Sejarah Kanonifikasi al-Qur’an

Epistemologi dan Al-Qur'an

Oleh: Muhammad Dhiaul Fikri

Salah satu objek kajian para Sarjana Barat mengenai teks al-Qur’an adalah Sejarah teks al-Qur’an. Secara umum terdapat tiga sasaran kritik mereka terhadap Mushaf Utsmani yang saat ini ada ditangan umat Muslim. Pertama, mengenai koleksi dan susunan teks dari lisan sampai tulisan. Kedua, perbedaan tata cara baca teks al-Qur’an. Ketiga, proses penulisan teks dan cara baca yang di bakukan di zaman Utsman. Tulisan di bawah ini ingin menjelaskan secara ringkas bagaimana sejatinya sejarah proses pembukuan al-Qur’an menjadi mushaf yang final dan akhirnya di gunakan hingga saat ini.

Fase Kanonifikasi

Terdapat tiga fase kesejarahan penulisan al-Qur’an yang harus diketahui umat Islam. Pertama, pada masa Nabi. Pada masa ini para sahabat mendapatkan bimbingan secara langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Sehingga tulisan-tulisan para sahabat tersebut tertulis secara imla (dikte) oleh Nabi, dan kemudian dikoreksi langsung secara pribadi oleh Nabi Muhammad SAW. Disamping itu, Nabi juga memiliki otoritas penuh dalam penyusunan ayat yang telah diterimanya. Itu artinya, para sahabat tidak mungkin dapat semena-mena menyusun ayat al-Qur’an dengan sendirinya.

Kedua, Masa sahabat (Abu Bakar). Pada masa sebelum Abu Bakar, teks-teks al-Qur’an yang telah ditulis dibawah bimbingan tadi didokumentasikan, namun belum dalam bentuk yang utuh keseluruhan. Hal tersebut karena Nabi Muhammad SAW pada saat itu masih hidup dan dijadikan sebagai satu-satunya sumber jika terdapat perbedaan diantara para sahabat. Kemudian, dikhawatirkan akan adanya teks yang akan di naskh oleh teks yang datangnya kemudian. Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, dan naiknya Abu Bakar sebagai Khalifah, barulah kemudian Umar bin Khattab mendesak Abu Bakar agar segera melakukan kanonifikasi ayat al-Qur’an dikarenakan banyaknya para penghafal dan pemilik teks-teks yang meninggal pada saat perang Yamamah. Upaya tersebut akhirnya mendapat dukungan dari para sahabat untuk melakukan ijtihad agar mengumpulkan ayat al-Qur’an menjadi utuh. Namun, cara kerja pengumpulan teks dengan segala kehati-hatian yang dilakukan saat itu masih memperbolehkan tradisi varian qira’ah fi sab’ati ahruf.

Baca juga:

Epistemologi Ilmu Pengetahuan dan Relevansinya dalam Studi Al-Qur’an

History, Theology and the Biblical Canon: an Introduction to Basic Issues

Ketiga, Masa Sahabat (Utsman bin Affan). Terdapat perbedaan yang sangat tampak antara proses pengumpulan al-Qur’an di zaman Abu Bakar dan Utsman bin ‘Affan, yaitu legalisasi perbedaan bacaan dalam qira’ah fi sab’ati ahruf  yang di lakukan oleh Nabi saat itu masih ada di zaman Abu Bakar. Sedangkan di zaman Utsman bin ‘Affan hal tersebut diseragamkan menjadi satu dialek yakni Quraisy. Hal tersebut dikarenakan untuk menghindari ‘perseteruan’ umat tentang perbedaan cara baca al-Qur’an. Upaya Utsman tersebut tidak mengatasnamakan kepentingan pribadi sebagai penguasa, melainkan untuk kemaslahatan umat Islam bersama dan penyatuan umat Islam di bawah cara baca yang standar. Selain itu, juga menghilangkan elemen-elemen yang non-Qur’an yang tertulis dalam mushaf-mushaf koleksi pribadi para sahabat yang biasanya mereka gunakan sebagai penjelasan teks yang didapat dari Syarh Nabi Muhammad SAW.

Kesimpulan

Dengan demikian, ketiga fase dalam sejarah penulisan diatas sejatinya saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Selain itu, pengumpulan teks al-Qur’an pada masa Utsman sejatinya juga dilewati dengan proses seleksi yang sangat ketat dalam menerima teks dari para penghafal dan pemilik koleksi pribadi. Tidak berlebihan jika dikatakan proses tersebut sejatinya sangatlah Mutawatir, tidak terdapat kekurangan maupun kelebihan di dalamnya. Sehingga Mushaf Utsmani yang ada di tangan umat Muslim saat ini sejatinya bentuk akhir dari redaksi al-Qur’an yang utuh dan orisinil. Kemudian, berdasarkan penjelasan diatas pula, asumsi-asumsi yang didengungkan oleh sarjana Barat dalam upaya mengkritik Qur’an mushaf Utsmani pun tidaklah dapat diterima. Bahkan hingga saat ini pun mereka tidak dapat menunjukkan secara kongkrit bagian-bagian al-Qur’an yang dianggap hilang ataupun tambahan. Karenanya klaim ketidak utuhan al-Qur’an yang ada saat ini tidaklah dapat dibuktikan secara ilmiah.

Lainnya dari Pps Unida:

Seminar Pada HUT RI: Antara Keindonesiaan dan Keislaman

Al Ustadz KH. Ahmad Suharto: Benarkah Kita Merdeka?

Kesan Tamu, Prof. Martin van Bruissen tentang Gontor dan Unida

Kunjungan Prof. Martin, Pps Unida Kembali Menjadi EO