Menjaga Keluarga dari Api Neraka

Oleh: Amal Hizbullah Basa

*Mahasiswa Magister Aqidah dan Filsafat Islam Program Pascasarjana Universitas Darussalam Gontor

  

“Ya Aayyuha al-Ladzina Amanu, Kuu Anfusakum Wa ah-Likum Nara”

Rasa-rasanya, kita berulangkali mendengarkan ayat ini. Kalau kita bertanya, sebenarnya bagaimanasih cara menjaga diri kita dan keluarga agar selamat dari api neraka? Caranya seperti apa?

Kalau kita diperintah untuk menjaga rumah, kendaraan, kita tahu caranya. Akan tetapi, bagaimana agar diri kita dan keluarga kita tidak masuk neraka, itu bagaimana.? Ali bin Abi Thalib r.a memberi penjelasan mengenai ayat ini, supaya kita selamat, keluarga kita selamat dari api neraka, maka caranya adalah, Addibuhum wa ‘Allimuhum didiklah keluargamu dengan adab dan didiklah keluargamu dengan ilmu. Jadikanlah anak-anakmu beradab dan jadikanlah anak-anakmu berilmu. Itu saja sederhana. Rasulullah SAW juga mengingatkan kita dalam sebuah hadits : Akrumu Awladakum Wa Ahsinu Adabahum, muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka. Kalau kita baca sejarah dari jaman Rasulullah, para sahabat, para imam-imam madzhab, selalu menekankan masalah adab dan ilmu dalam mendidik. Jadi yang pertama adab harus ditanamkan, bukan hanya dipelajari. Dalam proses pendidikan, untuk selamat daripada api neraka adalah adab, ta’dib / addibbuhum tanamkanlah adab. Sampai Imam Malik, salah satu imam besar madzhab mengatakan Ta’allamu al-Adab Qabla al-Ilm belajarlah kamu adab sebelum ilmu. Al-Laits Ibn Sa’ad seorang ulama besar mengatakan, Ta’allamu al-Hilm Qabla al-Ilm belajarlah kamu sifat lembut (sopan santun) sebelum ilmu.

Di dalam sebuah kitab adab yang ditulis oleh Ibn al-Jama’ah yang berjudul ­Tadzkiratu al-‘Amiq wa al-Mutakallim fi Aadabi al-‘Alim wa al-Mutakallim seorang ulama besar menasihati anaknya : Ya bunayya, Ashibi al-Fuqaha wa al-‘Ulama wa Ta’allam Minhum wa Khudz Adabahum Fa inna Dzalika Ahabbu Ilayya Min Aktsari al-Hadits  wahai anakku, bergaullah kamu dengan para fuqaha dan ulama, belajarlah ilmu dari mereka dan ambillah adab mereka. Itu lebih aku cintai dari kamu banyak menghafal hadits. Maka dalam kitab ini ada seorang ulama mengatakan : Kamu belajar satu bab tentang adab, itu lebih baik daripada belajar tujuh puluh bab tentang ilmu. Oleh karena itu, jika kita perhatikan, tradisi pendidikan Islam terdahululu dari Zaman Rasulullah SAW, para sahabat, para ulama dulu, selalu adab yang ditekankan.

Ibnu Mubarak seorang ulama bersar pada masa Tabi Tabiin mengatkan : Aku belajar adab itu tiga puluh tahun, dua puluh tahun kemudian aku belajar ilmu. Bahkan beliau mengatkan Kaada al-Adabu Tsulusaidin porsinya adab dalam agama Islam itu dua pertiganya. Jadi kalau Islam bisa dibagi menjadi dua porsi ajarannya dua petiganya nya adab, baru pertiganya ilmu. Ini yang kemudian aneh dalam dunia pendidikan kita sekarang. Dari keluaga kita, sekolah-sekolah kita sampai ke tingkat perguruan tinggi justru adab ini hilang. Padahal dalam tradisi Islam adab itu sangat penting, bahkan jangan kamu belajar ilmu kalau kamu tidak beradab, karena kamu nanti menjadi biadab, sebab ketika orang biadab punya ilmu, maka ilmunya akan digunakan untuk kejahatan. Jadi yang ditekankan dulu adalah bagimana adab itu ditanamkan.

Mengapa Adab Harus Ditanamkan?

Adab itu merupakan sebuah proses penanaman. Bangsa-bangsa barat kalau kita perhatikan seperti, Amerika, Inggris, Australia, Singapura dan lain sebagainya, mereka sudah lama kita akui menanamkan semacam adab yaitu karakter. Kita pernah mencoba menerapkan untuk konsep pendidikan kita agar karakter ditekankan, akan tetapi tidak bisa, karena karakter itu memerlukan keteladanan, memerlukan pembiasaan, pembudayaan, dan karakter memerlukan disiplin penegakan aturan. Adab lebih daripada karakter. Karena adab basisnya adalah iman, Karena adab pondasinya adalah iman, bukan hanya budaya. Kalau orang Amerika, Inggris itu tidak membuang sampah sembarangan, memang itu budaya mereka, dan mereka takut kepada aturan. Akan tetapi kalau seorang muslim tidak membuang sampah sembarangan, bukan hanya kebudayaan atau tradisi, akan tetapi lebih karena dia takut  kepada Allah SWT. Sampah yang dia buang itu kalau mencelakakan orang lain akan diperhitungkan di akhirat. Jadi orang mukmin tidak mungkin dia akan memubadzirkan sesuatu. Rasululla SAW pun mengajarkan : Kalau kamu melihat ada sebuah duri di jalan, singkirkan itu adab, pendidikan karakter yang luar biasa.

Seorang mukmin didik, bahkan Rasulullah mengatakan dalam sebuah buku yang di tulis oleh Imam Al-Bukhari yang berjudul ­Adabu al-Mufrad : Laisa Mu’minun Man Yasyba’ Wa Jaruhu Jaa’i’un tidak termasuk orang mukmin, dia kenyang sementara dia tahu tetangganya lapar. Ini merupakan pendidikan adab yang luar biasa yang ditanamkan Rasulullah SAW kepada ummatnya, kepedulian kepada sesama, bukan mukmin yang tidak peduli kepada nasib tetangganya.

Konsep Islam Tentang Adab

Jika kita kita perhatikan, sebetulnya konsep-konsep Islam dalam pendidikan ini sangat kaya, bahkan labih kuat dibandingkan dengan yang lain. Jadi seorang mukmin itu seharunya menjadi orang yang terbaik di dunia, karena memang amanahnya begitu. Al-Qur’an mengamanahkan Ya Ayyuha an-Nabiyyu Harriji  al-Mu’minuna ‘All al-Qital, Wahai Nabi, siapkan seorang mukmin untuk berperang. Ini bukan ayat teroris. Karena Negara-negara di dunia ini menyiapkan rakyatnya untuk berperang, mereka mewajibkan militer. Israel, Singapur, Jepang kualitas rakyatnya itu adalah kualitas militer. Kita lihat bagaimana kekuatan fisik mereka disiapkan untuk itu. Jadi seorang mukmin di zaman Rasulullah SAW itu mereka harus kuat. Sampai Rasulullah SAW bersabda, Al-Mu’minu al-Qawiyyu Khairun Wa Ahabbu Ilallah  Min al- Mu’min ad-Dhaif orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada sorang mukmin yang lemah. Jadi sorang mukmin tidak boleh lemah. Seorang mukmin tidak boleh kalah, seharusnya jiwa dan raganya itu nomor satu. Kita tidak tahu mengapa selogan kita bagus-bagus, tapi perwujudannya tidak mudah, Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badanya, kita nyanyikan itu setiap hari. Apanya yang dibangun? Jiwa mana yang dibangun? Jiwa tetap serakah, jiwa rakus, jiwa lemah, padahal berulang kali pendidikan kita mengatakan membentuk manusia bertaqwa berakhlaq mulia. Kita berpuasa ramadhan juga La’allakum tattaqun supaya kamu bertaqwa. Taqwa itu apa? Gambarannya seperti apa? Indikator apa yang bisa kita evaluasi bahwa puasa kita itu berhasil. Indikasinyakan bukan fisik. Taqwa itu adalah jiwa, jiwa yang sehat. Jiwa yang sehat dari apa? Imam al-Ghazali mengatakan dalam kitab Ihya ‘Ulum Ad-Din menggambarkan jiwa yang sakit, penyakit jiwa, penyakit kekufuran, penyakit kemunafikan, penyakit kesobongan, penyakit malas, penyakit lemah, penyakit cinta dunia, penyakit cinta jabatan (hubbul al-Jah) itu kata Imam Al-Ghazali termasuk penyakit jiwa, jadi orang yang cinta jabatan itu sakit jiwa, harus dimasukkan ke rumah sakit, karena dia tidak normal. Sebab kalau manusia yang normal, dia tidak suka dengan jabatan, karena jabatan itu amanahnya bertambah dan di akhirat nanti orang yang punya jabatan itu berat hisabnya. Seharusnya kalau dia menerima jabatan itu merasa terbebani, akan tetapi kalau dia sampai cinta jabatan, itu sudah sakit, karena berarti dia tidak sadar bahwa beratnya amanah yang dia pikul itu belum tentu bisa dia pertanggungjawabkan, kecuali kalau dia melihat, kalau jabatan tidak dia pegangnya, kemudian jatuh kepada orang yang tidak bertanggungjawab, jatuh ke tangan orang yang jahat, dan orang yang jahat itu akan merusak, maka dia wajib berjuang, bukan karena cinta, akan tetapi wajib baginya untuk menyelamatkan jabatan itu, supaya dia tidak merusak masyarakat. Bahkan Rasulullah SAW memberikan pedoman dalam Siyasah Syar’iyyah yang ditulis oleh Syaiku Al-Islam Ibn Taymiyah “Siapa seorang muslim yang menyerakan jabatan kepada seseorang, memberikan amanah kepada seseorang, kemudian dia melihat ada orang yang lebih pantas daripada orang yang dia amanahi itu, maka dia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jadi kita tidak sembarangan menyerahkan amanah kepada seseorang. Kita harus cari betul siapa orang yang baik, sebab kalau kita tahu pada saat yang sama, karena ini teman dekat, karena satu partai, satu golongan satu suku dsb kemudian dia pilih sementara dia melihat ada orang yang lebih baik darinya, maka berarti dia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sampai Syaikhul Islam Ibn Taymiyah memberikan gambaran, kalau seorang pemimpin itu kurag shalih tetapi dia kuat kepmimpinannya, maka kekurang shalihannya itu akan menimpa dirinya, tetapi kemampuan dia memimpin itu akan memberikan dampak positif kepada masyarakat.

Islam dalam Mendidik

Dari penjelasan di atas, kita dapat melihat bahwa Islam itu begitu detail mengatur bagaimana mendidik manusia, memberikan amanah, bagaimana agar amanah itu jatuh kepada orang yang berhak dan lain sebagainya. Jadi, jika kita menginginkan diri kita, keluarga kita terhindar dari api neraka, maka caranya adalah Addibuhum wa ‘Allimuhum didiklah anak-anak kalian dengan adab dan didiklah anak-anak kalian dengan ilmu. Oleh karenanya, orang tua memiliki peran penting dalam mendidik anak-anak agar menjadi manusia yang beradab dan manusia yang berilmu. Wallahu A’lam bi as-Shawab.