Kritik terhadap Deisme; Dominasi Akal yang Berlebihan.

kritik deisme

Oleh: Khairul Atqiya

Pokok Pemikiran Deisme

Deisme memilki empat pokok pemikiran. Pertama, mempercayai Tuhan namun menolak agama dalam artian agama sebagai suatu institusi atau lembaga. Agama dalam pemahaman deisme adalah apa yang mampu dipahami oleh akal.[1] Beragama menurut deisme adalah menangkap pesan universal yang disampaikan oleh Tuhan tanpa pandang bulu. Setiap individu dapat menerima pesan tersebut selama dia menggunakan akalnya. Karena itu tidak ada otoritas khusus yang dipegang oleh institusi keagamaan atau individu-individu tertentu di dalamnya.[2]

Penolakan terhadap agama secara langsung berpengaruh terhadap sumber agama yaitu kitab suci dan ini menjadi pokok pemikiran yang kedua.[3] Dengan menolak suatu hak khusus bagi seseorang dalam sebuah agama maka secara tidak langsung deisme juga menolak adanya Nabi sebagai utusan Tuhan. Dan karena itu apapun yang dibawa Nabi tidak diterima juga.

Ketiga, deisme menolak hal-hal yang di luar nalar manusia yang berkaitan dengan mukjizat dan hal-hal gaib dalam agama Sebagaiman penolakan terhadap Nabi deisme juga memberikan penolakan kedapa mukjizat sebagai suatu keutamaan seorang Nabi yang diberikan oleh Tuhan. Menurut pemikiran deisme jika seorang Nabi dapat melakukan suatu hal yang luar biasa mereka pasti mampu untuk melakukan hal tersebut. Jika mereka tidak mampu maka seorang Nabi pun tidak mampu dan apa yang dianggap sebagai suatu mukjizat hanyalah dongeng.Dan karena seorang deist percaya bahwa beragama harus menggunakan akal, maka hal apapun yang tak dapat diterima oleh akal tidak dapat diterima sebagai ajaran dalam agama.[4]

Dan keempat, deisme menolak keterlibatan Tuhan dalam proses berjalannya alam semesta, kerana peran Tuhan telah tergantikan oleh hukum-hukum alam yang telah diciptakan-Nya. Seluruh peristiwa yang terjadi di alam telah memiliki penjelasan ilmiah yang menjelaskan sebab terjadinya.

Kritik atas Pemikiran Deisme

Pemikiran-pemikiran deisme tidak dapat diterima karena deisme memposisikan manusia sebagai pusat (antroposentrisme) dan bukan Tuhan (teosentrisme). Selain itu deisme tidak dapat diterima karena meniadakan Tuhan dari alam yang mengakibatkan hilangnya kesakralan alam dan ini merupakan hasil dari antroposentrisme tersebut. Alam hanya dipandang sebagai objek. Dan penyandaran kepada akal secara berlebih sebagai konsekuensi dari antroposentrisme. Akal dijadikan sumber pengetahuan dan sebagai tolak ukurnya. Manusia dibawa untuk mejadi rasionalistik-empiris yang menolak eksistensi aspek-aspek metafisik. Selanjutnya, alasan terkahir deisme tidak dapat diterima adalah sebab kemunculan deisme itu sendiri. Karena deisme muncul sebagai kritik atas ajaran Kristen dan bukan Islam, meski dalam titik tertentu Islam juga mendapat sorotan.[5] Maka membawa paham deisme ke dalam Islam tidaklah tepat.

Deisme menempatkan Tuhan tidak lagi sebagai pusat (teosentris) dan digantikan oleh manusia (antroposentris). Manusia menjadi faktor penentu dan menjadi tolak ukur.[6] Manusia dengan akalnya menjadi penentu segala sesuatu. Saat terjadi fenomena alam yang dilakuakan adalah mencari penjelasan secara ilmiah dengan mengacu kepada ilmu-ilmu produk akal manusia. Alam dengan segala fenomena yang terjadi di dalamnya memang dapat dijelaskan dengan hukum-hukum alam dan ilmu pengetahuan yang ada saat ini. Misalnya teori yang menyatakan bahwa semakin kecil penampang suatu benda dapat menghasilkan gaya semakin besar dapat digunakan untuk menjelaskan kenapa paku dengan ujung yang tajam lebih mudah menembus permukaan benda dibandingkan dengan paku yang tumpul. Atau menjelaskan proses perputaran bumi dan planet lainnya dengan hukum grvitasi. Juga berbagai fenomena alam lainnya yang dapat dijelaskan secara ilmiah.

