Konsep Kebahagiaan dalam Islam

Konsep Kebahagiaan dalam Islam

Oleh : Cep Gilang Fikri Ash-shufi

Konsep kebahagiaan merupakan salah satu elemen dari pandangan hidup. Ia akan terkait dengan segala perbuatan dan tingkah laku manusia. Istilah kebahagiaan juga merupakan hal yang banyak dijelaskan dalam al-Qur’an agar manusia bisa menggapai kebahagiaan hakiki dibanding kebahagiaan semu. Hal inilah yang secara mendasar, mengapa kita perlu memahami konsep kebahagiaan. Selain itu, alasan lain adalah adanya arus pemikiran Barat, khususnya oleh para psikolog mereka, yang membawa pemahman sekuler dalam konsep ini. Namun, pemaknaan mereka tidak luput dari berbagai permasalahan. Veenhoven, seorang psikolog barat Modern menyatakan bahwa negara-negara Eropa (Barat) kebingungan dalam menemukan konsep yang sebenarnya tentang kebahagiaan. Seringkali kebahagiaan yang mereka konsepsikan sangat kontras dengan berbagai fakta-fakta lapangan. Salah satu contohnya adalah Problem bunuh diri di negara Amerika yang menjadi tren mengkhawatirkan. Hal ini menjadi salahsatu sebab para Psikolog terus merevisi makna kebahagiaan. Untuk itu, Apa makna kebahagiaan dan bagaimana meraihnya menurut Islam, secara ringkas akan dipaparkan dalam tulisan ini.

Kebahagiaan dalam Islam dijelaskan dalam al-Qur’an dengan berbagai Istilah, yang semuanya mencakup kebahagiaan di Dunia dan Akhirat. Istilah-istilah ini menjelaskan karakteristik atau sifat-sifat kebahagiaan itu sendiri. Hal itu, di antaranya diungkap dengan kalimat  ḥayātan thayyibah (kehidupan yang baik),[1] lā yaḍillu walā yasyqā (tidak akan sesat dan tidak akan celaka),[2] farihīna (mereka bergembira),[3] yastabsyirūna,[4] sa’īd,[5] syifāun limā fī shudūr (penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada).[6]Dr. Abdurrahman bin Mu’allā al-Lawaihiq,memberi kesimpulan atas makna kebahagiaan dari Ayat-ayat tersebut, bahwa menurut beliau, kebahagiaan dalam Islam merupakan ketenangan jiwa, tuma`nīnah hati, kelapangan hati, yang dihasilkan dari istiqāmahnya ‘amaliyah zhāhiriyah dan bāṭiniyyah yang didorong oleh kekuatan iman.[7]Istilah-Istilah tersebut, tidak memiliki pengertian yang bersebrangan sebagaimana yang dipahami di Barat, mengingat menyatukan kebahagiaan di dunia hingga terhubung kepada kebahagiaan di Akhirat.

Dari berbagai karakteristik kebahagiaan tersebut, para Ulama sering menyebut kebahagiaan dalam Islam dengan istilah al-Sa’ādah. Di antara yang menggunakan istilah tersebut adalah Imam al-Ghazāli. Beliau menjelaskan bahwa kebahagiaan (al-sa’ādah) adalah ketika seseorang mengenal dirinya (ma’rifah al-Nafs). Mengenal diri yang dimaksud bukan secara lahiriyah, seperti mengetahui anggota badan sendiri, melainkan mengenal diri secara bāṭiniyyah atau rūḥiyyah. Dalam arti, mengenal siapa dirinya (makhluk Allah), dari mana datangnya, ke mana akan kembali, untuk apa diciptakan, serta mengenal jalan kebahagiaan dan jalan kesengsaraan. Al-Ghazāli mengatakan, “fa al-wājibu ‘alaika an ta’rif hādza wa ta’rif anna likulli wāḥidin min hāulā`i ghadzā`an wa sa’ādatan” (maka wajib bagimu mengetahui hal ini/ma’rifah al-Nafs dan dari setiap pengetahuan tentang jiwa akan melahirkan kenikmatan dan kebahagiaan).[8]Hal ini mengisyaratkan bahwa kebahagiaan bukan didasarkan kepada materi, melainkan bersifat rūḥiyah atau bāṭiniyyah.

Meraih Kebahagiaan dengan jalan ma’rifatunnafs tersebut mesti ditempuh melalui jalan kenabian, mengingat di dalam nafs terdapat banyak unsur yang saling bersebrangan dan berbeda derajatnya.[9] Al-Ghazāli menyebut bahwa di dalam jiwa manusia terdapat unsur bahā`im, yaitu unsur hewani, yang kebahagiaannya adalah dengan memenuhi makan, minum, tidur, dan nikah. Kedua, manusia memiliki unsur sibā’ (binatang buas), di mana kebahagiaannya adalah menerkam dan membinasakan. Ketiga, unsur syaiṭān, di mana kebahagiaannya adalah dengan membuat makar dan keburukan. Keempat, unsur malāikah, kebahagiaan unsur ini adalah dengan merasakan kehadiran Tuhan. Al-Ghazali mengatakan, mengenal unsur malāikah ini adalah jalan untuk mengenal Allah.[10] Untuk beristiqāmah dalam unsur malā`ikah, diperlukan arahan dan bimbingan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam. Dapat dipahami kebahagiaan dalam pandangan al-Ghazali, yaitu kondisi ruhiyah atau bāṭiniyyah yang mengenal Allah, yang diraih melalui jalan kenabian atau syari’at.

Selain al-Ghazāli, sebelumnya, al-Muḥāsibi juga memberikan penjelasan mengenai kebahagiaan. Menurut beliau, kebahagiaan seorang hamba adalah ketika ia berniat baik kepada Allah (ikhlas) dalam meninggalkan dan mengerjakan sesuatu. Kebahagiaan yang diberikan Allah kepada seorang hamba tersebut berbentuk taufīq (bimbingan ke jalan yang disukai-Nya) dan kebaikan (khair). Ia akan dicintakan kepada ilmu, dikaruniai hati yang takut kepada Allah (isyfāq), akan selalu dibersamai oleh Allah, dikayakan hatinya dengan qanā’ah dan akan diperlihatkan kepada dirinya[11] kecacatannya.[12] Jika dilihat, kebahagiaan dalam pandangan al-Muḥāsibi tidak berbeda dengan definisi-definisi sebelumnya, yaitu ketenangan jiwa yang dihasilkan dari keta’atan yang ikhlas kepada Allah subhānahū wata’ālā.

Hal yang sama dikemukakan oleh Prof Al-Attas, beliau juga menyakatakan bahwa kebahagiaan diistilahkan dengan sa’ādah. Istilah ini menggambarkan kebahagiaan dalam dua dimensi eksistensi, yaitu akhirat dan dunia. Sebaliknya, syaqāwah, merupakan istilah yang merujuk kepada arti kesengsaraan yang besar. Al-Attas menjelaskan bahwa, kebahagiaan akhirat merupakan kebahagiaan yang tertinggi/tak terhingga dan memiliki keterkaitan dengan kebahagiaan di dunia. Beliau menjelaskannya dalam tiga hal. Pertama, kebahagiaan diri (nafs), yaitu dengan memiliki pengetahuan dan karakter yang baik. Kedua, kebahagiaan tubuh (badaniyyah), seperti kesehatan yang baik dan keamanan. Ketiga, hal-hal yang bersifat eksternal (khārijiyyah), seperti memiliki kekayaan dan lingkungan yang mendukung. Ketiga hal tersebut, menandakan bahwa kebahagiaan dunia tidak hanya berkaitan dengan kehidupan sekuler, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan sebagaimana ditafsirkan sebagai tuntunan oleh agama yang sumbernya adalah wahyu.[13] Dapat dipahami bahwa konsep kebahagiaan al-Attas adalah kebahagiaan nafs, badaniyyah dan khārijiyyah yang dibimbing oleh wahyu dan diorientasikan untuk menggapai kebahagiaan tertinggi, yaitu akhirat.

