Zettelkasten: Berpikir dengan Menulis

Tahun 60-an, muncullah Niklas Luhmann, seorang profesor sosiologi dari Jerman yang sangat produktif. Dalam 40 tahun di bidang akademis, Niklas mampu menghasilkan 50 buku dan 600 artikel. Ini tentu sangat mengagumkan, seakan ada manusia super yang bisa kerja nonstop bagaikan mesin yang memproduksi karya ilmiah yang terus bekerja tanpa henti. Dari mana ide sekian banyak itu muncul?? Di balik semua itu, ternyata Niklas memiliki sistem yang membantunya dalam menulis dan berpikir. Sistem itu adalah Zettelkasten, yang singkatnya berarti kotak kertas catatan.

Kotak catatan Niklas Luhmann tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Kotaknya adalah berupa lemari 6 baris dengan laci selebar A6 4 setinggi 4 baris. Isinya adalah 90 ribu kertas berisi catatan-catatan pendek dari ide-ide bacaan dan hasil berpikirnya. Semuanya ditulis menggunakan pena dan kertas, tidak lebih. Namun jangan salah, itulah semua rahasia dari produktifitasnya yang tinggi. 

Image courtesy of David B. Clear (CC BY-SA 4.0)

Zettelkasten digambarkan oleh Luhmann sebagai teman berpikir dan berdiskusi, otak memori kedua, bahkan septic tank, atau bahkan hewan pemamah biak informasi bagaikan sapi. Dengan alat itu, Luhmann mampu berpikir, belajar, menulis, dan berkreasi dengan sangat produktif. Sebelumnya, kita harus tahu kenapa sistem mencatat yang ada selama ini kurang efektif untuk berpikir dan menulis. 

 

Problem dari Catatan Acak

Coba amati, dari sekian tahun kita belajar dengan mengikuti sekian kelas dan pidato pengarahan, tentu banyak dari penonton (lebih tepatnya, siswa pelajar) mencatat di buku catatan masing-masing. Namun, berapa dari catatan itu yang berkontribusi pada cara berpikir/mindset mereka? Lalu bagaimana nasib catatan itu setelah andaikan sekian lama tertimbun di dalam kardus sudut gudang? Adakah yang masih bisa mengingat apa maksud dan isi dari catatan itu? Bisakah catatan itu menghasilkan buku ataupun tulisan baru untuk diterbitkan? 

Seringkali catatan-catatan itu tidak banyak berguna karena tidak banyak membantu kita menemukan hubungan dengan ide dan pemikiran kita sebelumnya. Seringkali kita mencatat secara kronologis sesuai urutan tanggal penulisan, hari pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Belum lagi karena terpisah dengan halaman dan buku tulis, sangat menyulitkan bagi kita untuk mencari koneksi antara satu tulisan dan lainnya. Bisa digambarkan tulisan kita di buku catatan adalah seperti gambar berikut ini. 

Image courtesy of David B. Clear (CC BY-SA 4.0)
 

Ide itu terpahat di halaman tertentu, buku tertentu, dan susah dihubungkan antara satu ide topik dan lainnya. Akan sangat susah untuk menyusun ulang ide itu berdasarkan susunan yang kaku seperti ini. Sekarang bayangkan, kita menulis ulang catatan itu di lembaran kertas yang tidak terjilid! Sehingga setiap ide itu akan tertuang dalam satu kertas tertentu dan tidak dibatasi oleh jilidan buku tulis. Gambaran catatan di lembaran kertas itu adalah seperti ini.

Image courtesy of David B. Clear (CC BY-SA 4.0)
 

Ide itu akan bebas bertebaran kemana-mana, namun akan sangat kesulitan bagi kita untuk menyusun ulang ide itu tanpa ada struktur dan sistem yang mengatur dan menghubungkannya. Itulah pentingnya ada Zettelkasten sebagai sistem yang membantu kita berpikir dengan ide-ide bebas yang pernah tertulis.

 

Zettelkasten: Berpikir dengan Menulis

“Oke, andaikan aku menulis dengan kertas binder kan bisa dipindah-pindah, bisa dong?” Memang, penggunaan binder bisa memudahkan kita memindah satu kertas ke binder atau menata ulang sesuai kebutuhan. Namun problemnya, penggunaan binder ataupun folder/laci dengan sistem kategori tetap tidak bisa fleksibel untuk menulis ide baru. Gambarannya akan menjadi seperti ini.

