Category Archives: ARTIKEL

Al-Attas Bertemu Lakatos: Merumuskan Metodologi Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Islamisai Ilmu Pengetahuan

Oleh: Yongki Sutoyo

Wacana Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer yang dewasa ini cukup populer, merupakan respon beberapa intelektual Muslim atas hegemoni paradigma sains Barat modern. Hegemoni paradigma ini mencakup tiga aspek dalam sains, yakni ontologi, epistemologi dan aksiologi. Dari aspek ontologis, sains modern melihat alam beserta hukum dan polanya, termasuk manusia sendiri hanya sebagai wujud material yang eksis tanpa intervensi Tuhan. Dalam aspek epistemologis, sains mengesampingkan teks wahyu sebagai sumber pengetahuan, sehingga tidak sesuai dengan pandangan masyarakat muslim yang justru bersikap sebaliknya. Sedangkan aspek aksiologis, Barat tidak mengaitkan pengembangan ilmu pengetahuan dengan tata nilai, moralitas, spiritualitas dan religiusitas.[1] Hegemoni paradigma tersebut jelas menunjukan bahwa hakikatnya ilmu pengetahuan tidak pernah netral tapi sarat nilai,[2] bahkan bisa dijadikan alat yang sangat halus dan tajam bagi menyebarluaskan pandangan hidup suatu kebudayaan.[3]

Karena ilmu sarat dengan nilai, maka ilmu pengetahuan yang berkembang pesat di Barat hingga saat ini sesungguhnya dibangun di atas landasan filsafat, nilai-nilai dan kebudayaan khas Barat yang dalam beberapa aspek memiliki banyak pertentangan dengan Islam.[4] Beberapa aspek itu misalnya, Barat merumuskan pandangannya terhadap realitas dan kebenaran bukan berdasarkan wahyu dan dasar-dasar keyakinan agama, tetapi berdasarkan pada tradisi kebudayaan yang diperkuat oleh dasat-dasar filofis. Di mana daar-dasar filosofis ini yang berangkat dari spekulasi (dugaan) yang berkaitan hanya dengan kehidupan sekular yang berpusat pada manusia sebagai diri jasmani dan kekuatan rasional sebagai satu-satunya kekuatan yang akan menyingkap seluruh rahasia alam dan hubungannya dengan eksistensi.[5] Atas dasar perbedaan paradigma itulah Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer mendesak untuk dilakukan.

Baca juga: Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas: Meminjam Kacamata Heidegger

Namun yang menjadi persoalan sekarang adalah, setelah lebih dari empat dekade[6] wacana Islamisasi ilmu pengetahuan didengungkan dan telah dicoba diterapkan diberbagai perguruan tinggi,[7] banyak kalangan yang menilai tampaknya masih berada pada tataran filosofis dan belum menyentuh ke wilayah implementatif. Salah satu yang terabaikan dalam wacana ini adalah menerjemahkannya ke dalam metode yang sistematik dalam penelitian ataupun kegiatan pengembangan keilmuan.[8] Oleh karena itu, diperlukan kerja-kerja yang serius bagaimana usaha implementatif itu dilakukan. Untuk memenuhi tujuan itu, tulisan ini akan mengkaji dua tokoh penting: Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam diskursus Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer dan Imre Lakatos dalam diskursus Metodologi Program Riset. Dari al-Attas, akan dikaji bagaimana konsep dasar Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, sedangkan dari Lakatos akan dikaji bagaimana metodologi diterapkan dalam kerangka program riset. Hipotesis daritulisan ini adalah jika Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer memenuhi kerangka kerja program riset, maka metodologi Islamisai dalam ilmu-ilmu kontemporer dimungkinkan untuk dilakukan dan dikembangkan.

Merumuskan Metodologi

Problem utama dari Islamisasi ilmu pengetahuan al-Attas adalah, ketika al-Attas menguraikan bahwa Islamisasi iaitu suatu proses mengeluarkan elemen-elemen yang bertentangan dengan Islam, setelah itu memasukan elemen-elemen yang sesuai, maka bagaimana proses itu dilakukan. Di sini Lakatos memberikan peta yang cukup jelas untuk mengaplikasikan proses—apa yang disebut al-Attas sebagai—dewesternisasi ilmu pengetahuan itu. Berikut ilustrasi peta sains menurut Lakatos.[9]

Gambar di atas menggambarkan struktur sains menurut Lakatos, yakni setiap sains—entah itu sains kealaman, sosial atau kemanusiaan—setidaknya memiliki empat lapisan. Sains yang umumnya dipahami oleh masyarakat pada umumnya ada pada lapisan paling luar. Di posisi ini banyak orang menganggap bahwa sains itu netral, universal dan bebas nilai. Namun, jika kita memasuki lapisan yang lebih dalam, terutama di level metaphysical believe anggapan bahwa sains itu netral, universal dan bebas nilai akan semakin terkikis. Dari sini, empat lapisan sains Lakatos dapat bertemu dengan rumusan worldview Islam al-Attas. Metaphysical believe adalah konsep-konsep asas dalam worldview Islam seperti konsep ilmu, konsep realitas dan kebenaran, konsep manusia, konsep alam, konsep keadilan, konsep kebahagiaan dan seterusnya, yang menghasilkan kerangka kerja atau paradigma keilmuan, di mana seluruh konsep-konsep asas ini perpusat pada doktrin keesaan Tuhan atau Tauhid. Dari empat level sains Lakatos ini, kita bisa melakukan scaning dimulai dari metaphysical believe-nya, kemudian paradigma keilmuan yang digunakan, selanjutnya menganalisis teori dan metodologi yang dipakai. Dari proses scaning ini akan ditentukan apakah suatu teori bertentangan dengan Islam atau tidak dan perlu dilakukan proses Islamisasi. Atau proses scaning tersebut bisa dimulai dari teori-teori yang ada, kemudian dari teori itu dilacak jenis paradigma yang digunakan hingga menemukan konsep-konsep kunci yang mecerminkan metaphysical believe atau worldview macam apa yang mendasari teori itu.

Baca juga: Artikel tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Tujuan utama dari proses scaning ini adalah menemukan konsep-konsep kunci dalam suatu teori yang mencerminkan metaphysical believe tertentu. Setelah konsep-konep kunci tersebut ditemukan, yang dilakukan selanjutnya adalah komparasi dan analisis, apakah konsep kunci itu sesuai dengan konsep kunci dalam worldview Islam. Jika sesuai, proses Islamisasi langsung merujuk pada tataran praksis metodologis. Jika ternyata bertentangan, perlu dianalisis apakah konsep itu bertentangan sepenuhnya, setengahnya atau hanya bagian kecilnya saja. Porsi kebertentangan ini akan menentukan proses selanjutnya, yakni adobsi dan atau adaptasi atau ditolak sama sekali.

Dari sisi yang lain, sebetulnya metodologi program riset Lakatos juga memiliki kelemahan. Kelemahan itu adalah tidak adanya kerangka operasional yang jelas dalam menghadapi maraknya “protective-belt” atau teori-teori kecil yang saling bertarung. Mengingat suatu ilmu tidak lahir tanpa konteks sosio-historis yang melatarinya, maka suatu ilmu pastilah tidak akan netral secara ontologis dan aksiologis.[10] Hal semacam ini akan dapat melahirkan perang dingin antar kalangan ilmuwan, yang sering tanpa disadari, mereka telah masuk (atau sengaja memasukkan diri?) dalam perangkap skenario agen-agen ekonomi dan kekuasaan. Namun, kekurangan ini sebetulnya bisa di atasi dengan murujukk rumusan worldview Islam al-Attas. Dalam worldview Islam telah ada mekanisme yang baik untuk menghadapi maraknya “protective-belt” yang menjadikan teori-teori kecil saling bertarung. Mekanisme tersebut merujuk pada konsep ushul-furu’ dan muhkamat-mutasyabihat. Artinya, teori-teori kecil yang menjadi lingkarang pelindung tidak perlu dipertentangkan meskipun ada perbedaan jika dalam penerapannya, telah jelas mana yang pokok dan cabang; serta mana yang bisa berubah dan mana yang tetap. Tatangan selanjutnya adalah bagaimana konsep ushul-furu’ dan muhkamat-mutasyabihat itu dirumuskan dan neraca seperti apa yang mesti dibuat.

