Menelisik konsep khilafah melalui pendekatan semantik Al-Qur’an

Konsep Khilafah

Oleh, Nindya Ayomi

Suatu terminologi merupakan cerminan dari ideologi serta cara pandang para pencetusnya. Islam sebagai agama sebenarnya telah memiliki terminologi khas yang sangat memperhatikan seluruh aspek kehidupan, salah satunya konsep khilafah.

Konsep khilafah merupakan salah satu topik yang menjadi perdebatan para cendekiawan. Pasalnya, banyak golongan yang  salah mengartikan konsep khilafah akibat pemahaman yang salah atas istilah khilafah hingga meinimbulkan ketakutan tersendiri ketika gagasan tentang khilafah diungkapkan, lebih lanjut lagi, hal ini menimbulkan penolakan yang keras atas konsep khilafah di berbegai negara. Dalam memahami konsep khilafah, Sayyid Qutb memperhatikan berbagai term yang digunakan Al-Qur’an dalam membahasnya. 

Istilah (term) khilafah sebenarnya telah dipakai jauh sebelum datangnya Rasulullah SAW yaitu sejak awal penciptaan Adam a.s sebagai khalifah pertama di bumi (Al-baqarah: 30). Jika melihat dari asal katanya, kata khilafah berakar dari huruf kha la fa, dari akar kata tersebut mengandung homonim al-khalfu yang berarti belakang. Dalam kamus tahdzibu-l-lughoh kata khilafah dipakai ketika seseorang meninggalkan pekerjaannya, lalu datang seseorang yang lain yang menggantikan setelah kepergiannnya. Makna ini serupa dengan homonim kholafa yang berarti melepaskan  seperti dalam perkataan orang Arab khalaftu al-qomish yang berarti aku melepaskan kemeja. Pada zaman Abu Bakar Ash-Shidq, term khalifah pertama kali dipakai sebagai sebutan untuk pemimpin Islam melalui perkataan Abu Bakar pada awal pelantikannya, “Inni khalifatu Rasuulillah” yang berarti aku adalah pengganti Rasulullah dalam memimpin umat Islam. Pada perkembangan selanjutnya, kata khalifah berkembang dari makna “pengganti”  menjadi pemimpin Islam, dalam  istilah semantik perkembangan ini disebut At-Tathowur Ad-dalali.

Dalam Al-Qur’an term khilafah sering disebutkan melalui derivasi khalifah dan khalaif . Term ini digunakan untuk menunjukkan seseorang yang menggantikan kepemimpinan sebelumnya, sebagaimana umat muslim yang menggantikan kekuasaan Bani Israil di bumi setelah mereka melenceng dari ajaran Taurat. Wa huwa-l-ladzi ja’alakum khalaifa-l-Ardh (surah Al-An’am: 165). Dalam ayat lainnya, term khalifah dan khalaif .hanya digunakan untuk umat muslim yang taat dan patuh terhadap Allah dan ajaran Rasulullah SAW. Sedangkan untuk menunjukkan kekuasaan kafir, Al-Qur’an mnggunakan terminologi lain. Hal ini menunjukkan bahwa konsep khilafah hanya berlaku untuk umat Islam.

Kata Imamah juga sering disebut dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan konsep khilafah (Al-Baqarah: 124). Dalam semantik, istilah ini disebut sebagai taraduf atau sinonim yang memiliki arti yang berdekatan (At-Taqarub Ad-Dalali). Term imamah digunakan untuk menunjukkan teladan dalam kepemimpinannya, karena haqiqat seorang pemimpin adalah untuk mengarahkan dan memandu umatnya kepada Allah dan kebaikan hingga ia layak untuk diikuti oleh umatnya. Istilah ini sesuai dengan asal kata imamah  yang memiliki homonim amam yang berarti depan. Berbeda dengan term khilafah yang memiliki homonim khalaf (belakang), term imamah digunakan dalam konsep khilafah untuk menunjukkan sifat-sifat seorang khilafah sehingga ia layak untuk memimpin dan diikuti umatnya, oleh karena itu, term imamah dalam Al-Qur’an selalu disertai dengan sifat-sifat unggul dalam Islam, seperti iman, sabar, yakin terhadap ayatullah dalam setiap gerakannya dan menepati janji.

((وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُون)) As-Sajadah: 32

((وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ)) At-Taubah: 12

Sayyid Qutb dalam buku tafsirnya Fii Dzilali-l-Qur’an menegaskan larangan kepemiminan seorang kafir atas umat muslim, karena hakikat seorang kafir tidak akan menepati janjinya. Oleh karena itu, unsur iman sangat penting dalam diri seorang pemimpin. Hal ini menunjukkan bahwa dalam konsep khilafah, umat muslim harus dipimpin oleh seorang pemimpin yang beriman yang akan menjadi garda terdepan dalam memandu umatnya untuk mengikuti aturan-aturan hidup dan bernegara yang benar sesuai dengan ketentuan yang ditentukan Islam. Oleh karena itu, istilah Ulul amri dalam Al-Qur’an selalu berada dalam urutan ketiga setelah Allah dan Rasul-Nya. Artinya, umat wajib mematuhi pemimpinnya selama pemimpinnya patuh dan taat terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya.

