari.”

Merujuk kepada Paul Virilio (1932-2018), dunia yang berlari adalah gambaran dunia yang paradigma berpikirnya adalah kecepatan. Ia menyebutnya dengan dromologi (berasal dari bahasa Yunani, dromos artinya kecepatan, dan logos artinya semesta pengetahuan). Kecepatan dan percepatan menjadi sentral kehidupan sosial, ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Tidak hanya itu, kecepatan bahkan menjadi parameter kemajuan. Artinya, kemajuan tidak hanya dicirikan dengan kebaruan seperti dulu, tapi juga kecepatan.

Lebih lanjut, menurut Michel Foucalt (1926-1984), kekuasaan adalah pengetahuan. Artinya, ada hubungan erat yang saling timbal balik antara kekuasaan dan pengetahuan. Kekuasaan memengaruhi pengetahuan, pengetahuan juga memengaruhi kekuasaan. Namun, dengan adanya fenomena dromolgi seperti saat ini, kata-kata knowledge is power agaknya mengalami perluasan makna. Knowledge sendiri tidak cukup, ia harus ditambah dengan kecepatan. Maka, dalam konteks kekinian, quote Foucalt lebih tepat untuk dimaknai dengan “power is speeding knowledge.”

Baca juga: Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas: Meminjam Kacamata Heidegger

Fenomena dromologi menyebar dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam aspek informasi dan komunikasi, muncul berita yang cepat berganti. Satu kasus belum selesai, sudah diberitakan kasus yang lain. Dalam aspek produksi, muncul produk yang cepat berganti. Satu produk belum habis terjual, sudah muncul produk baru dengan penambahan fitur tertentu. Dalam aspek keberagamaan, paradigma kecepatan juga telah menjangkiti kehidupan ummat. Hapal al-Quran sebulan! Membaca kitab gundul seminggu! Mahir mengaji seminggu! dsb.

Di balik paradigma kecepatan tersebut, terdapat beberapa hal yang perlu untuk dikaji dan dipahami. Tempo kehidupan memang mengalami percepatan. Namun, kecepatan itu harus dibayar dengan pendangkalan makna. Mengutip Yasraf Amir Piliang, kecepatan itu berbanding lurus dengan kehampaan. Semakin cepat seseorang menghapal al-Quran, semakin sedikit makna yang ia dapat. Semakin cepat seseorang mengerjakan shalat tarawih, semakin sedikit kesempatan dan peluang untuk menghayati bacaan shalatnya. Begitu pula dalam kehidupan sosial, betapa cepatnya citra mengalami perubahan hingga tak ada lagi waktu untuk meresapinya. Tak ada lagi kesempatan untuk refleksi dan muhasabah. Tak ada lagi kesempatan untuk memaknai kecepatan itu sendiri.

Selayaknya, setiap orang menyadari bahwa segala sesuatu butuh untuk ditakar. Bersegera tidaklah keliru, apalagi untuk kebaikan. Yang menjadi catatan adalah jika ketersegeraan itu membawa dampak negatif bagi dinamika kehidupan.

DROMOLOGI DALAM ISLAM

Dalam kaca mata Islam, dromologi ini disebut dengan isti`jāl atau tasarru`. Pada era millennial ini, bentuk peringatan al-Quran yang disampaikan dengan pernyataan positif, “wa kāna al-insānu `ajūlā” menjadi relevan. Secara tidak langsung, melalui ayat ini Allah memberikan arahan kepada manusia agar waspada terhadap fenomena pascamodern yang dromologis.

Dengan melihat kondisi masyarakat yang terpengaruh oleh paradigma kecepatan ini, kita dapat menemukan betapa banyak pihak-pihak yang dijauhkan dari kebaikan. Budaya instan yang merebak di kalangan pemuda kita membiasakan mereka untuk tidak menikmati proses dan menemukan kedalaman makna. Upaya menjauhkan manusia dari kebaikan tidaklah dilakukan melainkan oleh setan. Barangkali, budaya instan yang diakibatkan oleh fenomena kecepatan ini adalah setan kontemporer yang mengalami transformasi. Jika demikian, maka tepatlah yang disabdakan Rasulullah, “al-Taannī min Allāh wa al-`ajalah min al-syaythān.”

Untuk menghadapi situasi serba cepat ini, Islam mengajarkan ummat manusia untuk al-anāah, yaitu suatu sikap tenang dan tidak tergesa-gesa. Tenang bukan berarti berleha-leha. Tenang berarti penuh ketelitian, penuh perhitungan, dan tidak serampangan. Tidak perlu merasa terdesak untuk mengikuti cepatnya pergantian citra di media, tidak perlu merasa harus segera menyelesaikan hafalan al-Quran dalam waktu singkat, tidak perlu merasa ketinggalan atau dikatakan mundur saat tidak mengikuti sebuah pemberitaan.

Jika fenomena dromologi menghalang-halangi manusia untuk menghayati setiap realitas dan menikmati proses, maka sikap al-anāah berarti sebaliknya. Apalagi pada era pascakebenaran seperti saat ini, di mana kebiasaan baik me-recheck informasi luntur dan berita bohong dapat tersebar lebih cepat. Sikap untuk tidak grusa-grusu dan cepat emosi dapat diminimalisir dengan spirit al-anāah ini.

Akhirnya, aku mencoba untuk kembali fokus pada bacaanku dan mengabaikan pesan singkat promo tersebut. Sebab, dalam rangka menjauhkan diri dari fenomena dromologis pascamodern dan mengaplikasikan al-anāah, aku mencoba melakukan perhitungan sederhana. Sisa kuotaku masih 10 GB, dan masa berlakunya masih tiga pekan. Hasilnya, aku memilih untuk tidak tergiur mengejar ‘dunia yang berlari itu’. Wallahu a`lam.[]

Bagian Kedua dari Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas

Diskusi Ringan Bersama Dr. Nirwan: dari Syariah hingga Problem Ummat

Sejarah Angka: Bagaimana Angka Muncul dan Berkembang

Film Islami itu Islami? Dilema Film Religi, Tantangan bagi Sineas Muslim

Sila Kelima Perspektif Maqashid Syari’ah dan Pemindahan Ibukota

Oleh: Dadang Irsyamuddin

Indonesia merupakan negara majemuk yang berusahan mengoptimalkan keadilan sosial bagi seluruh suku, agama, dan golongan yang ada. Keadilan sosial telah dijadikan bagian dari indikator kemajuan nasional karena ke 68 pendiri melalui BPUPKI telah meletakkannya sebagai salah satu dari lima filsafat dasar negara dalam bingkai pancasila yang bersifat inkulsif. Sila tersebut telah menjadi isu paling sering dibahas oleh masyarakat lintas kalangan dalam diskusi publik.

Para aktivis sosial ingin berusaha untuk membuat rancangan program demi meningkatkan kesejahteraan bersama yang adil dan tepat sasaran. Dalam penentuan indikator kesejahteraan sosial, ulama` muslim mengarahkan atensi publik kepada pendalaman maqashid syari`ah sebagai alternatif dari standar pengukuran barat yang menitik beratkan sisi material saja. Dalam prakteknya, keadilan sosial hanya dapat diperoleh melalui keterlibatan penguasa dengan jaminan dan legitimasi yang dimiliki sebagai wakil rakyat dalam perilaku sosial.

Secara konstitusial, hal ini tertuang melalui undang-undang dasar 1945 pasal 33 yang mengarahkan kita pada pemanfaatan barang publik bukan untuk kepentingan kapitalis dan pasal 34 tentang perlindungan terhadap rakyat kecil. Berbagai lingkup keadilan seperti komutatif, distributif, dan legalis harus dijamin oleh pemerintah demi terciptanya masyarakat yang aman dan nyaman sebagai wujud pelaksanaan ketetapan MPR no. I/MPR/2003.

Baca juga: Zakat sebagai Pendorong Investasi dan Aliran Ekonomi

Konsep tersebut juga diungkapkan oleh Jamaluddin Athiyah lewat komposisi maqashid syari`ah sesuai dengan skala pemberdayaan sosial yang mungkin dilakukan. Ia menambahkan bahwa cakupan keadilan tersebut dapat meliputi ranah individu, keluarga, lingkungan sosial, dan negara yang menjadi entitas keadilan yang komprehensif untuk seluruh rakyat Indonesia. Akan tetapi, konsep historis yang luhur tersebut telah dinodai dengan legalisasi tindakan amoral yang terjadi dalam skala nasional.

Dalam hubungan antar personal, masyarakat muslim yang menyerukan kebajikan revolusionis telah dilabeli secara global sebagai radikal tanpa ada pembelaan yang berarti dari negara. Bahkan, pemerintah telah rela melupakan jasa para syuhada` lantaran keberpihakan kepada golongan kecil yang berkepentingan. Dalam skala yang lebih luas, berbagai macam perusahaan besar asing diizinkan membeli kedaulatan negara dan menjajah pasar ekonomi Indonesia tanpa menyediakan sumber pemberdayaan rakyat kecil yang cukup dengan ratio gini sebesar 0,389 pada maret 2018. Dari fakta bahwa setengah dari kekayaan Indonesia hari ini dikuasai oleh hanya satu persen populasi nasional sehingga luka atas janji konstitusional semakin lebar.

Fenomena baru kian memperburuk keadaan dengan gagasan pemindahan ibukota negara ke pulau Kalimantan yang ditolak oleh berbagai pihak terutama dalam segi pembiayaan. Kajian tata ruang terapan dari kacamata reformis sejauh ini menjelaskan bahwa Jabodetabek memiki permasalahan urbanisme yang pelik dari tingkat kemacetan nomor 7 dunia dengan estimasi kerugian 56 trilyun per tahun di 2013 hingga tingkat kepadatan nomor 9 pada tahun 2017 yang dianggap telah menjadi alibi yang cukup untuk pemindahan ibukota keluar pulau.

Baca juga: Wakaf untuk Sumber Ketahan Finansial Pendidikan

Menurut BAPENAS, gagasan ini diangap penting agar ibukota negara dapat menjadi simbol yang mereprentasikan identitas bangsa yang modern, berstandar internasional, dan mempermudah tata kelola kenegaraan yang akan memakan biaya sebesar 466 trilyun. Sumber dana tersebut berasal dari konstribusi APBN sebesar 19% dan sisanya dilelang melalui KPBU dan investasi swasta. Hal ini menandakan, pemerintah memakai dana pinjaman badan usaha lain sebesar 377,46 trilyun untuk pembangunan ibukota baru dengan konsekuensi dan syarat-syarat yang menguntungkan investor dan tidak banyak menyatakan keberpihakan kepada rakyat.

Program akhir periode pertama presiden Jokowi ini perlu mendapatkan kajian yang lebih dalam untuk menjamin tegaknya keadilan sosial yang komprehensif. Jika ditilik melalui tiga tingkatan maqashid syariah, dana sebesar itu hanya berada di tingkat ke tiga atau tahsiniyah atau pelengkap saja. Belum ditambah dengan beban hutang serta kompensasinya yang ditanggung oleh negara disamping pembangunan konsumtif tersebut yang hanya akan dinikmati oleh petinggi kekuasaan saja. Secara urgensi (dharuriyah), alokasi dana tersebut itu dapat digunakan untuk pemberdayaan masyarakat di bidang sosial ekonomi dengan pembangunan 33.334 pasar tradisional, 29 kampus UIII, 670 stadion papua bangkit, 6.134 tower rusunawa kampung bebek, dan 66 taman safari Semarang sekaligus.