Seminar Pada HUT RI: Antara Keindonesiaan dan Keislaman

Sila Kelima Perspektif Maqashid Syari’ah dan Pemindahan Ibukota

Film Islami itu Islami? Dilema Film Religi, Tantangan bagi Sineas Muslim

Sejarah Angka: Bagaimana Angka Muncul dan Berkembang

Infinite (Tak Terbatas) ∞

[1] Lihat Mulyadi Kartanegara, Mengislamkan Nalar: Sebuah Respon Terhadap Modernitas, (Jakarta: Erlangga, 2007) bab 1 dan 3.

[2] Untuk penjelasan megenai masalah ini, silahkan rujuk Jurgen Habermas, Knowledge and Human Interest, trans. Jeremy J. Shapiro, (Cambridge: Polity n    Press, 1968); F. Budi Hadirman, Kritik Ideologi: Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan, (Yogyakarta: Kanisius, 1993).

[3] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001) hlm. 49.

[4] Lihat Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Sekularisme, terj. Dr. Khalif Muammar, M.A dkk (Bandung: PIMPIN, 2010) hlm. 171.

[5] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Sekularisme, hlm. 171.

[6] Wacana ini dimulai sejak tahun 70-an dengan tokoh utamanya antara lain: Syed Muhammad Naquib al-Attas, Seyyed Hossein Nasr, Ismail Raji al-Faruqi, dan Ziauddin Sardar.

[7] Beberapa perguruan tinggi menggunakan terma yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yakni membentuk suatu paradigma alternatif dalam pengembangan keilmuan. Perguruantinggi itu antara lain, Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) semacam Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ataupun UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan juga oleh Perguruan Tinggi Umum (PTU) seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Institut Teknologi Bandung (ITB) ataupun Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Lihat Abu Darda, “Integrasi Ilmu dan Agama: Perkembangan Konseptual di Indonesia”, dalam Jurnal Kependidikan Islam At-Ta’dib Vol. 10, No. 1 Juni 2015 .

[8] Nurlena Rifai, Fauzan, Wahdi Sayuti dan Bahrissalim, “Integrasi Keilmuan dalam Pengembangan Kurikulum di UIN Se-Indonesia: Evaluasi Penerapan Integrasi Keilmuan UIN dalam Kurikulum dan Proses Pembelajaran”, dalam Journal Of Education In Muslim Society Tarbiya, Vol. 1, No. 1, Juni 2014., hlm. 13.

[9] Ilustrasi ini dapat dirujuk pada Muhammad Muslih, Falsafah Sains: Dari Isu Integrasi Keilmuan Menuju Lahirnya Sains Teistik, hlm. 178. Beberapa keterangan dalam ilustrasi telah saya ubah-sesuaikan.

[10] Joseph Grunfled, “Lakatos’s Weak Rationalism”, Science et Esprit, XXXIV/2 (1982) hlm. 224.

Dromologi, Apa itu? Teori Postmodern tentang Budaya Ketergesa-gesaan

Dromologi, oleh: Ahmad Rizqi Fadillah

Saat asyik membaca, tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Ada notifikasi SMS masuk. Tentu saja, notifikasi tersebut memecah konsentrasi. Akupun seketika meraih handphone dan memeriksanya. Setelah kubuka, ternyata pesan singkat tersebut tidak begitu penting, bahkan tidak penting sama sekali. Hanya promo dari operator. “Promo! Dapatkan gratis kuota 2GB dengan isi ulang minimal 5000 rupiah. Hanya hari ini!” Begitulah, promo-promo seperti itu sudah sering kudapatkan, berkisar tiga hingga empat kali dalam sepekan.

Fenomena ini hanyalah sekelumit contoh kondisi kehidupan masyarakat kontemporer. Dengan adanya kemajuan teknologi informasi, setiap orang dari kita memang merasakan dampak positifnya. Namun, di lain sisi, kita harus menyadari bahwa ada dampak negatif yang perlu untuk diwaspadai. Di antaranya adalah problem kecepatan dan perecepatan, seperti halnya pesan dari operator di atas.

Pada promo tersebut, seseorang dibujuk untuk mengikuti kemauan pemiliki industri. Ia tertuntut untuk membelanjakan uangnya dengan segera, “hanya hari ini!” Inilah bentuk pemaksaan secara halus kepada konsumen, dengan iming-iming hadiah dan reward. Fenomena ini, oleh Jean Baudrillard (1929-2007) disebut dengan seduction.

DROMOLOGI DAN DAMPAKNYA

Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena-fenomena seperti ini seringkali terjadi, entah disadari atau tidak. Masyarakat dituntut untuk cepat, bersegera, dan bergegas. Memacu kecepatan mengikuti pola kehidupan yang di-setting sedemikian rupa. Kita tentu tahu, apalagi pemerhati hape, berapa kali tipe-tipe hape terbaru itu diluncurkan dalam waktu setahun. Dan beberapa orang di antara kita, kadang tergiur untuk membelinya. Benar, kehidupan kontemporer kita memang dibentuk. Lebih tepatnya dibentuk untuk cepat. Inilah yang disebut Piliang dengan “sebuah dunia yang berlari.”

Merujuk kepada Paul Virilio (1932-2018), dunia yang berlari adalah gambaran dunia yang paradigma berpikirnya adalah kecepatan. Ia menyebutnya dengan dromologi (berasal dari bahasa Yunani, dromos artinya kecepatan, dan logos artinya semesta pengetahuan). Kecepatan dan percepatan menjadi sentral kehidupan sosial, ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Tidak hanya itu, kecepatan bahkan menjadi parameter kemajuan. Artinya, kemajuan tidak hanya dicirikan dengan kebaruan seperti dulu, tapi juga kecepatan.

Lebih lanjut, menurut Michel Foucalt (1926-1984), kekuasaan adalah pengetahuan. Artinya, ada hubungan erat yang saling timbal balik antara kekuasaan dan pengetahuan. Kekuasaan memengaruhi pengetahuan, pengetahuan juga memengaruhi kekuasaan. Namun, dengan adanya fenomena dromolgi seperti saat ini, kata-kata knowledge is power agaknya mengalami perluasan makna. Knowledge sendiri tidak cukup, ia harus ditambah dengan kecepatan. Maka, dalam konteks kekinian, quote Foucalt lebih tepat untuk dimaknai dengan “power is speeding knowledge.”

Baca juga: Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas: Meminjam Kacamata Heidegger

Fenomena dromologi menyebar dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam aspek informasi dan komunikasi, muncul berita yang cepat berganti. Satu kasus belum selesai, sudah diberitakan kasus yang lain. Dalam aspek produksi, muncul produk yang cepat berganti. Satu produk belum habis terjual, sudah muncul produk baru dengan penambahan fitur tertentu. Dalam aspek keberagamaan, paradigma kecepatan juga telah menjangkiti kehidupan ummat. Hapal al-Quran sebulan! Membaca kitab gundul seminggu! Mahir mengaji seminggu! dsb.

Di balik paradigma kecepatan tersebut, terdapat beberapa hal yang perlu untuk dikaji dan dipahami. Tempo kehidupan memang mengalami percepatan. Namun, kecepatan itu harus dibayar dengan pendangkalan makna. Mengutip Yasraf Amir Piliang, kecepatan itu berbanding lurus dengan kehampaan. Semakin cepat seseorang menghapal al-Quran, semakin sedikit makna yang ia dapat. Semakin cepat seseorang mengerjakan shalat tarawih, semakin sedikit kesempatan dan peluang untuk menghayati bacaan shalatnya. Begitu pula dalam kehidupan sosial, betapa cepatnya citra mengalami perubahan hingga tak ada lagi waktu untuk meresapinya. Tak ada lagi kesempatan untuk refleksi dan muhasabah. Tak ada lagi kesempatan untuk memaknai kecepatan itu sendiri.

Selayaknya, setiap orang menyadari bahwa segala sesuatu butuh untuk ditakar. Bersegera tidaklah keliru, apalagi untuk kebaikan. Yang menjadi catatan adalah jika ketersegeraan itu membawa dampak negatif bagi dinamika kehidupan.

DROMOLOGI DALAM ISLAM

Dalam kaca mata Islam, dromologi ini disebut dengan isti`jāl atau tasarru`. Pada era millennial ini, bentuk peringatan al-Quran yang disampaikan dengan pernyataan positif, “wa kāna al-insānu `ajūlā” menjadi relevan. Secara tidak langsung, melalui ayat ini Allah memberikan arahan kepada manusia agar waspada terhadap fenomena pascamodern yang dromologis.

Dengan melihat kondisi masyarakat yang terpengaruh oleh paradigma kecepatan ini, kita dapat menemukan betapa banyak pihak-pihak yang dijauhkan dari kebaikan. Budaya instan yang merebak di kalangan pemuda kita membiasakan mereka untuk tidak menikmati proses dan menemukan kedalaman makna. Upaya menjauhkan manusia dari kebaikan tidaklah dilakukan melainkan oleh setan. Barangkali, budaya instan yang diakibatkan oleh fenomena kecepatan ini adalah setan kontemporer yang mengalami transformasi. Jika demikian, maka tepatlah yang disabdakan Rasulullah, “al-Taannī min Allāh wa al-`ajalah min al-syaythān.”

Untuk menghadapi situasi serba cepat ini, Islam mengajarkan ummat manusia untuk al-anāah, yaitu suatu sikap tenang dan tidak tergesa-gesa. Tenang bukan berarti berleha-leha. Tenang berarti penuh ketelitian, penuh perhitungan, dan tidak serampangan. Tidak perlu merasa terdesak untuk mengikuti cepatnya pergantian citra di media, tidak perlu merasa harus segera menyelesaikan hafalan al-Quran dalam waktu singkat, tidak perlu merasa ketinggalan atau dikatakan mundur saat tidak mengikuti sebuah pemberitaan.

Jika fenomena dromologi menghalang-halangi manusia untuk menghayati setiap realitas dan menikmati proses, maka sikap al-anāah berarti sebaliknya. Apalagi pada era pascakebenaran seperti saat ini, di mana kebiasaan baik me-recheck informasi luntur dan berita bohong dapat tersebar lebih cepat. Sikap untuk tidak grusa-grusu dan cepat emosi dapat diminimalisir dengan spirit al-anāah ini.

Akhirnya, aku mencoba untuk kembali fokus pada bacaanku dan mengabaikan pesan singkat promo tersebut. Sebab, dalam rangka menjauhkan diri dari fenomena dromologis pascamodern dan mengaplikasikan al-anāah, aku mencoba melakukan perhitungan sederhana. Sisa kuotaku masih 10 GB, dan masa berlakunya masih tiga pekan. Hasilnya, aku memilih untuk tidak tergiur mengejar ‘dunia yang berlari itu’. Wallahu a`lam.[]

Bagian Kedua dari Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas

Diskusi Ringan Bersama Dr. Nirwan: dari Syariah hingga Problem Ummat

Sejarah Angka: Bagaimana Angka Muncul dan Berkembang

Film Islami itu Islami? Dilema Film Religi, Tantangan bagi Sineas Muslim

Sila Kelima Perspektif Maqashid Syari’ah dan Pemindahan Ibukota

Oleh: Dadang Irsyamuddin

Indonesia merupakan negara majemuk yang berusahan mengoptimalkan keadilan sosial bagi seluruh suku, agama, dan golongan yang ada. Keadilan sosial telah dijadikan bagian dari indikator kemajuan nasional karena ke 68 pendiri melalui BPUPKI telah meletakkannya sebagai salah satu dari lima filsafat dasar negara dalam bingkai pancasila yang bersifat inkulsif. Sila tersebut telah menjadi isu paling sering dibahas oleh masyarakat lintas kalangan dalam diskusi publik.

Para aktivis sosial ingin berusaha untuk membuat rancangan program demi meningkatkan kesejahteraan bersama yang adil dan tepat sasaran. Dalam penentuan indikator kesejahteraan sosial, ulama` muslim mengarahkan atensi publik kepada pendalaman maqashid syari`ah sebagai alternatif dari standar pengukuran barat yang menitik beratkan sisi material saja. Dalam prakteknya, keadilan sosial hanya dapat diperoleh melalui keterlibatan penguasa dengan jaminan dan legitimasi yang dimiliki sebagai wakil rakyat dalam perilaku sosial.

Secara konstitusial, hal ini tertuang melalui undang-undang dasar 1945 pasal 33 yang mengarahkan kita pada pemanfaatan barang publik bukan untuk kepentingan kapitalis dan pasal 34 tentang perlindungan terhadap rakyat kecil. Berbagai lingkup keadilan seperti komutatif, distributif, dan legalis harus dijamin oleh pemerintah demi terciptanya masyarakat yang aman dan nyaman sebagai wujud pelaksanaan ketetapan MPR no. I/MPR/2003.

Baca juga: Zakat sebagai Pendorong Investasi dan Aliran Ekonomi

Konsep tersebut juga diungkapkan oleh Jamaluddin Athiyah lewat komposisi maqashid syari`ah sesuai dengan skala pemberdayaan sosial yang mungkin dilakukan. Ia menambahkan bahwa cakupan keadilan tersebut dapat meliputi ranah individu, keluarga, lingkungan sosial, dan negara yang menjadi entitas keadilan yang komprehensif untuk seluruh rakyat Indonesia. Akan tetapi, konsep historis yang luhur tersebut telah dinodai dengan legalisasi tindakan amoral yang terjadi dalam skala nasional.

Dalam hubungan antar personal, masyarakat muslim yang menyerukan kebajikan revolusionis telah dilabeli secara global sebagai radikal tanpa ada pembelaan yang berarti dari negara. Bahkan, pemerintah telah rela melupakan jasa para syuhada` lantaran keberpihakan kepada golongan kecil yang berkepentingan. Dalam skala yang lebih luas, berbagai macam perusahaan besar asing diizinkan membeli kedaulatan negara dan menjajah pasar ekonomi Indonesia tanpa menyediakan sumber pemberdayaan rakyat kecil yang cukup dengan ratio gini sebesar 0,389 pada maret 2018. Dari fakta bahwa setengah dari kekayaan Indonesia hari ini dikuasai oleh hanya satu persen populasi nasional sehingga luka atas janji konstitusional semakin lebar.

Fenomena baru kian memperburuk keadaan dengan gagasan pemindahan ibukota negara ke pulau Kalimantan yang ditolak oleh berbagai pihak terutama dalam segi pembiayaan. Kajian tata ruang terapan dari kacamata reformis sejauh ini menjelaskan bahwa Jabodetabek memiki permasalahan urbanisme yang pelik dari tingkat kemacetan nomor 7 dunia dengan estimasi kerugian 56 trilyun per tahun di 2013 hingga tingkat kepadatan nomor 9 pada tahun 2017 yang dianggap telah menjadi alibi yang cukup untuk pemindahan ibukota keluar pulau.

Baca juga: Wakaf untuk Sumber Ketahan Finansial Pendidikan

Menurut BAPENAS, gagasan ini diangap penting agar ibukota negara dapat menjadi simbol yang mereprentasikan identitas bangsa yang modern, berstandar internasional, dan mempermudah tata kelola kenegaraan yang akan memakan biaya sebesar 466 trilyun. Sumber dana tersebut berasal dari konstribusi APBN sebesar 19% dan sisanya dilelang melalui KPBU dan investasi swasta. Hal ini menandakan, pemerintah memakai dana pinjaman badan usaha lain sebesar 377,46 trilyun untuk pembangunan ibukota baru dengan konsekuensi dan syarat-syarat yang menguntungkan investor dan tidak banyak menyatakan keberpihakan kepada rakyat.

Program akhir periode pertama presiden Jokowi ini perlu mendapatkan kajian yang lebih dalam untuk menjamin tegaknya keadilan sosial yang komprehensif. Jika ditilik melalui tiga tingkatan maqashid syariah, dana sebesar itu hanya berada di tingkat ke tiga atau tahsiniyah atau pelengkap saja. Belum ditambah dengan beban hutang serta kompensasinya yang ditanggung oleh negara disamping pembangunan konsumtif tersebut yang hanya akan dinikmati oleh petinggi kekuasaan saja. Secara urgensi (dharuriyah), alokasi dana tersebut itu dapat digunakan untuk pemberdayaan masyarakat di bidang sosial ekonomi dengan pembangunan 33.334 pasar tradisional, 29 kampus UIII, 670 stadion papua bangkit, 6.134 tower rusunawa kampung bebek, dan 66 taman safari Semarang sekaligus.

Pemerintah diharap tidak hanya mengikuti langkah Malaysia dalam pemindahan pusat pemerintahan masa lalu tetapi harus dengan diikuti dengan penyelidikan mendalam sesuai dengan kearifan dan polemik lokal. Ibukota Jakarta memang dipenuhi dengan problema politik dan geografis yang pelik yang dimana pengentasannya telah menjadi janji kampanye presiden Jokowi pada saat kampanye pencalonan gubernur dan presiden dulu. Penegakan keadilan sosial bagi seluruh Indonesia merupakan mandat konstitusional dan syari`ah yang menjadi tanggungan pemegang kekuasaan sehingga pencanangan setiap program nasional tidak boleh keluar dari relnya sebelum rakyat mengambil mandat agensi sosial dari para wakil rakyat.

Lainnya dari Pps Unida:

Prof. Mehmet Bulut: Wakaf adalah Warisan Islam

Beda ‘Idul Adha di Indonesia dan Turki, Kesan Mahasiswi IZU Turki

Hikmah ‘Idul Adha: Mengambil Ibrah dari Kisah Nabi Ibrahim

Sejarah Kanonifikasi al-Qur’an

Epistemologi dan Al-Qur'an

Oleh: Muhammad Dhiaul Fikri

Salah satu objek kajian para Sarjana Barat mengenai teks al-Qur’an adalah Sejarah teks al-Qur’an. Secara umum terdapat tiga sasaran kritik mereka terhadap Mushaf Utsmani yang saat ini ada ditangan umat Muslim. Pertama, mengenai koleksi dan susunan teks dari lisan sampai tulisan. Kedua, perbedaan tata cara baca teks al-Qur’an. Ketiga, proses penulisan teks dan cara baca yang di bakukan di zaman Utsman. Tulisan di bawah ini ingin menjelaskan secara ringkas bagaimana sejatinya sejarah proses pembukuan al-Qur’an menjadi mushaf yang final dan akhirnya di gunakan hingga saat ini.

Fase Kanonifikasi

Terdapat tiga fase kesejarahan penulisan al-Qur’an yang harus diketahui umat Islam. Pertama, pada masa Nabi. Pada masa ini para sahabat mendapatkan bimbingan secara langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Sehingga tulisan-tulisan para sahabat tersebut tertulis secara imla (dikte) oleh Nabi, dan kemudian dikoreksi langsung secara pribadi oleh Nabi Muhammad SAW. Disamping itu, Nabi juga memiliki otoritas penuh dalam penyusunan ayat yang telah diterimanya. Itu artinya, para sahabat tidak mungkin dapat semena-mena menyusun ayat al-Qur’an dengan sendirinya.

Kedua, Masa sahabat (Abu Bakar). Pada masa sebelum Abu Bakar, teks-teks al-Qur’an yang telah ditulis dibawah bimbingan tadi didokumentasikan, namun belum dalam bentuk yang utuh keseluruhan. Hal tersebut karena Nabi Muhammad SAW pada saat itu masih hidup dan dijadikan sebagai satu-satunya sumber jika terdapat perbedaan diantara para sahabat. Kemudian, dikhawatirkan akan adanya teks yang akan di naskh oleh teks yang datangnya kemudian. Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, dan naiknya Abu Bakar sebagai Khalifah, barulah kemudian Umar bin Khattab mendesak Abu Bakar agar segera melakukan kanonifikasi ayat al-Qur’an dikarenakan banyaknya para penghafal dan pemilik teks-teks yang meninggal pada saat perang Yamamah. Upaya tersebut akhirnya mendapat dukungan dari para sahabat untuk melakukan ijtihad agar mengumpulkan ayat al-Qur’an menjadi utuh. Namun, cara kerja pengumpulan teks dengan segala kehati-hatian yang dilakukan saat itu masih memperbolehkan tradisi varian qira’ah fi sab’ati ahruf.

Baca juga:

Epistemologi Ilmu Pengetahuan dan Relevansinya dalam Studi Al-Qur’an

History, Theology and the Biblical Canon: an Introduction to Basic Issues

Ketiga, Masa Sahabat (Utsman bin Affan). Terdapat perbedaan yang sangat tampak antara proses pengumpulan al-Qur’an di zaman Abu Bakar dan Utsman bin ‘Affan, yaitu legalisasi perbedaan bacaan dalam qira’ah fi sab’ati ahruf  yang di lakukan oleh Nabi saat itu masih ada di zaman Abu Bakar. Sedangkan di zaman Utsman bin ‘Affan hal tersebut diseragamkan menjadi satu dialek yakni Quraisy. Hal tersebut dikarenakan untuk menghindari ‘perseteruan’ umat tentang perbedaan cara baca al-Qur’an. Upaya Utsman tersebut tidak mengatasnamakan kepentingan pribadi sebagai penguasa, melainkan untuk kemaslahatan umat Islam bersama dan penyatuan umat Islam di bawah cara baca yang standar. Selain itu, juga menghilangkan elemen-elemen yang non-Qur’an yang tertulis dalam mushaf-mushaf koleksi pribadi para sahabat yang biasanya mereka gunakan sebagai penjelasan teks yang didapat dari Syarh Nabi Muhammad SAW.

Kesimpulan

Dengan demikian, ketiga fase dalam sejarah penulisan diatas sejatinya saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Selain itu, pengumpulan teks al-Qur’an pada masa Utsman sejatinya juga dilewati dengan proses seleksi yang sangat ketat dalam menerima teks dari para penghafal dan pemilik koleksi pribadi. Tidak berlebihan jika dikatakan proses tersebut sejatinya sangatlah Mutawatir, tidak terdapat kekurangan maupun kelebihan di dalamnya. Sehingga Mushaf Utsmani yang ada di tangan umat Muslim saat ini sejatinya bentuk akhir dari redaksi al-Qur’an yang utuh dan orisinil. Kemudian, berdasarkan penjelasan diatas pula, asumsi-asumsi yang didengungkan oleh sarjana Barat dalam upaya mengkritik Qur’an mushaf Utsmani pun tidaklah dapat diterima. Bahkan hingga saat ini pun mereka tidak dapat menunjukkan secara kongkrit bagian-bagian al-Qur’an yang dianggap hilang ataupun tambahan. Karenanya klaim ketidak utuhan al-Qur’an yang ada saat ini tidaklah dapat dibuktikan secara ilmiah.

Lainnya dari Pps Unida:

Seminar Pada HUT RI: Antara Keindonesiaan dan Keislaman

Al Ustadz KH. Ahmad Suharto: Benarkah Kita Merdeka?

Kesan Tamu, Prof. Martin van Bruissen tentang Gontor dan Unida

Kunjungan Prof. Martin, Pps Unida Kembali Menjadi EO

Film Islami itu Islami? Dilema Film Religi, Tantangan bagi Sineas Muslim

Dilema Film Islami Religi

Oleh: Khairul Atqiya[1]

Tulisan ini tidak menyorot satu film Islami atau religi saja. Seluruh film baik film layar lebar maupun layar kaca atau layar maya termasuk dalam kritik tulisan ini. Penggambaran salah satu film hanya bertujuan untuk mempermudah dalam menarasikan dilema film religi yang ingin diangkat dalam tulisan ini.

Sinopsis

Beberapa waktu yang lalu telah dirilis sebuah film drama komedi religi, mungkin genrenya seperti itu. Dalam film itu diceritakan sepasang suami istri yang menikah karena perjodohan. Sebagaimana banyak kasus pernikahan karena perjodohan, pernikahan ini dilakukan dengan terpaksa. Setidaknya itu yang dirasakan sang suami.

Saat sang suami tidak berbahagia dengan pernikahannya dan berniat untuk berpisah, tidak demikian dengan sang istri. Sang istri bahagia dengan pernikahan itu. Berbahagia, sampai akhirnya dia mengetahui suaminya tidak mencintainya dan menikah karena terpaksa. Dia lebih bersedih lagi setelah mengetahui bahwa sang suami telah berencana untuk berpisah sejak awal. Namun sang istri ingin mempertahankan pernikahan mereka. Poin inilah yang menjadi konflik inti dalam film ini. Seorang suami yang menikah karena terpaksa dan ingin bercerai dan seorang istri yang berusaha mempertahankan pernikahannya.

Konten Religi

Film ini banyak menampilkan adegan yang menggambarkan pola hidup seorang sosok yang islami. Penggambaran sosok istri yang selalu berpakaian tertutup. Berbicara santun dan sering mungucapkan kalimah thoyyibah. Rutin membaca Al-qur’an. Rajin shalat dan lain sebagainya. Dalam film ini, sang istri memang digambarkan sebagai sosok yang Islami. Namun tidak demikian halnya dengan sang suami, dia digambarkan sebagai sosok yang kurang Islami. Tapi, dengan inilah film ini menjadi terlihat menarik.

Pada salah satu adegan dalam film ini diceritakan bahwa sang suami sedang sakit. Pada waktu subuh sang istri membangunkannya untuk solat subuh dan mengingatkan bahwa solat itu tetap wajib bagi orang sakit. Di lain scene sang istri mengingatkan suaminya untuk solat berjama’ah di masjid. Dia mengatakan bahwa lelaki soleh solat di masjid dan yang solat di rumah adalah lelaki yang solehah.

Penggambaran sosok yang Islami seperti ini dapat dengan mudah untuk ditemukan dalam film ini. Khususnya dalam lingkaran sang istri, sosok yang berasal dari kelaurga religius yang tinggal di pedesaan. Sedangkan sang suami berasal dari keluarga metropolitan yang tidak terlalu religius. Hal ini dapat dilihat dari penggambaran keluarga dari pihak istri dan pihak suami dalam keseluruhan film.

Film Islami yang Kurang Islami

Sulit untuk mengatakan suatu film adalah film yang Islami atau kurang Islami. Karena belum ada ukuran yang dapat dijadikan dasar untuk mengukur keislaman suatu film. Meski demikian terdapat common sense tentang ciri-ciri film Islami. Setidaknya penggambaran tokoh, jalan cerita dan plot dalam film ini sudah termasuk dalam kriteria film yang Islami. Ditambah lagi penyebutan matan hadits secara eksplisit membuat kesan Islami ini semakin menguat.

Dengan semua atribusi keislaman yang ada dalam film ini tidak serta merta membuatnya Islami. Karena terdapat beberapa detail yang kurang Islami. Sebut saja perubahan busana sang istri saat dia dan suami sudah mulai dekat. Sebelumnya, saat sang suami masih menolak untuk mengakuinya sebagai istrinya, sang istri selalu berpakaian tertutup di hadapan sang suami, bahkan saat tidur. Namun saat hubungan mereka semakin intim sang istri sudah mulai membuka kerudungnya di saat bersama suaminya di rumah.

Detail ini penting untuk menggambarkan perubahan mood dan kondisi hubungan keduanya. Tapi di saat yang sama perubahan ini mengurangi nilai keislaman film ini. Karena menampakkan aurat sang pemeran perempuan. Ini adalah pilihan yang dilematis. Antara mempertahankan nilai Islami yang ada pada tokoh istri, yaitu menutup aurat dengan menggambarkan perubahan keintiman hubungan mereka berdua.

Plot-plot lain yang tidak menggambarkan Islam dalam film ini, bahkan alur cerita dasar yang berlangsung sepanjang film ini jelas tidak dapat dikatakan Islami. Sang suami tetap menemui kekasihnya setelah dia sah sebagai suami. Meski tidak digambarkan adanya kontak fisik, namun perbuatan ini jelas diluar kententuan Islam. Tapi lagi-lagi ini memang dibutuhkan. Alur cerita seperti ini memang disengaja untuk menguatkan konflik dalam keseluruhan cerita.

Baca Juga:

Bumi Manusia dan Makna Modernitas: Sebuah Review*

Bagian Kedua dari Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas

Dilema Film Islami

Bingkai film Islami dalam cerita pasangan suami istri telah tergambar dalam film ini. Pernikahan yang dilakukan sesuai aturan Islam. Interaksi-interaksi di antara keduanya dalam kehidupan pernikahan juga cukup baik—kecuali hubungan sang suami dengan kekasihnya. Meski demikian interkasi yang Isalmi di antara keduanya tetap tidak bisa dikatakan Islami. Karena semua yang tergambarkan dalam film hanya cerita fiktif, seluruhnya adalah akting.

Pada hakikatnya interaksi keduanya adalah interaksi yang dilarang didalam Islam. Karena keduanya bukanlah suami istri yang sah. Keduanya hanya pasangan dalam cerita. Dalam dunia nyata keduanya tetaplah bukan mahram. Ini adalah dilema utama dalam film Islami atau religi. Antara proses yang Islami atau hasil yang Islami.

Sebagai contoh, menutup aurat seluruh pemeran dalam suatu film agaknya sulit dilakukan. Karena suatu film pasti berusaha menggambarkan kondisi nyata cerita yang difilmkan. Dan memang kondisi nyata di masyarakat beragam, tidak semua mengenakan kerudung dan menutup aurat. Pembuat film akan dihadapkan pada pilihan; membuat film yang sesuai ketentaun Islam (tidak mempertontonkan aurat) atau membuat film yang terasa utopis (cerita yang tidak sesuai kenyataan).

