Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas: Meminjam Kacamata Heidegger

teknologi dan realitas

Oleh: Yongki Sutoyo

Perkembangan teknologi dewasa ini semakin pesat di berbagai bidang. Kita, manusia seolah—atau memang demikian adanya—tak bisa lepas darinya.  Dari tempat paling privat, kamar mandi, hingga tempat-tempat umum, semuanya menggunakan teknologi. Kita mesti sudah akrab dengan kata, Go-Jack, Uber, Traveloka, Buka Lapak dan sejenisnya—yang juga merupakan industri kebanggaan pemerintah dan di elu-elu kan sebagai simbol kemajuan—yang memudahkan segala aktivitas harian kita dalam bepergian, membeli atau menjual sesuatu dengan satu, dua tiga klik, beres. Tiap hari kita juga tidak bisa lepas dengan si “kota mungil” yang pintar alias smart-phone. Yang setiap saat, kapan pun dan di mana pun ia selalu menemani kita. Malah, jika si “kotak mungil” ini hilang barang sejenak dari genggaman, kita bakal pusing tujuh keliling dan lemas-lunglai bak kehilangan separuh jiwa. Singkatnya, teknologi adalah bagian dari kita; teknologi adalah kita, begini mungkin ujar melenials. Lantas, apa itu teknologi? Apakah teknologi selalu melambangkan kemajuan? Atau sebaliknya? Tulisan ringkas ini akan menguraikan pertanyaan-pertanyaan itu dengan meminjam pemikiran Heidegger berkaitan dengan teknologi.

Bagi kebanyakan orang, teknologi adalah alat/sarana pembantu untuk mempermudah aktivitas manusia. Sebab dengan teknologi, semuanya bisa disingkat dengan satu kata: efisien. Namun benarkah teknologi adalah alat atau aktivitas penggunaan alat? Dalam pandangan Heidegger, teknologi lebih dari sekadar aktivitas penggunaan alat-alat teknologis.  Dengan kata lain, esensi teknologi tidaklah bersifat teknologis. Hal yang fundamental, menurut Heidegger, bukanlah teknologi itu sendiri ataupun bentuk-bentuk teknologi, melainkan orientasi kita terhadap teknologi.[1] Pada tataran ini, esensi teknologi lebih dipahami secara eksistensial karena berkaitan dengan cara manusia memandang dunianya. Esensi teknologi merujuk pada suatu cara pandang dan pangalaman yang membentuk dan membingkai cara bertindak kita, cara bagaimana kita menggunakan alat-alat, dan cara bagaimana kita berhubungan dengan dunia kehidupan (lebenswelt). Oleh karena itu, konsep teknologi yang instrumental (sebagai sarana) dan antropologis (sebagai aktivitas manusia) ditolak oleh Heidegger.[2]

Teknologi dan Penyingkapan Realitas

Dalam pandangan Heidegger, ada kaitan erat esensi teknologi dan penyingkapan realitas.[3] Menurut Heidegger, kata teknologi berasal dari kata Yunani, techne, yang tidak hanya menyangkut aktivitas atau keahlian menukang dengan tangan, tetapi juga seni pikiran (the art of the mind).[4] Techne melibatkan pengetahuan praktis dan pengetahuan ini membawa suatu penyingkapan. Artinya, techne merupakan suatu cara penyingkapan. Techne menjadi suatu cara di mana benda-benda dibantu untuk muncul atau disingkapkan. Jika kita kaitkan Techne dengan teknologi modern,  teknologi modern bukanlah seni tangan (work of craftsmanship), melainkan suatu penyingkapan.[5] Hal yang membedakan teknologi modern dari teknologi kuno terletak pada fakta bahwa teknologi modern tidak melibatkan suatu dalam arti poiesis (perbuatan demi suatu hasil yang bernilai di luar perbuatan itu sendiri, seperti membuat puisi), sedangkan teknologi kuno mempunyai sifat-sifat mencipta yang puitis. Penyingkapan yang dominan dalam teknologi modern adalah challenging forth (herausforden).[6] Cara penyingkapan ini menuntut alam secara berlebihan untuk menyumbangkan energinya supaya manusia dapat menyimpan dan menggunakannya. Alam dan bumi dilihat sebagai persediaan (“standing reserve”/Bestand) yang dapat diambil, disimpan, dan digunakan.[7]

Cara menyingkap ketidaktersembunyian alam dan cara memandang alam semacam itu di dalam teknologi modern dinama Heidegger sebagai “enframing” (das Gestell), yaitu membingkai.[8] Dalam hal ini, teknologi sebagai penyingkapan muncul dalam proses membingkai. Membingkai menjadi suatu cara sistemik yang membatasi dalam memandang dunia. Dengan membingkai, seluruh bumi dilihat sebagai “standing-reserve”, di mana alam dipandang sebagai sumber energi untuk kegunaan instrumental manusia. Implikasi dari pandangan ini adalah bumi semata-mata dilihat sebagai sumber energi. Dalam pembingkaian, ketidaktersembunyian disingkapkan, di mana teknologi modern menyingkapkan yang real sebagai persediaan (standing-reserve). [9]

Bagian kedua: Teknologi Sebagai Pembingkai Realitas: Meminjam Kacamata Heidegger

[1] Joan Damaiko Udu,”Teknologi dalam Pemikiran Heidegger”, dalam Cogito, 2017., hlm. 1.

[2] Joan Damaiko Udu,”Teknologi dalam Pemikiran Heidegger”, hlm. 1.

[3] Joan Damaiko Udu,”Teknologi dalam Pemikiran Heidegger”, hlm. 2.

[4] Joan Damaiko Udu,”Teknologi dalam Pemikiran Heidegger”, hlm. 2.

[5] Joan Damaiko Udu,”Teknologi dalam Pemikiran Heidegger”, hlm. 3.

[6] Joan Damaiko Udu,”Teknologi dalam Pemikiran Heidegger”, hlm. 3.

[7] Joan Damaiko Udu,”Teknologi dalam Pemikiran Heidegger”, hlm. 3.

[8] Joan Damaiko Udu,”Teknologi dalam Pemikiran Heidegger”, hlm. 3.

[9]Joan Damaiko Udu,”Teknologi dalam Pemikiran Heidegger”, hlm. 3.

Sejarah Angka: Bagaimana Angka Muncul dan Berkembang

Infinite (Tak Terbatas) ∞

Membicarakan Waktu: Apakah Waktu Itu?

Epistemologi Ilmu Pengetahuan dan Relevansinya dalam Studi Al-Qur’an