Worldview Intrusion Dan Solusinya

Worldview Intrusion Dan Solusinya

Pendahuluan 

Clash of Worldview, istilah ini paling tepat untuk digunakan sebagai komparasi antara worldview Barat yang menjadikan ‘konsep manusia’ sebagai konsep tertinggi diantara konsep-konsep lainnya (Antroposentrisme), dengan worldview Islam yang menjadikan ‘konsep Tuhan’ sebagai konsep kunci, inti dan tertinggi (Teosentrisme).Sehingga mempengaruhi cara pandang antara kedua peradaban ini dalam memandang ilmu pengetahuan. Secara umum sumber utama konsep ilmu dalam peradaban Barat adalah rasio dan indera dengan berlandaskan pada keraguan serta diperkuat oleh spekulasi filosofis.Sedangkan sumber utama konsep ilmu dalam Islam adalah pancaindera (al-hawas al-khamsah), akal fikiran sehat (al-aql al-salim), berita yang benar (al-khabar al-shadiq), dan intuisi (ilham).

Dikarenakan Barat menafikan peran wahyu dalam membimbing rasio dan panca indra mereka, maka lahirlah worldview yang sekular dalam memandang ilmu. Memisahkan sains dengan agama, rasio dengan wahyu, iman dengan ilmu, dan pada akhirnya worldview sekular ini melahirkan faham ateisme, yang berpengaruh pada berbagai bidang dan disiplin keilmuan, seperti filsafat, teologi, sains, sosiologi, psikologi, ekonomi, dan lain-lain.

Implikasi dari worldview sekular ini melahirkan hypothesa yang menyatakan bahwa, “semakin cerdas seseorang,ia akan semakin sekular bahkan ateis dan semakin bodoh seseorang maka ia semakin religius”. Hypothesa ini mengindikasikan bahwa tidak ada korelasi antara kecerdasan dengan dengan keimanan. Artinya, tidak ada relasi antara ilmu dan iman. Namun sebaliknya, kondisi seperti itu tidak terjadi dan tidak dibenarkan dalam Islam. Keimanan yang berlandaskan kepada tauhid dan kecerdasan dalam Islam selalu berjalan secara bersamaan. Hal ini dipertegas oleh ar-Razi dalam bukunya Aja’ib al-Qur’anbahwa konsep iman dan Islam selalu berkaitan dengan ilmu. Ketiganya merupakan jaringan yang tak dapat dipisahkan. Hal ini jelas berbeda dengan kondisi yang terjadi di dunia Barat.

Baca Juga: Pengkultusan Orang Sholeh

Akibat dari pengaruh worldview sekular yang disebarkan melalui sekularisasi ilmu dari Barat, yang merasuk kedalam pemikiran-pemikiran kaum Muslimin, maka terjadilah di sana-sini kebingungan (confusion) intelektual dan kehilangan identitas (lost of identity). Namun disini menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi istilah clash of worldview lebih tepat disebut worldview intrusion. Banyak contoh yang bisa membuktikan bahwa pemikiran umat Islam kini sedang dirasuki oleh worldview peradaban lain. Banyak cendekiawan Muslim atau ulama memuji habis-habisan pemikiran Immanuel Kant, Karl Marx, Thomas S. Kuhn, Derrida dan kawan-kawan, tapi mengkritik al-Asy’ari, al-Ghazali, al-Shafi’i dan lain-lain. Adapula yang ragu apakah al-Qur’an benar-benar wahyu Allah, sedangkan ia percaya rukun Iman.

Seluruh problem diatas, menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam bukunya yang berjudul “Misykat” termasuk dari implikasi worldview intrusion, artinya Ia memahami makna tauhid, tapi tidak tahu berpikir tauhidi. Imannya tidak didukung oleh akalnya sehingga ilmunya tidak menambah imannya. Ia berilmu namun tidak memahami tujuanutamadariilmu sehingga berimplikasi pada lost of adab,Muslim tapi worldview dan framework berpikirnya tidak. Itulah dampak dari worldview intrusion.

Baca juga: Radikal: Menguak Maknanya bersama Dr. Syamsuddin Arif, M.A

Menurut al-Attas, kekeliruan yang ditimbulkan oleh campuran kedua pandangan alam (worldview intrusion) inilah yang menjadi akar permasalahan epistemologis, dan juga seterusnya menjadi masalah teologis.Akhirnya, worldview sekular ini berimplikasi pada ilmu pengetahuan yang tidak bebas nilai atau tidak netral, sehingga dari worldview sekuler diatas al-Attas berani menyimpulkan bahwa “Problem terbesar yang dihadapi kaum Muslimin adalah ilmu pengetahuan modern yang tidak netral, telah merasuk ke dalam praduga-praduga agama, budaya dan filosofis, yang sebenarnya berasal dari refleksi kesadaran dan pengalaman serta pemikiran manusia Barat. Jadi, ilmu pengetahuan modern harus diislamkan”.

