Category Archives: Berita

Tim Pascasarjana Memenangkan Laga Perdana di Cabang Sepakbola

Rentetan acara Muharrom cup di Universitas Darussalam Gontor Ponorogo telah berlangsung selama dua hari. Pada hari kedua ini tim pascasarjana memenangkan laga perdananya di cabang sepakbola melawan tim staff Unida Gontor. Tim pascasarjana berlaga pada Sabtu, 31 Agustus 2019 pagi.

Mendapatkan jadwal pada pertandingan kedua pada pagi itu, tim pascasarjana berhasil mengungguli tim lawan dengan skor akhir 2-1. Permainan berlangsung cukup alot dengan keunggulan tim staff Unida pada babak pertama dan paruh awal babak kedua. Skor satu kosong yang bertahan cukup lama berhasil dibalikan oleh tim pascasarjana pada paruh akhir babak kedua.

Pada babak paruh kahir babaka kedua tim pascasarjana mampu memberikan gol balasan dan menutup pertandinga dengan keunggulan satu gol. Gol pertama dicetak oleh pemain tengah tim pascasarjana dari prodi HES, Ghafur Qubaisy setelah mendapatkan umpan dari Bima, pemain dari prodi AFI. Setelah sebelumnya tertinggal satu bola selama lebih dari satu babak. Mendapat umpan dari pemain yang sama, Helmy Fauzi, mahasiswa prodi HES sekaligus kapten kesebelasan berhasil menjebol gawang lawan. Skor 2-1 bertahan sampai pertandinga usai.

Baca juga:

PKU Gontor Ikuti Laga Perdana Muharram Cup 1441H

Pertandingan Uji Coba Pascasarajana Sebelum Muharram Cup

Laga kali ini mahasiswa pascasarjana prodi PBA tidak dapat mengikuti pertandingan. Mereka harus mengikuti perkuliahan di Yogyakarta bersama Prof. Syamsul Hadi. Pada laga lanjutan pada Ahad pagi 1 September 2019 esok, tim pascasarjana akan berhadapan dengan tim Fakultas Tarbiyah. Dan diharapakan mahasiswa prodi PBA telah bisa ikut andil dalam pertandingan ini. Keikutsertaan mereka akan memberi tamabahan tenaga bagi skuat pascasarjana. Jika mampu melewati hadangan tim Tarbiyah, tim pascasarjana akan lolos ke babak semi final.

“Setelah ini istirahat, karena sore nanti kita akan melakukan pertandinga kedua di cabang futsal”, tegas Helmy, kapten kesebelasan pada saat peregangan otot setelah pertandingan usai.[Atqiya]

Al Ustadz KH. Ahmad Suharto: Benarkah Kita Merdeka?

Seminar Pada HUT RI: Antara Keindonesiaan dan Keislaman

Infinite (Tak Terbatas) ∞

Sejarah Angka: Bagaimana Angka Muncul dan Berkembang

Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Penelitian Tesis Magister (PTM)

Kumpul PTM

UNIDA Gontor – 20 Agustus 2019 pukul 08.30, pertemuan tersebut diadakan di Ruang Senat Universitas. Dr Setiawan membuka pertemuan dan memberikan pendahuluan seputar proposal pengajuan dan pelaksanaannya. Kemudian, beliau mempersilakan kepala LPPM Dr Fajar Pramono untuk melaporkan kendala atau progres penelitiannya.

Dr Fajar menyampaikan bahwa PTM kali cukup mendapatkan lompatan kemajuan, karena itulah dapat melibatkan dosen pembimbing sejumlah 68 orang dengan 25 judul. Karena itulah, kadangkala koordinasi belum terlaksana dengan lancar. Selain itu, karena juga berbagai kesibukan dosen tersebut dalam berbagai sektor.

Untuk penelitian terbaru; masih 9 proposal yang baru masuk di simlitamas. Di ristek dikti, ada 43 usulan baru dan 39 nya telah disetujui dengan 9 kerjasama antar perguruan tinggi dan 24 Penelitian Dosen Pemula serta 10 lainnya berupa pemula atau terapan.

