Al Hisbah, Peranannya dalam Pengawasan Mekanisme Pasar

al hisbah

Al Hisbah secara bahasa berarti menghitung, berfikir, memberikan opini, pandangan dan lain-lain. Sedangkan secara istilah Ibnu Taimiyah mendefinisikan sebagai lembaga untuk menegakkan kebaikan (al-ma’ruf) dan mencegah keburukan (al-munkar). Penegakkan dilaksanakan dalam wilayah kewenangan pemerintah untuk mengatur dan mengadili.

Dalam konsep awal al Hisbah, lembaga ini memiliki fungsi yang sangat luas. Lembagai ini bahkan mengatur hak-hak yang berkaitan dengan Allah (Mamat, 2010). Muhtasib sebagai pengawas pasar juga mempunyai tugas dalam mengatur hak-hak manusia ataupun hak bersama yang kesemuanya berlangsung dalam pasar. Muhtasib bertugas menjamin tidak terjadinya kecurangan di pasar, penimbunan barang yang dapat menyebabkan naiknya harga, spekulasi di pasar atau mafia di pasar, dan segala bentuk yang dapat mengganggunya.

Menurut Zulfaqar bin Mamat (2010), lembaga al hisbah mempunyai peranan dalam peningkatan ekonomi masyarakat. Hal ini dengan menegakkan keadilan di pasar, membela yang hak dan memerangi yang bathil. Muhtasib sebagai pengawas pasar adalah memberantas segala bentuk penipuan. Dalam muamalah manusia, bentuk penipuan di pasar ada banyak sekali bentuknya. Salah satunya adalah najash yaitu adanya kesepakatan antara penjual dengan beberapa orang dengan cara melakukan rekayasa permintaan, sehingga barang yang diminta seakan banyak dan menghasilkan pembeli yang banyak. Hal ini tentunya akan merusak mekanisme pasar. Bentuk penipuan yang lainnya adalah tadlis, yaitu menyembunyikan barang dagang. Penjual memperlihatkan barang dagangnya yang bagus, namun menyembunyikan barang dagangnya yang buruk. Di kasus lain, banyak penjual yang merekayasa timbangan dengan cara mengurangi takar timbangan, sehingga banyak pembeli yang tertipu dengan takaran tersebut.

Baca juga:
Seminar Pada HUT RI: Antara Keindonesiaan dan Keislaman
Pengertian Scarcity atau Kelangkaan

Muhtasib mempunyai wewenang dalam memberantas segala perbuatan yang dapat merusak mekanisme pasar. Para muhtasib harus mempunyai jadwal dalam menyidak pasar, mengukur timbangan dan alat ukur, menyaring pengiklanan agar sesuai dengan produksi barang, dan memberikan hukuman bagi yang melakukan suatu hal yang dapat mengganggu mekanisme pasar.

Selain memberantas segala bentuk penipuan dan kecurangan di pasar, tugas utama muhtasibadalah menentukan harga. Dalam Islam, penentuan harga ini terdapat beberapa ulama yang membolehkan penetapan harga dan ada beberapa ulama yang melarang penetapan harga. Walaupun begitu, penulis membenarkan adanya penetapan harga dengan syarat adanya keadilan bagi semua pihak dan penetapan harga ini tidak dengan harga yang terlalu tinggi. Karenanya, kebijakan pemerintah yang demikian ada kebijakan ceiling price dan floor price.

Menurut Ibnu Qayim, penetapan harga (tas’ir) terbagi menjadi dua, yaitu penetapan harga yang diharamkan dan penetapan harga yang dibolehkan. Penetapan harga yang diharamkan adalah tindakan memaksa para produsen menjual barangnya dengan harga yang tidak disetujui dalam keadaan pasar yang seimbang. Dan penetapan harga yang dibolehkan bahkan menjadi wajib adalah penetapan harga yang adil. Penetapan harga ini menjamin keadilan sesama manusia seperti memaksa produsen menjual dengan satu harga tertentu yang ditetapkan apabila keadaan pasar tidak normal dan mencegah mereka dalam pengambilan laba yang berlebihan.

Lembaga al Hisbah  selaku pengawas pasar mempunyai kuasa untuk menetapkan harga jika terjadi hal yang demikian. Adapun ketentuan penetapan harga ini harus melibatkan perwakilan dari produsen dan konsumen. Harus dapat dipastikan adanya keuntungan dari produsen dan konsumen ketika terjadi penetapan harga. Dan harga yang ditetapkan tidak membebani produsen dan konsumen. Selain itu, muhtasin wajib melakukan pengawasan di pasar agar para produsen menjual barangnya dengan harga yang sudah ditetapkan, sekiranya ada yang melanggar, maka muhtasib harus memberikan hukuman.

Lainnya dari Pps:

http://pps.unida.gontor.ac.id/category/artikel//category/artikel//zakat-sebagai-pendorong-investasi-dan-aliran-ekonomi/

http://pps.unida.gontor.ac.id/category/artikel//category/artikel//teknologi-sebagai-pembingkai-realitas-meminjam-kacamata-heidegger/

http://pps.unida.gontor.ac.id/category/artikel//category/artikel//bagian-kedua-dari-teknologi-sebagai-pembingkai-realitas/

http://pps.unida.gontor.ac.id/category/artikel//category/artikel//pembukaan-fnl-makna-dan-hikmah-perjalanan-hijrah-nabi/

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
TOP