Image courtesy of David B. Clear (CC BY-SA 4.0)

Bagus bukan? Sayangnya, masalah lain muncul. Saat ada satu ide yang bisa masuk di semua kategori, kita tidak bisa menghubungkannya karena terhalang oleh sistem pengkategorian itu. Ambil misal, ide tentang paradox banyak ditemukan di berbagai bidang disiplin ilmu, seperti psikologi, sains praktis, matematika, sosiologi, dan banyak lagi lainnya. Konsep universal seperti itu akan susah untuk dihubungkan ke banyak topik. Problem lainnya, ketika ada catatan di folder 1 yang berhubungan dengan catatan di folder 2, hubungan ini tidak akan terlihat jelas dengan sistem pengkategorian ini.

Ada solusi lain, yakni penggunaan tag/kata kunci (bukan folder) untuk mengelompokkan catatan itu. Jadinya seperti ini.

 

Image courtesy of David B. Clear (CC BY-SA 4.0)

Ini adalah kemajuan karena sekarang setiap catatan tidak berdiri sendiri, tapi bisa bebas berkaitan dengan catatan lainnya. Namun, Luhmann kurang puas dengan cara ini. Selain menggunakan kata kunci, Luhmann juga menghubungkan antara satu catatan dan lainnya dengan cara menulis ID/kode catatan yang saling berhubungan. Hasilnya akan menjadi seperti ini.

 

Image courtesy of David B. Clear (CC BY-SA 4.0)

Catatan dan ide tidak lagi terbelenggu oleh pengkategorian hierarki apapun. Ide menjadi bebas dihubungkan kemanapun. Ini akan menghasilkan jaringan ide baru yang berpotensi memunculkan inovasi konsep-konsep yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Mirip dengan Wikipedia yang menyediakan link di kata-kata penting yang berhubungan dengan topik lainnya, cara ini akan memudahkan kita untuk mengeksplorasi ide dan memunculkan pemahaman yang utuh terhadap sebuah topik dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Ini juga lah yang membuat website memiliki kekuatan luar biasa dengan fitur hyperlink yang memungkinkan kita menjelajah lebih luas ke berbagai situs yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. 

 

Oke itu keren! Sekarang, bagaimana cara menulisnya?

Luhmann menggunakan kertas tanpa alat digital apapun dalam penggunaannya. Dalam menulis, ia membatasi satu ide (terutama bersifat universal) untuk satu kertas. 

ID ditulis untuk memberi nama idenya di kiri atas. Jika ada ide yang bercabang diberi ID yang ditambah dengan garis miring, dari catatan no. 1 menjadi 1/1, 1/2, dan seterusnya. 

Tag yang menjadi kata kunci topik di tulis di kanan atas.

Ide ditulis di tengah. 

Link ID catatan yang berhubungan ditulis di sebelah kanan bawah. 

Di akhir untuk memudahkan berselancar di tumpukan kertas idenya, Luhmann membuat kertas index, semacam daftar isi kumpulan ID catatan per tag ataupun topik yang berhubungan. Sehingga jika ingin membaca ulang hubungan antar kertas ide itu, Luhmann cukup mengambil kertas index dan mulai melakukan brainstorming. Seperti ini gambarannya.

Image courtesy of David B. Clear (CC BY-SA 4.0)

Itu penjelasan singkat penggunaan Zettelkasten berbasis kertas,. Sekarang bagaimana dengan dunia zaman now yang serba digital ini? Tentu cara lebih praktis bisa kita manfaatkan untuk menulis dengan sistem Zettelkasten. Kita bahas itu di tulisan selanjutnya!

Artikel ini bagian dari seri bersambung Menulis dengan Zettelkasten:
Part 1. Zettelkasten: Berpikir dengan menulis
Part 2. Untuk apa mencatat dan menulis
Part 3. Cloud Thinking: Berpikir dari mana saja (soon)
Part 4. Workflow menulis artikel ilmiah

 

Sumber
PS: tulisan ini pernah dimuat di blog penulis, jangan lupa untuk mengunjungi tulisan aslinya.

Amir Hidayatullah, S.Ag.

Amir Hidayatullah, S.Ag.

Sarjana Ilmu Quran-Tafsir Universitas Darussalam Gontor, alumni KMI Gontor 2014 SMART Generation, dan 7 tahun mengajar di Gontor kampus 2. Pemain musik dan maniak teknologi ini sedang menempuh studi Magister Pascasarjana UNIDA Gontor bidang Aqidah dan Filsafat Islam sejak tahun 2020. Baca tulisannya di: http://profius.my.id
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Artikel Terkait:

TOP