Tujuan program ini diantaranya publikasi dosen-dosen dan percepatan Penelitian Tesis. Luarannya berupa prosiding Internasional, jurnal Nasional Sinta 1 hingga 4 dan model lain seperti bahan ajar, peraga, dan terkait HAKI. Program ini didukung dana dari pemerintahan. Artinya, terdapat 2 pertanggungjawaban; yakni tanggung jawab akademik dan administrasi.

Ukuran kesuksesannya adalah: 1) publikasi ilmiah dan 2) penyerapan anggaran penelitian. Dalam kegiatan, pengeluaran adalah: 1) bahan 2) pengumpulan data 3) analisa data dan 4) publikasi. Karena itulah, tidak ada problem bagi yang penelitiannya sudah selesai; karena tujuannya adalah publikasi ilmiah.

Baca juga: Al Ustadz KH. Ahmad Suharto: Benarkah Kita Merdeka?

Hal yang baru, bahwa Gontor mendapat kesempatan bahkan menjadi model untuk program ini. Sebenarnya, keuntungannya akan kembali kepada kampus dan civitads akademi di dalamnya; oleh karena itu, program ini perlu disosialisasikan dan dipahami dengan baik. Karena, hal yang sangat baru akan mengakibatkan kurang pahamnya mahasiswa yang dibimbing, bahkan hingga dosen juga ada yang perlu mendapat arahan dan koordinasi lebih.

Dalam hal keuangan, membawa amanah 2 miliar bukanlah mudah. Apalagi, basis program ini adalah luaran dan penyerapan anggaran. Namun, ini membutuhkan kerjasama tinggi dari dosen-dosen dan kerja keras dari mahasiswa terkait.” Demikian Dr Fajar Pramono menyelesaikan laporannya.

Prof Amal Fathullah menyatakan bahwa “program ini, perlu koordinasi yang jelas; bahkan hingga jika terdapat keberatan atau keluhan dan kendala juga perlu diselesaikan sejelas jelasnya. Riset ini adalah ujung tombak universitas. Dan akan menjadi indeks prestasi kita, dan Saya pun harus tahu, karena saya turut bertanggungjawab di sini.”

“Dalam administrasi terkait perjalanan dinas, soal pelaporan mesti diluruskan dengan cara kita, namun diusahakan agar sesuai aturan di ristekdikti. Agar kita selamat lahir batin. Maka, jangan sampai kita korbankan prestasi yang akan kita bangun melalui program penelitian ini.” Demikian arahan beliau.

Dr Syamsuri menyampaikan bahwa “program ini adalah amanat yang besar. Karena awalnya kami hanya tahu sedikit, lantas kami undang tim LPPM. Hal ini, kami anggap penting diadakan demi peningkatan kualitas Tesis, penguatan publikasi, hingga penyelesaian Tesis. Awalnya pun kami mendorong sekitar 15 proposal. Selain itu, mencarikan dosen pembimbing yang memenuhi kualifikasi dikti juga tidak mudah. Namun akhirnya kami bisa memenuhinya.”

Di akhir sesi, diadakan tanya jawab dosen dan mahasiswa seputar teknis dan pelaksanaan luaran dan administrasi dana penelitian. Dari pertemuan ini, Prof Dr Amal Fathullah Z berharap bahwa kegiatan penelitian tidak boleh terkendala administrasi atau laporan wajib lainnya.[Taqiyuddin]

Lainnya dari Pps Unida:

Membicarakan Waktu: Apakah Waktu Itu?

Kesan Tamu, Prof. Martin van Bruissen tentang Gontor dan Unida

Kunjungan Prof. Martin, Pps Unida Kembali Menjadi EO

Epistemologi Ilmu Pengetahuan dan Relevansinya dalam Studi Al-Qur’an

Kesan Tamu, Prof. Martin van Bruissen tentang Gontor dan Unida

Kesan Tamu Gontor

UNIDA Gontor – Gontor selalu memberi kesan yang mendalam bagi siapa saja yang datang berkunjung. Baik itu tamu, wali santri, calon wali santri atau para santri baru. Banyak kesan baik yang membekas dan terkenang oleh para tamu yang berkunjung ke Gontor.

