Kaji Makna Virtue, Freedom & Happiness, Mahasiswa Pascasarjana Bedah Prolegomena Al-Attas

PPs UNIDA Gontor – Pada Senin pagi, 8 April 2019, mahasiswa Program Pascasarjana Unida Gontor kembali mengadakan kajian kitab Prolegomena to the Metaphysics of Islam, magnum opus karya Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Menghadirkan bapak Direktur Pascasarjana, Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil, acara ini diselenggarakan di Teras Peradaban, asrama Ali bin Abi Thalib lantai 2.

Pada kajian kali ini, Dr. Hamid membedah beberapa elemen kunci Worldview Islam seperi yang dipaparkan Prof. al-Attas. Diantaranya adalah makna virtue (fadhīlah), freedom (ikhtiyār) dan happiness (sa’ādah). Ini penting, karena makna mencerminkan worldview dalam melihat realitas dan kebenaran.

Virtue (fadhīlah) menurut Prof. al-Attas adalah aktifitas jiwa yang dipandu oleh jiwa intelek berdasarkan tuntunan agama. Intelek juga merupakan substansi spiritual yang dengannya jiwa rasional memiliki kemampuan, daya, dan visi untuk mengenal kebenaran dan membedakannya dengan kesalahan.

Selanjutnya, Dr. Hamid menguraikan makna kebebasan. Kebebasan dalam Islam berarti ‘memilih yang baik’ (ikhtiyar). Sebagaimana dijelaskan sesuai akar katanya yaitu khayr, ikhtiar menghendaki pilihan yang tepat dan baik akibatnya. Oleh karena itu, orang yang memilih keburukan, kejahatan, dan kekafiran itu sesungguhnya telah menyalahgunakan kebebasannya. Sebab, pilihannya bukan sesuatu yang baik (khayr).

Lebih jauh beliau menjelaskan mengapa dalam dunia beradab manusia tidak dibiarkan memilih menjadi kafir, tidak pula bebas untuk memilih maksiat dan kedzaliman, walaupun ia dimungkinkan melakukannya. “Perlu ditekankan, iman tidak bercampur dengan maksiat. Siapa yang mencuri, maka ketika itu hilang imannya. Karena diantara makna iman adalah mengingat Tuhan, ikrar dengan lisan, dan berbuat hal yang benar dengan raganya”, tegas murid langsung Prof. Al-Attas ini.

Konsep berikutnya adalah kebahagiaan. Saat ini, beliau menyebut, konsep ini banyak disalahartikan. Apalagi dengan munculnya indeks kebahagiaan di Barat, yang indikator ada pada pendidikan, pekerjaan, bisa membayar pajak, menyekolahkan anak, hidup berkecukupan, terlalu kuantitatif sebagai efek dari paradigma positivisme. Ini contoh secular virtue.

Kaji Makna Virtue, Freedom & Happiness, Mahasiswa Pascasarjana Bedah Prolegomena Al-Attas

Mahasiswa Program Pascasarjana UNIDA Gontor  Bedah Prolegomena Al-Attas bersama Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Ed., M.Phil

Padahal kebahagiaan bukan sekadar mengenai unsur fisik, bukan juga mengenai jiwa hewan dan raga manusia, bukan juga kondisi akal ataupun perasaan yang mengalami berbagai kondisi, bukan juga kesenangan dan hiburan. Kebahagiaan terkait dengan keyakinan tentang Kebenaran Akhir dan melakukan aksi yang sesuai dengan keyakinan tersebut.

“Konsep ini berkaitan dengan ketenangan ketika jiwa pasrah dan tawakkal kepada Tuhan semata, sebagai konsekuensi dari makna kebebasan. Apalagi makna utama Islam adalah berserah diri, tidak takut kepada selain Allah swt, baik kepada manusia, keadaan, dan lainnya”, imbuh Doktor jebolan ISTAC Malaysia ini.

“Iman already implies consciousness of God and remembrance of Him that brings about a condition of tranquility in the soul”, Ungkap beliau mengutip Prof. al-Attas. Dalam Prolegomena hal. 35 juga disebutkan statemen untuk menguatkannya, “Happiness as known in the experience and consciousness of those who are truly submissive to God and follow His guidance is not an end in itself because the highest good in this life is love of God”.

Di akhir kajian, tak lupa Dr. Hamid memberikan motivasi kepada mahasiswa pascasarjana. “Semester akhir jangan lama lama-lama menulis. Di Barat hanya 1 tahun. Selesai, segera ambil S3, berprestasi, menulis, seminar nasional. Apalagi melihat administrasi kedosenan ke depan, seperti sertifikasi kepangkatan yang semakin ketat. Karir anda menunggu”, papar beliau.

Terkait tips menulis thesis yang baik dan cepat, beliau menghimbau mahasiswa agar komitmen mencari materi dan buku-buku yang berkaitan dengan judul penelitian yang disukai. Lalu membuat kuotasi darinya, yang ke depan pasti akan dipakai, baik sebagai kutipan langsung maupun tidak langsung.

“Terpenting, mendapatkan problem statement, maka kajian pustaka juga sangat penting untuk menemukan formulasi masalah. Setelah itu buat draft awal, mulai menulis, dan segera konsultasikan”, ujar penulis Misykat ini. [Muhammad Faqih Nidzom]

Berita Lainnya: