Sains Islam, Korelasi dan Epistemologi

Photo by Jaredd Craig on Unsplash

Pendahuluan

Islam adalah agama ilmu. Kalimat itu mungkin lebih tepat ketika ingin melihat korelasi antara Islam dengan ilmu (al-‘ilm) dan pengetahuan (al-ma’rifah). Karena memang Islam dan ilmu pengetahuan tak mungkin diceraikan. Keduanya bak dua sisi mata uang. Oleh karena itu, sejak awal Allah sudah mengajarkan kepada umat Islam konsep ilmu yang secara komprehensif.

Ilmu pengetahuan dalam konteks Islam, mengarahkan ilmu pengetahuan menuju tujuan hakikinya, yakni memahami realitas alam, untuk memahami eksistensi Allah, agar manusia menjadi sadar akan hakekat pencipta dirinya, dan bukan mengarahkan ilmu pengetahuan di Barat melulu pada praksism pada kemudahan-kemudahan material duniawinya.

Dalam Tradisi intelektual Islam, ada suatu hirarki dan kesalinghubungan antar-berbagai disiplin ilmu yang memungkinkan realisasi kesatuan (tauhid) dan kemajemukan, tetapi juga dalam dunia ilmu pengetahuan. kekacauan Negara Islam, dalam banyak hal disebabkan  oleh hilangnya visi hirarkis pengetahuan seperti yang dijumpai dalam tradisi Islam Klasik.[1]

Konsep epistemologi dalam Islam pada hakekatnya tidak terlepas dari dimensi teologisnya yang bercorak tauhid. Dalam konsep epistimologis Islam ilmu pengetahuan di pandang sebagai perpanjangan dari ayat-ayat Allah dalam semua ciptaan-Nya. Disinilah arti penting apa yang disebut dengan Islamisasi Ilmu pengetahuan, yakni mengembalikan ilmu pengetahuan kepada jalur yang semestinya, sehingga menjadi berkah dan rahmat kepada manusia dan alam, agar terhindar dari mudarat.

Sejarah Sains Dalam Islam

Istilah sains sering digunakan sebagai kata kolektif untuk menunjukkan berbagai ilmu pengetahuan yang sistematik dan obyektif serta dapat di-verifikasi kebenarannya. Konsekwensi dari penegrtian ini adalah dikotomi ilmu pengetahuan yang meniscayakan terpisahnya Obyek dan Subyek. Ilmu pengetahuan di dalam Islam tidak mengenal dikotomi Ilmu Pengetahuan dan selamanya antara Subyek dan Obyek akan terus saling mempengaruhi dan dibimbing oleh Wahyu.

Ilmu pengetahuan termasuk bagian dari sistem peradaban. Peradaban adalah sistem kehidupan yang terbentuk dari pola pikir (framework) yang berada disekitar lingkungan tertentu,, terbentuknya peradaban tersebut terjadi secara eklektik sesuai dengan prinsip-prinsip kehidupan yang telah ada. Beberapa abad sebelum munculnya Islam, di Jazirah Arab telah mengenal peradaban lembah Nil, Peradaban lembah Dajlah dan Furat, Peradaban Yaman, Peradaban Syam, Peradaban Tunis, Bahrain, Persia, Mesir, Iraq,Yunani dan Romawi.

Peradaban Eropa banyak dipengaruhi oleh Peradaban Anatolia, Crete dan Yunani, namun peradaban-peradaban tersebut dapat sampai ke Eropa melalui pemikir-pemikir Islam melalui proyek penerjemahan ke bahasa Latin yang digunakan oleh masyarakat Eropa. Sebelum munculnya Islam, keruntuhan telah terjadi pada perdaban-peradaban besar yang berada disekitar Jazirah Arab.

Ketika Islam muncul sebagai agama yang membawa benih-benih peradaban besar dan secara terang-terangan mewajibkan untuk menuncari dan mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai jalan hidup, maka para pecinta ilmu mulai mempelajari peradaban yang telah ada sebelumnya. Ilmu pengetahuan Islam mengalami kemajuan yang mengesankan selama periode “abad pertengahan” melalui orang-orang kreatif seperti Al-Kindi, Ar-Razi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibn Rusyd, dll. Mereka telah melakukan investigasi dalam berbagai bidang ilmu penegtahuan tetapi semua dalam framework keagamaan dan dengan metode skolastik.

Dengan metode skolastik ini, Islam dapat menghasilkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan cepat, kreatif dan dinamis. Sementara itu beberapa orang khalifah dan Crusader (pasukan salib) membakar perpustakaan-perpustakaan dan membungkam para cendikiawan muslim, sedangkan yang lainnya menyalin dan menyalurkan buku-buku untuk dijadikan perpustakaan besar dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan bagi masyarakat umum. Hal inilah yang kemudian umat Islam sering dituduh reaksioner dan finalistik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.[2]

Meskipun demikian, Islam selalu memandang dunia dan segala hal yang melatarbelakanginya sebagai buku yang terbuka yang dapat dibaca dan dipahami oleh semua orang dengan menghilangkan unsur-unsur fanatisme dan ortodoksi agar ilmu pengetahuan dan perkembangannya dapat memberi pengaruh yang nyata dalam segala aspek kehidupan. Hal ini tentunya karena dipengaruhi oleh “epistemologi Islam” yang sudah mapan dan kukuh.

Epistemologi Islam

Epistemologi sejatinya merupakan teori yang berada dalam hirarki ilmu Filsafat yang memusatkan pada pengkajian ilmu pengetahuan yang terbenam dalam pikiran manusia. Teori ini diharapkan mampu menguji kebenaran sebuah konsep atau gagasan. Konsep atau gagasan ini adalah ilmu pengetahuan yang hadir dari sebuah pandangan hidup, agama, kebudayaan, dan peradaban seorang individu. Epistemologi dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang ilmu pengetahuan diantaranya, ‘apakah manusia dapat mengetahui?’, ‘darimanakah pengetahuan itu muncul?’ Di dalam Islam, epistemologi berkaitan dengan metafisika dasar Islam. Metafisika dasar dalam hal ini, sebagaimana dikatakan Al-Attas dalam A Commentary on the Hujat al-Ssidiq of Nur al-Din al-Raniri yang dikutip oleh Hamid, mencakup di dalamnya wahyu, hadits, akal, pengalaman dan intusisi.[3]

Otentisitas wahyu sebagai perkataan Tuhan dapat dengan mudah diidentifikasi dengan menyimak dan mentadabburi kebesaran-Nya melalui penciptaan alam semesta dan segala isinya. Nabi Muhammad s.a.w. selain sebagai penyampai pesan-pesan wahyu, ia pun manifestasi akhlak Qur’ani dimana tidak ada yang dapat menafikan kesempuranaan dan kemuliaannya. Perkataan dan prilaku juga menjadi teladan yang baik (qudwah hasanah) bagi umat manusia yang mana sudah terekam dalam catatan-catatan para sahabat, tabi’in, dan ta’bi-tabi’in berupa hadith. Tidak sampai disitu saja, hadith-hadith nabi yang disampaikan perlu juga di verifikasi terlebih dahulu agar terhidar dari kepalsuan. Disinilah tokoh-tokoh perawi hadits melalui sanad akan diuji kapabilitas dan kredibilitasnya serta isi pesan yang disampaikannya. Sedikit ada cacat pada diri atau teksnya akan memengaruhi otentisitas hadith. Dari sini bisa kita tegaskan bahwa epistemologi Islam tidak lahir dari suatu yang lemah tapi terbangun dari fondasi yang kuat.

Keterkaitan dengan metafisika dasar Islam ini ditandai dengan terbetuknya worldview Islam yang di atasnya berdiri fondasi-fondasi epistemologi Islam yang selanjutnya diikuti lahirnya disiplin-disiplin ilmu pengetahuan dalam tradisi intelektual Islam.[4] Lahirnya disiplin-disiplin ilmu dalam Islam tidaklah mudah. Ada ketentuan-ketentuan yang harus ditaati sebagai bentuk ketelitian. Ketentuan-ketentuan tersebut adalah pertama, jika tidak mustahil adanya menurut akal sehat (la yastahil wujuduhu fi al-‘aql), kedua, jika tidak menyalahi secara kontradiktif keterangan nash yang jelas (an la yakunaa mukhalifan li-nass maqtu’ bihi ‘ala wajhin la yumkin al-jam’u baynahuma), dan ketiga, jika tidak menyalahi apa yang telah disepakati oleh umat Islam (an la yakuna mukhalifan li-ijma’ al-ummah).[5]

            Dalam tradisi intelektual Islam, ilmu adalah hasil dari pemahaman (tafaqquh) atas pesan-pesan Allah berupa wahyu yang diterjemahkan secara langsung oleh Rasulullah kepada kaum muslimin. Di sinilah aktivitas keilmuan Islam tidak steril dari nilai-nilai ketuhanan tapi tidak juga mengenyampingkan peran rasionalitas. Kondisi ini menjadikan Islam memiliki konsep keilmuan yang holistis, menyeluruh, dan mencakup kehidupan kini (dunia) dan yang akan datang (akhirat). Konsep keilmuan inilah yang telah mendasari peradaban Islam. Lain halnya dengan tradisi keilmuan Barat, selain disebabkan sejarah konflik antar agama dan ilmu (sains), peradabannya berlandaskan pada materialisme humanistis yang anti Tuhan yang pada akhirnya Barat sepakat bahwa ilmu tidak bisa disandingkan dengan nilai.[6]

Karena wahyu menjadi starting point bagi berkembangnya ilmu pengetahuan dalam Islam, maka konsekuensinya adalah orientasi keilmuan Islam yang menitiberetkan pada penyerahan diri dan ketaatan kepada ajaran Allah SWT yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW. Wan Mohd Nor Wan Daud mengekspresikan bahwa kewajiban setiap muslim untuk mencari ilmu pengetahunan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari aqidah Islam.[7] Oleh karena itu, Islam menekankan pentingnya ilmu pengetahuan untuk memenuhi keperluan spiritual dan meraih kebahagianaan. Konsep kebahagiaan ini melampaui kehidupan duniawi, yakni kehidupan ukrawi yang disana terdapat kebahagiaan yang abadi. Hal ini  jauh berbeda dalam konsep kebahagiaan dalam peradaban Barat yang hanya sebatas pada kebahagiaan duniawi karena karakternya yang matrealistik deterministik. Akibat dari karakter tersebut, pembacaan Barat terhadap alam adalah objek eksplorasi tanpa memikirkan dampak global, seperti pemanasan global atau krisis ekosistem.

Karena ilmu di tangan peradaban Barat sudah menjadi demikian “materialistis” karena pengaruh “materalisme”, Islam mengajukan satu konsep yang luar biasa: Islamisasi ilmu pengetahuan. Dengan demikian, ilmu akan kembali mewujud sebagai satu yang inheren dengan Sang Sumber Ilmu, Allah s.w.t. Dengan begitu, ilmu tidak akan menjadi sekular.

Penutup

Dari pemaparan singkat di atas, dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, Islam dan ilmu adalah satu kesatuan integral, inheren, dan tak terpisahkan. Karena sejak kemunculannya, Islam sudah membawa konsep ilmu. Kedua, bangunan konsep ilmu Islam sangat mapan, karena para pemikir Muslim mengetahui benar bahwa ilmu dalam adalah satu hal yang value-laden, sarat nilai. Di dalamnya ada pesan-pesan Tuhan (Rabb). Maka ilmu tak boleh lepas dari nilai-nilai ketuhanan (rabbaniyyah). Untuk itulah epistemologi Islam dalam mengembangkan ilmu tak terlepas dari wahyu. Hal ini menadikannnya berbede dari konsep ilmu yang ada dan dikembangkan oleh Barat. Ketiga, sejak awal, Al-Qur’an sudah membawa konsep “islamisasi ilmu pengetahuan”. Hal ini dimulai dengan proses “membaca” dan “menulis” yang keduanya disandarkan dari Sang Pendidik Maha Agung, Rabb. Kedua hal tersebut –tulis-baca—tidak boleh lepas dari konsep Tuhan, sebagai sumber ilmu pengetahuan. Dan terakhir, Islam tidak mengharapkan ilmu hanya dipelajari. Karena ilmu tanpa amal laksana pohon tanpa buah. Bahkan dalam satu riwayat disebutkan, ‘Siapa yang ilmunya bertambah banyak, tapi menjadikannya malah jauh dari “hidayah”, maka sejatinya dalam dirinya yang ada bukan ilmu melaikan kesesatan.”[8] Artinya, ilmu adalah untuk mengabdi kepada Allah.

Footnotes

[1] Saude, Sekularisasi dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, dalam Jurnal Hunafa, Vol.5, No.2, Agustus 2008, h.171.

[2] Nakosteen, Mehdi. History of Islamic Origins of Wesstrn education A.D. 800-13250; with an Introduction to Medieval Muslim Education, terjemahan Joko S. Kahhar dan Supriyanto Abdullah, (Risalah Gusti: Surabya, 2003), hlm. xi.

[3]  Hamid Fahmy Zarkasyi, “Worldview Sebagai Asas Epitemologi Islam”, ISLAMIA, Thn II No 5, April – Juni 2005

[4] Hamid menjelaskan periodik kelahiran ilmu dalam Islam dengan, (1) Turunnya wahyu dan lahirnya pandangan hidup Islam, (2) Adanya struktur ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an dan Hadith, (3) Lahirnya tradisi keilmuan Islam, dan (4) Lahirnya disiplin Ilmu-ilmua Islam. Ibid. Hal. 15

[5] Imam as-Syawkani, Syarh al-Aqa’id an-Nasafiyyah, dalam Syamsuddin Arif, “Prinsip-prinsip Dasar Epistemologi Islam”, ISLAMIA, (Thn II No 5, April – Juni 2005), hlm. 34

[6] Anis Malik mengatakan bahwa konflik tersebut adalah konflik tentang kebenaran, kebenaran agama (religious truth) dan kebenaran ilmiah atau saintifik (scientific truth), “Problem Agama dan sains di Dunia Kristen dan Barat”, ISLAMIA, (Thn II No 5, April – Juni 2005), hlm. 21

[7] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Naquib Al-Attas, terjemah : Hamid Fahmi Zarkasyi, M. Arifin Ismail, dan Iskandar Amel, Mizan Bandung 2003: Cet. Pertama, Hal. 121

[8] Lihat, al-Darimi, Bab: al-Muqaddimah, Pasal: al-Tawbikh liman Yathlub al-‘Ilm li Ghayr Allah, no. Hadits: 388.

Nirhamna Hanif Fadhilah

Nirhamna Hanif Fadhilah

Alumnus Program Kaderisasi Ulama (PKU) dan Magister Pembelajaran Bahasa Arab Program Pascasarjana Universitas Darussalam Gontor
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Artikel Terkait:

TOP