Kesan yang dirasakan pun beragam. Ada yang tekesan dengan cara Gontor menyambut tamu. Keramahan tuan rumah atau kemeriahan penyambutan yang diberikan oleh Gontor. Juga ada yang terkesan dengan kehidupan santri dan pondok secara umum. Lainnya terkesan dengan sistem pendidikan Gontor.

Seperti kesan yang disampaikan oleh Duta Besar Inggris untuk Indenesia Moazzam Malik dalam acara perpisahan sebelum kembali ke Inggris dan melepas jabatannya. “Pembahasan tentang Gontor menjadi salah satu poin yang disampikan beliau dalam acara tersebut,” jelas uztadz Taufiq Affandi di masjid jami’ Unida pada Rabu malam lalu.

Baca juga: Rektor IIUM Beribicara Tentang Kesan Terhadap Gontor

Berbagai kesan ini menunjukan bahwa di Gontor terdapat sisi-sisi positif. Sisi positif ini juga dilihat oleh Prof. Marin van Bruissen, seorang antropolog dari Belanda. Pada kunjungannya yang pertama kali, Sabtu 17 Agustus 2019, Prof. Martin mendapat kesan yang baik, menurutnya Gontor dan Unida Gontor adalah kampus yang menanamkan nilai-nilai moral yang positif bagi siswanya. “Dan saya sangat terkagum dengan kampus yang menanmkan nilai-nilai moral yang positif kepada siswanya”, tulisnya dalam buku tamu Unida Gontor.

Prof. Martin senang dapat berkunjung ke Gontor dan Unida. Sebelumnya dia telah banyak membaca tentang Gontor dan bertemu dengan alumniya. Dia menulis: “Setalah sudah banyak mendengar dan membaca tentnag Gontor, dan berkenalan dengan banyak alumni Gontor. Akhirnya saya sempat mengunjungi pondok universitas hebat ini”.

Prof. Martin Berfoto Bersama Mahasiswa Pascasarjana

Guru besar dalam kajian tentang Kurdi yang fasih berbahasa Indonesia dan Turki ini juga mengucapkan terimakasih kepada Prof. Amal dan Dr. Hamid yang telah menyambutnya dengan baik. Prof. Martin mengisi seminar tentang “Islam, Nationalism, Transnationalism: Controversies Around Islam Nusantara and NKRI Bersyariah”. Pagi sebelum seminar berlangsung, Professor dari Universitas Utrecht Belanda ini mengikuti upacara peringatan kemerdekaan RI di Unida Gontor.[Atqiya]

 

Lainnya dari Pps Unida:

Mahsiswa Pascasarjana Mengikuti Ujian Komprehensif Bahasa Arab

Hadiah Khusus Dr. Hidayatullah kepada Mahasiswi IZU

Bi`ah Lughawiyah, Faktor Peningkatan Bahasa Arab Mahasiswi IZU Turki

Puisi Pascasarjana: Penampilan Perdana Teras Peradaban

Kunjungan Prof. Martin, Pps Unida Kembali Menjadi EO

Kunjungan Prof. Martin

UNIDA Gontor – Program Pascasarjana (Pps) Unida Gontor kembali mendapat amanah sebagai panitia untuk acara visting professor di Unida Gontor. Sebelumnya, pada bulan Juli Pps Unida Gontor menjadi panitia untuk kunjungan Prof. Abdurrahman Abdurrahman an-Naqib dari Universitas Manshura Mesir selama sepekan lebih.

Kali ini Pps akan menjadi Event Organizer (EO) untuk kunjungan Prof. Martin van Bruinessen, seorang antropolog berkebangsaan Belanda. “Kamis pagi, 15 Agustus kemarin tim penjemputan berangkat ke Jogja untuk menjemput Prof. Martin. Rombongan akan bergerak menuju Unida sekitar jam 3 sore dan diperkirakan akan sampai pada pukul 7 malam”, terang Ikhlasul Amal, ketua pelaksana acara.

Amal menjelaskan bahwa Prof. Martin direncanakan akan berada di Unida sampai hari Ahad. Pada hari Jum’at kemarin beliau beserta Prof. Amal Fathullah rektor Unida dan  Dr. Hamid wakil rektor 1 Unida bersilaturahim dengan bapak pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal di kantor pimpinan. “kalau seminarnya nanti hari Sabtu di hall CIOS jam 9.30”, tambahnya.

Baca juga: Epistemologi Ilmu Pengetahuan dan Relevansinya dalam Studi Al-Qur’an

 Prof. Martin adalah Guru Besar dalam bidang Studi Kurdi di Universitas Utrecht Belanda. Disamping itu beliau juga melakukan penelitian tentang Indonesia. Karena itu pada Sabtu pagi kuliah umum bersama Prof. Martin akan mengambil tema “Islam, Nationalism, Transnationalism: Controversies Around Islam Nusantara and NKRI Bersyariah”.

Kepakarannya tentang Kurdi membuatnya mampu berkomunikasi dengan bahasa Turki. Karena etnis Kurdi mencakup wilayah Turki, Irak dan Iran. Pada Jum’at malam Prof. Martin makan malam bersama mahasiswi IZU Turki yang sedang mengikuti program bahasa Arab. Ahmad Abdurrafi’i, staff sekretaris rektor menjelaskan bahwa Prof. Martin berbicara dalam bahasa Turki saat bercakap-cakap dengan mahasiswi IZU. “Jadi susah mengerti isi pemibicaraanya”, jelasnya saat dimintai keterangan mengenai isi pembicaraan Prof. Martin dan mahasiswi IZU.

Alfi Mamduh, panitai seksi acara, menjelaskan bahwa kuliah umum nanti akan dihadiri mahsiswa dan mahasiswi Program Pascasarjana. Acara ini akan dimoderatori oleh ustadz Harda Armayanto salah satu dosen fakultas Ushuluddin. “pagi ini mahasiswi putri juga akan ikut acara”, ujar Mulatzim Addin, salah satu panitai, menambahkan penjelasan.[Atqiya’]

Lainnya dari Pps Unida:

Mahsiswa Pascasarjana Mengikuti Ujian Komprehensif Bahasa Arab

Hadiah Khusus Dr. Hidayatullah kepada Mahasiswi IZU

Khot, Media untuk Menumbuhkan Ruh Tasabuq mahasiswi IZU Turki

A Joint Forum Indonesia-Turkey: Wadah Diskusi Mahasiswa HI dan IZU

Mahsiswa Pascasarjana Mengikuti Ujian Komprehensif Bahasa Arab

ujian komprehensifbahasa

UNIDA Gontor – Mahasiswa pascasarjana Unida Gontor mengikuti kujian komprehensif bahasa Arab pada Jum’at pagi 16 Agustus 2019. Ujian ini dilaksanakan di gedung terpadu Unida Gontor lantai tiga. Peserta ujian adalah seluruh mahasiswa pascasarjana semester 3. Peserta ujian terbagi dalam dua ruangan, 320 dan 321.

Panitia pelaksana ujian adalah Lembaga Pusat Bahasa Unida Gontor. “Ujian ini dilaksanakan serentak untuk mahasiswa strata satu dan mahasiswa pascasarjana”, terang ustadzah Ifa, ketua pelaksana ujian. Ujian ini adalah yang pertama kalinya bagi mahasiswa pascasarjana. “Pada tahun-tahun sebelumnya, ujian komprehensif bahasa Arab hanya diikuti oleh mahasiswa strata satu”, ujarnya menambahkan.

Ujian ini mencakup beberapa aspek dalam keterampilan berbahasa. “yang diujikan adalah muthala’ah (reading), ta’bir (merangkai kalimat) dan tarjamah (penterjemahan). Ujian ini cukup menyita waktu dalam pengerjaannya dan alhamdulillah kami dapat menyelesaikannya dengan usaha maksimal”, ucap Alfi Mamduh, salah satu peserta ujian yang pernah ikut program bahasa Arab di Qatar.

