Sejarah Angka: Bagaimana Angka Muncul dan Berkembang

sejarah angka

Oleh: Khairul Atqiya’

Suatu hari seorang petani membawa buah mangga hasil panennya untuk ditukarkan dengan buah lain. Seorang petani lain datang dan ingin menukar mangga tersebut dengan buah apel miliknya. Sebelum itu dia ingin tahu jumlah pastinya agar dapat melakukan penukaran yang tepat. Mulailah dia menghitung satu persatu buah mangga di dalam karung. Caranya adalah mengeluarkan satu buah mangga dari karung petani pertama dan mengambil satu buah apel dari karung miliknya.

Seperti itulah proses penghitungan pada zaman dahulu. Sebenarnya kedua petani tersebut tidak benar-benar melakukan penghitungan. Yang mereka lakukan adalah pairing atau matching yaitu pencocokan jumlah. Proses ini tidak memerlukan nama atau sebutan untuk jumlah yang ada. Selama tiap barang memiliki pasangan, maka penghitungan selesai. Kelebihan jumlah dari salah satu pihak tidak ditukarkan.

Number sense

Bagi manusia modern saat ini, proses penghitungan dan penulisan hasil penghitungan dalam cerita di atas sangat mudah. Katakan saja jumlah mangga tesebut adalah lima puluh tiga. Setiap orang di masa sekarang yang mampu berhitung dapat menuliskannya. Tidak demikian dengan manusia pada zaman dahulu. Jumlah tidak dikenal dengan nama atau bilangan. Jumlah hanya dikenal dengan sebutan ‘banyak’ atau ‘sedikit’ dan ‘lebih banyak’ atau lebih sedikit’.

Pada zaman dahulu manusia mampu untuk mengetahui apakah suatu jumlah bertambah atau berkurang. Mereka juga mampu mengetahui jumlah yang lebih banyak di antara dua kelompok sesuatu. Tapi mereka tidak mampu menyebutkan jumlahnya secara tepat. Kemampuan ini dinamakan number sense atau indera bilangan.

Kebutuhan akan Bilangan

Pada masa selanjutnya perkembangan perdagangan menuntut mereka untuk mengembangkan nama untuk bilangan-bilangan tertentu. Bayangkan suatu hari petani tersebut harus mencocokan jumlah barang atau benda yang sangat banyak. Mencocokan jumlah berkarung-karung mangga dengan dengan berkarung-karung apel pasti mengahabiskan banyak waktu. Para petani itu juga tidak bisa menghitung buah milik mereka masing-masing karena berhitung membutuhkan pembanding.

Pada titik inilah mereka membutuhkan nama untuk bilangan atau jumlah tertentu. Melalui proses ini terbentuklah konsep tentang angka. Mereka mulai mampu menghitung benda-benda tanpa perbandingan. Setiap jumlah memiliki sebutan. Saat bertransaksi setiap petani cukup menyebutkan bilangan sesuai jumlah buah atau barang yang mereka miliki.

Di tahap ini pula konsep tentang penjumlahan dan pengurangan juga berkembang. Saat barang yang ingin ditukarkan lebih banyak dari barang yang diterima maka barang yang dtukarkan akan dikurangi. Cara pengurangannya adalah denan menghitung jarak antara barang yang ditukarkan dengan barang yang diterima. Proses penjumlahan juga berjalan melalui cara ini.

Baca juga: Infinite (Tak Terbatas) ∞

Kebutuhan akan Angka

Saat perkembangan interkasi perdagangan semakin berkembang. Konsep tentang bilangan yang telah ada menghadapi kendala. Para petani dan pedagang tidak dapat mengingat jumlah yang terlalu banyak. Seorang saudagar yang ingin melakukan transaksi dalam jumlah besar dan dengan barang yang bermacam-macam mengalami kesulitan untuk mengingat jumlah yang pasti dari tiap barang miliknya. Dia membutuhkan lambang tertulis untuk jumlah setiap barang dagangannya.

Dengan proses ini berkembanglah konsep tentang angka. Angka adalah lambang bagi bilangan dan jumlah tertentu. Setiap bilangan membutuhkan lambang yang membedakannya dengan bilangan lain. Sebagai contoh jumlah atau bilangan ‘satu’ dilambangkan dengan angka 1. Bilangan ‘lima’ dilambangkan dengan angka 5. Angka 75 adalah lambang bagi bilangan ‘tujuh puluh lima’ dan begitu seterusnya. Ini adalah lambang bilangan (angka) yang kita kenal saat ini. Pada masa itu angka tidaklah seperti ini.

Sampai tahap ini para petani dan pedagang seolah telah memecahkan semua persoalan mereka tentang angka. Tetapi ternyata tidak. Mereka masih memiliki tuga untuk menuliskan bilangan-bilangan besar dengan cara yang sederhana. Karena konsep mereka tentang angka memiliki kerumitan dalam penulisan bilangan yang besar. Sebagai contoh, lambang bilangan (angka) dalam kebudayaan Mesir kuno untuk jumlah satu juta adalah manusia yang duduk dengan mengangkat kedua tanganya seolah sedang berdoa. Dan mereka tidak mengenal lambang lain untuk angka di atas itu. Lambang ini juga digunakan untuk menggambarkan jumlah di atas satu juta.

Bentuk-bentuk angka tersebut akan dibahas pada tulisan selanjutnya.

Untuk bacaan lebih lanjut:

Basic Math & Pre-Algebra for Dummies dari Mark Zegarelli

A Brief Introduction to Ancient Counting Systems for Non-Mathematicians dari David Cycleback

A History of Mathematics from Mesopotamia to Modernity dari Luke Hodgkin

Brief History of Numbers dari Leo Corry

The Evolution of Number dari Allen Klinger

Lainnya dari Pps Unida:

Infinite (Tak Terbatas) ∞

Membicarakan Waktu: Apakah Waktu Itu?

Al Ustadz KH. Ahmad Suharto: Benarkah Kita Merdeka?

Kesan Tamu, Prof. Martin van Bruissen tentang Gontor dan Unida