Kesulitan lain dalam proses pembuatan film yang Islami adalah tetang interkasi antara laki-laki dan perempuan. Interkasi atau ikhthilath dalam proses pembuatan film sejauh ini adalah sebuah keharusan. Karena agaknya sulit untuk membentuk kru film yang seluruhnya adalah laki-laki atau seluruhnya adalah perempuan.

Pada titik ini sineas film akan menghadapi dilema antara memilih proses yang bebas ikhthilath atau membuka ruang bagi interaksi lawan jenis. Membatasi interkasi akan menjaga proses agar tidak menyalahi aturan Islam, namun akan menyulitkan proses pembuatan film. Di sisi lain, memperbolehkan interkasi yang lebih terbuka akan menjurus pada ikhthilat meski mempermudah proses.

Sisi Positif

Terdapat sisi positif yang dapat dilihat dari perkembangan perfilman religi di tanah air. Setidaknya ini memberi opsi bagi para penonton untuk memilih film yang lebih Islami. Alih-alih menonton film Hollywood yang sudah pasti tidak Islami, baik hasil atau proses pembuatan fiilmnya. Atau film-film lokal yang memang tidak berlabel Islami atau religi.

Melalui film-film religi ini juga banyak pesan keislaman yang dapat tersampaikan. Baik tentang ajaran, nilai-nilai atau tokoh Islam. Siapa yang tidak kenal dengan serial Umat Ibn Al-Khattab. Berapa banyak orang yang terinspirasi dan mendapatkan nilai-nilai Islam dari film ini. Terlepas dari proses pembuatannya yang mungkin masih menyalahi aturan Islam, namun alur cerita dan pesan-pesan keislaman didalamnya tidak dapat dikatan tidak berdampak.

Inilah tugas dan tantangan yang perlu dijawab oleh sineas-sineas muslim saat ini. Masih banyak aspek yang perlu didiskusikan berkaitan dengan perfilman untuk menghasilkan film yang tidak hanya bernilai Islami dalam hasilnya tapi juga prosesnya. Mungkin ini (perfilman) dapat menjadi media dakwah yang sesuai zaman dan dapat menjangkau berbagai kalangan dengan mudah.

[1] Khairul Atqiya adalah mantan staff Gontor TV Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus Pusat pada periode 2012-2013 dan bagian dokumentasi Pondok Modern Darussalam Gontor pada periode 2010-2019

Untuk bacaan lebih lanjut terkait hal ini:

Film dan Islam: Maksiat, Syariat, atau Siasat?

What is ‘Islamic’ about Islamic Films?

Negotiating Islam with Cinema: A Theoretical Discussion on Indonesian Islamic Films

Lainnya dari Pps Unida:

Sejarah Angka: Bagaimana Angka Muncul dan Berkembang

Seminar Pada HUT RI: Antara Keindonesiaan dan Keislaman

Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Penelitian Tesis Magister (PTM)

Pembukaan FNL: Makna dan Hikmah Perjalanan Hijrah Nabi

Hirah

Oleh: Halimah Nisrina Azfathir

Sebagai bentuk dinamika dalam bidang akademik, Markaz Islamisasi bekerjasama dengan Dewan Mahasiswa Pascasarjana Kampus Mantingan menggelar diskusi rutin mingguan yang biasa disebut dengan Friday Night Lecture (FNL) dan Monday Night Discussion (MND). Peresmian pembukaan FNL dan MND ini diselenggarakan pada hari Jum’at 23 Dzulhijjah 1440 Hijriah bertepatan dengan 23 Agustus 2019 di Gedung Pertemuan UNIDA Putri. Peresmian pembukaan FNL dan MND ini dirangkum secara bersamaan dengan acara Pelantikan Anggota Markas Islamisasi Kampus UNIDA Putri.

Sebagai pembicara Al Ustadz Nofriyato, M. Ag, mengangkat tema seputar falsafah hijrah, mengingat dalam kurun waktu 1 minggu kedepan akan memasuki tahun baru hijriah. Dalam kuliah umumnya yang berdurasi 55 menit, Al Ustadz Nofriyato, M. Ag memaparkan hikmah dan pelajaran dalam setiap ‘episode’ hijrah Nabi Muhammad SAW. Alumni PKU angkatan VII yang kini aktif mengajar di UNIDA ini mengklasifikasikan perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah menuju Madinah menjadi lima episode.

Makna Hijrah

Al Ustadz Nofriyato, M. Ag memulai kuliah umumnya dengan menjelaskan tentang tidak sedikit dari masyarakat pada umumnya salah memaknai hijrah. Dimana hijrah merupakan konsekuensi dari keimanan seseorang. Karena dia akan mendapatkan intimidasi dari lingkungannya ketika ia beriman. Dalam hal ini beliau menyinggung perubahan model dan bentuk pergeseran kebudayaan dalam memproyeksikan hijrah. Hijrah adalah sebuah keniscayaan atau Sunnatullah, secara bahasa menurut hadits, seorang yang hijrah itu adalah yang meninggalkan apa yang diharamkan oleh Allah SWT. Tidak sedikit terdapat kesalahpahaman yang dialami oleh kaum muslimin dalam memaknai Tarikh Islam tidak hanya terbatas pada siroh Nabi Muhammad, tapi juga siroh al anbiya wal mursalin qoblahu, karena beliau-beliau ini juga membawa risalah.

Sempat disinggung oleh pembicara tentang sejarah penanggalan hijriah. Pada masa itu kalender belum ditemukan dan ditentukan apa yang dapat dijadikan tolak ukur penanggalan. Sehingga banyak dari masyarakat Arab yang menandai sebuah kejadian dengan mengaitkan sebuah kejadian dengan penyebutan tahun. Pada zaman Nabi pernah terjadi kebanjiran di kota Mekkah, maka pada saat itu tahun itu disebut ‘aam al-faidhon karena pernah terjadi banjir, kemudian ada pasukan gajah disebut ‘aam al-fiil, istri beliau meninggal disebut ‘aam al-huzni.

Lihat juga: Hadiah Khusus Dr. Hidayatullah kepada Mahasiswi IZU

Acara Monday Night Discussion Unida Putri

Sehingga pada suatu waktu Abu Musa al Asy’ari, salah seorang gubernur Umar bin Khattab, beliau merasa malu karena setiap mendapatkan surat tanpa tahu kapan tanggal dan tahunnya. Beliau meminta untuk dibuatkan kalender Islam saran dari  Abu Musa al Asy’ari. Sehingga Umar Bin Khattab mengadakan musyawarah dengan sahabat-sahabatnya, hingga muncul wacana penentuan awal mula tahun hijriah. Darinya adalah berdasarkan awal turunnya al Qur’an, hal ini tidak diterima karena ketika Al Quran turun tidak ada sikap maysarakat yang membaik. Kemudian dari kelahiran Nabi ide ini juga tidak diterima, karena kala itu Nabi Muhammad SAW sholihun linafsihi dan tidak ada perubahan yang berarti pada masyarakat. Kemudian dari semenjak wafatnya Nabi, namun juga tidak diterima. Kemudian Umar menyarankan dimulai sejak awal mula hijrah Nabi, karena itu membedakan yang benar dan yang bathil. Hijrah ini yang kemudian membuktikan mana sahabat yang beriman, mana sahabat yang benar-benar beriman dan mana sahabat yang.

Hikmah Hijrah

Merujuk pada buku sirah nabawiyah milik Ibnu Hisyam, Al Ustadz Nofriyato, M. Ag menceritakan kembali dengan singkat dan menyertakan hikmah yang terdapat dalam kisah perjalahan hijrah Nabi Muhammad SAW. Salah satu contoh, pada episode kedua dari hijrah Nabi Muhammad SAW, beliau menjabarkan masing-masing peran sahabat yang mendukung dan melindungi Nabi dari kejaran bani Quraisy. Mulai dari Ali bin Abi Thalib yang menggantikan Nabi berbaring di atas tempat tidurnya ketika Quraisy mencoba membunuh Nabi, Asma’ binti Abu Bakar yang membawakan bekal makanan dengan menempuh perjalanan sejauh 7 km.

Kemudian Abdullah bin Abbas yang bertugas membawa berita untuk Nabi, Amir bin Fuhairo’ yang menghapus jejak langkah unta Nabi sehingga tidak terlacak oleh kaum Quraisy, hingga Abdullah bin Uraiqith seorang non muslim yang membantu untuk menunjukkan jalan ke Madinah. Bagian yang menarik tentang Abdullah bin Uraiqith adalah permisalan bagaimana manusia berorganisasi. Setiap masing-masing anggota harus mengerti porsi tugasnya, “job descriptionnya jelas. Jangan semua dikerjakan. Harus jelas hak dan kewajiban.” jelas al Ustadz Nofriyanto.

Juga peran perempuan dalam hijrah Nabi yang dapat dilihat dari peran Asma’ bin Abu Bakar yang membawa bekal makanan untuk Nabi dan ayahnya di tempat persembunyian. Dalam hal ini nampak bahwa Islam tidak menganak-tirikan atau mendiskriminasi peran perempuan dalam kemajuan peradaban.

Memaknai hijrah itu sendiri sebagai proses upaya untuk senantiasa memperbaiki diri dari sebelumnya. Harapan diadakannya acara FNL dan MND adalah mampu memantik sifat hubbu al ‘ilm dan menumbuhkan kegemaran berdiskusi dan mengutarakan pendapat berasaskan pada referensi bacaan yang mumpuni. Guna berhijrah dari diri yang lama menjadi ulama yang intellek, bukan intelek yang tau agama.

Lainnya dari Pps Unida:

Al Ustadz KH. Ahmad Suharto: Benarkah Kita Merdeka?

Hadiah Khusus Dr. Hidayatullah kepada Mahasiswi IZU

Epistemologi Ilmu Pengetahuan dan Relevansinya dalam Studi Al-Qur’an

Seminar Pada HUT RI: Antara Keindonesiaan dan Keislaman

Bagian Kedua dari Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas

teknologi dan realitas

Teknologi Sebagai Pembingkai (Enframing) Realitas

Teknologi sebagai pembingkai realitas, berpusat pada manusia. Tesis ini diperkenalkan pertama kali oleh Heiddeger dalam Being and Time (1927), yang menyatakan  bahwa manusia adalah entitas “penyingkap dunia”. Kami penyingkap dunia dengan berbagai cara tergantung pada bagaimana kami terlibat dengan orang-orang dan hal-hal lain. Ketika kita “membiarkan yang lain”[1], mengambil pendekatan “lepas” tanpa pengaruh dan permintaan kita, realitas muncul sebagai misteri yang tak terbatas. Tetapi ketika kita datang pada “yang lain” dengan permintaan agar mereka memenuhi kebutuhan kita dan sesuai dengan konsep dan sistem kita, realitas muncul secara berbeda. Realitas muncul sebagai cermin dari aktivitas kita sendiri. Nah, di sini lah pembingkaian dimulai.

Pada zaman kuno, Heidegger berpendapat, manusia memiliki cara berbeda dalam menangani berbagai hal. Mereka membiarkan alam, “yang lain” sebagaimana adanya. Dalam bercocok tanam, petani belajar dengan iklim dan musim; Pengrajin/pengukir belajar lewat kayu dan batu; pemburu dengan arus migrasi binatang, burung, dan ikan. Sikap reseptif terhadap alam ini berlanjut hingga hari ini di masyarakat adat. Namun, semua itu tampaknya aneh dan janggal jika dilakukan hari ini. Di dunia Eropa, Heidegger berpendapat, pergeseran itu datang dengan munculnya ilmu pengetahuan dan teknologi mesin. Kerangka kerja konseptual ilmu pengetahuan memungkinkan manusia modern untuk mengkategorikan dunia, sementara teknologi mesin memberi mereka alat yang mereka butuhkan untuk mendominasi. Maka dimulailah pembukaan “grosir” alam, yang berlanjut hingga hari ini. Kita mulai membingkai alam berdasarkan presepsi kita atasnya.[2]

Alih-alih bersikap harmonis dengan alam (yang lain), kita ‘memanfaatkan’ dan ‘menantang’ dunia untuk mengungkapkan kekayaannya yang tersembunyi. Dalam jawaban yang terbuka, alam menjadi sumber daya bagi manusia. Heidegger menulis: “Bumi sekarang mengungkapkan dirinya sebagai distrik penambangan batu bara, tanah sebagai deposit mineral…. Udara diatur untuk menghasilkan nitrogen, bumi untuk menghasilkan biji tambang, biji tambang untuk menghasilkan uranium, misalnya; uranium dibuat untuk menghasilkan energi atom… Semuanya menjadi peluang untuk objektifikasi dan eksploitasi.[3] Singkatnya, manusia membingkai dunia untuk mengungkapkan kekayaannya yang tersembunyi.[4]

Bagian pertama: Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas: Meminjam Kacamata Heidegger

Teknologi sebagai pembingkaian realitas adalah fitur definitif kehidupan modern. Perencanaan melibatkan pembingkaian. Manajemen proyek melibatkan pembingkaian. Kita membingkai dunia dengan mengesampingkan setiap refleksi serius pada hal-hal yang kita hadapi, menganggapnya hanya sebagai sumber daya atau kapasitas yang dapat kita terapkan secara sistematis. Dalam pembelaan kita, kita mungkin berpendapat bahwa ini adalah cara pragmatis dan praktis untuk hidup. Jika saya membangun rumah, saya tidak perlu bermeditasi dan berefleksi tentang “keberadaan” berbagai hal; yang perlu saya tahu adalah alat apa yang saya butuhkan untuk membangun rumah, bahan apa yang perlu saya beli; modal apa yang bisa saya manfaatkan untuk mendanai pembangunan, dan aturan hukum apa yang harus saya perhatikan. Alat dan bahan, uang dan pengetahuan praktis: ini adalah jenis sumber daya yang kita butuhkan untuk membangun rumah. Sisanya—untuk hal-hal rumit dan reflektif—kita serahkan pada para filsuf, seniman atau agamawan.

Memang benar bahwa kadang-kadang kita perlu membingkai dunia untuk menyelesaikan sesuatu. Namun, kita perlu memperhatikan cara kita terlibat dengan dunia, dengan asumsi bahwa kita ingin menghindari memperlakukan orang, makhluk hidup, dan fenomena alam lainnya sebagai sumber daya belaka. Inilah problem utama teknologi sebagai pembingkai: mengurangi kedudukan ontologis dari segala sesuatu. Perhatikan contoh sebuah sungai. Sungai itu mungkin telah mengalir selama sepuluh ribu tahun dan telah menghasilkan satu triliun ikan dan memelihara satu miliar ekosistem. Tetapi pada saat manusia membangun bendungan hidro-listrik di sungai untuk mengubah energinya menjadi tenaga listrik, teknologi mengambil prioritas ontologis. Sungai menjadi pemasok ke jaringan dan sumber produksi listrik. Orang-orang yang tinggal di sungai mungkin tidak setuju, dan tentu saja mereka dirugikan atas hal itu. Tapi bagi teknokrat, sungai adalah sumber daya. Inilah bentuk pembingkaian realitas. Kita telah membingkai sungai sebagai hanya sebagai sumber daya listrik. Saat kita membingkai alam, pada saat itu juga kita sedang mengurangi kedudukan ontologisnya sebagai “alam” sebagaimana adanya. Ini adalah contoh senderhana, kita belum berbicara perihal internet, smart-phone, dan teknologi digital lain, yang makin hari makin mengambil alih sisi-sisi ontologis kita sebagai manusia. Apakah dengan ini kita masih menganggap teknologi sebagai neraca utama kemajuan peradaban dan kemajuan hasil akal budi manusia?

