Tips Menulis Tesis dengan Baik Pengalaman Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

PPs UNIDA Gontor  Direktur Program Pascasarjana Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Ed., M.Phil di akhir kajian kitab Prolegomena to the Metaphysics of Islam, karya Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas memberikan pengalamanya kepada mahasiswa pascasarjana seputar tips menulis tesis. Senin Pagi, 8 April 2019 Bertempat di Gedung Asrama Ali bin Abi Thalib Lt 2.

Ustadz Hamid, Sapaan akrab beliau memaparkan pengalamannya menulis tesis Master of Philosophy (M.Phil) selama di University of Birmigham, Inggris. Jika ingin cepat selesai jangan sampai melewatkan hari tanpa menulis.

“Kalau anda harus menulis tesis setebal 150 halaman, maka estimasinya setiap hari anda harus menulis 1 halaman perharinya. Jadi, jika di total membutuhkan waktu sekitar 4 bulan. Tulis, setiap hari anda harus berada di depan laptop dan harus ada yang ditulis” paparnya.

Apabila anda tidak menulis, maka fokuskan diri untuk membaca dalam dua hari kemudian hasil dari bacaan selama dua hari tersebut ditulis sebanyak 2 lembar. Itu konsekuensi dari hasil kegiatan anda selama ini.

Putra ke-9 dari KH Imam Zarkasyi yang dikenal rajin menulis buku ini juga mengungkapkan bahwa problem yang di hadapi mahasiswa saat menulis tesis adalah bukan lama proses penulisan tesisnya, akan tetapi lama tidak menulisnya. Kebanyakan diantara mahasiswa memikirkan hal yang lain, selain tesis (tidak fokus). Beliau mencontohkan orang yang menulis tesis ibarat sedang menjahit pakaian, apabila  sedang menjahit lalu ia mengerjakan pekerjaan lainnya tentu jahitannya itu tidak akan pernah selesai, begitu pula dengan menulis.

“Anda harus komitmen mencari sumber yang akan menjadi judul tesis, kalau anda sedang malas menulis maka bacalah sebanyak-banyaknya, kumpulkan materi-materi dalam bentuk kuotasi, atau membeli buku-buku yang berkaitan atau pergi ke perpustakaan mengcopy beberapa halaman dari buku yang terkait dengan judul tesis. setelah anda kumpulkan maka anda harus tahu isu topik dan problem statmentnya, beliau berpesan untuk menghidari mengumpulkan sedangkan tidak tahu problemnya”. Papar tokoh pendiri INSITS ini.

Maka dari situlah perlunya survey literatur untuk menemukan masalah. Masalah literatur mucul  dari hasil bacaan yang dikutip dari berbagai macam argumen tokoh yang diambil dari buku bacaan.

Lebih lanjut beliau mencontohkan jika ingin membahasa tentang  “the concept of fitrah in Islam”, maka bacalah tulisan para mutakalimun tentang fitrah, baca para mufasirun mengenai makna fitrah, baca para falasifah tentang fitrah, kumpulkan semua yang berkaitan dengan fitrah, ada tidak perbedaan pendapat dari mereka kemudian sumbernya kata fitrah ini dari mana? dari al-Qur’an ada pada tafsirnya lihat di al-Qur’an ada berapa kata fitrah dalam al-Qur’an. Dalam program master kita itu namanya rekonseptualization of islamic term jadi mengkonsep kembali istilah-istilah / simbol-simbol kebahasaan dalam Islam.

“Anda mungkin ingin membahasakan istilah fitrah ini kedalam bahasa yang kontemporer anda dapat membandingkan dengan istilah yang ada dalam psikologi misalnya. Anda kaji dulu yang Islam  kemudian anda bandingkan dengan yang di luar Islam. Anda akan mendapatkan sesuatu yang mestinya dalam Islam ada aspek yang berbeda sehingga kontribusi dalam akademis.”

Baca semua topik yang berkaitan, anda akan tau topik yang akan menjadi isu. Setelah terkumpul semua problem statement, maka kajian pustaka juga sangat penting untuk menemukan formulasi masalah. Setelah itu buat draft awal, kemudian susun dalam bentuk tulisan, dan konsulatasikan ke pembimbing, Tutup Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat. [H. Wafi]

Berita terkait: