Karantina Doktoral Dicanangkan Semester Ini

Sabtu pagi (6/11), Program studi Doktoral Aqidah dan Filsafat Islam mengadakan agenda orientasi dalam kesempatan memulai kegiatan semester genap kali ini. Acara ini diikuti oleh segenap mahasiswa doktoral. Orientasi ini dibuka oleh direktur pascasarjana, Dr. Kholid Muslih. Beliau menyampaikan bahwa ilmu itu bakhil, tidak memberikan sebagian darinya kecuali seorang thalibu-l-‘ilmi memberikan totalitas dirinya. Maka harga yang dibayar berat, harus dengan dzullu atta’allum (kepenatan) dan masyaqqah (kesulitan). Hal itu wajar karena pencapaian dari ilmu itu rif’ah, maka hanya ulama yang mempunyai posisi ini. Balasannya bukan main, hingga malaikat dan makhluk-makhluk lainnya semuanya ikut mendoakan thalibu-l-ilmi. Sebagaimana setara dengan harga surga yang mahal (sil’atullah ghaliah, ala wa hiya al-jannah). Dengan kata lain, ilmu tidak bisa digapai dengan sambilan atau sisa-sisa waktu, melainkan dibutuhkan tafarrugh (meluangkan waktu khusus). Maka waktu dan tenaga yang terbaiklah yang kita berikan untuk ilmu. Dibutuhkan fokus dan komitmen dalam menyusun disertasi, sebagaimana kegiatan mengajar sudah dikurangi, demikian pula tugas pondok lainnya. Ini semua agar bisa produktif dan menghasilkan disertasi final yang berkualitas.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pembukaan karantina penulisan disertasi oleh Kaprodi Dr. Jarman Arroisi. Beliau menyampaikan bahwa Karantina ini sebagai bentuk percepatan dan bukti keseriusan dalam menyelesaikan studi. Misinya adalah menumbuhkan minat diskusi antar mahasiswa, menjadikan penyelesaian studi (disertasi) menjadi prioritas, sekaligus mengaktifkan budaya membaca, menulis, dan meneliti. Tanpa diskusi, kita merasa paling tahu apa yang dibaca, dan dengan diskusi hasil bacaan kita akan berkembang lagi. Kebiasaan untuk bertanya dan sharing hasil bacaan dengan rekan mahasiswa harus terus ditumbuhkan. Ke depannya akan selalu ada pembimbing yang mendampingi proses karantina setiap hari Sabtu sampai Senin. Waktu penulisan tersedia luas dan bisa ditambahkan lebih dari jam 16.00, sehingga total bisa mencapai 16-18 jam per hari. Keseriusan dan kesungguhan itu akan menjadi standar pekerjaan mahasiswa doktoral.

Di akhir, beliau menyampaikan pesan dari Pimpinan Pondok harusnya bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Jamak diketahui bahwa perjuangan tidak layak diganggu dengan kemalasan, ijhad wa la taksal. Harapan ke depan, tahun ini program doktoral AFI UNIDA mampu meluluskan doktor-doktor yang berkualitas.

(Amir Reza Kusuma)

Amir Reza Kusuma

Amir Reza Kusuma

Seorang kandidat magister Aqidah dan Filsafat Islam di Universitas Darussalam Gontor, pecinta bola, dan staf pascasarjana prodi Doktoral
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Artikel Terkait:

TOP