Kuliah Pascasarjana Unida Bersama Direktur IESH Paris

direktur IESH Paaris

UNIDA-Sabtu pagi (12/10), Program Pascasarjana UNIDA Gontor menyelenggarakan nadwah ‘ilmiyyah bersama seorang guru besar asal Perancis, Prof. Ahmad Jaballah. Beliau merupakan seorang akademisi muslim kelahiran Tunisia. Namun demikian, beliau telah tinggal di negeri Napoleon Bonaparte tersebut selama kurang lebih empat puluh tahun hingga saat ini.

Prof. Jaballah adalah lulusan Universitas Zaytuna, Tunisia dan melanjutkan studi di Universitas Sorbonne, Perancis. Saat ini, beliau menjadi direktur di Institut Europeen des Sciences Humaines atau IESH Paris, Perancis. Setelah dua kali mengunjungi Indonesia, dalam kali ketiganya ini beliau berkenan untuk bertandang dan mengisi seminar di UNIDA Gontor.

Dalam seminar kali ini, Prof. Jaballah memaparkan tentang kondisi keberagamaan dan pengajaran Islam di Eropa.

Di daratan Eropa, komunitas Muslim saat ini mengalami perkembangan jika dibanding dengan beberapa dekade sebelumnya. Perkembangan itu terlihat dari sisi kuantitas dan kualitas. Jika dulu jumlahnya sedikit, sekarang telah mengalami peningkatan. Di Perancis sendiri, masjid yang dulunya jarang, kini  terdapat kurang lebih tiga ribu masjid di negeri mode dunia tersebut.

Dari segi kualitas, umat Islam mampu bersaing dengan masyarakat Eropa lainnya. Tidak sedikit di antara mereka yang menjadi akademisi, insinyur, anggota parlemen, bahkan masuk dalam jajaran pemerintahan.

Sebagaimana dipaparkan Prof. Jaballah, eksistensi umat Islam di Eropa bermula saat sebagian mereka memutuskan untuk meninggalkan daerah mereka dalam rangka mencari lapangan pekerjaan. Mereka berasal dari negeri bekas jajahan, seperti Tunisia dan beberapa wilayah Afrika Utara lainnya yang merupakan jajahan Perancis. Ada juga dari Pakistan dan India yang merupakan jajahan Inggris. Selain dalam rangka mencari pekerjaan, ada juga yang hijrah ke Eropa dalam rangka mencari perlindungan dan suaka, seperti Syria.

Memang pada awalnya para imigran tersebut statusnya adalah pendatang. Namun, setelah berganti generasi, keturunan mereka bertransformasi menjadi warga negara yang diakui. Tidak hanya itu, banyak di antara mereka yang berkontribusi baik seperti telah diurai sebelumnya.

Baca juga: Kunjungan Prof. Martin, Pps Unida Kembali Menjadi EO

Prof. Jaballah sendiri menyatakan bahwa memang para pendatang dan keturunannya tersebut memiliki komitmen dan visi yang terpuji: membawa kemaslahatan pada negara yang dituju. Ini juga merupakan cara mereka untuk menerapkan ajaran Islam yang damai, sebagaimana disampaikan dalam al-Quran surat al-Hajj ayat 77, “Dan sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebaikan agar kamu sekalian beruntung.”

Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa berkembangnya umat Islam di Eropa menimbulkan fenomena positif bagia dunia Islam, di antaranya adalah, pertama, kesadaran menutup aurat. Saat ini, pakaian muslim seperti hijab dan gamis mulai banyak diterima, meskipun di beberapa negara masih dicurigai. Kedua, muncul tren makanan halal. Saat ini, untuk mendapatkan makanan bersertifikat hala tidaklah sesulit dahulu, sebab industri makanan mau tidak mau harus melakukan sertifikasi terhadap produknya agar mampu bersaing. Ketiga, munculnya sekolah-sekolah dan yayasan pendidikan Islam.

Banyaknya anak-anak muslim di Eropa menuntut adanya pendidikan Islam. Oleh karena itu, komunitas Muslim mendirikan sekolah-sekolah Islam. Untuk jenjang dasar dan menengah, di Perancis sendiri ada sekolah Islam yang disebut dengan madrasah takmiliyyah. Sekolah ini hampir mirip dengan sekolah sore di Indonesia, di mana pelajaran ilmu syariah diajarkan setelah pembelajaran di sekolah umum usai. Selain itu, ada juga madrasah al-nizamiyah al-islamiyah yang memasukkan pelajaran ilmu syariah dalam kurikulumnya.

Untuk jenjang pendidikan tinggi, di Perancis terdapat Institute for Islamic Science. Terdapat beberapa fakultas yang disediakan dalam institusi tersebut: misalnya fakultas ushuluddin, fakultas syariah, fakultas bahasa arab, fakultas ilmu al-Quran, dan fakutas humaniora. Semua fakultas tersebut tidak hanya pada jenjang strara satu, tapi juga jenjang magister dan doktoral.

“Di tengah-tengah kondisi Eropa yang marak dengan isu Islamophobia, umat Islam di benua tersebut  terus berupaya berkontribusi positif bagi masyarakat di sekitarnya. Dan hasilnya, eksistensi Islam sedikit demi sedikit mulai diakui.” Begitulah kira-kira apa yang dipaparkan Prof. Jaballah dalam seminar kali ini. [Ahmad Rizqi Fadillah]

Al-Attas Bertemu Lakatos: Merumuskan Metodologi Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Nobar Film PKI Diadakan oleh Mahasiswa Pascasarjana UNIDA

Al Hisbah, Peranannya dalam Pengawasan Mekanisme Pasar

Laman Pascasarjana Membuat Inovasi Baru dalam Penerbitan Tulisan