Pembagian Warisan dalam Islam Tidak Adil, Benarkah?

Gender merupakan satu diantara sejumlah wacana -yang bisa disebut- kontemporer yang cukup menyita perhatian banyak kalangan, mulai kalangan para remaja, kalangan aktivis pergerakan, akademisi dan mahasiswa, kalangan legislatif dan pemerintah, hingga para agamawan. Maksud wacana ini adalah memutus ketidakadilan sosial berdasarkan perbedaan jenis kelamin, selanjutnya berupaya mewujudkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan pada aspek sosialnya.

Dengan masuknya wacana ini pada wilayah keislaman, banyak syariat islam yang kemudian dipahami dari perspektif gender. Tidak ketinggalan pula bahwa al-Qur’an akan dikaji ulang setiap ayatnya menurut pandangan gender. terhadap ayat-ayat yang meletakkan posisi laki-laki dan perempuan sama, maka mereka para pengusung faham gender tidak akan mempersoalkannya. Namun, terhadap ayat-ayat yang memihak kepada laki-laki, mereka akan mempersoalkannya. Mereka akan mengatakan bahwa Islam tidak adil, Islam telah mendiskriminasi wanita dan lain sebagainya.

Diantara ayat yang mereka persoalkan adalah ayat yang menjelaskan tentang warisan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan…” (QS. An-Nisa’ : 11). Dari teks ayat inilah kemudian mereka mengatakan bahwa Islam tidak adil, Islam telah memihak kepada laki-laki dan menindas kaum perempuan.

Mari kita perhatikaan, ayat di atas itu berbicara tentang hak warisan anak laki-laki dan hak anak perempuan, bukan semua laki-laki atau semua perempuan. Jika kita pelajari ilmu warisan lebih dalam, maka akan kita dapati ternyata tidak selalunya perempuan mendapatkan bagian lebih sedikit dibanding laki-laki. Ada beberapa kondisi justru perempuan mendapat bagian lebih banyak dari pada laki-laki.

Selain itu, perlu kita pahami bahwa Islam tidak serta merta membedakan bagian antara laki-laki dan perempuan tanpa sebuah alasan tertentu. Kita harus tahu bahwa dalam Islam seorang laki-laki memiliki kewajiban-kewajiban yang tidak dibebankan kepada perempuan. Misalnya, memberi mahar kepada istri, memberi nafkah kepada keluarganya, yaitu untuk anak dan istrinya. Maka, suatu hal yang wajar bila bagian laki-laki dua kali lipat dari bagian perempuan. Selain itu, seorang laki-laki secara umum memiliki keistimewaan dalam bidang pengendalian emosi dibandingkan dengan perempuan. Sehingga, laki-laki lebih piawai dalam mengatur keuangan.

Jika demikian, bagaimana mungkin al-Qur’an dan Sunnah akan menyamakan bagian mereka? bahkan boleh jadi tidak keliru pendapat yang menyatakan bahwa, jika berbicara tentang kepemihakan, sebenarnya al-Qur’an lebih berpihak kepada anak perempuan dari pada laki-laki.

Lelaki membutuhkan seorang istri, tetapi dia lah yang berkewajiban untuk membelanjakan istrinya. Kalau kita sepakat bahwa laki-laki harus membelanjakan seorang perempuan, bagian dua kali lebih banyak itu sebenarnya ditetapkan oleh Allah untuk dirinya dan istrinya. Dari sini dapat kita fahami, sebenarnya perempuan justru lebih diuntungkan dibandingkan laki-laki. Kebutuhan seorang perempuan telah tercukupi oleh bagian suaminya, sedangkan bagian dia dapat ia simpan untuk dirinya sendiri. Maka, hakikatnya dalam permasalahan waris-mewarisi, keberpihakan Islam kepada perempuan lebih berat dari pada keberpihakannya kepada laki-laki.

Demikianlah sedikit penjelasan yang dapat kami sampaikan mengenai pembagian warisan dalam Islam. Mudah-mudahan ini dapat menyadarkan kepada kita, bahwa ketetapan Allah Ta’ala pasti akan selalu adil. Sebab, Allah tidak akan pernah berbuat zhalim kepada para hamba-Nya. Hanya saja, kita yang mungkin belum mengetahui letak keadilan tersebut. Maka, kewajiban kita adalah tunduk dan patuh terhadap setiap ketetapan Allah Ta’ala. Wallahu a’lam bish Shawwab…[]

Nur Hadi

Nur Hadi

Alumni Program Magister Hukum Ekonomi dan Syariah Universitas Darussalam Gontor
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Artikel Terkait:

TOP