Baca juga: Hadiah Khusus Dr. Hidayatullah kepada Mahasiswi IZU

Ustadz Jarman Arroisi menerangkan bahwa dalam rangka peningkatan kualitas mahasiswa pascasarjan Unida Gontor, program pascasarjana mulai menerapkan ujian komprehensif bahasa pada tahun ini. Beliau juga menjelaskan bahwa ini adalah persiapan awal bagi mahasiswa pascasarjana yang akan menulis tesis. Karena di Unida Gontor penulisan tugas akhir baik di strata satu maupun pascasarjana ditulis dalam bahasa Arab atau bahasa Inggris.

Sebelum lulus dalam ujian ini setiap mahasiswa tidak bisa memulai penulisan tugas akhir. “harus lulus ujian bahasa sebelum mulai menulis, itu untuk S1. Kalau pascasarjana ujian bahasa itu syarat untuk bisa ikut ujian MPA”, jelas Multazim Addin, salah satu staff pascasarjana Unida.

Bagi mahasiswa yang memilih untuk menulis dalam bahasa Arab hanya perlu melewati ujian komprehensif bahasa Arab saja. Dan mahasiswa yang ingin menulis dalam bahasa Inggris harus melewati ujian komprehensif bahasa Inggris disamping bahasa Arab. “lulus bahasa Arab terlebih dahulu. Setelah lulus baru lanjut ujian bahasa Inggris. Jika tidak lulus ujian yang bahasa Arab, tidak bisa ikut ujian yang bahasa Inggris. Karena kelulusan dalam bahasa Arab adalah syarat untuk ikut ujian bahasa Inggris”, terang Ulul Azmi, koordinator mahasiswa pascasarjana dalam ujian kali ini.

Adapun ujian komprehensif bahasa Inggris akan dilaksanakan satu pekan setelah ujian kualifikasi bahasa Arab.[Atqiya’]

Wawancara Ketua Panitia A Joint Forum Indonesia-Turkey

A Joint Forum Indonesia-Turkey: Wadah Diskusi Mahasiswa HI dan IZU

Khot, Media untuk Menumbuhkan Ruh Tasabuq mahasiswi IZU Turki

Wawancara Eksklusif dengan Mahasiswi IZU Turki

Hadiah Khusus Dr. Hidayatullah kepada Mahasiswi IZU

hadiah khusus dr. hidayatullah kepada mahasiswi izu turki

UNIDA Gontor – Jum’at 9 Agustus 2019 lalu, Dr. Hidayatullah Zarkasyi memberi tau’iyah diniyah bagi mahasisi Turki beserta seluruh panitai dan para mahasiswa pascasarjana yang membimbing mereka. Pada kesempatan ini, beliau memberi nasihat untuk mengambil pelajaran dan manfaat dari Gontor. “Anak-anakku dengan niat bahwa kalian mencintai segala sesuatu yang baik maka ambilah yang baik dari Gontor maka tinggalkan segala hal yang tidak baik yang kalian temui di sini”, ucap beliau memulai nasihatnya.

Dr. Hidayatullah melanjutkan, “Anak-anakku saya ingin memberi kalian hadiah khusus. Saya ingin kalian menjaga hadiah ini di dalam hati kalian”. Kemudian beliau menjelaskan rahasia kesuksesan seorang lelaki. “Di belakang setiap tokoh besar ada wanita-wanita shalihah. Karena itu do’akan agar suamimu dan keluargamu dianugerahi kedudukan yang mulia oleh Allah di dunia dan akhirat. Dan kedudukan yang mulia itu dengan shalat tahajjud”, lanjutnya. Seorang istri dan ibu perlu untuk mendo’akan suami dan anaknya agar dianugerahi kedudukan yang mulia oleh Allah SWT.

Kalimat ini berasal dari seorang tokoh. Yang ia dapatkan dari ibu dan istrinya, dia melihat apa yang dido’akan dan diperbuat oleh keduanya. “Seandainya do’amu untuk suamimu belum dikabulkan oleh Allah. Maka do’akan agar anak yang kelak lahir dari rahimmu menjadi orang yang besar dalam agama, dunia dan akhirat, jelas Dr. Hidayatullah. Kemudian beliau melanjutkan: “Dan untuk memiliki anak yang shalih kalian harus menjadi wanita dan ibu yang shalihah”.

