Rektor IIUM Beribicara Tentang Kesan Terhadap Gontor

rektor iium berbicara tentang gontor

Beberapa hari terakhir sebuah unggahan di laman website Islamic International University Malaysia (IIUM) ramai diperbincangkan di lingkungan Gontor dan UNIDA Gontor. Pasalnya unggahan tersebut memperlihatkan sebuah potongan halaman yang berisi tulisan dari Rektor IIUM tentang Gontor.

Karena pada pekan yang lalu, beliau, Professor Emeritus Tan Sri Dato Dzulkifli Abdul Razak, berkesempatan untuk berkunjung ke UNIDA Gontor. Beliau hadir sebagai pembicara dalam seminar untuk hadir sebagai pembicara inti dalam acara  International Conference on Religious Issues in Indonesia and Malaysia (ICRIIM). Kesan yang beliau rasakan selama di Gontor beliau tuangkan dalam tulisan tersebut. Berikut ini ringkasan dari tulisan beliau.

Rangkuman Tulisan Rektor IIUM

Pondok Modern Darussalam Gontor terkenal dan mendunia bukan hanya karena nama yang dibawa oleh para alumni dan pejuangnya melalui kiprah dan prestasi mereka. Namun, kesan-kesan dan pengalaman yang dialami oleh para tamu yang berkunjungpun menjadi sebuah mendia untuk mengenalkan Gontor dan segala tentangnya pada dunia.

Seperti kesaksian Prof. Dzulkifli Abdul Razak, seorang pendidik dan ilmuwan Malaysia. Dalam laman IIUM beliau menuliskan tentang kesan-kesan beliau terhadap PMDG. Dalam tulisannya itu beliau menceritakan, bahwa PMDG yang berdiri pada tahun 1926 beberapa tahun sebelum Indonesia meraih kemerdekaannya, telah berjunag memodernkan sistem pendidikan pesantren. Walau ada beberapa golongan yang menentang atau bahkan mengkafirkan usaha tersebut, namun para Trimurti (pendiri pondok) tek peduli akan hal tersebut.

Baca juga:

Alhambra Night 3.0 Menjadi Penutup Khutbatu-l-‘Arsy UNIDA Gontor

Hal lain yang membuat beliau kagum adalah kemandirian PMDG. Gontor mampu berdiri tanpa bantuan pemerintah atau pihak manapun. Seluruhnya dikelola sendiri dan secara mandiri. Bersifat berdikari dan selalu disiplin. Menurut beliau, Gontor mampu seperti ini karena memiliki Panca Jiwa dan Motto yang selalu dipegang teguh dari dulu hingga sekarang.

Salah satu pengalaman berkesan beliau adalah ketika menyaksikan pagelaran seni Panggung Gembira siswa kelas 6. Yang mampu menghasilkan sebuah karya seni yang indah, menghibur namun tetap mendidik. Dilengkapi dengan penggunaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris yang fasih. “Sebagai perbandingan di Malaysia (negara lainnya) kegiatan seperti ini (PG) sering diatas namakan pada lembaga-lembaga profesional bermodal tinggi. Bukan anak-anak sekolah yang masih berusia belasan tahun yang mampu mengelola tenaga, dana dan pengalaman.” Tukas beliau membandingkan kegiatan tersebut di laman IIUM.

Gontor dengan berlandaskan pada Panca Jiwa dan Mottonya, mampu menampilkan bakat dan seni yang digandengkan dengan ilmu pengetahuan untuk terus berkembang dan menjunjung nama pendidikan Pondok Modern.[Alfi/Atqiya]

Kuliah tentang Obligasi Bersama Direktur ZICO Shariah

Program Pascasarjana Ikuti Penyusunan Kurikulum Dengan Kerangka OBE

Kenali Dirimu, Temukan Bahagiamu: Sebuah Pesan dari Sang Hujjah Al-Islām

Mahasiswa Pps Mengadakan Kajian Kitab Klasik di Teras Peradaban