Pemerintah diharap tidak hanya mengikuti langkah Malaysia dalam pemindahan pusat pemerintahan masa lalu tetapi harus dengan diikuti dengan penyelidikan mendalam sesuai dengan kearifan dan polemik lokal. Ibukota Jakarta memang dipenuhi dengan problema politik dan geografis yang pelik yang dimana pengentasannya telah menjadi janji kampanye presiden Jokowi pada saat kampanye pencalonan gubernur dan presiden dulu. Penegakan keadilan sosial bagi seluruh Indonesia merupakan mandat konstitusional dan syari`ah yang menjadi tanggungan pemegang kekuasaan sehingga pencanangan setiap program nasional tidak boleh keluar dari relnya sebelum rakyat mengambil mandat agensi sosial dari para wakil rakyat.

Lainnya dari Pps Unida:

Prof. Mehmet Bulut: Wakaf adalah Warisan Islam

Beda ‘Idul Adha di Indonesia dan Turki, Kesan Mahasiswi IZU Turki

Hikmah ‘Idul Adha: Mengambil Ibrah dari Kisah Nabi Ibrahim

Sejarah Kanonifikasi al-Qur’an

Epistemologi dan Al-Qur'an

Oleh: Muhammad Dhiaul Fikri

Salah satu objek kajian para Sarjana Barat mengenai teks al-Qur’an adalah Sejarah teks al-Qur’an. Secara umum terdapat tiga sasaran kritik mereka terhadap Mushaf Utsmani yang saat ini ada ditangan umat Muslim. Pertama, mengenai koleksi dan susunan teks dari lisan sampai tulisan. Kedua, perbedaan tata cara baca teks al-Qur’an. Ketiga, proses penulisan teks dan cara baca yang di bakukan di zaman Utsman. Tulisan di bawah ini ingin menjelaskan secara ringkas bagaimana sejatinya sejarah proses pembukuan al-Qur’an menjadi mushaf yang final dan akhirnya di gunakan hingga saat ini.

Fase Kanonifikasi

Terdapat tiga fase kesejarahan penulisan al-Qur’an yang harus diketahui umat Islam. Pertama, pada masa Nabi. Pada masa ini para sahabat mendapatkan bimbingan secara langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Sehingga tulisan-tulisan para sahabat tersebut tertulis secara imla (dikte) oleh Nabi, dan kemudian dikoreksi langsung secara pribadi oleh Nabi Muhammad SAW. Disamping itu, Nabi juga memiliki otoritas penuh dalam penyusunan ayat yang telah diterimanya. Itu artinya, para sahabat tidak mungkin dapat semena-mena menyusun ayat al-Qur’an dengan sendirinya.

Kedua, Masa sahabat (Abu Bakar). Pada masa sebelum Abu Bakar, teks-teks al-Qur’an yang telah ditulis dibawah bimbingan tadi didokumentasikan, namun belum dalam bentuk yang utuh keseluruhan. Hal tersebut karena Nabi Muhammad SAW pada saat itu masih hidup dan dijadikan sebagai satu-satunya sumber jika terdapat perbedaan diantara para sahabat. Kemudian, dikhawatirkan akan adanya teks yang akan di naskh oleh teks yang datangnya kemudian. Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, dan naiknya Abu Bakar sebagai Khalifah, barulah kemudian Umar bin Khattab mendesak Abu Bakar agar segera melakukan kanonifikasi ayat al-Qur’an dikarenakan banyaknya para penghafal dan pemilik teks-teks yang meninggal pada saat perang Yamamah. Upaya tersebut akhirnya mendapat dukungan dari para sahabat untuk melakukan ijtihad agar mengumpulkan ayat al-Qur’an menjadi utuh. Namun, cara kerja pengumpulan teks dengan segala kehati-hatian yang dilakukan saat itu masih memperbolehkan tradisi varian qira’ah fi sab’ati ahruf.

Baca juga:

Epistemologi Ilmu Pengetahuan dan Relevansinya dalam Studi Al-Qur’an

History, Theology and the Biblical Canon: an Introduction to Basic Issues

Ketiga, Masa Sahabat (Utsman bin Affan). Terdapat perbedaan yang sangat tampak antara proses pengumpulan al-Qur’an di zaman Abu Bakar dan Utsman bin ‘Affan, yaitu legalisasi perbedaan bacaan dalam qira’ah fi sab’ati ahruf  yang di lakukan oleh Nabi saat itu masih ada di zaman Abu Bakar. Sedangkan di zaman Utsman bin ‘Affan hal tersebut diseragamkan menjadi satu dialek yakni Quraisy. Hal tersebut dikarenakan untuk menghindari ‘perseteruan’ umat tentang perbedaan cara baca al-Qur’an. Upaya Utsman tersebut tidak mengatasnamakan kepentingan pribadi sebagai penguasa, melainkan untuk kemaslahatan umat Islam bersama dan penyatuan umat Islam di bawah cara baca yang standar. Selain itu, juga menghilangkan elemen-elemen yang non-Qur’an yang tertulis dalam mushaf-mushaf koleksi pribadi para sahabat yang biasanya mereka gunakan sebagai penjelasan teks yang didapat dari Syarh Nabi Muhammad SAW.

Kesimpulan

Dengan demikian, ketiga fase dalam sejarah penulisan diatas sejatinya saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Selain itu, pengumpulan teks al-Qur’an pada masa Utsman sejatinya juga dilewati dengan proses seleksi yang sangat ketat dalam menerima teks dari para penghafal dan pemilik koleksi pribadi. Tidak berlebihan jika dikatakan proses tersebut sejatinya sangatlah Mutawatir, tidak terdapat kekurangan maupun kelebihan di dalamnya. Sehingga Mushaf Utsmani yang ada di tangan umat Muslim saat ini sejatinya bentuk akhir dari redaksi al-Qur’an yang utuh dan orisinil. Kemudian, berdasarkan penjelasan diatas pula, asumsi-asumsi yang didengungkan oleh sarjana Barat dalam upaya mengkritik Qur’an mushaf Utsmani pun tidaklah dapat diterima. Bahkan hingga saat ini pun mereka tidak dapat menunjukkan secara kongkrit bagian-bagian al-Qur’an yang dianggap hilang ataupun tambahan. Karenanya klaim ketidak utuhan al-Qur’an yang ada saat ini tidaklah dapat dibuktikan secara ilmiah.

Lainnya dari Pps Unida:

Seminar Pada HUT RI: Antara Keindonesiaan dan Keislaman

Al Ustadz KH. Ahmad Suharto: Benarkah Kita Merdeka?

Kesan Tamu, Prof. Martin van Bruissen tentang Gontor dan Unida

Kunjungan Prof. Martin, Pps Unida Kembali Menjadi EO

Film Islami itu Islami? Dilema Film Religi, Tantangan bagi Sineas Muslim

Dilema Film Islami Religi

Oleh: Khairul Atqiya[1]

Tulisan ini tidak menyorot satu film Islami atau religi saja. Seluruh film baik film layar lebar maupun layar kaca atau layar maya termasuk dalam kritik tulisan ini. Penggambaran salah satu film hanya bertujuan untuk mempermudah dalam menarasikan dilema film religi yang ingin diangkat dalam tulisan ini.

Sinopsis

Beberapa waktu yang lalu telah dirilis sebuah film drama komedi religi, mungkin genrenya seperti itu. Dalam film itu diceritakan sepasang suami istri yang menikah karena perjodohan. Sebagaimana banyak kasus pernikahan karena perjodohan, pernikahan ini dilakukan dengan terpaksa. Setidaknya itu yang dirasakan sang suami.

Saat sang suami tidak berbahagia dengan pernikahannya dan berniat untuk berpisah, tidak demikian dengan sang istri. Sang istri bahagia dengan pernikahan itu. Berbahagia, sampai akhirnya dia mengetahui suaminya tidak mencintainya dan menikah karena terpaksa. Dia lebih bersedih lagi setelah mengetahui bahwa sang suami telah berencana untuk berpisah sejak awal. Namun sang istri ingin mempertahankan pernikahan mereka. Poin inilah yang menjadi konflik inti dalam film ini. Seorang suami yang menikah karena terpaksa dan ingin bercerai dan seorang istri yang berusaha mempertahankan pernikahannya.

Konten Religi

Film ini banyak menampilkan adegan yang menggambarkan pola hidup seorang sosok yang islami. Penggambaran sosok istri yang selalu berpakaian tertutup. Berbicara santun dan sering mungucapkan kalimah thoyyibah. Rutin membaca Al-qur’an. Rajin shalat dan lain sebagainya. Dalam film ini, sang istri memang digambarkan sebagai sosok yang Islami. Namun tidak demikian halnya dengan sang suami, dia digambarkan sebagai sosok yang kurang Islami. Tapi, dengan inilah film ini menjadi terlihat menarik.

Pada salah satu adegan dalam film ini diceritakan bahwa sang suami sedang sakit. Pada waktu subuh sang istri membangunkannya untuk solat subuh dan mengingatkan bahwa solat itu tetap wajib bagi orang sakit. Di lain scene sang istri mengingatkan suaminya untuk solat berjama’ah di masjid. Dia mengatakan bahwa lelaki soleh solat di masjid dan yang solat di rumah adalah lelaki yang solehah.

Penggambaran sosok yang Islami seperti ini dapat dengan mudah untuk ditemukan dalam film ini. Khususnya dalam lingkaran sang istri, sosok yang berasal dari kelaurga religius yang tinggal di pedesaan. Sedangkan sang suami berasal dari keluarga metropolitan yang tidak terlalu religius. Hal ini dapat dilihat dari penggambaran keluarga dari pihak istri dan pihak suami dalam keseluruhan film.

Film Islami yang Kurang Islami

Sulit untuk mengatakan suatu film adalah film yang Islami atau kurang Islami. Karena belum ada ukuran yang dapat dijadikan dasar untuk mengukur keislaman suatu film. Meski demikian terdapat common sense tentang ciri-ciri film Islami. Setidaknya penggambaran tokoh, jalan cerita dan plot dalam film ini sudah termasuk dalam kriteria film yang Islami. Ditambah lagi penyebutan matan hadits secara eksplisit membuat kesan Islami ini semakin menguat.

Dengan semua atribusi keislaman yang ada dalam film ini tidak serta merta membuatnya Islami. Karena terdapat beberapa detail yang kurang Islami. Sebut saja perubahan busana sang istri saat dia dan suami sudah mulai dekat. Sebelumnya, saat sang suami masih menolak untuk mengakuinya sebagai istrinya, sang istri selalu berpakaian tertutup di hadapan sang suami, bahkan saat tidur. Namun saat hubungan mereka semakin intim sang istri sudah mulai membuka kerudungnya di saat bersama suaminya di rumah.

Detail ini penting untuk menggambarkan perubahan mood dan kondisi hubungan keduanya. Tapi di saat yang sama perubahan ini mengurangi nilai keislaman film ini. Karena menampakkan aurat sang pemeran perempuan. Ini adalah pilihan yang dilematis. Antara mempertahankan nilai Islami yang ada pada tokoh istri, yaitu menutup aurat dengan menggambarkan perubahan keintiman hubungan mereka berdua.

Plot-plot lain yang tidak menggambarkan Islam dalam film ini, bahkan alur cerita dasar yang berlangsung sepanjang film ini jelas tidak dapat dikatakan Islami. Sang suami tetap menemui kekasihnya setelah dia sah sebagai suami. Meski tidak digambarkan adanya kontak fisik, namun perbuatan ini jelas diluar kententuan Islam. Tapi lagi-lagi ini memang dibutuhkan. Alur cerita seperti ini memang disengaja untuk menguatkan konflik dalam keseluruhan cerita.

Baca Juga:

Bumi Manusia dan Makna Modernitas: Sebuah Review*

Bagian Kedua dari Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas

Dilema Film Islami

Bingkai film Islami dalam cerita pasangan suami istri telah tergambar dalam film ini. Pernikahan yang dilakukan sesuai aturan Islam. Interaksi-interaksi di antara keduanya dalam kehidupan pernikahan juga cukup baik—kecuali hubungan sang suami dengan kekasihnya. Meski demikian interkasi yang Isalmi di antara keduanya tetap tidak bisa dikatakan Islami. Karena semua yang tergambarkan dalam film hanya cerita fiktif, seluruhnya adalah akting.

