Radikal: Menguak Maknanya bersama Dr. Syamsuddin Arif, M.A

Radikal berarti dari akar

Isu radikal yang terus dikaitkan dengan Islam dan semakin terang-terangan menghina dan menyudutkan Islam telah menyita perhatian banyak kalangan untuk ikut memberikan respon. Terlebih saat munculnya wacana larangan pemakaian cadar dan celana cingkrang di lingkungan instansi pemerintah bagi para ASN sepekan setelah menteri agama yang baru (Fachrul Razi) dilantik. Dari sekian banyak yang mengkiritik dan menyayangkan kebijakan ini adalah salah satu peneliti INSISTS, Dr. Syamsuddin Arif. Hal ini ia ungkapkan saat mengisi teras peradaban bersama mahasiswi-mahasiswi program pasca sarjana di gedung pasca sarjana Mantingan pada selasa (24/12). Dalam kesempatan yang mahal ini, para mahasiswi diajak untuk meninjau kata “radikalisme” melalui aspek sejarah dan bahasanya.

Istilah radikal ternyata bukan hanya mengusik, tapi juga telah menimbulkan masalah. “Karena istilah Islam itu disematkan, dan di Indonesia khususnya dikaitkan dengan Islam, jadi  anda harus tahu gambaran atau petanya secara umum.” demikian ungkap Dr. Syamsuddin di awal-awal penjelasannya.

Islam yang Compang-camping

Pada abad 20 telah muncul upaya-upaya untuk merusak dan merobek-robek agama Islam. Dr. Syamsuddin menganalogikannya seperti baju atau kain – yang biasanya berfungsi menutup aurat. Jika sudah dirobek-robek maka akan terlihat compang camping. Demikian kiranya gambaran Islam yang terus ditampilkan – Islam compang-camping. Robekan-robekan yang dihasilkan dari baju Islam berubah istilah menjadi Islam Politik, Islam Militan, Islam Modernis, Islam Progressif (bahasa lainnya berkemajuan), Islam Modernis, Islam Radikal, Islam Liberal dsb. Inilah yang disebut dengan distorsi Islam. Prof Abuddin Nata, salah satu professor di UIN mengumpulkan  setidaknya ada 31 macam distorsi Islam.

Dr. Syamsuddin menjelaskan bahwa semua upaya-upaya ini (merobek-robek Islam) dilakukan tidak lain oleh orang-orang jahat – baik non muslim maupun orang-orang yang merasa Islam, menganggap dirinya Islam namun sejatinya (mungkin) tidak mengerti Islam atau malah diam-diam sebenarnya tidak suka atau membenci Islam. Tentu saja ini terbukti dengan terbitnya buku-buku yang ditulis – baik oleh orang-orang Barat maupun oleh orang Islam sendiri. Buku-buku berjudul Civil Islam (ditulis Robert W. Hefner seorang mata-mata Amerika), European Islam (Jorgen S. Nielsen), American Islam (Paul M. Barret), Shi’i Islam (Moojen Momen) atau Islam Inklusif (Dr. Alwi Shihab), Islam Rasional (Harun Nasution), dan lainnya. Semuanya menunjukkan kalau bukan niat buruk, ia merupakan pemahaman yang dangkal dan keliru akan Islam. Selain itu juga sebuah upaya membeda-bedakan hingga membenturkan Islam – seolah-olah Islam Amerika berbeda dengan Islam Indonesia atau Islam Eropa tidak sama dengan Islam Indonesia.

Baca juga:

Pengkultusan Orang Sholeh

Charcoal, Si arang hitam yang kaya akan manfaat

“Orang-orang Barat, orang-orang bule yang gak kenal thoharoh, gak kenal bersuci, mereka gak ngerti Islam itu apa? terus ngomong tentang Islam, nulis buku tentang Islam. Kalau mereka tulis buku tentang Kristen, terserah ya,” krtik Dr. Syamsuddin. Beliau kemudian mengaitkannya dengan worldviewWhat you do, what you write, what you say, itu is reflecting what you have in your mind, is reflecting the way of your thingking, the way you think. So what you do, what you say, what you write is what you think .The way you think is express in your writing, ini your doing, in your activities, in your statement.”

Perlu Ada Penetralisir

Selain mengkritik, Dr. Syamsuddin juga menambahkan bahwa semua munkarotul afkar atau al afkarul munkarot yaitu istilah yang ia sebut dari pendistorsian Islam jika dibiarkan – didiamkan saja, tidak diprotes atau tidak berusaha ditunjukkan salahnya maka kitalah yang salah. “Man ro’a minkum munkaran, fal yuqhayyirhu biyadihi”. Dan untuk mengubah ini semua – menerangkan bahwa ini salah kita harus mempunyai dasar ilmu yang kuat, “you need to have a strong ground,” nasehatnya. Beliau juga menambahkan delain dasar ilmu yang kuat, agar mampu menolak dan tidak ikut-ikutan, memliki logika yang baik juga diperlukan sehingga terhindar dari pertanyaan-pertanyaan menjebak (dilema palsu) yang mengarahkan pada pembodohan dan pendunguan intelektual.

