Orang Besar: Antara Tekad dan Mimpi

Oleh: Mohammad Hanief Sirajulhuda

Mahasiswa Magister Hukum Ekonomi Syariah Program Pascasarjana Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor

Jika melihat kepada orang-orang besar, tiap-tiap mereka mempunyai cara yang beragam dalam meraih kesuksesannya masing-masing. Namun, satu kesamaan utama yang selalu pasti mereka miliki ialah; kemauan dan tekad yang kuat.

Ringkasnya, jika belum memiliki tekad yang kuat, berarti jarak menjadi orang besar masihlah sangat jauh. Kekuatan tekad itu bisa diketahui dalam jawaban terhadap sederet pertanyaan ini; apakah anda memiliki mimpi? Apakah pikiran anda lebih besar tercurahkan kepada mimpi itu dibanding hal-hal yang lain? Apakah anda sudah rela dan atau bahkan dengan senang hati berkorban demi meraih mimpi itu? Sedetail dan sejelas apakah tahapan-tahapan rencana dalam meraih mimpi anda itu hingga terwujud? Serta masih banyak pertanyaan lainnya.

Bila sederet pertanyaan ini masih belum masuk dalam kerangka berfikir, atau bahkan kosakata-kosakata di atas belum ada masuk dalam pikiran, bisa dipastikan kehidupan yang tengah dijalani sekarang adalah kehidupan yang tenang, tapi sejatinya itu adalah semu lagi menipu.

Sebab, kehidupan di dunia seyogyanya selalu tergambarkan penuh aral rintangan bagai jalan yang penuh onak dan duri. Persis seperti cerita-cerita kehidupan orang-orang besar. Gambaran kehidupan yang seperti itu selalu tampil pada kehidupan orang-orang yang memiliki kemauan dan tekad yang kuat.

Sekarang, apa yang perlu dilakukan jika tekad itu tidak kuat? Apa yang perlu dipikirkan jika kehidupan yang dijalani tenang dan tidak berliku? Jawabannya ialah dengan memiliki mimpi.

Karena, mimpi bagi orang-orang besar adalah basis awal utama yang pasti mereka miliki bagi setiap kesuksesannya. Mimpi itulah yang akan memicu kegelisahan di dalam diri. Dari kegelisahan itu membentuk pada akhirnya kemauan dan tekad yang kuat.

Membangun mimpi selalu berasal dari proses perenungan yang panjang dan mendalam, terbentuk melalui pengalaman-pengalaman hidup yang terhayati dalam jiwa dan terolah dalam pikiran. Jika mimpi itu kuat, biasanya akan dapat tervisualisasikan dengan sangat jelas di dalam benak kita. “Kalau tekad seseorang benar adanya, maka jalan menuju tujuannya pastilah jelas,” kata pepatah Arab.

Mimpi akan selalu wujud pada kepribadian orang-orang besar. Ia akan menemukan akarnya di dalam hati yang kemudian menegak pada batang pikiran dan akal, untuk kemudian menjalar kepada ranting-ranting anggota fisik yang dimiliki, hingga kemudian menghasilkan buah energi yang tak terkira banyaknya bagi mereka dalam melakoni kehidupan sehari-hari. Semakin besar mimpi, semakin besar pula buah energi kehidupan yang dimiliki.

Itulah sebabnya kita selalu melihat orang yang mempunyai mimpi senantiasa bersemangat dalam aktivitas kehidupannya sehari-hari. Semangat itu selalu tersalurkan kepada seluruh kegiatan yang dilakoni. Karena yang mereka pikirkan ialah bagaimana mengumpulkan pengetahuan dan pengalaman sebanyak-banyaknya melalui apa yang tengah dihadapi.

Orang-orang besar selalu yakin bahwa pengetahuan dan pengalaman apapun pasti akan berguna bagi mimpi besarnya. Hal itu tercermin dalam ucapan Khalid bin Walid, “Seluruh lembah, gunung, dan gurun yang pernah kulewati, pasti akan selalu kuingat, sekaligus kubayangkan segenap strategi yang akan kugunakan, jika suatu saat aku berperang di tempat itu.”

Berbeda halnya dengan orang-orang yang tidak memiliki mimpi. Mereka acuh dengan kehidupan dan secara suka rela memilih kehidupan yang berleha-leha dan bersantai-santai. Mereka akan memandang hidup terlalu singkat untuk bersakit-sakit. Kehidupan sebagai amanah Tuhan tidak masuk dalam kerangka berfikirnya. Akhirnya, waktu mereka kosong berlalu begitu saja tanpa ada arti dan makna.

Mereka bisa saja bahagia dengan keadaan itu, tetapi itu adalah kebahagaiaan yang semu. Itulah yang ditekankan oleh Al-Qur’an, “Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang mereka kerjakan dan mereka suka akan supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan; janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dan siksa, dan bagi mereka siksaan yang pedih.” (Ali Imran: 188).

Hingga akhirnya maut menjemputnya, masyarakat pun tidak merasa kehilangan. Sejarah pun tidak mencatat apa-apa bagi orang-orang yang mengkhianati amanah Tuhan berupa kehidupan dengan cara yang tidak terhormat seperti itu. Usaha mewujudkan mimpi di dalam kehidupan adalah cara menghargai diri dan memuliakan Tuhan. []

Berita Lainnya: