Khot, Media untuk Menumbuhkan Ruh Tasabuq mahasiswi IZU Turki

Khot untuk ruh tasabuq

UNIDA Gontor – Sudah lebih dari sebulan para mahasiswi IZU Turki mengikuti Program Intensif Pembelajaran Bahasa Arab di Unida. Perkembangan kemampuan mereka cukup menggembirakan. Dengan waktu yang realtif singkat mereka dapat meningkatkan kemampuan mereka sampai pada level mutawasith a’la, demikian penjelasan ustadz Alfi Mamduh, mahasiswa pascasarjana yang menjadi ketua pelaksana program ini.

Selain belajar bahasa Arab, mahasiswi IZU Turki juga mempelajari materi lain, salah satunya Khot. Materi khat adalah materi tambahan di luar materi bahasa Arab dan materi penunjang bahasa Arab. Materi ini diajarkan dua kali seminggu. “materi khot diajarkan pada hari Sabtu dan Senin mulai pukul 2 siang sampai pukul 3”, jelas ustadz Syafi’i, salah satu pengajar yang juga mahasiswa pascasarjana Unida.

Pelajaran khot dimulai dengan pengenalan teori dan teknis selama dua pertemuan. Selanjutnya materi pelajarannya adalah koreksi tulisan dan praktik menulis secara langsung. Setiap pertemuan akan ada koreksi tulisan oleh pengajar. “di kelas itu koreksi tulisan sedangkan praktiknya di asrama”, jelas ustadzah Riza Nurlaila, mahasiswa pascasarjana yang menjadi salah satu pengajar khot. Saat di kelas para mahasiswi dibagi kedalam tiga kelompok untuk mempermudah proses koreksi. Karena ada tiga orang pengajar untuk materi khot, yaitu ustadz Muhammad Nur, ustadz Syafi’i dan ustadzah Riza Nurlaila. Mahasiswi pascasarjana PBA ini juga biasa melakukan koreksi di luar waktu pelajaran karena tinggal bersama dengan mahasiswi Turki di asrama.

Baca juga: 

A Joint Forum Indonesia-Turkey: Wadah Diskusi Mahasiswa HI dan IZU

Wawancara Ketua Panitia A Joint Forum Indonesia-Turkey

Meski para mahasiswi ini berasal dari negara yang menjadi pusat pembelajaran khot tidak semua dari mereka pernah belajar khot. Ustadzah Riza menjelaskan bahwa materi awal yang diajarkan kepada mereka adalah Khot Riq’ah, karena mereka adalah pemula. Ini sesuai dengan yang diajarkan oleh Syekh Belaid Hamidi. “kami menerapkan, untuk pemula di Khot Riq’ah karena itu termasuk khot yang mudah untuk dipelajari dan termasuk khot yang paling dasar”, ujar ustadz Syafi’i menambahkan.

Untuk membuat suasana pembelajaran lebih menarik para pengajar biasanya memperlihatkan karya-karya para khathaht dari Turki atau karya santri-santri Gontor. Dalam beberapa kesempatan, para pengajara juga berbagi pengalaman mereka di saat berlatih khot. Selain itu para pengajar juga menumbuhkan jiwa untuk berkompetisi di antara mereka. “Kami mengusahakan untuk selalu menanamkan ruh musabaqoh antar individu dan antar firqoh dengan cara menghitung kertas-kertas latihan mereka dan merekap sejauh mana huruf yg mereka tulis, agar mereka semangat juga”, jelas ustadzah Riza. Metode lainnya adalah dengan memberi mereka hadiah berupa tulisan nama mereka.

“Kalau saya lebih tertarik materi khot (daripada fotografi)”, ujar Cise Nur CIMEN, salah satu peserta yang menulis menggunakan tangan kiri. Ustadzah Riza menjelaskan bahwa tidak sedikit dari mereka yang mengalami kesulitan saat berlatih. Khsusnya bagi para peserta yang menulis menggunakan tangan kiri seperti Cise. Namun itu semua tidak mengurangi semangat mereka untuk berlatih. Perkembangan kemampuan menulis mereka bervariasi. Ada yang berkembang pesat dan ada yang perkembangannya lambat.[Atqiya]

Wawancara Eksklusif dengan Mahasiswi IZU Turki

Bi`ah Lughawiyah, Faktor Peningkatan Bahasa Arab Mahasiswi IZU Turki

Beda ‘Idul Adha di Indonesia dan Turki, Kesan Mahasiswi IZU Turki

Hikmah ‘Idul Adha: Mengambil Ibrah dari Kisah Nabi Ibrahim