((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ)) An-Nisa: 59

Kata ulil amri sering dinisbatkan kepada pemimin, dengan asal katanya hamdzah mim ra dengan hominim amr (perintah). Terminologi ini sesuai dengan konsep khilafah, karena dalam setiap perintah ada ketaatan, yang artinya seorang pemimpin harus mengikuti dan menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sebagai landasan kepemimpinan dan perintahnya. Karena itu, perintah athii’uu (taatlah) dalam surah An-Nisa tidak dituliskan sebelum kata ulil amri, sebagai tanda bahwa seorang pemimpin terikat oleh hukum yang diajarkan dalam Al-Qur’an (أَطِيعُوا اللَّهَ) dan sunah yang diajarkan Rasulullah (وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ). Artinya, bukan semua pemimpin wajib di patuhi dan ditaati oleh perngikutnya, melainkan hanya pemimpin yang menjalankan pemerintahannya sesuai dengan hukum dan ketetapan Allah sajalah yang berhak untuk diikuti. Dalam hal ini, Sayyid Qutb menegaskan bahwa iman merupakan unsur terpenting dalam kepemiminan.

Dalam membedakan kepemimpinan muslim dan kafir, Al-Qur’an menggunakan term wilayah. Ar-Raghib menjelaskan bahwa term wialyah digunakan dalam menangani suatu pekerjaan maupun pemerintahan. Dalam konteks Al-Qur’an, Allah memisahkan antara auliyau-l-kuffar (pemimpin kafir) dan   auliyau-l-mu’minin (pemimpin orang-orang yang beriman). Artinya, seorang kafir tidak berhak untuk memimpin umat Islam. Term wilayah dalam Al-Qur’an digunakan sebagai tahdzir (peringatan) atas kepemimpinan kafir dan itsbat  (penetapan) orang yang beriman sebagai pemimpin di bumi. Karena sejatinya, seorang kafir tidak akan pernah memerintah sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan tidak akan pernah mengikuti metode Islam dalam mengatur negaranya. Sayyid Qutb menyebut metode ini dengan sebutan manhajullah  yaitu metode yang digunakan suatu kaum ataupun pemerintahan dalam mengatur anggotanya sesuai dengan ajaran Allah dalam Al-Quran dan sunah Rasulullah.

Untuk menegakkan Islam, maka umat Islam tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya pemimpin, karena seorang pemimpin memiliki otoritas dan kekuatan terlebih dalam suatu negara. Hal inilah yang membuat Islam membutuhkan pemimpin yang berlandaskan manhajullah dalam pemerintahannya, agar umat Islam tidak dihancurkan oleh rezim yang salah. Hal ini sesuai dengan term as-sulthah yang digunakan dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan otoritas seseorang (Ibrahim: 22), as-sulthah memiliki asal kata salatha  yang artinya menguasai dengan derivasi as-sulthan yang berarti penguasa. Sayyid Qutb menyatakan, bahwa segala perintah dan larangan dalam Islam tidak bisa dengan bebas dilaksanakan umat Islam dalam kesehariannya kecuali dibawah naungan dan kekuasaan pemimpin Islam, dapat dikatakan bahwa worldview seorang pemimpin sangat memperngaruhi keadaan negara karena ditangannyalah otoritas berjalan.

Istilah terakhir yang digunakan Islam adalah al-mulk untuk menunjukkan bahwa manusia hanya menggantikan kedudukan Allah (Al-Maalik al-haqiqi) dalam berkuasa di bumi (Ali Imran: 26). Sesuai dengan asal katanya malaka yang berarti memiliki. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban manusia untuk mengikuti manhajullah sesuai dengan syariat Islam dalam kepemimpinannya. Sebaliknya, jika seseorang pemimpin tidak memenuhi syarat ini, maka batallah kekuasaannya di bumi.

Dari enam bentuk term khilafah yang digunakan dalam Al-Qur’an dapat disimpulkan bahwa konsep khilafah harus dibentuk berdasarkan manhajullah dan syari’at Islam. Untuk menegakkan keduanya, maka dibutuhkan otoritas pemimpin yang beriman. Karena hakikat tugas seorang khalifah adalah sebagai pengganti Allah dalam mengatur bumi, oleh karena itu syarat terpenting yang harus dimiliki seorang khalifah adalah iman karena ia harus mengatur negara dan memerintah umatnya sesuai dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah.