Pembukaan FNL: Makna dan Hikmah Perjalanan Hijrah Nabi

Hirah

Oleh: Halimah Nisrina Azfathir

Sebagai bentuk dinamika dalam bidang akademik, Markaz Islamisasi bekerjasama dengan Dewan Mahasiswa Pascasarjana Kampus Mantingan menggelar diskusi rutin mingguan yang biasa disebut dengan Friday Night Lecture (FNL) dan Monday Night Discussion (MND). Peresmian pembukaan FNL dan MND ini diselenggarakan pada hari Jum’at 23 Dzulhijjah 1440 Hijriah bertepatan dengan 23 Agustus 2019 di Gedung Pertemuan UNIDA Putri. Peresmian pembukaan FNL dan MND ini dirangkum secara bersamaan dengan acara Pelantikan Anggota Markas Islamisasi Kampus UNIDA Putri.

Sebagai pembicara Al Ustadz Nofriyato, M. Ag, mengangkat tema seputar falsafah hijrah, mengingat dalam kurun waktu 1 minggu kedepan akan memasuki tahun baru hijriah. Dalam kuliah umumnya yang berdurasi 55 menit, Al Ustadz Nofriyato, M. Ag memaparkan hikmah dan pelajaran dalam setiap ‘episode’ hijrah Nabi Muhammad SAW. Alumni PKU angkatan VII yang kini aktif mengajar di UNIDA ini mengklasifikasikan perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah menuju Madinah menjadi lima episode.

Makna Hijrah

Al Ustadz Nofriyato, M. Ag memulai kuliah umumnya dengan menjelaskan tentang tidak sedikit dari masyarakat pada umumnya salah memaknai hijrah. Dimana hijrah merupakan konsekuensi dari keimanan seseorang. Karena dia akan mendapatkan intimidasi dari lingkungannya ketika ia beriman. Dalam hal ini beliau menyinggung perubahan model dan bentuk pergeseran kebudayaan dalam memproyeksikan hijrah. Hijrah adalah sebuah keniscayaan atau Sunnatullah, secara bahasa menurut hadits, seorang yang hijrah itu adalah yang meninggalkan apa yang diharamkan oleh Allah SWT. Tidak sedikit terdapat kesalahpahaman yang dialami oleh kaum muslimin dalam memaknai Tarikh Islam tidak hanya terbatas pada siroh Nabi Muhammad, tapi juga siroh al anbiya wal mursalin qoblahu, karena beliau-beliau ini juga membawa risalah.

Sempat disinggung oleh pembicara tentang sejarah penanggalan hijriah. Pada masa itu kalender belum ditemukan dan ditentukan apa yang dapat dijadikan tolak ukur penanggalan. Sehingga banyak dari masyarakat Arab yang menandai sebuah kejadian dengan mengaitkan sebuah kejadian dengan penyebutan tahun. Pada zaman Nabi pernah terjadi kebanjiran di kota Mekkah, maka pada saat itu tahun itu disebut ‘aam al-faidhon karena pernah terjadi banjir, kemudian ada pasukan gajah disebut ‘aam al-fiil, istri beliau meninggal disebut ‘aam al-huzni.

Lihat juga: Hadiah Khusus Dr. Hidayatullah kepada Mahasiswi IZU

Acara Monday Night Discussion Unida Putri

Sehingga pada suatu waktu Abu Musa al Asy’ari, salah seorang gubernur Umar bin Khattab, beliau merasa malu karena setiap mendapatkan surat tanpa tahu kapan tanggal dan tahunnya. Beliau meminta untuk dibuatkan kalender Islam saran dari  Abu Musa al Asy’ari. Sehingga Umar Bin Khattab mengadakan musyawarah dengan sahabat-sahabatnya, hingga muncul wacana penentuan awal mula tahun hijriah. Darinya adalah berdasarkan awal turunnya al Qur’an, hal ini tidak diterima karena ketika Al Quran turun tidak ada sikap maysarakat yang membaik. Kemudian dari kelahiran Nabi ide ini juga tidak diterima, karena kala itu Nabi Muhammad SAW sholihun linafsihi dan tidak ada perubahan yang berarti pada masyarakat. Kemudian dari semenjak wafatnya Nabi, namun juga tidak diterima. Kemudian Umar menyarankan dimulai sejak awal mula hijrah Nabi, karena itu membedakan yang benar dan yang bathil. Hijrah ini yang kemudian membuktikan mana sahabat yang beriman, mana sahabat yang benar-benar beriman dan mana sahabat yang.

Hikmah Hijrah

Merujuk pada buku sirah nabawiyah milik Ibnu Hisyam, Al Ustadz Nofriyato, M. Ag menceritakan kembali dengan singkat dan menyertakan hikmah yang terdapat dalam kisah perjalahan hijrah Nabi Muhammad SAW. Salah satu contoh, pada episode kedua dari hijrah Nabi Muhammad SAW, beliau menjabarkan masing-masing peran sahabat yang mendukung dan melindungi Nabi dari kejaran bani Quraisy. Mulai dari Ali bin Abi Thalib yang menggantikan Nabi berbaring di atas tempat tidurnya ketika Quraisy mencoba membunuh Nabi, Asma’ binti Abu Bakar yang membawakan bekal makanan dengan menempuh perjalanan sejauh 7 km.

Kemudian Abdullah bin Abbas yang bertugas membawa berita untuk Nabi, Amir bin Fuhairo’ yang menghapus jejak langkah unta Nabi sehingga tidak terlacak oleh kaum Quraisy, hingga Abdullah bin Uraiqith seorang non muslim yang membantu untuk menunjukkan jalan ke Madinah. Bagian yang menarik tentang Abdullah bin Uraiqith adalah permisalan bagaimana manusia berorganisasi. Setiap masing-masing anggota harus mengerti porsi tugasnya, “job descriptionnya jelas. Jangan semua dikerjakan. Harus jelas hak dan kewajiban.” jelas al Ustadz Nofriyanto.

Juga peran perempuan dalam hijrah Nabi yang dapat dilihat dari peran Asma’ bin Abu Bakar yang membawa bekal makanan untuk Nabi dan ayahnya di tempat persembunyian. Dalam hal ini nampak bahwa Islam tidak menganak-tirikan atau mendiskriminasi peran perempuan dalam kemajuan peradaban.

Memaknai hijrah itu sendiri sebagai proses upaya untuk senantiasa memperbaiki diri dari sebelumnya. Harapan diadakannya acara FNL dan MND adalah mampu memantik sifat hubbu al ‘ilm dan menumbuhkan kegemaran berdiskusi dan mengutarakan pendapat berasaskan pada referensi bacaan yang mumpuni. Guna berhijrah dari diri yang lama menjadi ulama yang intellek, bukan intelek yang tau agama.

Lainnya dari Pps Unida:

Al Ustadz KH. Ahmad Suharto: Benarkah Kita Merdeka?

Hadiah Khusus Dr. Hidayatullah kepada Mahasiswi IZU

Epistemologi Ilmu Pengetahuan dan Relevansinya dalam Studi Al-Qur’an

Seminar Pada HUT RI: Antara Keindonesiaan dan Keislaman