Dari empat pandangan tentang definisi kebahagiaan di atas, dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan hakiki dalam Islam merujuk kepada sesuatu yang sifatnya batiniyah, atau ketenangan jiwa. Jalan mendapatkan kebahagiaan adalah dengan keta’atan kepada Allah. Dr. Abdurrahman menyebutnya dengan istiqāmahnya ‘amaliyah zhāhiriyah dan bāṭiniyyah yang didorong oleh kekuatan iman, Al-Ghazali menyebutnya dengan mengikuti jalan kenabian untuk ma’rifah al-Nafs, Al-Muḥāsibī menyebutnya dengan mengikhlaskan niat dalam mena’ati perintah dan menjauhi larangan-Nya, dan Al-Attas menyebutnya dengan berpegang kepada wahyu.

Beliau (al-Attas) menambahkan bahwa kebahagiaan hamba mencakup kepada jiwa, badaniyah dan khārijiyyah, namun ia sebutkan bahwa hal itu diorientasikan kepada kehidupan ukhrāwi, bukan kehidupan sekuler. Hal ini berarti bahwa Islam mengajarkan bahwa materi dapat memberikan kebahagiaan, seperti makan, minum, menikah dan lain sebagainya, namun tidak menjadikan kehidupan yang sekuler, mengingat semua itu mesti diarahkan untuk mendapatkan kebahagiaan di Akhirat (ultimate happiness). Keahagiaan dalam Islam bersumber dari Allah, di mana Allah akan memberikan ketenangan jiwa kepada hamba-Nya yang mena’ati-Nya.

Evaluasi diri sebagai cara meraih kebahagiaan

Kebahagiaan seorang hamba sebagaimana telah dijelaskan adalah ketika telah mendapatkan ketenangan jiwa dari Allah setelah ia mendekati-Nya. Dalam bartaqarrub kepada Allah, sebagaimana diarahkan oleh imam Al-Muḥāsibi (Salah seorang guru Imam al-Ghazali) salah satunya adalah dengan muhāsabah al-nafs (evaluasi diri). Beliau, dalam mengingatkan pentingnya bermuhasabah mengatakan, “ḥāsib nafsaka fī kulli khaṭratin”. [14] Muḥāsabah al-Nafs tersebut merupakan hal yang sering dilakukan oleh al-Muḥāsibī, sehingga ia dikenal dan digelari dengan nama (laqob) al-Muḥāsibī.

Konsep Muḥāsabah al-Muḥāsibī ini dibangun atas landasan akal (memfungsikan akal). Al-Muḥāsibi menjelaskan bahwa akal memiliki kedudukan yang tinggi, yaitu merupakan inti dari manusia. Beliau berkata, likulli syai`in jauharun wajauharul insān al-‘aqlu, wajauharu ‘aqli al-taufīq.[15] (segala sesuatu memiliki intinya, dan inti manusia adalah akalnya, dan inti akal manusia adalah taufīk). Ungkapan menarik ini akan dipahami setelah memahami penjelasan al-Muḥāsibi mengenai konsep muḥāsabah al-nafsnya.

Sebagaimana telah diketahui, Islam memposisikan akal dalam kedudukan yang tinggi. Banyak ayat al-Qur’an yang menunjukkan keagungan akal, di antaranya Q.S. al-Baqarah: 73, Q.S. Yunus: 24, Q.S. Al-An’am: 98, dan yang lainnya, di mana ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa akal seyogianya diperuntukan untuk beriman. Hal ini yang dimaksud oleh al-Muḥāsibi, bahwa tanpa menggunakannya dengan baik, keimanan kepada Allah tidak akan tertanam dengan baik pula. Itulah mengapa al-Muḥāsibi menyebut bahwa inti dari akal adalah al-Taufīq (akal yang mengarahkan kepada kebaikan). Maka, jika seseorang dengan akalnya tidak bisa mendekatkan diri kepada Allah, ia tidak mengetahui hakikat (inti) dari akal itu sendiri.

Al-Muḥāsibi menjelaskan bahwa muḥāsabah al-nafs dilakukan dengan menggunakan akal untuk membentengi jiwa dari kejahatan-kejahatan atau keburukan-keburukan.[16] Seseorang yang memfungsikan akalnya, dengan ilmu dan pengetahuan, akan mampu mengalahkan hawa nafsu dan syahwat atau keburukan-keburukan jiwa. Seseorang yang dapat menghilangkan sifat kidzb (dusta) dari hatinya adalah ia yang mengetahui bahwa Allah maha melihat dan mendengar. Sehingga, ia merasa takut akan beratnya pertanggungjawaban di hadapan Allah jika ia berdusta. Hal yang sama dalam menghiasi jiwa dengan sifat syukr. Seseorang dapat bersyukur ketia ia mengetahui bahwa nikmat yang ia dapat berasal dari Allah. Selain itu, dalam bersabar, seseorang memiliki sifat tersebut karena ia mengetahui bahwa Allah maha Adil. Sehingga, dengan berbagai cobaan dan musibah yang diberikan kepadanya, ia mengetahui ada kebaikan (khair) di balik hal itu.[17] Dengan demikian, dasar dari jiwa yang baik adalah pengetahuan dan ilmu yang terdapat di dalam akal.

Al-Muḥāsibi, sebagaimana dinukil oleh al-Junaid, menjelaskan cakupan dalam Muḥāsabah. Beliau menyebut bahwa muḥāsabah dilakukan dalam empat hal; Pertama untuk mengukur kadar apakah lebih banyak kadar keimanan daripada kekufuran. Kedua, untuk mengukur kadar kejujuran dan dusta. Ketiga, untuk mengukur kadar tauhid dan syirik. Keempat, untuk mengukur kadar ikhlas dan riyā.[18] Evaluasi diri tersebut tentusaja bertujuan mempertahankan dan meningkatkan keempat unsurnya, yaitu; keimanan, kejujuran, ketauhidan dan keikhlasan. Dari keempat unsur itulah akan mengantarkan kepada kebahagiaan di Dunia dan di Akhirat.

 Hubungan Muḥāsabah Al-Nafs Dengan Kebahagiaan

Seseorang yang menjernihkan hatinya dari berbagai keburukan, ia akan diliputi oleh ketenangan dan kebahagiaan yang diberikan Allah. Imam al-Muḥāsibi berkata, “..maka ketika itulah akal mendapatkan bashirah, hati bertambah yakin, jiwa lebih ‘ālim, ia dapat menyaksikan bahwa Allah berkehendak kepada hamba-Nya dengan sebaik-baiknya, hatinya mengetahui bahwa keadilan berasal dari Allah, orang yang mengetahui keadilan Allah maka anggota badannya membisu untuk melawan-Nya, dan hatinya akan bergembira atas keputusan-Nya.”[19] Kebahagaiaan batiniyah tersebut, bentuknya  adalah ridlanya hati akan keputusan Allah. 

Dari pernyataan tersebut, dapat dipahami bahwa ketenangan dan ketentraman jiwa tidak didapat karena terpenuhinya kebutuhan dan kepuasan hidupnya. Ia hadir baik dalam kondisi yang secara lahiriyah menyakitkan atau menyenangkan. Sebagaimana digambarkan di atas, yaitu dalam bersabar dan bersyukur. Seorang hamba yang bahagia, adalah ketika dalam kondisi menyakitkan bersabar, dan dalam kondisi yang dipenuhi kenikmatan ia bersyukur.[20] Dengan kedual hal ini, hati seseorang akan tetap stabil, bahkan dalam kondisi sedih dan cemas sekalipun.

Keimanan, sebagaimana menjadi salah satu aspek yang dimuhasabah, secara Psikologis akan menyehatkan jiwanya. Tendensi jiwa yang cemas karena berorientasi dunia luar, dengan keimanan, akan alihkan ke arah dunia dalam (bātiniyyah). Berbagai persoalan dunia yang membuat jiwa menjadi kacau akan disembuhkan karena jiwanya tidak lagi berorientasi kepada diri sendiri (self centered), melainkan berorentasi pada Allah (god centered).[21] Oleh karena itu, Allah menyandingkan kalimat alladzīna āmanu dengan ta’thmainnu qulūbuhum bidzikrillah.[22] Hal ini menunjukan bahwa keimana adalah landasan seseorang untuk berdzikir kepada Allah, dan ketika itulah ia akan mendapatkan ketenangan jiwa, (alā bidzikrillāh taṭmainnu al-qulūb).[23]

Bahkan, bagi seseorang yang memiliki gangguan jiwa, stress dan lain sebagainya, aktivitas spiritual merupakan terapi yang melebihi psikoterapi seperti biasanya. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Prof. Dadang Hawari, seorang psikiater Indonesia, beliau menjelaskan bahwa do’a dan dzikir mengandung unsur spiritual yang dapat membangkitkan harapan dan rasa percaya diri pada jiwa seseorang yang sakit, di mana keduanya akan meningkatkan kekebalan tubuh dan mempercepat proses penyembuhan.[24]

Hal yang sama dikemukakan oleh NAMI (national Alliance on Mental Illness),[25] sebuah organisasi yang fokus pada kesehatan mental penduduk Amerika. Mereka menyatakan bahwa keberagamaan dan spiritualitas memiliki dampak positif terhadap kesehatan mental. Agama memberikan manusia sesuatu yang dapat dipercaya. Aspek ini, setelah diteliti berdampak positif pada kesehatan jiwa, sehingga dapat mengurangi tingkat bunuh diri, mengurangi penggunaan alkohol dan penggunaan narkoba. Selain itu, NAMI menyebut dampak positif beragama terhadap tanggjungjawab individualitas, refleksi dan meditasi diri, dan meningkatkan kesadaran interaksi dengan lingkungan fisik. Secara tegas, NAMI menyimpulkan bahwa agama dan spiritualitas dapat membantu seseorang meningkatkan kesehatan mental dan meningkatkan pemulihan jiwa.[26]

Jika dicermati, pandangan-pandangan di atas sejalan dengan pandangan hidup Islam. Worldview Islam menggabungkan antara dunia dan akhirat, di mana aspek dunia tidak bisa dipisahkan dengan aspek akhirat. Segala yang dilakukan di dunia mesti diarahkan untuk tujuan ukhrawi.[27] Hal ini, dicerminkan oleh seseorang yang senantiasa menghisab diri. Dengan memelihara keimanan, keikhlasan, kesabaran, dan ketauhidan, sebagaimana dalam tujuan muhāsabah al-nafs akan menjadikan kehidupan seseorang berorientasi ultimate happiness (akhirat) dan berdimensi ilahiyah. Dengan orientasi akhirat dan ilahiyah inilah, berbagai perso’alan dunia yang dapat membuat resah, stress dan lain sebagainya, akan dapat disembuhkan, karena jiwanya tidak lagi berorientasi dunia atau materi semata.

Zeenat Ismail dan Soha Desmukh, meneliti hubungan antara religiusitas dan kesejahteraan Psikologis. Penelitian ini dilakukan kepada penduduk Muslim Pakistan, sebagai sampelnya. Religiusitas dioperasionalkan dengan menghadiri pertemuan keagamaan, menyadari arti penting kepercayaan dan frekuensi shalat. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa orang-orang yang religious cenderung merasa tidak kesepian, merasa tidak cemas dan lebih memilih ketenangan atau kepuasan dalam hidupnya. Penelitan ini, sebagaimana disimpulkan oleh keduanya, menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara religiusitas seseorang dan kesejahteraan Psikologis.[28]

Secara keseluruhan, memelihara keimanan, ketauhidan, sabar dan syukur, sebagaimana dalam muhasabah al-nafs akan memberikan kebahgiaan hakiki. Di dunia, ia diberikan kebahagiaan berupa ketenangan, kesehatan, ketentraman hati, dan di Akhirat ia akan mendapatkan surga Allah. Islam tidak menafikan kebahgiaan materi dan jasmani, namun keduanya bukan kebahagiaan yang inti. Bagi seorang Muslim, hidupnya di dunia merupakan sarana untuk menggapai kebahagiaan abadi. Oleh karena itu, ketika seorang Muslim diberikan kesusahan dan kesedihan di dunia, ia tetap bahagia, sebab dengan orientasi ukhrawiyah dan ilahiyahnya, ia menyadari kesusahan dunia adalah ujian yang perlu disikapi dengan sabar. Begitupun, ketika seorang Muslim diberi kenikmatan dengan kecukupan dan kekayaan di dunia, ia akan berbahagia dengan mesyukurinya kepada Allah. Demikianlah Islam, sebagai agama yang satu-satunya diridhai Allah, mengajarkan konsep kebahagiaan yang holistik.


