Untuk Apa Mencatat dan Menulis?

Pernahkah terpikir untuk apa kita menulis dan mencatat? Apa tujuan dari kita mencatat sejak sekolah hingga perguruan tinggi, atau bahkan di dunia kerja? Pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab, tetapi layak untuk ditemukan jawabannya.

Sejarah diawali dengan tulisan dan aksara

Masa sejarah dan pra-sejarah dibatasi dengan ditemukannya tulisan. Tulisan bersejarah memiliki berbagai macam bentuk, dari prasasti, lembaran papyrus, kertas lontar Bali, pahatan, dan bahkan berbentuk patung maupun arca. Para nenek moyang menulis kejadian penting yang terjadi di masa itu, seperti perang, kematian seorang tokoh, pembangunan candi megah, dan sebagainya. Mereka memahatnya di medium yang tahan cuaca dan iklim sehingga bisa terbaca oleh ratusan generasi setelahnya. Kita pun dengan fakta sejarah bersumber tulisan nenek moyang itu bisa belajar banyak untuk mengambil pelajaran dari kejadian masa lalu untuk memetakan masa depan. Sehingga kita tidak mengulang kesalahan yang sama, atau bahkan mengembangkan peradaban yang lebih baik dari situ. 

Sehingga jika diamati, tujuan manusia menulis dan mencatat bisa disimpulkan ke beberapa tujuan:

  • Merekam pengalaman hidup berupa kejadian penting yang berharga sebagai pelajaran dan hikmah
  • Menjadi rujukan dari pengalaman masa lalu saat menulis ide dan konsep baru
  • Merajut konsep baru dari ide-ide lama di berbagai topik
  • Terus mengembangkan ide yang ada untuk berusaha membuat inovasi
  • Merancang pemikiran baru dan menyebarkan seluas-luasnya melalui berbagai media untuk mempertahankan eksistensi
 

Menulis Memetakan Pikiran dan Meringankan Otak

Internet menjadi media informasi yang luar biasa untuk menyebarkan ide kita ke seantero dunia. Baik melalui sosial media berupa teks, gambar, dan video, maupun berupa website dengan berbagai topik yang dibahas mendalam dan saling terhubung. Maka, zaman serba cepat ini kita harus mampu bersaing kualitasnya, sehingga hanya sang terbaik dari yang terbaik lah yang akan mampu unggul dan trending, menjadi pembicaraan orang (baca: viral) di dunia maya. Untuk menjadi unggul itu lah kita perlu memancing ide terbaik keluar. Salah satu cara terbaiknya adalah dengan menulis karena dengannya ide dalam otak akan terpetakan dan membantu kita berpikir lebih jauh dari semula.

David Allen di bukunya Getting Things Done menunjukkan bahwa otak kita sangat terbatas untuk menyimpan dan memproses informasi. Otak sangat bagus untuk memunculkan ide, namun sangat tidak bisa diandalkan untuk menyimpannya. Banyak dari kita merasa berat untuk mengerjakan atau berpikir sesuatu akibat terlalu banyak mengandalkan memori otak yang terbatas untuk mengingat janji maupun memikirkan tugas dan ide yang setengah jadi. David menawarkan solusi untuk segera menangkap ide seketika dia muncul dalam pikiran. Ketika terpikir satu hal berulang-ulang, tangkap ide itu dan tuangkan ke luar kepala (baik di atas kertas, di aplikasi HP android, dst). Otak akan bebas dari belenggu sehingga membuat kita bisa berpikir jernih dan mengambil keputusan dengan lebih akurat.

Fakta lain ditemukan dari pembedahan otak Einstein bahwa hubungan antara neuron dalam otaknya berlipat-lipat kali lebih banyak daripada manusia biasa. Ini menandakan dia mampu menghubungkan satu konsep dan ide ke lainnya secara simultan dan menyeluruh. Itu diraihnya melalui sekian banyak kegiatan akademis yang dia lakukan, baik menyampaikan kuliah, berdiskusi, menulis, bahkan hanya dengan merenung dan mengamati lingkungan sekitarnya. Itu sebabnya Einstein mampu menciptakan teori-teori inovatif baru yang mencengangkan dan tidak pernah terpikir sebelumnya. Sebagai contoh, teori relativitas ia cetuskan saat daydreaming (baca: ngelamun) di kantornya sambil melihat atap bangunan membayangkan dirinya terbang dalam kecepatan cahaya.

 

Mencatat untuk Berpikir dan Hasilkan Tulisan

Bayangkan, saat mulai menulis kita tidak memulai dengan halaman kosong Microsoft Word. Bayangkan saja ada jin atau asisten yang telah menyiapkan draft kasar untukmu. Draft itu sudah berisi argumen yang sudah dikembangkan lengkap beserta semua referensi, quotasi, dan ide-ide cemerlang. Satu hal yang tersisa adalah tinggal merevisi draft ini dan mengirimnya pada tujuan, baik penerbit maupun dosen.

Memang intinya tulisan  bagus adalah proses editing yang memerlukan fokus. Melakukan paraphrase, membuang lemak kolesterol tulisan yang tidak penting, menambahkan satu dua kalimat atau paragraf untuk mengisi kekosongan argumen yang dibangun, dan sebagainya. Namun pekerjaan editing itu akan terasa ringan karena sudah ada garis besarnya, dan semua orang pasti termotivasi saat garis finish sudah terlihat dalam jangkauan. 

Realitanya, kita tidak hanya bertugas mengedit dan mempoles tulisan itu, tapi juga bertugas menyiapkan draft kasar yang penuh dengan referensi dan argumentasi. Bagaimana cara mempermudah sampai ke sana? Tentunya kemudahan itu datang saat segala bahan untuk menulis sudah tersedia tepat di depanmu saat akan mulai menulis, sekali lagi tidak dengan layar laptop kosong. Banyak yang perlu disiapkan: ide konsep, desain penelitian, argumentasi, quotasi, paragraf yang dikembangkan, lengkap dengan bibiliografi dan referensi. Tidak hanya tersedia, tapi sudah urut, berdasarkan bab yang terstruktur dengan rapi. Namun, itu masih pekerjaan ringan; kita cukup fokus merajut benang antar ide menuju teks yang mengalir terus menerus, tanpa mengharap sempurna di awal.

Photo by Per Lööv on Unsplash

Maka kunci kemudahan itu sebenarnya di tahap awal sebelum mulai menulis di Microsoft Word. Tepatnya, mengumpulkan catatan-catatan ide yang mungkin bisa menjadi isi tulisan kita. Jika catatan itu sudah ada, tugas kita hanya menyusunnya menjadi satu kesatuan yang urut dan sistematis. Berselancar menjelajahi catatan untuk membangun diskusi dan argumen sejatinya menyenangkan. Serius. Karena beban untuk memahami tulisan orang lain dengan bahasa akademis sudah berkurang dengan adanya catatan yang telah ditulis dengan bahasa personal kita sendiri. Fokus kita cukup terpusatkan pada melihat hubungan dan pola antara catatan itu. Jika kita butuh catatan tertentu, sudah ada daftar isi index untuk mendapatkannya dengan cepat. Sudah terbaca kan, sistem apa yang kita bicarakan? Yap, kembali ke Zettelkasten.

Zettelkasten berperan sebagai asisten pribadi kita dalam berpikir dan menulis sebagaimana dinarasikan di atas. Sehingga langkah untuk menulis sudah sangat jelas dan tidak membutuhkan kerja keras tanpa kerja cerdas yang sistematis. Singkatnya:

Sistematika menulis itu: Tulis catatan yang banyak, susun dengan sistematis, ubah catatan itu menuju draft, revisi dan review berulang kali, dan selesai! Congrats, final paper sudah jadi. 

Menulis catatan itu mudah dan akan membantu proses utama dalam menulis: berpikir, membaca, memahami, dan memunculkan ide-konsep baru. Seharusnya memang itu, tulisan hanyalah bukti hasil dari proses berpikir kita. Menulis (tanpa diragukan lagi) adalah sarana terbaik untukberpikir, membaca, belajar, menulis, dan menghasilkan ide. Catatan bagusnya terus bertambah saat berpikir, membaca, memahami, dan menghasilkan ide. 

Sebenarnya ide banyak mencatat sebagai langkah awal menulis ini sudah mulai diterapkan di Pascasarjana UNIDA Gontor. Hanya saja istilah yang digunakan berbeda; bukan Zettelkasten, melainkan quotasi. Workflow ini diajukan pertama kali oleh asisten direktur Dr. Jarman Arroisi dan terus berjalan hingga saat ini. Dari penjelasan di atas, tampak jelas bahwa penulisan quotasi yang benar tidaklah menyulitkan proses pembuatan tesis, justru memudahkan. Asalkan penulisan quotasi ini dimulai sejak awal membaca. Dari situ, terjadilah brainstorming dan proses berpikir yang menghasilkan draft yang menjadi cikal bakal karya ilmiah final paper. 

Singkatnya, jika ingin memahami topik tertentu dalam jangka panjang, tulislah. Jika ingin benar-benar memahami satu hal, kita harus bisa menulisnya ulang dengan bahasa kita sendiri. Proses berpikir terletak di atas kertas dan di kepala sekaligus. Jika ada satu hal yang disepakati oleh para pakar dan peneliti, maka itu adalah:

Ide harus dibawa keluar, seorang pemikir harus banyak mencatat dan menulis!

Dengan menulis, kita akan lebih paham terhadap apa yang dibaca, mengingat lebih baik pelajaran penting, sehingga bisa menghayatinya untuk menjadi bagian dari mindset kita.

Artikel ini bagian dari seri bersambung Menulis dengan Zettelkasten:
Part 1. Zettelkasten: Berpikir dengan menulis
Part 2. Untuk apa mencatat dan menulis
Part 3. Cloud Thinking: Berpikir dari mana saja (soon)
Part 4. Workflow menulis artikel ilmiah

Sumber 1|Sumber 2|Sumber 3|Sumber 4
PS: tulisan ini pernah dimuat di blog penulis, jangan lupa untuk mengunjungi tulisan aslinya.

Amir Hidayatullah, S.Ag.

Amir Hidayatullah, S.Ag.

Sarjana Ilmu Quran-Tafsir Universitas Darussalam Gontor, alumni KMI Gontor 2014 SMART Generation, dan 7 tahun mengajar di Gontor kampus 2. Pemain musik dan maniak teknologi ini sedang menempuh studi Magister Pascasarjana UNIDA Gontor bidang Aqidah dan Filsafat Islam sejak tahun 2020. Baca tulisannya di: http://profius.my.id
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Artikel Terkait:

TOP