[1] Yang lain di sini bermakna sesuatu di luar subjek.

[2] Martin Heidegger, The Question Concerning Technology and Other Essay, hlm. 311.

[3] Martin Heidegger, The Question Concerning Technology and Other Essay, hlm. 313.

[4] Martin Heidegger, The Question Concerning Technology and Other Essay, hlm. 315.

Sejarah Angka: Bagaimana Angka Muncul dan Berkembang

Infinite (Tak Terbatas) ∞

Membicarakan Waktu: Apakah Waktu Itu?

Epistemologi Ilmu Pengetahuan dan Relevansinya dalam Studi Al-Qur’an

Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas: Meminjam Kacamata Heidegger

teknologi dan realitas

Oleh: Yongki Sutoyo

Perkembangan teknologi dewasa ini semakin pesat di berbagai bidang. Kita, manusia seolah—atau memang demikian adanya—tak bisa lepas darinya.  Dari tempat paling privat, kamar mandi, hingga tempat-tempat umum, semuanya menggunakan teknologi. Kita mesti sudah akrab dengan kata, Go-Jack, Uber, Traveloka, Buka Lapak dan sejenisnya—yang juga merupakan industri kebanggaan pemerintah dan di elu-elu kan sebagai simbol kemajuan—yang memudahkan segala aktivitas harian kita dalam bepergian, membeli atau menjual sesuatu dengan satu, dua tiga klik, beres. Tiap hari kita juga tidak bisa lepas dengan si “kota mungil” yang pintar alias smart-phone. Yang setiap saat, kapan pun dan di mana pun ia selalu menemani kita. Malah, jika si “kotak mungil” ini hilang barang sejenak dari genggaman, kita bakal pusing tujuh keliling dan lemas-lunglai bak kehilangan separuh jiwa. Singkatnya, teknologi adalah bagian dari kita; teknologi adalah kita, begini mungkin ujar melenials. Lantas, apa itu teknologi? Apakah teknologi selalu melambangkan kemajuan? Atau sebaliknya? Tulisan ringkas ini akan menguraikan pertanyaan-pertanyaan itu dengan meminjam pemikiran Heidegger berkaitan dengan teknologi.

Bagi kebanyakan orang, teknologi adalah alat/sarana pembantu untuk mempermudah aktivitas manusia. Sebab dengan teknologi, semuanya bisa disingkat dengan satu kata: efisien. Namun benarkah teknologi adalah alat atau aktivitas penggunaan alat? Dalam pandangan Heidegger, teknologi lebih dari sekadar aktivitas penggunaan alat-alat teknologis.  Dengan kata lain, esensi teknologi tidaklah bersifat teknologis. Hal yang fundamental, menurut Heidegger, bukanlah teknologi itu sendiri ataupun bentuk-bentuk teknologi, melainkan orientasi kita terhadap teknologi.[1] Pada tataran ini, esensi teknologi lebih dipahami secara eksistensial karena berkaitan dengan cara manusia memandang dunianya. Esensi teknologi merujuk pada suatu cara pandang dan pangalaman yang membentuk dan membingkai cara bertindak kita, cara bagaimana kita menggunakan alat-alat, dan cara bagaimana kita berhubungan dengan dunia kehidupan (lebenswelt). Oleh karena itu, konsep teknologi yang instrumental (sebagai sarana) dan antropologis (sebagai aktivitas manusia) ditolak oleh Heidegger.[2]

Teknologi dan Penyingkapan Realitas

Dalam pandangan Heidegger, ada kaitan erat esensi teknologi dan penyingkapan realitas.[3] Menurut Heidegger, kata teknologi berasal dari kata Yunani, techne, yang tidak hanya menyangkut aktivitas atau keahlian menukang dengan tangan, tetapi juga seni pikiran (the art of the mind).[4] Techne melibatkan pengetahuan praktis dan pengetahuan ini membawa suatu penyingkapan. Artinya, techne merupakan suatu cara penyingkapan. Techne menjadi suatu cara di mana benda-benda dibantu untuk muncul atau disingkapkan. Jika kita kaitkan Techne dengan teknologi modern,  teknologi modern bukanlah seni tangan (work of craftsmanship), melainkan suatu penyingkapan.[5] Hal yang membedakan teknologi modern dari teknologi kuno terletak pada fakta bahwa teknologi modern tidak melibatkan suatu dalam arti poiesis (perbuatan demi suatu hasil yang bernilai di luar perbuatan itu sendiri, seperti membuat puisi), sedangkan teknologi kuno mempunyai sifat-sifat mencipta yang puitis. Penyingkapan yang dominan dalam teknologi modern adalah challenging forth (herausforden).[6] Cara penyingkapan ini menuntut alam secara berlebihan untuk menyumbangkan energinya supaya manusia dapat menyimpan dan menggunakannya. Alam dan bumi dilihat sebagai persediaan (“standing reserve”/Bestand) yang dapat diambil, disimpan, dan digunakan.[7]

Cara menyingkap ketidaktersembunyian alam dan cara memandang alam semacam itu di dalam teknologi modern dinama Heidegger sebagai “enframing” (das Gestell), yaitu membingkai.[8] Dalam hal ini, teknologi sebagai penyingkapan muncul dalam proses membingkai. Membingkai menjadi suatu cara sistemik yang membatasi dalam memandang dunia. Dengan membingkai, seluruh bumi dilihat sebagai “standing-reserve”, di mana alam dipandang sebagai sumber energi untuk kegunaan instrumental manusia. Implikasi dari pandangan ini adalah bumi semata-mata dilihat sebagai sumber energi. Dalam pembingkaian, ketidaktersembunyian disingkapkan, di mana teknologi modern menyingkapkan yang real sebagai persediaan (standing-reserve). [9]

Bagian kedua: Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas: Meminjam Kacamata Heidegger

[1] Joan Damaiko Udu,”Teknologi dalam Pemikiran Heidegger”, dalam Cogito, 2017., hlm. 1.

[2] Joan Damaiko Udu,”Teknologi dalam Pemikiran Heidegger”, hlm. 1.

[3] Joan Damaiko Udu,”Teknologi dalam Pemikiran Heidegger”, hlm. 2.

[4] Joan Damaiko Udu,”Teknologi dalam Pemikiran Heidegger”, hlm. 2.

[5] Joan Damaiko Udu,”Teknologi dalam Pemikiran Heidegger”, hlm. 3.

[6] Joan Damaiko Udu,”Teknologi dalam Pemikiran Heidegger”, hlm. 3.

[7] Joan Damaiko Udu,”Teknologi dalam Pemikiran Heidegger”, hlm. 3.

[8] Joan Damaiko Udu,”Teknologi dalam Pemikiran Heidegger”, hlm. 3.

[9]Joan Damaiko Udu,”Teknologi dalam Pemikiran Heidegger”, hlm. 3.

Sejarah Angka: Bagaimana Angka Muncul dan Berkembang

Infinite (Tak Terbatas) ∞

Membicarakan Waktu: Apakah Waktu Itu?

Epistemologi Ilmu Pengetahuan dan Relevansinya dalam Studi Al-Qur’an