Ilmu Akidah Dalam Kegiatan Politik

Ilmu Akidah Dalam Kegiatan Politik

Oleh: Fiky Fajar Lestarini

Akidah yang diajarkan agama Islam dapat membangkitkan dan memotivasi bagi muslimin untuk menegakkan amalan baik dan mulia dalam setiap kehidupannya. Pondasi ini sangat jelas diperlukan karena setiap aqidah harus bersikukuh di dalam individu seseorang sehingga mampu menggerakkan seluruh umat islam untuk mengamalkan seluruh ajaran Allah yang diyakini benar dan dihayati dalam kehidupan.

Akidah membuat pemikiran manusia menjadi terbuka, berpandangan jauh dan berkeyakinan dalam hidup. Pandangan yang berpegang teguh dengan aqidah bukan sekedar berasas dengan pandangan inderawi saja, ukuran dunia dan kemanusiaan semata-mata, tetapi akhiratnya yang menjadi tolak ukur seluruh pandangan hidup. Maka yang akan masuk dalam hati adalah dosa-pahala, halal-haram, neraka-surga dalam berpikir dan bertindak. Sesuatu keputusan yang dibuat atau perbuatan serta tindakan yang dilakukan, adalah berdasarkan keyakinan diri terhadap prinsip-prinsip aqidah yang menjadi pegangan setiap kepala pemerintahan, maka kepala pemerintahan akan menjadi seorang yang optimis, tegas, tabah, dan cukup berkeyakinan tinggi.[1]

Menilik kembali pada masa Rasulullah SAW pada masa pemerintahannya yang tidak melepaskan aqidah dalam kegiatan berpolitiknya, upaya-upaya yang dilakukan Rasulullah dapat kita teladani seperti memperkuat persatuan dan mengikis permusuhan di dalam negaranya sendiri, berlaku untuk masyarakat Arab muslim maupun non muslim, penduduk asli maupun pendatang, tak lupa dengan masih adanya perang di mana-mana, Rasulullah memanfaatkan tawanan perang untuk mengajarkan pendidikan kepada masyarakat arab yang buta huruf, serta membangun masjid sebagai lembaga dan pusat persatuan di mana masjid sebagai tempat tempat perkumpulan resmi, serta Rasulullah tak lupa pula dalam penyetaraan semua golongan dan pemakmuran rakyat, tak membedakan golongan bangsawan maupun hamba sahaya, tak ada kasta yang membedakan pada masa pemerintahan Rasulullah. Upaya-upaya yang telah dilakukan beliau sangat tidak meninggalkan ajaran aqidah Islam karena sejatinya bahwa akidah Islam tidak merusak perputaran politik pemerintahan yang terjadi.[2]

Menurut Adnin Armas pada sebuah artikel yang ia tulis, agama Islam merupakan agama wahyu yang diturunkan Allah secara langsung melalui para nabi nabi kita terdahulu, bukanlah Agama Budaya. Para ulama kita terdahulu telah membahas tentang politik antara lain adalah kepemimpinan (imamah, imarah) pada buku-buku karya beliau. Banyaknya ulama yang membahas tentang topic menggambarkan bahwasanya politik merupakan suatu bidang ilmu yang tidak sepele, apalagi meletakkan pembahasan kepemimpinan di dalam buku Akidah.

Melihat kembali pada negara-negara Eropa yang menghalalkan pernikahan sesama jenis, LGBT, tentu ini sangat merusak moral kaum kaum muda dan membuktikan bahwa mereka tidak mempercayai adanya sang pencipta. Terpampang jelas bahwa kebijakan ini jelas jelas Allah haramkan dan merusak Akidah Islam, maka sangat jelas terlihat bahwa Akidah sangat berperan penting dan aktif dalam mewujudkan negara yang berbudi luhur. Ini pula menunjukkan bahwa akidah sangat berdampak dalam menjaga politik. Menjaga Aqidah Islam adalah Wajib. Politik adalah penjaga akidah. Maka menjaga Akidah politik

islam adalah wajib.[3]


[1]MohFauzi bin Hamat. PerananAkidahDalamPerancangan Pembangunan Ummah: SatuAnalisisDalamKonteksMasyarakatKini.JurnalUshuluddin, Bol16 (2002). Hal 27-28

[2]Mursal Aziz, PolitikPendidikanPadaMasaNabi Muhammad. JurnalWaraqat, Volume II, No. 1, 2017. Hal 201-204

[3]https://gontornews.com/politik-bagian-dari-akidah/ . Diaksespadatanggal 18 Oktober 2020.Pukul 21.03 WIB