Baca Juga:

Deisme, Apa Itu? Keberagamaan dengan Akal Budi

Al-Attas Bertemu Lakatos: Merumuskan Metodologi Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Dromologi, Apa itu? Teori Postmodern tentang Budaya Ketergesa-gesaan

Namun hal ini tidak dapat sepenuhnya diterima. Jika menggunakan pemahaman bahwa seluruh fenomena alam dapat dijelaskan secara ilmiah menggunakan ilmu-ilmu yang ada maka pemahaman tersebut akan terbatas hanya pada fenomena-fenomena yang dapat diindera dan masuk akal. Segala hal yang tidak dapat dibuktikan secara empiris dan rasional akan tertolak. Karena di lain sisi, kehidupan manusia tidak terbatas pada hal-hal fisik. Terdapat aspek-aspek metafisika dalam kehidupan manusia. Dan antara keduanya memiliki hubungan yang erat. Ilmu yang rasionalistik-ilmiah perlu untuk memiliki pertimbangan berdasarkan nilai-nilai metafisik untuk menghindari kerusakan. Jika ilmu hanya dipandang sebagai objek kajian untuk memahami alam untuk kemudian dimanfaatkan tanpa pertimbangan pada nilai moral dan kemanusiaan maka ilmu akan menjadi sumber masalah.[7]

Kebersandaran berlebih pada akal mengarahkan deisme kepada penihilan peranan Tuhan dalam alam. Tuhan tidak lagi berperan karena seluruh fenomena alam dapat dijelaskan secara ilmiah. Matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat memiliki penjelasan ilmiah. Bencana-bencana alam dapat ditemukan penjelasan ilmihanya. Jika segala sesautu telah memiliki penjelasan ilmiah atau memiliki sebab ilmiah maka peranan Tuhan telah tergantikan oleh hukum-hukum alam yang berlaku yang menjadi penjelasan bagi fenomen-fenomena alam tersebut. Tuhan tidak lagi dibutuhkan atau dalam bahasa yang lebih halus Tuhan tidak ikut berperan serta dalam proses berjalanya alam semesta karena alam telah memiliki mekanismenya yang sempurna. Bahkan kejadian yang anomalipun dapat ditemukan penjelasanya. Jika benda-benda selalu jatuh kembali ketika terlempar ke atas dan jika ada benda yang dapat melayang dan tidak jatuh sebagaimna seharusnya—seperti pesawat terbang— pasti ada penjelasan secara ilmiah.

Dampak dari penghilangan peran Tuhan dalam alam adalah hilangnya nilai dan kesakralan alam. Ilmu hanya untuk memahami alam untuk berdayakan saja. Nilai-nilai luhur tidak diikutsertakan di dalamnya. Alam hanya menjadi objek ilmiah yang perlu dipahami untuk dieksploitasi. Hal ini memang mendatangkan kemajuan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun sayangnya tidak diikuti dengan bertambahnya kesejahteraan manusia.[8] Dan tidak juga menambah kesadaraan akan nilai-nilai kemanusiaan. Pemikiran ini hanya bertolak pada pengkajian alam untuk ilmu saja.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ajaran dalam paham deisme tidak dapat diterima. Karena pemahaman yang diajarakan deisme membawa manusia menuju arah yang tidak baik. Deisme membawa manusia kepada penyandaraan berlebih pada akal. Penganut deisme adalah penganut pemahaman rasionalistik dan empiris. Pengguanaan akal dan panca indera secara berlebih dengan menolak apapun yang tidak masuk akal atau tidak dapat diindera mengarahkan manusia untuk menolak hal-hal dan aspek metafisik. Penolakan terhadap aspek matafisik membawa kepada penolakan Tuhan dangan aspek matafisiknya. Selanjutnya agama hanya dipahamai sebatas kepada hal yang masuk akal saja. Tuhan yang metafisik tidak dapat diterima keberadaanya pada dunia yang fisik sehingga alam tidak lagi memiliki keterkaitan dengan Tuhan. Akibatnya adalah pengosongan nilai dari alam. Alam hanya dipandang sebagai objek ilmiah untuk dipahami dan dikesploitasi. Pada akhirnya ini membawa kepada bencana kemanusian karena tidak ada kontrol terhadap ilmu pengetahuan dan pemanfaatannya.

[1] Dalam bukunya The Age of Reason (1794) Thomas Paine seorang tokoh deisme mengatakan:

“ I believe in one God, and no more; and I hope for happines beyond this life. I believe in the equality of man; and I believe that the religious duties consist in doing justice, loving mercy, and endeavoring to make our fellow-creatures happy”

Dalam pernyataanya di atas, Piane menyatakan kepercayaanya pada tuhan dan harapanya tentang kebahagiaan di kehidupan setelah mati. Selain itu, dia mempercayai tugas agama sebagai pembawa kebahagiaan bagi makhluk hidup. Terlihat dari pernyataanya Paine adalah seorang yang bergama, dalam artian mengakui keberadaan tuhan dan agama.

Dan pada bagian selanjutnya terdapat pernyataan Paine yang menarik karena bertolak belakang dengan pernyataan yang pertama. Dia mengatakan:

“ I do not believe in the creed professed by the Jewish church, by the Roman church, by the Greek church, by the Turkish church, by the Protestant church, nor by any church that I know. My own mind is my own church. All national institutions of churches, whether Jewish, Christian or Turkish, appear to me no other than human inventions, set up to terrify and enslave mankind, and monopolize power and profit”

Dalam pernyataan ini, Paine menolak ajaran-ajaran gereja. Beragama menurutnya adalah menggunakan akal. Dia menolak isntitusi keagamaan karena menurutnya itu adalah bentuk pengekangan dan perbudakan. Dari dua bagian pernyataan Paine di atas terlihat bahwa dia adalah seorang yang percaya tuhan dan agama tetapi menolak lembaga keagamaan. Dan di bagian lain buku ini dia mengatakan bahwa agama adalah rekayasa manusia mengatasnamakan Tuhan. Baginya agama adalah akal pikiran manusia. Thomas Paine, The Age of Reason, (Luxembourg: 1794), bagian pertama.

[2] Taylor, ERN p. 463.

[3] Dalam hal ini buku The Jefferson Bible oleh Thomas Jefferson dapat menjadi bukti. Buku tersebut ditulis sebagai bentuk penolakan terhadap institusi agama yang menurutnya korup dan menyeleweng dari apa yang diinginkan oleh Yesus.  Thomas Jefferson, Jefferson Bible The Life and Moral of Jesus of Nazareth, (N. D. Thompson Publishing: 1902). Lihat juga pendapat Paine tentang Wahyu, dia mengatakan:

“revelation, when applied to religion, means something communicated immediately from God to man. No one will deny or dispute the power of the Almighty to take such a communicatioan, if he pleases. But admitting, for the sake of a case, that something has been recealed to a certain person, and not revealed to any other person, it is revelation to that person only. When he tells it to a second person, a second to a third, a third to a fourth, and so on, it ceases to be a revelation to all those persons. It is revelation to teh first person only, nad hearsay to every other, and consequently they are not obliged to believe it.”

Dalam pernyataan di atas Paine menyatakan bahwa tidak ada wahyu yang perlu disebarluaskan. Wahyu yang diterima seseorang adalah untuk dirinya. Ketika dia menyapaikan wahyu tersebut kepada orang lain itu bukan lagi wahyu karena itu bersala dari dirinya dan orang yang mendengarkannya tidak dapat memastikan apakah wahyu tersebut benar-benar dari Tuhan. Lebih jauh lagi tidak ada satupun tulisan dalam Injil yang ditulis langsung oleh Yesus. Lihat Thomas Paine, The Age of Reason, (Luxembourg: 1974), bagian pertama.

[4] Karena deisme menyandarkan segala hal pada rasonalitas dan empiris maka hal-hal yang tidak terindera dan tidak masuk akal tidak dapat diterima. Paine mngatakan:

“when I am told that the Koran was written in Heaven dan brought to Mahomet by ana angel, the account comes too near the same kind of hearsay evidence and second-hand authority as the former. I did not see the angel my self, and, thereroe, I hanve a right not to believe”

Dalam pernyataanya Paine tidak percaya kepada malaikat yang membawa wahyu kedapa Nabi Muhammad SAW karena dia tidak melihatnya secara langsung.

[5] Silahkan baca The Age of Reason oleh Thoma Paine dan Jefferson Bible oleh Thomas Jefferson yang dianggap sebagai buku yang mengajarkan deisme. Dalam buku tersebut terdapat banyak kritik terhadapa agama Kristen.

[6] Prof. D. H. Faisal Ismail, Islam, Doktrin, dan Isu-isu Kontemporer (Yogyakarta: IRCiSoD, 2016), p. 330.

[7] Archie J. Bahm seperti yang dijelaskan Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: LESFI, 2016), p. 43-36.

[8] Husain Hariyanto, Paradigma Holistik (Jakarta: TERAJU, 2003), p. 2.