Baca juga: Dr. Hidayatullah: Makna Lafadz Dzikir

Selain itu, Dr. Hidayatullah juga menjelaskan makna dari kata besar. “Makna besar itu beragam. Besar dalam pemerintahan berarti menjadi pemimpin atau mentri. Besar di universitas berarti menjadi pemimpin-pemimpinnya. Besar dalam agama berarti menjadi ‘Ulama”, terangnya.

Beliau juga menjelaskan tentang makna besar bagi Gontor. “Adapun menurut Gontor besar itu adalah siapa yang ikhlas mengajar al-Qur`an di tempat terpencil yang juah dari rumahnya. Kenapa? Karena pahalanya di sisi Allah lebih berlimpah dari yang lain”. Beliau memutup nasihatnya dengan memotivasi seluruh peserta untuk menjadi orang besar, setidak-tidaknya menjadi besar di dalam keluarga.

Sesi Tanya Jawab

Dalam sesi selanjutnya tiga orang mahasiswi IZU Turki mengajukan pertanyaan kepada beliau. Zilal, penanya pertama bertanya tentang hal terpenting dalam pendidikan seorang wanita. Beliau menjawab: ”Pendidikan wanita dilaksanakan dengan tiga tugas; tugas alami (kewanitaan), rumah tangga dan kemasyarakatan. Yang terpenting pada pendidikan wanita adalah pembiasaan terus-menerus dan tasyji’. Apa itu Tasyji’? Menjadi yang terbaik dalam setiap peran kalian, di atas, tengah atau di bawah, sehingga kalian menjadi nomor satu dalam segala hal”.

Pertanyaan kedua diajukan oleh Fatma yang menayakan tentang alasan adanya pelajaran nisaiyyah bagi santriwati. “Kenapa tidak ada pelajaran Rijaliyah di pondok putra sebagaimana ada pelajaran Nisa`iyyah di pondok putri?, ujarnya. Dan beliau menjelaskan bahwa di pondok putra seluruh kegiatan dibentuk sebagai pelajaran rijaliyah. “Karena setiap kegiatan di pondok putra itu adalah pelajaran Rijaliyah. Perbedaannya adalah, pendidikan wanita dengan dengan pembiasaan yang terus-menerus sedangkan pendidikan laki-laki dengan pemaksaan. Karena laki-laki akan menjadi kuta dengan tanggungjawab, tanggungjawab terhadap keluarganya dan umat, jelas beliau.

Selanjutnya pertanyaan terakhir yang isinya sangat tidak terduga dan mengundang senyuman dari peserta lainnya datang dari nihal. “Jika selalu ada wanita shalihah di belakang setiap lelaki hebat, lantas siapa yang ada di belakang wanita shalihah?, ujarnya bertanya. Dr. Hidayatullah menjawab bahwa di belakang setiap wanita shalihah adalah Alla SWT yang tiada daya dan upaya selain dari-Nya.

Demikianlah Dr. Hidayatullah memberikan hadiah khusus dan istimewa bagi mereka. Hadiah berupa nasihat seorang guru kepada muridnya Nasihat sebagai bentuk kasih sayang seorang guru kepada murid.[Riza Nurlaila/Atqiya]

Sumber foto: http://bintangsri-green.blogspot.com/

Khot, Media untuk Menumbuhkan Ruh Tasabuq mahasiswi IZU Turki

A Joint Forum Indonesia-Turkey: Wadah Diskusi Mahasiswa HI dan IZU

Wawancara Ketua Panitia A Joint Forum Indonesia-Turkey

Khot, Media untuk Menumbuhkan Ruh Tasabuq mahasiswi IZU Turki

Khot untuk ruh tasabuq

UNIDA Gontor – Sudah lebih dari sebulan para mahasiswi IZU Turki mengikuti Program Intensif Pembelajaran Bahasa Arab di Unida. Perkembangan kemampuan mereka cukup menggembirakan. Dengan waktu yang realtif singkat mereka dapat meningkatkan kemampuan mereka sampai pada level mutawasith a’la, demikian penjelasan ustadz Alfi Mamduh, mahasiswa pascasarjana yang menjadi ketua pelaksana program ini.

Selain belajar bahasa Arab, mahasiswi IZU Turki juga mempelajari materi lain, salah satunya Khot. Materi khat adalah materi tambahan di luar materi bahasa Arab dan materi penunjang bahasa Arab. Materi ini diajarkan dua kali seminggu. “materi khot diajarkan pada hari Sabtu dan Senin mulai pukul 2 siang sampai pukul 3”, jelas ustadz Syafi’i, salah satu pengajar yang juga mahasiswa pascasarjana Unida.

Pelajaran khot dimulai dengan pengenalan teori dan teknis selama dua pertemuan. Selanjutnya materi pelajarannya adalah koreksi tulisan dan praktik menulis secara langsung. Setiap pertemuan akan ada koreksi tulisan oleh pengajar. “di kelas itu koreksi tulisan sedangkan praktiknya di asrama”, jelas ustadzah Riza Nurlaila, mahasiswa pascasarjana yang menjadi salah satu pengajar khot. Saat di kelas para mahasiswi dibagi kedalam tiga kelompok untuk mempermudah proses koreksi. Karena ada tiga orang pengajar untuk materi khot, yaitu ustadz Muhammad Nur, ustadz Syafi’i dan ustadzah Riza Nurlaila. Mahasiswi pascasarjana PBA ini juga biasa melakukan koreksi di luar waktu pelajaran karena tinggal bersama dengan mahasiswi Turki di asrama.

Baca juga: 

A Joint Forum Indonesia-Turkey: Wadah Diskusi Mahasiswa HI dan IZU

Wawancara Ketua Panitia A Joint Forum Indonesia-Turkey

Meski para mahasiswi ini berasal dari negara yang menjadi pusat pembelajaran khot tidak semua dari mereka pernah belajar khot. Ustadzah Riza menjelaskan bahwa materi awal yang diajarkan kepada mereka adalah Khot Riq’ah, karena mereka adalah pemula. Ini sesuai dengan yang diajarkan oleh Syekh Belaid Hamidi. “kami menerapkan, untuk pemula di Khot Riq’ah karena itu termasuk khot yang mudah untuk dipelajari dan termasuk khot yang paling dasar”, ujar ustadz Syafi’i menambahkan.

Untuk membuat suasana pembelajaran lebih menarik para pengajar biasanya memperlihatkan karya-karya para khathaht dari Turki atau karya santri-santri Gontor. Dalam beberapa kesempatan, para pengajara juga berbagi pengalaman mereka di saat berlatih khot. Selain itu para pengajar juga menumbuhkan jiwa untuk berkompetisi di antara mereka. “Kami mengusahakan untuk selalu menanamkan ruh musabaqoh antar individu dan antar firqoh dengan cara menghitung kertas-kertas latihan mereka dan merekap sejauh mana huruf yg mereka tulis, agar mereka semangat juga”, jelas ustadzah Riza. Metode lainnya adalah dengan memberi mereka hadiah berupa tulisan nama mereka.

“Kalau saya lebih tertarik materi khot (daripada fotografi)”, ujar Cise Nur CIMEN, salah satu peserta yang menulis menggunakan tangan kiri. Ustadzah Riza menjelaskan bahwa tidak sedikit dari mereka yang mengalami kesulitan saat berlatih. Khsusnya bagi para peserta yang menulis menggunakan tangan kiri seperti Cise. Namun itu semua tidak mengurangi semangat mereka untuk berlatih. Perkembangan kemampuan menulis mereka bervariasi. Ada yang berkembang pesat dan ada yang perkembangannya lambat.[Atqiya]

Wawancara Eksklusif dengan Mahasiswi IZU Turki

Bi`ah Lughawiyah, Faktor Peningkatan Bahasa Arab Mahasiswi IZU Turki

Beda ‘Idul Adha di Indonesia dan Turki, Kesan Mahasiswi IZU Turki

Hikmah ‘Idul Adha: Mengambil Ibrah dari Kisah Nabi Ibrahim

A Joint Forum Indonesia-Turkey: Wadah Diskusi Mahasiswa HI dan IZU

Joint Forum: Diskusi IZU dan HI UNIDA

UNIDA Gontor – Selasa, 13 Agustus 2019 Himpunan Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional (HMP HI) Unida mengadakan acara Joint Forum antara mahasiswa UNIDA dan IZU Turki. Acara ini adalah hasil kerjasama dengan panitia Daurah Mukatsafah fi lugha ‘Arabiyah atau Program Intensif Pembelajaran Bahasa Arab bagi mahasiswi IZU Turki. Acara ini bertajuk A Joint Forum Indonesia-Turkey (Education-Religion-Culture) on Europe Region Studies.

