Seminar Pada HUT RI: Antara Keindonesiaan dan Keislaman

Indonesia dan Islam

Oleh: Ahmad Rizqi Fadlilah

UNIDA Gontor – Bertepatan dengan peringatan kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia (17/08/2019), UNIDA Gontor mengadakan seminar bersama Prof. Dr. Martin van Bruinessen. Pembicara adalah seorang guru besar di Utrecht University, Belanda. Tema yang dibicarakan dalam seminar yang diselenggarakan setelah upacara ini sungguh menarik, apalagi masih berhubungan dengan tema sejarah kemerdekaan Indonesia: Nasionalisme, Islam, dan Gerakan Transnasional.

Dalam makalahnya, Profesor yang juga menjadi peneliti di Universitas Nasional Singapura ini  menjelaskan secara runtut geliat gerakan Islam sejak awal abad ke-20 hingga saat ini. Menurut Prof. Martin, di Indonesia ini setidaknya terdapat tiga tipologi gerakan Islam. Pertama, Islam Lokal, yaitu gerakan Islam yang sifatnya kedaerahan, tradisional, dan akomodatif terhadap budaya setempat. Kedua, Islam Nasional yang lebih luas cakupannya. Tidak hanya berlaku untuk seuatu lokal saja, Tipologi ini berlaku untuk suatu lingkup negara, misalnya: Islam Indonesia. Adapun Islam transnasional, ia adalah tipologi Islam yang tidak mengenal batas wilayah sebuah negara bangsa. Islam transnasional lebih bersifat global.

DARI ISLAM TRANSNASIONAL MENJADI NASIONAL

Menurut profesor yang lahir di Brunessen ini, tiap tipologi Islam yang ada di Indonesia tersebut senantiasa mengalami dinamika. Tipologi Islam transnasional misalnya, ia secara perlahan mengalami perubahan hingga pada akhirnya menjadi Islam nasional. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada awal abad-20, di mana organisasi-organisasi Islam mulai bermunculan, seperti Muhammadiyah, SDI (Sarekat Dagang Islam), SI (Sarekat Islam), NU (Nahdhatul Ulama), dsb. Dalam analisanya, kemunculan organisasi-organisasi ini merupakan sebuah revolusi dakwah.

Pada periode yang sama, di tempat yang berbeda, tepatnya di Turki, terjadi sebuah momentum yang mengejutkan: penghapusan institusi khilafah dan munculnya negara sekuler Turki oleh Mustafa Kemal (tepatnya 3 Maret 1924). Di Indonesia sendiri, ada kesadaran untuk membentuk kembali khilafah Islam yang menaungi ummat secara global. Pada rentang waktu antara 1922-1932, banyak diadakan konferensi ummat Islam dalam rangka tersebut. Baik itu Muhammadiyah, NU, maupun SI, ketiga-tiganya memiliki semangat yang sama.

Baca juga:

Al Ustadz KH. Ahmad Suharto: Benarkah Kita Merdeka?

Kesan Tamu, Prof. Martin van Bruissen tentang Gontor dan Unida

Kunjungan Prof. Martin, Pps Unida Kembali Menjadi EO

Tidak hanya di wilayah Nusantara, konferensi-konferensi dalam rangka upaya pembentukan kembali khilafah juga diadakan dalam forum internasional. Ulama Nusantara sendiri turut serta mengirim utusan dalam rangka tersebut. Sayangnya, ulama-ulama tersebut tidak ada yang menguasai dua bahasa (Arab dan Inggris) sekaligus, sehingga cukup kesulitan untuk menyampaikan pandangan dan gagasannya. Kondisi ini, disadari oleh para pendiri Gontor hingga terinspirasi untuk menggagas pesantren yang mengajarkan bahasa Arab dan Inggris di samping pelajaran ilmu syariah dan ilmu lainnya.

Setelah Indonesia merdeka, bahasan Islam yang transnasional cenderung beralih. NU dan Muhammadiyah sendiri lebih berfokus kepada masalah keummatan dalam konteks Keindonesiaan. Bahkan, dua organisasi ini menjadi unsur yang memperkuat Indonesia. Dalam bahasa Prof. Martin, NU dan Muhammadiyah menjadi semacam fotokopi negara. Sebab, sebagaimana Indonesia, NU dan Muhammadiyah memiliki kepengurusan hingga tingkat desa. Bahkan, di luar negeri, masing-masing organisasi tersebut juga memiliki perwakilan sebagaimana halnya negara yang memiliki duta besar.

DARI TRANSNASIONAL MENJADI LOKAL

Tidak hanya meneliti organisasi kemasyarakat Islam, Prof. Martin juga tertarik pada kajian mengenai tarekat di Indoensia. Sebab, adanya tarekat-tarekat di Indonesia itu juga merupakan fenomena unik di kalangan masyarakat.

Tarekat-tarekat tersebut pada hakikatnya bukanlah produk orisinil ulama Indonesia. Para ulama sufi lah yang membawa ajaran-ajaran tersebut dan menyebarkannya di kalangan ummat. Tarekat-tarekat seperti Naqsabandiyah, Qadariyah, dan Syadziliah misalnya, ternyata merupakan perwujudan Islam transnasional. Tarekat-tarekat tersebut tidak terbatas oleh demarkasi ataupun garis pemisah suatu negara bangsa. Ia ada di seluruh dunia Islam di belahan bumi manapun. Uniknya, saat tarekat-tarekat tersebut masuk ke Indonesia, para ulama yang membawa ajaran-ajaran tarekat tersebut memutuskan hubungan global tersebut. Akhirnya, tarekat-tarekat tersebut menjadi bersifat lokal.

Melalui seminar ini, para peserta mendapatkan tambahan wawasan mengenai Keislaman dan Keindonesiaan. Tentu, wawasan itu menjadi lebih bermanfaat jika dikaji lebih dalam. Seminar ini seakan menjadi ajang untuk mengisi hari kemerdekaan dengan kegiatan yang bermakna, bukan sekadar acara seremonial. []

Foto: https://jalandamai.org/wp-content/uploads/2016/03/Konvergensi-Islam-Nasionalisme.jpg

Lainnya dari Pps Unida:

Epistemologi Ilmu Pengetahuan dan Relevansinya dalam Studi Al-Qur’an

Hadiah Khusus Dr. Hidayatullah kepada Mahasiswi IZU

Membicarakan Waktu: Apakah Waktu Itu?

A Joint Forum Indonesia-Turkey: Wadah Diskusi Mahasiswa HI dan IZU