[1] QS. An-Nahl [16]: 97                                                                                            

[2] Q.S. Thaa-Haa [20]: 123

[3] Q.S. Āli-Imrah [03]: 170

[4] Ibid

[5] Q.S. Hud [11]: 105-108

[6] Q.S. Yunus [10]: 57

[7] https://www.alukah.net/web/lwaiheq/0/95208/, beliau adalah Doktor di bidang Budaya Islam, Associate Professor di Fakultas of Syariah di Universitas Imam bin Sa’ud dan di Prince Sultan University. Meneliti dan menulis banyak buku. https://www.alukah.net/web/lwaiheq diakses pada 26-03-2020, pukul 14:07

[8]Abu Hāmid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazālī, Kīmiyā al-Sa’ādah (t.t.: t.p.). 124

[9]Abu Hāmid al-Ghazali, Kimiyā’ al-Sa’ādah, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah Beirut, T.Th). 2

[10] Opcit.  125-126

[11] Diperlihatkan kecacatannya kepada dirinya dalam arti seseorang yang diberikan kebaikan oleh Allah ia akan mengetahui dosa-dosanya, sehingga ia kembali kepada Allah dan bertaubat. Karena termasuk orang yang sesat adalah yang tidak merasa berbuat salah atau dosa, seperti dalam  Q.S. Al-Baqarah: 12, al-A’raf: 95, Yusuf: 15, an-Nahl: 26, an-Nahl: 45 dan yang lainnya,

[12] Teks arab:

 واعلم أن من سعادة المرأ حسن النية فيما عند الله تعالى والتوفيق لمحابه ومن أراد الله به خيرا وهب له العقل وحبب إله العلم, وحباه بالإشفاق واستعمله بالرفق وأغناه بالقناعة وبصّره عيبه.

Lihat: Abū ‘Abdillah al-Ḥārits bin Asad al-Muḥāsibī al-Bashrī, Risālah al-Mustarsyidīn (Bab al-Hudaid: Maktabah al-Nahdlah, 1983). 45,46, 165

[13] Al-Attas, Prolegomena to the metaphysics of Islam. 91-92

[14] “Hisablah dirimu setiap waktu” Abū ‘Abdillah al-Ḥārits bin Asad al-Muḥāsibī al-Bashrī, Risālah al-Mustarsyidīn.

[15] Khatib AL-Baghdadi, Tarikh Baghdad (Beirut: Dar al-Kurub al-’Ilmiyyah). 8: 209

[16] Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah al-Asbahani, Hilyah al-Auliya wa Thabaqat al-Ashfiya (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988). 10: 88-89

[17] Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah al-Asbahani, Hilyah al-Auliya wa Thabaqat al-Ashfiya (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988). 10: 88-89

[18] Ibid

[19] Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah al-Asbahani, Hilyah al-Auliya wa Thabaqat al-Ashfiya. 10: 89

فحينئذ أبصرت العقول وأيقنت القلوب ، وعلمت النفوس ، وشهدت لها العلوم أن الله أجرى بمشيئته ما علم أنه خير لعبده في اختياره ومحبته ، وعلمت القلوب أن العدل من واحد ليس كمثله شيء ، فخرست الجوارح من الاعتراض على من قد علمت أنه عدل في قضائه غير متهم في حكمه ، فسر القلب من قضائه . 

[20] Sebagaimana Sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam, “Urusan seorang Mukimin adalah mengagumkan, semuanya baik baginya; jika ia mendapatkan kebaikan ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa musibah ia bersabar, maka itu baik baginya”  H.R. Muslim

[21] M.A. Subandi, Psikologi Dzikir (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009). 58

[22] Q.S. Ar-ra`d: 28

[23] Ibid

[24] Lihat: Dadang Hawari, al-Qur’an Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa (Yogyakarta: Dhana Bakti Prima Yasa, 2002).

[25] Lihat: https://www.nami.org/About-NAMI diakses pada 28-03-2020 pukul 09:27 WIB

[26] https://www.nami.org/Blogs/NAMI-Blog/December-2016/The-Mental-Health-Benefits-of-Religion-Spiritual diakses pada 28-03-2020 pukul 09:27 WIB

[27] Al-Attas, Prolegomena to the metaphysics of Islam.1-2

[28] Zeenat Ismail & Soha Desmukh, “Religiosity and Psychological Well-Being”, International Journal of Bussiness and Social Science (2012). 20-28