Walaupun sempat menyayangkan beberapa tokoh Islam dan cendekiawan yang terpapar paham radikal, Dr. Syamsuddin sempat mengapresiasi sikap seorang tokoh yang sangat kuat Islamnya yang menolak kehadiran Islam Nusantara. Ialah Prof. Ali Mustofa Ya’kub (alm.), tokoh yang jabatan terakhirnya sebagai Imam besar Masjid Istiqlal. “Islam itu ya Islam saja,” demikian katanya.

Makna Radikal

Adapun radikal sendiri berasal dari bahasa latin radix yang berarti akar. Sedangkan radikalis adalah derivasi dari radikal artinya berkaitan dengan akar, dimulai dengan akar, sampai ke akar hingga mengakar. Singkatnya “anything to do with akar this called radical.” Adapun menurut sejarahnya, istilah Radikal (dengan huruf “r” besar) digunakan di Inggris ternyata lahir dari peristiwa yang dikenal dengan “Revolusi Perancis” dimana raja yang terakhir Perancis (Louis) berhasil digulingkan dan sistem pemerintahan diganti – dari kerajaan menjadi republik. Raja Louis beserta istri dan anak-anaknya dibawa ke alun-alun ke tanah lapang, disaksikan oleh ribuan orang-orang dan dipenggal dengan silet raksasa.

Karena peristiwa ini revolusi seketika berubah menjadi demam, momok bagi raja-raja di sekitar Perancis termasuk ratu Inggris. Para politisi Inggris pun terbelah menjadi dua – ada yang menginginkan Inggris berevolusi dan tetap pada sistem kerajaannya. Orang-orang yang menginginkan revolusi lalu disebut radikal dan sebaliknya yang mempertahankan sistem kerajaan disebut konservatif. Dan sejak saat itu radikal akhrirnya diartikan sebagai ekstremis (orang yang menginginkan perubahan yang sangat besar/ ghayatu taghayyur). Setelah radikalisme politik, lalu muncul istilah radikal pada tataran agama (radikalisme agama) yang dilekatkan pada seorang teolog Jerman bernama Martin Luther. Karena usahanya mengubah struktur institusi gereja ia pun disebut religious radical.

Setelah awalnya berkonotasi negatif, istilah radikal juga sempat bermakna netral. “maksudnya tidak bermakna negatif,” jelas Dr. Syamsuddin. Radikal tidak lagi menggunakan kekerasan. Di tangan Descartes, istilah radikal berubah makna  menjadi usaha melakukan revolusi epistemologi yaitu perubahan orientasi ilmu pengetahuan. Dari berkonotasi negatif, lalu berkonotasi netral radikal juga sempat digunakan untuk istilah bangga-banggaan. Dr. Syamsuddin mencontohkan seorang tokoh bernama Thomas Panes – perumus hak-hak asasi manusia (the right of man) yang kabur ke Amerika karena dianggap anti Ratu Inggris dan menginginkan Inggris berubah menjadi republik. Di Amerika ia begelar pahlawan karena keradikalannya.

Makna Radikalisme

Masih dalam memetakan radikal, setelah mengajak menilik sejarah awal pengistilahan radikal, Dr. Syamsuddin menjabarkan empat pengertian yang terkandung dalam kata radikalisme dan tambahan makna yang diinject (disuntikan) ke dalam istilah radikalisme yang ia kutip dari buku mc. Laughlin, Kajian filosofis tentang kajian radikalisme (Radicalism: A Philosophical Study). Dalam satu tambahan makna yang disuntikkan, radikalisme berarti Islamis, Salafi dan Jihadi. “Inilah radikal yang dipakai oleh menteri agama sekarang ini,” ungkap Dr. Syamsuddin.

Lain menteri agama lain pula Dinas intelegensin Amerika mendefinisikan makna radikalisme. Dalam definisi mereka radikalisme adalah cita-cita berbentuk kegiatan yang berusaha mendukung atau mewujudkan perubahan di masyarakat yang membahayakan sistem demokrasi. Dan di luar dugaan orang, tenyata radikalisme tidak hanya istilah yang digunakan pada politik, dalam urusan agama atau sosial. Dalam istilah agrari terdapat istilah agrarian radicalism (radikal agrarian) yaitu orang-orang yang menginginkan supaya UU pertanahan itu diubah, diatur dan dibatasi.

Di akhir penjelasannya, peneliti INSISTS ini menyimpulkan sekaligus menyesalkan bahwa penggunaan makna radikal telah menjadi semena-mena. Digunakan dengan sewenang-wenang – ada yang disematkan untuk musuh (orang yang tidak setuju/ sepaham) atau untuk melanggengkan kekuasaan. Konotasinya bergantung pada siapa yang hendak menggunakannya.[Dzunnuraini & Nindya Ayomi]