Magnum Opus Ibnu Sina Tonggak Islamisasi Kedokteran Yunani

Kamis pagi, 3 Februari 2022,  Prodi Doktoral melaksakan ujian proposal, tepat pukul 9 pagi ujian kali ini dilaksanakan oleh mahasiswa Al-Ustadz Hifni Nasif, MA, tepat selepas tuntasnya ujian Hasib Amrullah. Dalam ujian kali ini terdapat empat penguji, dua penguji luring Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Ed., M.Phil., dan ketua sidang Dr. Jarman Arroisi sedangkan penguji daring Prof. Dr. Abdul Kadir Riyadi dan Dr. Syamsuddin Arif.

Judul yang diajukan peneliti adalah “Aslamatu ilmi tib fi yunani, dirasah kitab Qanun fi tib li Ibni Sina” (Islamisasi Ilmu Kedokteran Yunani, Studi Buku Qanun Fi Thib, karya Ibnu Sina). Judul ini dikomentari Prof Abdul Kadir sangat menarik karena ilmu islamisasi tidak banyak orang yang mendalami, apalagi pembahasan tentang Ibnu Sina yang sangat menguasai akan ilmu kesehatan holistik. Namun dalam kesempatan itu, Prof. Kadir mengkritik judul tersebut perlu diperjelas. Beliau menganggap islamisasi adalah pergerakan keilmuan sebagai respon sekularisasi yang dilakukan oleh peradaban Barat. Skeptisme muncul, apakah sekularisasi sudah terjadi di masa hidup Ibnu Sina? Selain itu, jika dilihat dari profil Ibnu Sina, beliau tidak hanya seorang dokter namun juga seorang filsuf yang banyak menggunakan filsafat Yunani Aristoteles dan Plato dalam membentuk epistemologinya. Banyak pakar yang melihat Ibnu Sina merupakan seorang empiris dan tidak terlalu meyakini As-Sam’iyat dari epistemologinya. Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya itu justru mengajukan opsi agar penelitian diarahkan ke islamisasi kedokteran Ibnu Sina, bukan islamisasi ilmu kedokteran Yunani oleh Ibnu Sina.

Di sisi lain, Prof. Hamid menimpali bahwa proses Islamisasi sudah lama terjadi sejak Islam muncul. Tepatnya islamisasi budaya Arab Jahiliyah dengan mengenalkan konsep-konsep baru tentang shalat, shaum, zakat, karam (kemuliaan), dan konsep lain yang masih asing di zaman itu. Hanya saja istilah islamisasi memang baru dipopulerkan menjadi sebuah konsep epistemologi dan worldview di tangan Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan Ismail Raji Al-Faruqi, di samping beberapa pemikir lainnya. Namun praktek islamisasi sudah lama terjadi di zaman sahabat hingga abad modern ini, termasuk Ibnu Sina. Yang menjadi concern pertanyaan Prof Hamid adalah apakah benar ada contoh bentuk proses islamisasi ilmu kedokteran oleh Ibnu Sina di zaman itu? Jika ada maka penelitian ini bisa dilanjutkan hingga tuntas dengan sekian banyak referensi yang menjadi rujukan.

Komentar lain juga datang dari Dr. Syamsudin Arif, dimana beliau memberi masukan bahwa peneliti harus bisa menjelaskan dan membuktikan bahwa masdar atau rujukan ilmu kesehatan Ibnu Sina ini otentik berasala dari al-Quran dan Hadist. Ini lah yang sangat dibutuhkan dimasyarakat di zaman sekarang. Sehingga tercipta ilmu kedokteran yang holistik dan tidak tereduksi seperti yang kita temukan sekarang. Hasil diskusi juga mengerucut pentingnya memasukkan kajian ilmu nafs atau kejiwaan dalam penelitian ini sebagai bagian tak terpisahkan dalam kesehatan. Diskusi ini berakhir pada pukul 10.45 dan ditutup oleh Dr. Jarman Arroisi selaku ketua sidang.

Amir Reza Kusuma, S.Ag

Amir Reza Kusuma, S.Ag

Seorang kandidat magister Aqidah dan Filsafat Islam di Universitas Darussalam Gontor, pecinta bola, dan staf pascasarjana prodi Doktoral
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Artikel Terkait:

TOP