Film Islami itu Islami? Dilema Film Religi, Tantangan bagi Sineas Muslim

Dilema Film Islami Religi

Oleh: Khairul Atqiya[1]

Tulisan ini tidak menyorot satu film Islami atau religi saja. Seluruh film baik film layar lebar maupun layar kaca atau layar maya termasuk dalam kritik tulisan ini. Penggambaran salah satu film hanya bertujuan untuk mempermudah dalam menarasikan dilema film religi yang ingin diangkat dalam tulisan ini.

Sinopsis

Beberapa waktu yang lalu telah dirilis sebuah film drama komedi religi, mungkin genrenya seperti itu. Dalam film itu diceritakan sepasang suami istri yang menikah karena perjodohan. Sebagaimana banyak kasus pernikahan karena perjodohan, pernikahan ini dilakukan dengan terpaksa. Setidaknya itu yang dirasakan sang suami.

Saat sang suami tidak berbahagia dengan pernikahannya dan berniat untuk berpisah, tidak demikian dengan sang istri. Sang istri bahagia dengan pernikahan itu. Berbahagia, sampai akhirnya dia mengetahui suaminya tidak mencintainya dan menikah karena terpaksa. Dia lebih bersedih lagi setelah mengetahui bahwa sang suami telah berencana untuk berpisah sejak awal. Namun sang istri ingin mempertahankan pernikahan mereka. Poin inilah yang menjadi konflik inti dalam film ini. Seorang suami yang menikah karena terpaksa dan ingin bercerai dan seorang istri yang berusaha mempertahankan pernikahannya.

Konten Religi

Film ini banyak menampilkan adegan yang menggambarkan pola hidup seorang sosok yang islami. Penggambaran sosok istri yang selalu berpakaian tertutup. Berbicara santun dan sering mungucapkan kalimah thoyyibah. Rutin membaca Al-qur’an. Rajin shalat dan lain sebagainya. Dalam film ini, sang istri memang digambarkan sebagai sosok yang Islami. Namun tidak demikian halnya dengan sang suami, dia digambarkan sebagai sosok yang kurang Islami. Tapi, dengan inilah film ini menjadi terlihat menarik.

Pada salah satu adegan dalam film ini diceritakan bahwa sang suami sedang sakit. Pada waktu subuh sang istri membangunkannya untuk solat subuh dan mengingatkan bahwa solat itu tetap wajib bagi orang sakit. Di lain scene sang istri mengingatkan suaminya untuk solat berjama’ah di masjid. Dia mengatakan bahwa lelaki soleh solat di masjid dan yang solat di rumah adalah lelaki yang solehah.

Penggambaran sosok yang Islami seperti ini dapat dengan mudah untuk ditemukan dalam film ini. Khususnya dalam lingkaran sang istri, sosok yang berasal dari kelaurga religius yang tinggal di pedesaan. Sedangkan sang suami berasal dari keluarga metropolitan yang tidak terlalu religius. Hal ini dapat dilihat dari penggambaran keluarga dari pihak istri dan pihak suami dalam keseluruhan film.

Film Islami yang Kurang Islami

Sulit untuk mengatakan suatu film adalah film yang Islami atau kurang Islami. Karena belum ada ukuran yang dapat dijadikan dasar untuk mengukur keislaman suatu film. Meski demikian terdapat common sense tentang ciri-ciri film Islami. Setidaknya penggambaran tokoh, jalan cerita dan plot dalam film ini sudah termasuk dalam kriteria film yang Islami. Ditambah lagi penyebutan matan hadits secara eksplisit membuat kesan Islami ini semakin menguat.

Dengan semua atribusi keislaman yang ada dalam film ini tidak serta merta membuatnya Islami. Karena terdapat beberapa detail yang kurang Islami. Sebut saja perubahan busana sang istri saat dia dan suami sudah mulai dekat. Sebelumnya, saat sang suami masih menolak untuk mengakuinya sebagai istrinya, sang istri selalu berpakaian tertutup di hadapan sang suami, bahkan saat tidur. Namun saat hubungan mereka semakin intim sang istri sudah mulai membuka kerudungnya di saat bersama suaminya di rumah.

Detail ini penting untuk menggambarkan perubahan mood dan kondisi hubungan keduanya. Tapi di saat yang sama perubahan ini mengurangi nilai keislaman film ini. Karena menampakkan aurat sang pemeran perempuan. Ini adalah pilihan yang dilematis. Antara mempertahankan nilai Islami yang ada pada tokoh istri, yaitu menutup aurat dengan menggambarkan perubahan keintiman hubungan mereka berdua.

Plot-plot lain yang tidak menggambarkan Islam dalam film ini, bahkan alur cerita dasar yang berlangsung sepanjang film ini jelas tidak dapat dikatakan Islami. Sang suami tetap menemui kekasihnya setelah dia sah sebagai suami. Meski tidak digambarkan adanya kontak fisik, namun perbuatan ini jelas diluar kententuan Islam. Tapi lagi-lagi ini memang dibutuhkan. Alur cerita seperti ini memang disengaja untuk menguatkan konflik dalam keseluruhan cerita.

Baca Juga:

Bumi Manusia dan Makna Modernitas: Sebuah Review*

Bagian Kedua dari Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas

Dilema Film Islami

Bingkai film Islami dalam cerita pasangan suami istri telah tergambar dalam film ini. Pernikahan yang dilakukan sesuai aturan Islam. Interaksi-interaksi di antara keduanya dalam kehidupan pernikahan juga cukup baik—kecuali hubungan sang suami dengan kekasihnya. Meski demikian interkasi yang Isalmi di antara keduanya tetap tidak bisa dikatakan Islami. Karena semua yang tergambarkan dalam film hanya cerita fiktif, seluruhnya adalah akting.

Pada hakikatnya interaksi keduanya adalah interaksi yang dilarang didalam Islam. Karena keduanya bukanlah suami istri yang sah. Keduanya hanya pasangan dalam cerita. Dalam dunia nyata keduanya tetaplah bukan mahram. Ini adalah dilema utama dalam film Islami atau religi. Antara proses yang Islami atau hasil yang Islami.

Sebagai contoh, menutup aurat seluruh pemeran dalam suatu film agaknya sulit dilakukan. Karena suatu film pasti berusaha menggambarkan kondisi nyata cerita yang difilmkan. Dan memang kondisi nyata di masyarakat beragam, tidak semua mengenakan kerudung dan menutup aurat. Pembuat film akan dihadapkan pada pilihan; membuat film yang sesuai ketentaun Islam (tidak mempertontonkan aurat) atau membuat film yang terasa utopis (cerita yang tidak sesuai kenyataan).

Kesulitan lain dalam proses pembuatan film yang Islami adalah tetang interkasi antara laki-laki dan perempuan. Interkasi atau ikhthilath dalam proses pembuatan film sejauh ini adalah sebuah keharusan. Karena agaknya sulit untuk membentuk kru film yang seluruhnya adalah laki-laki atau seluruhnya adalah perempuan.

Pada titik ini sineas film akan menghadapi dilema antara memilih proses yang bebas ikhthilath atau membuka ruang bagi interaksi lawan jenis. Membatasi interkasi akan menjaga proses agar tidak menyalahi aturan Islam, namun akan menyulitkan proses pembuatan film. Di sisi lain, memperbolehkan interkasi yang lebih terbuka akan menjurus pada ikhthilat meski mempermudah proses.

Sisi Positif

Terdapat sisi positif yang dapat dilihat dari perkembangan perfilman religi di tanah air. Setidaknya ini memberi opsi bagi para penonton untuk memilih film yang lebih Islami. Alih-alih menonton film Hollywood yang sudah pasti tidak Islami, baik hasil atau proses pembuatan fiilmnya. Atau film-film lokal yang memang tidak berlabel Islami atau religi.

Melalui film-film religi ini juga banyak pesan keislaman yang dapat tersampaikan. Baik tentang ajaran, nilai-nilai atau tokoh Islam. Siapa yang tidak kenal dengan serial Umat Ibn Al-Khattab. Berapa banyak orang yang terinspirasi dan mendapatkan nilai-nilai Islam dari film ini. Terlepas dari proses pembuatannya yang mungkin masih menyalahi aturan Islam, namun alur cerita dan pesan-pesan keislaman didalamnya tidak dapat dikatan tidak berdampak.

Inilah tugas dan tantangan yang perlu dijawab oleh sineas-sineas muslim saat ini. Masih banyak aspek yang perlu didiskusikan berkaitan dengan perfilman untuk menghasilkan film yang tidak hanya bernilai Islami dalam hasilnya tapi juga prosesnya. Mungkin ini (perfilman) dapat menjadi media dakwah yang sesuai zaman dan dapat menjangkau berbagai kalangan dengan mudah.

[1] Khairul Atqiya adalah mantan staff Gontor TV Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus Pusat pada periode 2012-2013 dan bagian dokumentasi Pondok Modern Darussalam Gontor pada periode 2010-2019

Untuk bacaan lebih lanjut terkait hal ini:

Film dan Islam: Maksiat, Syariat, atau Siasat?

What is ‘Islamic’ about Islamic Films?

Negotiating Islam with Cinema: A Theoretical Discussion on Indonesian Islamic Films

Lainnya dari Pps Unida:

Sejarah Angka: Bagaimana Angka Muncul dan Berkembang

Seminar Pada HUT RI: Antara Keindonesiaan dan Keislaman

Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Penelitian Tesis Magister (PTM)