Islamisasi Ilmu, Pentingkah? (Studi Pandangan Al-Attas)

Photo by Thomas Kelley on Unsplash

Mengenal Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer

Beberapa pemikir Muslim terutama yang telah dipengaruhi oleh pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas, telah memahami perbedaan mendasar mengenai ontologi, epistemologi, etika dan budaya antara Islam dan Barat sekuler. Pemahaman ini juga didukung dengan adanya tanggapan serius mengenai westernisasi dan kolonialisasi dengan mengusung agenda intelektual yang disebut dengan proyek Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer. Konsepsi mengenai wacana Islamisasi merupakan sumbangsing besar dan revolusioner di dunia intelektual yang diberikan oleh cendikiawan Muslim saat ini.[1] Dimana ide ini berpotensi membangun kembali masa kejayaan Islam.

Ide ini telah memulai revolusi pemikiran intelektual Muslim, dan pada paruh kedua abad ke-20 menjadi semakin penting, dikarenakan umat Islam sejak berabad-abad lamanya tidak mampu berurusan dengan sains modern secara adil, terutama yang datang dari Barat. Dihadapkan dengan adanya gempuran sains Barat modern dengan keberhasilan ekonomi dan teknologinya yang besar, umat Islam membutuhkan keberanian intelektual dan kepercayaan diri yang kuat dalam menghadapinya.[2] Meskipun konsepsi islamisasi ilmu merupakan gagasan intelektual dan kaedah epistemologi yang merupakan suatu pencapaian yang kontemporer, sebenarnya islamisasi pengetahun ini telah dilakukan semanjak wahyu pertama dalam ajaran Islam yang kemudian dilakukan secara terus-menerus sepanjang zaman, meskipun dengan derajat dan tingkat keberhasilan yang berbeda.[3]

Konseptualisasi dari islamisasi ini pada dasarnya tidak menafikan adanya kemanfaatan yang ada pada peradaban dan kebudayaan lain, namun tetap kritis dan teliti dalam melihat apa yang tidak sesuai dangan alam Islami. Terutama adanya kesadaran bahwa sains Barat modern yang berangkat dari sifat mengingkari kewujudan Tuhan (atheistic) sehingga perlu diislamkan, gagasan ini pertama kali terdengar di awal tahun 1930-an melalui Dr. Sir Muhammad Iqbal, namun tidak menjelaskan ataupun memberikan makna kepada gagasan tersebut. Sayyed Hossein Nasr di tahun 1960 secara tersirat memberikan kaedah pengislaman ilmu pengetahuan sains modern dengan mencanangkan bahwasanya ilmu pengetahuan sains tersebut sudah sepatutnya ditafsirkan dan diterapkan dalam “konsepsi Islam mengenai alam semesta”. Sedangkan Ismail R. Al-Faruqi yang mengambil kemanfaatan dari tulisan al-Attas dan International Institute of Islamic Thought (IIIT) telah mempopulerkan agenda islamisasi ini ke berbagai penjuru dunia Muslim.[4] Namun, gagasan islamisasi ilmu ini pertama kali dan yang paling meyakinkan telah diberikan maknanya oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Rumusan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer: Syed Muhammad Naquib Al-Attas

Al-Attas berpandangan bahwa problem keilmuan pada saat ini lebih dikarenakan adanya kerancuan berpikir yang disebabkan oleh masuknya pola pikir dan kebudayaan Barat yang sekuler itu. Dalam salah satu karyanya beliau menjelaskan:

“Our challange is the problem of the corruption of knowladge. This has come about due to our own stale of confusion as well as influences coming from the philosophy, science, and ideology of modern Western culture and civilization. Intellectual confusion emerged as a result of changes and restriction in the meaning of key terms that project the worldview derived from Revelation. The repercussions arising from this intellectual confusion manifest themselves in moral and cultural discolation, which is symptomatic of the degeneration of religious knowladge, faith and values”.

Tantangan terbesar di abad ini adalah kerusakan ilmu yang terjadi dikarenakan adanya pengaruh dari fisafat, sains, dan ideologi yang bersumber dari kebudayaan dan peradaban Barat modern. Kebingungan intelektual mencuat sebagai hasil dari westernisasi illmu yang mengakibatkan kebingungan yang berkepanjangan sehingga berusaha merubah tatanan moral yang sesuai dengan jerit hawa nafsunya (freedom) yang menjadikan ummat Islam mengami degradasi nilai dan moral yang cukup parah.[5]

Gaya pemikiran Barat ini bukan hanya melawan fitrahnya sebagai manusia, bahkan  mereka berusaha merusak worldview Islam dengan mengalihan tujuan mencari ilmu yang sebenarnya yakni untuk beribadah Lillah. Al-Attas kemudian mengungkapkan pandangannya mengenai Barat: “Ilmu yang bermasalah itu akhirnya telah kehilangan tujuan hakikinya karena tidak digunakan dengan adil. Akibatnya bukan kedamaian dan keadilan yang dibawanya melainkan kekacauan dalam kehidupan manusia. Ilmu yang terlihat benar ternyata lebih produktif kearah kekeliruan dan skeptisme. Ilmu yang seharusnya selalu membuat sejarah, nampaknya malah membawa ketidak harmonisan pada isi alam semesta”[6]

Melihat adanya problem krusial yang dibawa oleh westernisasi Barat, Al-Attas kemudian berupaya memberikan tawaran penyembuh yang ia sebut dengan Islamization of Contemporery Knowladge (Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer) yang ia definisiakan:

Islamization is the liberation of man first from magical, mythological animistic, national cultural tradition opposed to Islam, and then from secular control over his reasonaal his language. The man of Islam is he whose reason and language ore no longer controlled by magic, mythology, animism, his own national and cultural traditions opposed to Islam, and secularism.[7]

Membebaskan manusia dari segala tradisi yang berunsurkan kekuatan sihir (magic), mitologi, animisme, kebudayaan bangsa yang bersinggungan dengan Islam, yang kemudian membebaskannya dari kekangan sekuler yang membelenggu akal dan bahasanya. Orang Islam adalah orang yang akal dan bahasanya tidak perlu dikendalikaan oleh tradisi apapun yang berunsurkan kekuatan sihir, mitologi, animisme, dan kebangsaan dan kebudayaan sekuler yang kontradiktif dengan Islam, Ia juga membebaskanya dari ketaatan diri hayawaniyah yang cenderung kepada sekularisme dan kezaliman dalam dirinya yang sejati yakni jiwanya. Karena manusia melihat pada wujud zahirnya dan lupa akan fitrahnya, sehingga lalai akan tujuan aslinya dan juga sering berprilaku zhalim pada dirinya sendiri. Islamisasi adalah gerakan perubahan (evolution) dan ulasan kebijaksanaan lampau (devolution) menuju sifat aslinya… Jadi, dalam aspek perseorangan, islamisasi merujuk pada apa yang dijelaskan diatas, dimana Rasulullah Saw merupakan tauladan terabaik dan paling sempurna; sedangkan dalam segi masyarakat dan sejarahnya, islamisasi merujuk pada Ummat yang berusaha menerapkan mutu akhlak (moral an ethical quality) menuju masyarakat yang sempurna seperi apa yang telah di contohkan Rasulullah Saw.”

Merujuk pada definisi di atas, sudah sepatutnya difahami bahwa meskipun islamisasi ilmu kontemporer melibatkan gerakan dewesternisasi yang selektif, namun pada dasarnya merupakan sebuah proses yang kembali kepada pandangan alam merafisik, kerangka epistemik, dan prinsip-prinsip akhlak dan hukum Islam. Sayangnya, islamisasi sering dibatasi pada masalah hukum fiqih atau pendirian institusi sosial-politik, dan  ilmu yang salah  yang hanya di pusatkan dengan fakta, sains dan teknologi. Ilmu yang merupakan satu-kesatuan yang saling terkait yang berkenaan dengan segala sesuatu yang dapat dipahami oleh akal (intellegence) dan dirasakan oleh pancaindera, yang hadir pada jiwa manusia atau ketika jiwa manusia datang kepadanya, pasti tidak akan bersifat bebas nilai (neutral), karena maknanya secara alami berkaitan dengan kemampuan dan kesiapan jiwa manusia dalam menyerapinya dan juga berkaitan dengan pandangan alamnya.[8]

Namun hakikat sebenarnya (real essences) dari segala sesuatu atau fakta nyata yang merupakan sekumpulan makna bukanlah hanya khayalan belaka, melainakan hakikat yang menyeluruh (kulli) dan objektif yang kehadirannya tidak bergantung pada design pemikiran manusia. Fakta, sains dan teknologi mungkin ada yang baik dan buruk, juga ada yang baik dan yang salah, namun akan memberikan manfaat secara langsung apabila ditafsirkan dan digunakan secara wajar dengan framework wordview Islam, sehingga dapat membuatnya lebih bermakna, adil dan bijaksana.[9]

Rumusan Islamisasi ilmu Al-Attas secara teknis memiliki empat tahapan yang harus dilalui. Tahap pertama adalah Islamisasi yang harus dimulai dari tataran individu yang perlu dibebaskan dari pemikiran magis, mitologis, animis, kultur anti-Islam, dan pemikiran yang sekuler. Selain itu islamisasi individu ini harus memposisikan dirinya sebagai manusia. Yang mana hal ini dapat terlaksana apabila manusia itu dapat mengenal baik fitrahnya, baik muamalah ma’annas dan muamalah ma’allah.[10] Tahapan kedua dalam menjajaki proses Islamisasi adalah dengan mengislamkan bahasa, bahasa memiliki peran yang signifikan dalam mempengaruhi worldview seseorang.

Kemudian pada tahapan ketiga, setelah islamisasi bahasa, kita kemudian beralih pada Islamisasi pandangan alam (wordview)..[11] Pada tahapan terakhir, setelah wordview Islam yang kompeherensif telah terbangun dalam pikiran setiap manusia, maka kemudian akan lahir ilmu pengetahuan yang terislamkan. Mengislamkan akal dan worldview para ilmuwannya menjadi prasyarat wajib dalam lahirnya ilmu-ilmu yang terislamisasikan. Sebagai catatan, mengislamkan ilmu pengetahuan hanyalah berlaku bagi “ilmu pengetahuan kontemporer” yang terpengaruh oleh Barat.[12]

Melihat konsepsi yang dijelaskan diatas, maka islamisasi ilmu merupakan sesuatu yang perlu dan dianggap perlu apabila ilmu modern telah terbukti menimbulkan masalah yang serius terhadap cara pandang, nilai sosial, dan kepercayaan diri dari masyarakat kita (umat Islam). Tapi masalahnya, fakta yang terjadi sekarang adalah ilmu modern telah menimbulkan banyak masalah yang serius dangan “sekularisasi ilmunya” yang menghasilkan segala kosekuensi yang berbahaya. Maka dari itu, islamisasi memang perlu dilakukan agar dampak negatif dari ilmu-ilmu yang telah tersekulerkan dapat dikendalikan dan dihindari.[13]

Referensi

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. 1980, The Concept of Education in Islam, Petaling Jaya: Muslim Youth Movement of Malaysia.

____. 1989, Islam and the Philosophy of Science, Kuala Lumpur: ISTAC.

____. 1995, Prolegomena To The Metaphysics Of Islam: An Explosition Of The Fundamental Elements Of The Worldview Of Islam, Kuala Lumpur: ISTAC.

____. 2019, Islam and Secularism, Kuala Lumpur: Ta’dib International.

Bahtiar, Tiar Anwar. 2018, Jas Mewah: Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah & Dakwah, Yogyakarta: Pro-U Media.

Daud, Wan Mohd Nor Wan. 2017, Peran Universiti: Pengislaman Ilmu Semasa, Penafibaratan dan Penafijajahan, Kuala Lumpur: CASIS-HAKIM.

____. 2019, Budaya Ilmu: Makna dan Manifestasi dalam Sejarah dan Masa Kini, Kuala Lumpur: CASIS.

Kartanegara, Mulyadi. 2007, Mengislamkan Nalar, Jakarta: Penerbit Erlangga.

Footnotes

[1] Wan Mohd Nor Wan Daud, Peran Universiti: Pengislaman Ilmu Semasa, Penafibaratan dan Penafijajahan (Kuala Lumpur: CASIS-HAKIM, 2017), bk. 33.

[2] Wan Mohd Nor Wan Daud, Budaya Ilmu: Makna dan Manifestasi dalam Sejarah dan Masa Kini (Kuala Lumpur: CASIS, 2019), bk. 94.

[3] Daud, Peran Universiti: Pengislaman Ilmu Semasa, Penafibaratan dan Penafijajahan, bks. 33–34.

[4] Ibid., bk. 34.

[5] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Prolegomena To The Metaphysics Of Islam: An Explosition Of The Fundamental Elements Of The Worldview Of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), p. 15.

[6] Ibid., p. 127.

[7] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: Ta’dib International, 2019), p. 44.

[8] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, The Concept of Education in Islam (Petaling Jaya: Muslim Youth Movement of Malaysia, 1980), bk. 17.

[9] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam and the Philosophy of Science (Kuala Lumpur: ISTAC, 1989), bks. 18–25.

[10] Tiar Anwar Bahtiar, Jas Mewah: Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah & Dakwah (Yogyakarta: Pro-U Media, 2018), p. 329.

[11] Ibid., p. 330.

[12] Ibid., pp. 331–2.

[13] Mulyadi Kartanegara, Mengislamkan Nalar (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2007), p. 9.

Martin Putra Perdana

Martin Putra Perdana

Penulis aktif jurnal dan proceeding nasional dan mahasiswa kandidat Magister Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Artikel Terkait:

TOP