Maka, solusi dari worldview intrusion ini adalah “Islamisasi Ilmu Pengetahuan”sebagaimana statemen al-Attas diatas. Namun, pertanyaannya, mengapa harus Islamisasi Ilmu? Dan apa alasannya? Karena, mendiagnosa virus yang terkandung dalam Westernisasi ilmu, menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, hanya bisa diobati dengan Islamisasi ilmu.Alasannya, bahwa tantangan terbesar yang dihadapi kaum Muslimin adalah ilmu pengetahuan modern yang tidak netral dan telah diinfus ke dalam praduga-praduga agama, budaya dan filosofis, yang sebenarnya berasal dari refleksi kesadaran dan pengalaman manusia Barat. Jadi, ilmu pengetahuan modern harus diislamkan.

Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Menurut al-Attas, mengislamkan ilmu bukanlah pekerjaan yang mudah seperti labelisasi, selain itu, tidak semua dari Barat berarti ditolak. Sebabnya, terdapat sejumlah persamaan antara Islam; dan filsafat dan sains Barat. Oleh sebab itu, seseorang yang ingin mengislamkan ilmu, harus mampu mengidentifikasi pandangan hidup Islam (the Islamic Worldview) sekaligus mampu memahami budaya dan peradaban Barat, dan mampu mengidentifikasi pandangan hidup Islam disini yakni mampu menguasai berbagai konsep yang saling terkait dalam worldview Islam. Seperti, konsep Tuhan, wahyu, penciptaan, psikologi manusia, ilmu, agama, kebebasan, nilai dan kebaikan serta kebahagiaan. Konsep-konsep tersebut yang menentukan bentuk perubahan, perkembangan dan kemajuan serta ditambah pandangan hidup Islam yang dibangun atas konsep Tuhan yang unik, yang tidak ada pada tradisi filsafat, budaya, peradaban dan agama lain.

Baca juga: Batasan Taat Pada Pemimpin

Hal ini, dikarenakan bahwa pandangan hidup dalam Islam adalah visi mengenai realitas dan kebenaran (the vision of reality and truth). Realitas dan kebenaran dalam Islam bukanlah semata-mata fikiran tentang alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik dan budaya sebagaimana yang ada di dalam konsep Barat sekular mengenai dunia, yang dibatasi hanya kepada dunia yang dapat dilihat. Realitas dan kebenaran dimaknai berdasarkan kepada kajian kepada metafisika terhadap dunia yang nampak dan tidak nampak. Artinya, pandangan hidup Islam mencakup pandangan terhadap dunia dan akhirat, yang mana aspek dunia harus di hubungkan dengan cara yang sangat mendalam kepada aspek akhirat, dan aspek akhirat memiliki signifikansi yang terakhir dan final.

Adapun pandangan hidup Islam sendiri, tidak berdasarkan kepada metode dikotomis seperti “obyektif dan subyektif, historis dan normatif, deduktif dan induktif, empiris dan rasional”. Namun, realitas dan kebenaran dalam Islam dipahami dengan metode yang menyatukan (the method tauhid of knowledge).Dengan metode tauhidi ini, maka metode “obyektif dan subyektif, historis dan normatif, deduktif dan induktif, empiris dan rasional, fisika dan metafisika”, dalam ilmu pengetahuan tidak dipertentangkan, melainkan digunakan secara bersama-sama dan saling melengkapi.Faktanya, tidak semua hal itu dapat diindera, dan karenanya, pendekatan rasional harusdikedepankan. Lebih dari itu, dalam Islam dikenal pendekatan intuitif sebagai metodekeilmuan.

Kesimpulan

Dikarenakan esensi Islam adalah agama sekaligus peradaban. Maka salah satu langkah untuk mengembalikan makna Islam sebagai agama dan sekaligus peradaban yakni, dengan “Islamisasi ilmu pengetahuan”.Karena menurut al-Attas, Islamisasi akan berimplikasi pada pembebasan akal manusia darikarakter worldview intrusion seperti “keraguan (shakk), dugaan (dzan), dan argumentasi kosong (mira’)” menuju keyakinan akan kebenaran mengenai realitas spritual, intelligible dan materi.Serta Islamisasi akan mengeluarkan penafsiran-penafsiran ilmu pengetahuan kontemporer dari ideologi, makna dan ungkapan sekular.

Pen : Al- Ustadz Dedy Irawan, M.Ag
Dosen Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam