Pengkultusan Orang Sholeh

Orang Sholeh

Dalam Islam terdapat beberapa amalan untuk menjaga dan mengobati hati. Diantaranya adalah membaca al-qur’an beserta maknanya, mendirikan sholat malam, berkumpul dengan orang sholeh, memperbanyak berpuasa, memperpanjang dzikir malam. Telah disebutkan bahwa berkumpul dengan orang sholeh menjadi salah satu dari obat penenang hati. Ia menjadi salah satu tren yang populer di kalangan umat yang sedang ingin memperbaiki diri. Banyak manfaat yang dapat diperoleh ketika seseorang berkumpul dengan orang sholeh, seperti mendapat wawasan lebih luas, menghabiskan waktu dengan kegiatan bermanfaat, dan yang pastinya mengisi kegiatan tersebut dengan selalu mengembalikan kita kepada Allah SWT. Seperti contoh jika kita berteman dengan seorang penjual parfum ada dua kemungkinan yang akan kita dapat, yakni jika kita tidak mendapat parfumnya paling tidak kita akan mendapat aroma wangi dari parfum yang ia jual. Sebaliknya jika kita berteman dengan seorang pandai besi, jika kita tidak mendapat percikan api paling tidak kita akan mendapat hawa panas atau kepulan asap di sekelilingnya.

Sebagai salah satu amalan yang dianjurkan dalam agama Islam. Banyak orang berburu dan mendekati orang sholeh demi kepentingan ini. Ada yang sekedar ingin mendekati sehingga mendapat manfaat, ada yang meminta doanya karena dianggap akan maqbul, bahkan ada yang terlalu berlebihan sehingga menyebabkannya mengkultuskan orang sholeh tersebut. Ketika mendekati orang sholeh untuk mendapat manfaat yang baik tentu ini merupakan sebuah sunnah, namun berbalik jika kebaikan dilakukan secara berlebihan sehingga menyebabkan kekufuran.

Berkumpul dengan orang sholeh jelas dianjurkan karena banyak kebaikan yang dapat diperoleh. Namun, ketika seseorang sudah berlebih ini lebih jelas tidak diperbolehkan. Sikap yang berlebihan ini akan menyebabkan keburukan yang salah satunya adalah kekufuran sehingga menggeser posisi Tuhan. Seperti cerita orang sholeh yang diangkat dalam surat An-Najm ayat 19-20:

Landasan Pemikiran Agama Baha’i

Kritik terhadap Deisme; Dominasi Akal yang Berlebihan.

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى(19) وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الأُخْرَى (20)

Serta surat Nuh ayat 23:

قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلا خَسَارًا وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا وَلا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلا ضلالا

Disebutkan bahwa Yagutsa, Ya’uqa dan Nasra merupakan nama-nama patung yang disembah dari lima nama patung selain Wad dan Suwa’. Dalam Kitab Asnam yang ditulis oleh Abu al-Mandzar Hisyam bin Muhammad Abi an-Nadhr bin as-Saib bin Basyar al-Kalbi. Mereka bertiga merupakan orang-orang sholeh pada zamannya. Karena kesalehannya mereka disanjung dan puji, namun sanjungan ini sangat berlebihan hingga akhirnya mereka dikultuskan dan dijadikan sebagai nama patung dari antara patung sesembahan kaum yahudi.

Menyanjung dan bergaul dengan orang sholeh memanglah merupakan salah satu anjuran bagi kaum muslim. Karena bermualah dengan orang sholeh akan banyak mendatangkan manfaat. Namun yang perlu diingat, sikap berlebihanlah yang akan merusak kebaikan tersebut. Dengan sikap yang berlebihan dalam memuji orang sholeh akan menyebabkan pergeseran peran nabi bahkan Tuhan sebagai satu-satunya dzat yang patut disembah.