Pada hakikatnya interaksi keduanya adalah interaksi yang dilarang didalam Islam. Karena keduanya bukanlah suami istri yang sah. Keduanya hanya pasangan dalam cerita. Dalam dunia nyata keduanya tetaplah bukan mahram. Ini adalah dilema utama dalam film Islami atau religi. Antara proses yang Islami atau hasil yang Islami.

Sebagai contoh, menutup aurat seluruh pemeran dalam suatu film agaknya sulit dilakukan. Karena suatu film pasti berusaha menggambarkan kondisi nyata cerita yang difilmkan. Dan memang kondisi nyata di masyarakat beragam, tidak semua mengenakan kerudung dan menutup aurat. Pembuat film akan dihadapkan pada pilihan; membuat film yang sesuai ketentaun Islam (tidak mempertontonkan aurat) atau membuat film yang terasa utopis (cerita yang tidak sesuai kenyataan).

Kesulitan lain dalam proses pembuatan film yang Islami adalah tetang interkasi antara laki-laki dan perempuan. Interkasi atau ikhthilath dalam proses pembuatan film sejauh ini adalah sebuah keharusan. Karena agaknya sulit untuk membentuk kru film yang seluruhnya adalah laki-laki atau seluruhnya adalah perempuan.

Pada titik ini sineas film akan menghadapi dilema antara memilih proses yang bebas ikhthilath atau membuka ruang bagi interaksi lawan jenis. Membatasi interkasi akan menjaga proses agar tidak menyalahi aturan Islam, namun akan menyulitkan proses pembuatan film. Di sisi lain, memperbolehkan interkasi yang lebih terbuka akan menjurus pada ikhthilat meski mempermudah proses.

Sisi Positif

Terdapat sisi positif yang dapat dilihat dari perkembangan perfilman religi di tanah air. Setidaknya ini memberi opsi bagi para penonton untuk memilih film yang lebih Islami. Alih-alih menonton film Hollywood yang sudah pasti tidak Islami, baik hasil atau proses pembuatan fiilmnya. Atau film-film lokal yang memang tidak berlabel Islami atau religi.

Melalui film-film religi ini juga banyak pesan keislaman yang dapat tersampaikan. Baik tentang ajaran, nilai-nilai atau tokoh Islam. Siapa yang tidak kenal dengan serial Umat Ibn Al-Khattab. Berapa banyak orang yang terinspirasi dan mendapatkan nilai-nilai Islam dari film ini. Terlepas dari proses pembuatannya yang mungkin masih menyalahi aturan Islam, namun alur cerita dan pesan-pesan keislaman didalamnya tidak dapat dikatan tidak berdampak.

Inilah tugas dan tantangan yang perlu dijawab oleh sineas-sineas muslim saat ini. Masih banyak aspek yang perlu didiskusikan berkaitan dengan perfilman untuk menghasilkan film yang tidak hanya bernilai Islami dalam hasilnya tapi juga prosesnya. Mungkin ini (perfilman) dapat menjadi media dakwah yang sesuai zaman dan dapat menjangkau berbagai kalangan dengan mudah.

[1] Khairul Atqiya adalah mantan staff Gontor TV Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus Pusat pada periode 2012-2013 dan bagian dokumentasi Pondok Modern Darussalam Gontor pada periode 2010-2019

Untuk bacaan lebih lanjut terkait hal ini:

Film dan Islam: Maksiat, Syariat, atau Siasat?

What is ‘Islamic’ about Islamic Films?

Negotiating Islam with Cinema: A Theoretical Discussion on Indonesian Islamic Films

Lainnya dari Pps Unida:

Sejarah Angka: Bagaimana Angka Muncul dan Berkembang

Seminar Pada HUT RI: Antara Keindonesiaan dan Keislaman

Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Penelitian Tesis Magister (PTM)