Menulis Buku Sembari Menyelesaikan Tugas Akhir Kuliah. Mungkinkah?

Menulis

Oleh: Fadhila Tianti Mudi Awalia, Alumni Pascasarjana Hukum Ekonomi Syariah UNIDA-Gontor, Dosen Prodi Perbandingan Madzhab

Menulis adalah tradisi intelektual Islam yang tak pernah mati. Banyak ulama dan tokoh yang berdakwah melalui tulisannya. Karena tulisan itulah sarana menyalurkan ide, pemikiran bahkan keresahan hati para ulama terdahulu atas polemik yang terjadi ditengah-tengah ummat. Menulis adalah dakwah, untuk amal jariyah menuju syurga.

Menjadi seorang penulis sekaligus menyelesaikan tugas akhir kuliah, seperti skripsi, tesis bahkan disertasi. Apakah mungkin? Pertanyaan ini sering berada di benak mahasiswa perguruan tinggi. Menulis sebuah buku solo terlihat seperti sebuah pekerjaan yang berat, ditambah menulis tugas akhir kuliah yang menjadi momok bagi sebagian mahasiswa. Pertanyaan tersebut telah terjawab dalam acara webminar kepenulisan beberapa minggu lalu. Moderator yang membawahi acara tersebut, Ustadzah Fadhila Tianti alumni pascasarjana UNIDA Gontor program studi Hukum Ekonomi Syariah juga mampu menerbitkan 2 judul buku ditengah penulisan tesis. Bahkan Ustadzah Ummu Salamah Ali alumni PMDG tahun 2011 sebagai pemateri menerangkan bahwa beliau mampu menulis hampir 20 buku bahkan sambil menyelesaikan program magisternya.

Salah satu pesan dalam seminar tersebut adalah “jangan pernah menyerah untuk menulis,  write from heart. Tulislah dari dalam hati, tulis apa yang kita pahami apa yang terbesit di hati, segala sesuatu itu kalau asalnya dari hati maka akan sampai ke hati, dan ikuti komunitas-komunitas menulis”. Pascasarjana UNIDA Gontor memiliki tradisi yang sangat baik, yaitu adanya diskusi rutin pada teras peradaban. Adanya  komunitas diskusi membuat kegiatan selama masa studi senantiasa berada pada alam literasi. Bisa saja catatan selama diskusi tersebut dikumpulkan untuk kemudian menjadi naskah sebuah buku. Dan yang tak kalah penting adalah tidak perlu takut salah dalam menulis. Kalau kita meragukan tulisan kita sendiri, bagaimana dengan orang lain, bagaimana pembaca jika itu buku bacaan dan bagaimana dengan penguji saat ujian? Dalam menulis, yang paling penting adalah proses membaca, apa yang dibaca, referensi yang kita dapatkan, dari manapun itu dan pada membaca inilah kita dituntut untuk lebih berpikir logis dan kritis.

Siapa yang tidak kenal Ma’mun Affany? Beliau adalah salah satu penulis tersohor yang juga menulis novel disela masa studi. Saat ditanya ternyata novel “Cemburu di Hati Penjara Suci”  dan “Satu Wasiat Istri Untuk Suami” adalah beberapa karya yang beliau tulis di asrama pascasarjana, saat beliau menempuh studi magister UNIDA Gontor tentunya disamping menyelesaikan tesis dan aktif kajian teras peradaban, bahkan dua novel tersebut telah berulang kali naik cetak. Tak lupa guru kita Al-Ustadz Suharto, M.Pd beliau adalah penulis yang ulung, disamping kesibukan beliau sebagai pengasuh Gontor Putri 1 yang super padat, beliau tetap eksis dan produktif dalam literasi, sudah puluhan buku yang beliau tulis. Selain itu ada sahabat kita Mohammad Djaya Aji Bima Sakti yang baru-baru ini juga telah merilis 2 judul buku diantaranya “Mantiq Cinta; Terkadang Cinta Tak Butuh Logika Namun Tak Mampu Lepas Darinya” dan “Kausalitas Mimpi; Studi 3 Ranah” saat ditanya tentang kiat menulis, ia menjawab “Menulis itu bukan perkara waktu, tapi perkara mau. Bukan sebuah hal yang berat, tapi keberanian yang belum kuat. Bukan perkara royalty, tapi sebuah ajang berbagi inspirasi. Menulis bukan kegiatan utama, kau masih bisa menyisihkan waktu untuk lainnya. Menulis bisa jadi sebuah pelepasan penat, jadi jangan pernah berpikir itu berat” kata Bima, mahasiswa Pascasarjana Aqidah dan Filsafat.

Dan banyak lagi sahabat penulis dari pascasarjana UNIDA yang belum tersebut namanya, mereka membuktikan bahwa ada benang merah yang terhubung antara kegiatan menulis buku dan menyelesaikan skripsi, tesis bahkan disertasi. Yaitu menulis adalah belajar, dan tidak ada kata berhenti untuk belajar. Sistemnya sama, yaitu menabung tulisan, yang lama-lama menjadi buku. Menabung tulisan, sedikit demi sedikit akan menjadi kumpulan naskah buku bacaan, skripsi, tesis dan disertasi. Proses ini sama seperti proses penerbitan buku, karena sebuah buku itu dimulai dari lembaran kertas, tanpa naskah maka tidak akan ada yang namanya buku. Usahakan untuk selalu menulis, semua yang terlintas dalam benak pikiran, karena kalau tidak ditulis maka kita tidak bisa memprediksi kapan munculnya ide tersebut. Pun sama ketika sedang menyusun tugas ilmiah, banyak hal yang bisa dituliskan saat mendapatkan sumber bacaan, saat diskusi bersama pembimbing, bahkan saat di perpustakaan. Yang membuat lama menyusun adalah karena penundaan, menunda menulis berarti menunda selesainya tugas, menunda sehari sama dengan menunda sehari ujian, lalu bagaimana jika menunda menulis satu minggu bahkan hingga berbulan-bulan? Sejatinya skripsi, tesis dan disertasi adalah sebuah “karya tulis” yang ketika dimulai harus juga diselesaikan. Jadi fakta ataukah hoax jika seorang penulis yang baik mampu menghasilkan karya tulis ilmiyah yang baik juga?

Zulkifli Hayad

Zulkifli Hayad

Kandidat Magister Pembelajaran Bahasa Arab Universitas Darussalam Gontor, pecinta bahasa Arab, dan peneliti linguistik
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Artikel Terkait:

TOP