Mahasiswa Pascasarjana Maknai Cita-cita, Perjuangan dan Pengorbanan Trimurti

Oleh, Muhammad Habibie

Dalam rangka menyongsong semester baru, pada hari Ahad (5/6) Teras Peradaban Pascasarjana Unida Gontor mengadakan Halaqah Ilmiyah bersama Al-Ust Hasib Amrullah, M.Ud. Selaku pembimbing Asrama Teras Peradaban, beliau memberikan wejangan kepada mahasiswa Pascasarjana tentang pentingnya memahami niat dan cita-cita Trimurti dalam mendirikan Pondok Modern Gontor dan Universitas Darussalam Gontor.

Ustadz Hasib banyak bertutur tentang cita-cita, perjuangan dan pengorbanan trimurti. Salah satunya adalah kisah perjuangan Trimurti merintis Pondok Modern Darussalam Gontor. Demi mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam yang bermutu dan berarti, Trimurti banyak mengorbankan harta, tenaga, pikiran, bahkan siap mengorbankan nyawanya. “Jangan sekali-kali kalian mengaku berjuang kalau belum berkorban apa-apa”, pinta beliau. Selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa falsafah kehidupan yang selalu digelorakan oleh Gontor bukanlah kata-kata mutiara yang lahir di ruang hampa. Ada peristiwa besar yang melahirkan kata-kata yang besar. Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan; adalah slogan yang lahir setelah dilakoni oleh Trimurti.

Tentang cita-cita Trimurti, beliau bercerita sebagai berikut;

“Seharusnya Trimurti itu berputus asa, karena pada masa itu, untuk menciptakan lembaga pendidikan yang bermutu dan berarti bagi umat Islam adalah mimpi yang terlalu tinggi, bagi kebanyakan orang ini tidak mungkin. Sedangkan daya dan tenaga yang ada saat itu sangatlah terbatas. Tetapi karena keyakinan mereka yang kuat akan kebesaran Allah dan Rahmat-Nya, mereka menafikan segala ketidakmungkinan itu. Sehingga Allah izinkan cita-cita itu terwujud perlahan tapi pasti.

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وإن الله لمع المحسنين :العنكبوت 69

Kita sepatutnya bersyukur saat ini kita bisa menyaksikan apa yang dicita-citakan oleh Trimurti. Tetapi jangan hanya bisa menjadi penonton saja, ikutlah bergerak memperjuangkannya.”

Lebih lanjut lagi, Ustadz Hasib menekankan bahwa Trimurti menaruh harapan besar kepada santri-santrinya. Trimurti berwasiat kepada santri-santrinya agar mereka menjadi pribadi yang kuat iman, tamak ilmu, dan gandrung perjuangan. Sehingga dengan pribadi yang sedemikian rupa, kelak santri Gontor bisa menjadi perekat umat, menguatkannya, dan menjadikannya khairu ummah. Seyogyanya malu lah kita sebagai santrinya, jika belum bisa menjadi apa yang diharapkan mereka. “Sesekali sebagai santri Gontor datanglah kamu berziarah ke makam Trimurti dan meminta maaf kepada beliau-beliau, minta maaflah! karena cita-citamu masih terlalu kecil dibanding cita-cita mereka”, demikian nasehat beliau.

Halaqah ini, adalah sarana memperbaharui niat bagi mahasiswa Pascasarjana. Dari sini, diharapkan mahasiswa pascasarjana sebagai santri ‘tertinggi’ mampu menyadari posisi dirinya sebagai thalibul ilmi juga sebagai pejuang Gontor fi sabilillah. Karena di kemudian hari, peran mahasiswa Pascasarjana akan ditingkatkan dalam rangka membentuk miliu pendidikan dan pengajaran di Universitas Darussalam Gontor. Allahu Musta’an.