Acara diawali dengan sambutan Dr Mohamad Latief selaku Ketua Program Studi Hubungan Internasional sekaligus apresiasi terhadap panitia yang bisa menjadikan acara hari itu bisa berjalan. Selanjutnya acara diskusi diawali dengan penyampaian makalah oleh perwakilan dari mahasiswi IZU yakni Zehra dan Fatma mengenai identitas Turki dan keadaannya saat ini berdasarkan pengalaman mereka. “mereka mempersipakan materi dengan sungguh-sungguh meski tetap sedikit tegang saat memaparkannya”, ujar pembimbing mahasiswi IZU, ustadzah Syahrozad.

Acara ini adalah ide dari mahasiswa Hubungan Internasional Unida untuk praktik materi perkuliahan. “Acara ini dilatar belakangi oleh usulan teman-teman HI-5 di kelas Studi Kawasan Eropa (SKE)”, jelas Rivaldo, ketua panitia acara ini saat dimintai keterangan.

Iya juga menambahkan bahwa acara ini terselenggara atas kerjasama antara Himpunan Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional dan Pendidikan Bahasa Arab. “kita mengajukan proposal ke Koordinator IZU, mahasiswa dari PBA, Alhamdulillah proposal acara tesebut disetujui, kemudian disepakatilah untuk menyelenggarakan acara pada tanggal 13 Agustus 1019”, ujarnya menambahkan.

Baca juga:

Wawancara Ketua HMP Hubungan Internasional UNIDA Gontor

Wawancara Eksklusif dengan Mahasiswi IZU Turki

“Setelah pemaparan makalah oleh dua orang mahasiswi, peserta kemudian dibagi menjadi tiga kelompok diskusi”, ujar ustadz Alfi Mamduh, mahasiswa pascasarjana prodi PBA yang juga Ketua Panitia Pelaksana Program Bahasa IZU Turki. Tiga kelompok tersebut masing-masing mendiskusikan tiga materi yang berbeda, yaitu tentang Pendidikan, Budaya dan Agama di Turki dan Indonesia. Diskusi ini diikuti oleh Mahasiswi IZU Turki dan Mahasiswa Hubungan Internasional semester lima.

Acara ditutup oleh ustadz Belly Rahmon, S.IP, M.A. dosen prodi Hubungan Internasional yang mengampu materi Studi Kawasan Eropa (SKE). “Acara ditutup dengan dengan penekana tentang diplomasi dan pembelajaran bahasa asing, baik itu Arab, Inggris atau Turki oleh salah seorang dosen HI dengan antusiasme tinggi”, ujar Iksan Rahmadian, salah seorang peserta acara.

Para mahasiwi IZU Turki mengapresiasi acara ini. Karena melalui acara ini mereka dapat bertukar pengetahuan dengan mahasiswa Unida. “Salah seorang dari mereka bahkan sudah menyiapkan banyak materi. Namun karena keterbatasan waktu tidak semuanya dapat disampaikan”, jelas ustadzah Syahrozad. Acara ini juga mejadi wadah bagi mahasiswi IZU Turki untuk praktik langsung berbahasa Arab, program utama yang mereka ikuti di Unida Gontor.[Atqiya]

Bi`ah Lughawiyah, Faktor Peningkatan Bahasa Arab Mahasiswi IZU Turki

Beda ‘Idul Adha di Indonesia dan Turki, Kesan Mahasiswi IZU Turki

Hikmah ‘Idul Adha: Mengambil Ibrah dari Kisah Nabi Ibrahim